HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 79


__ADS_3

"Baik, aku akan ke sana sekarang" aku menutup sambungan telepon itu dan kemudian mendekat ke arah Bu Mariyam. Kukatakan padanya jika William menelponku dan memintaku untuk datang ke sebuah tempat, ia pun mengerti dan kemudian mengizinkan aku pergi.


Beberapa saat kemudian, aku sudah sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan motor milikku aku pun segera bergegas ke ruangan di mana Mbak Sumi dan kerabatnya berada


"Agnes!" seru William sembari melambaikan tangannya, laki-laki yang siang ini memakai setelan jas coklat itu berdiri di depan sebuah ruangan yang bukan ruangan Mbak Sumi. Aku mendekat ke arahnya


"Ada apa, Will?" aku pun kembali bertanya sebab sedari tadi ia tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi ia hanya memintaku datang ke rumah sakit karena darurat


"Laki-laki itu meninggal" jawabnya


"Laki-laki, Laki-laki yang mana maksudmu?" aku pun bingung dengan ucapannya


"Laki-laki tua yang bersama Sumi itu meninggal dan kini tengah diurus oleh dokter!" jelasnya membuat aku terkejut, aku tidak mengira jika dia akan pergi secepat ini


"Lalu bagaimana dengan Mbak Sumi?" aku pun merasa semakin panik, aku takut hal buruk akan menimpanya


"Dia belum sadarkan diri, tolong tunggu dia sebentar karena aku dan Prima akan mengurus pemakaman untuk kerabatnya" aku pun mengangguk dan kemudian pergi ke ruangan Mbak Sumi yang jaraknya hanya beberapa langkah dari sana


Kubuka pintu ruangan itu dan tampaklah Prima yang kini tengah terisak di samping sang kekasih, tangannya menggenggam erat tangan Mbak Sumi. Ketakutan sepertinya juga tengah menghatuinya, perasaan cinta yang ia miliki begitu kuat dan juga kokoh dan membuatnya tak sanggup berpaling meski hanya sejengkal.


Sakit, itulah yang kini tengah aku rasakan. Cinta semu dan sesaat darinya masih membekas dan meninggalkan luka yang dalam, aku tidak tahu sampai kapan ini akan terus seperti ini. Aku melangkah dengan sangat pelan, takut menganggunya yang kini tengah berucap entah apa itu pada kekasihnya, tapi satu yang pasti ia tengah menguatkan dirinya dan juga kekasihnya agar mampu melewati ujian yang kini menghampiri mereka


Aku kini duduk di sofa, tanpa suara dan tanpa aktivitas apa pun. Aku hanya menatap mereka berdua dan ikut larut dalam suasana yang cukup haru itu. Pintu ruangan terbuka dan tampaklah wajah William di sana, dia mencoba berbicara tapi aku mengisyaratkannya untuk diam karena takut menganggu Prima yang kini masih duduk di sana. Dia mengangguk dan ikut duduk di sampingku, dia pun sama hanya diam dan tak beraktivitas apa pun.

__ADS_1


William tiba-tiba memegang tanganku, Aku pun terkejut tapi dia malah semakin erat menggenggam dan juga tersenyum, "Biarkan tetap seperti ini, aku mohon" bisiknya pelan di telingaku tapi aku masih berusaha melepaskannya


"William, aku mohon lepaskan. Ini bukan tempat yang tepat untuk kita bergandengan seperti ini" suaraku tak kalah pelan agar tidak mengganggu Prima


"Lalu di mana tempat yang tepat, apa kita bisa ke sana?" timpal William, aku pun merasa seakan terjebak dalam perkataanku sendiri. Aku hanya bermaksud untuk membuatnya berhenti tapi aku sendiri malah terjebak


"Tidak di sini dan tidak di mana pun. Kita bukan siapa-siapa lagi, Will!" terangku dan terus berusaha melepaskan tangan William,


"Memang untuk sekarang kita bukan siapa-siapa, tapi ingat besok atau lusa kita akan bersama. Bagaimana?" aku terdiam dan tidak menjawabnya, aku heran dengan sikap William yang akhir-akhir ini berubah, dari mana ia belajar seperti itu dan kenapa. Entah aku tidak tahu


"Aku anggap diammu adalah jawaban iya" lanjutnya dan kemudian melepaskan tanganku, ia pun berdiri dan berjalan menghampiri Prima


"Semua sudah siap, ayo berangkat!" William menepuk bahu Prima, ia pun mengusap cairan bening di pelupuk matanya dan setelahnya ia menoleh seraya mengangguk. Prima berdiri dan menatap ke arahku, kucoba menghindari tatapan matanya dan lebih memilih memandang ke arah yang lain.


...**********...


"Laki-laki itu telah meninggal, itu tandanya kita sedikit bernafas lega sekarang" ucap seorang laki-laki berseragam hitam pada Alexa


Keduanya kini tengah bertemu di sebuah taman yang jauh dari pusat kota, taman yang usang dan tak terawat. Ilalang tumbuh di mana-mana, bunga yang dulunya segar kini kering dan mati, tanah di sekitaran tempat itu berongga dan juga retak


"Bagus, meski satu di antaranya sudah tidak ada tetap berjaga di sana dan awasi semua gerak-gerik mereka semua, jika ada kesempatan maka segera lakukan semuanya seperti rencana" laki-laki hanya mengangguk


"Ini untukmu, sisanya setelah semuanya beres" Alexa melemparkan segepok uang warna merah pada laki-laki itu dan dengan segera ia pun menangkapnya, Alexa pun pergi dan melajukan mobil miliknya

__ADS_1


...***********...


Hampir jam makan malam, Prima dan William pun belum kembali. Aku masih menunggu Mbak Sumi di ruangannya, sampai saat ini dia belum ada perkembangan sama sekali, semuanya sama dan tidak berubah


Kulihat kembali ponselku, tidak ada kabar dari William. Aku pun sempat bertanya melalui pesan singkat tapi belum juga ia balas, kemudian aku pun memberikan kabar pada Bu Mariyam jika malam ini aku tidak pulang


"Assalamualaikum, selamat malam" kudengar seseorang mengetuk pintu dari luar, aku pun berdiri dan kemudian membukanya. Di sana terlihat seorang laki-laki berjaket orange, memakai helm dan juga masker yang membawa sebuah kantong kresek berwarna putih


"Waalaikumsalam, maaf cari siapa ya?" jawabku kemudian


"Dengan Nona Agnes?" aku mengangguk


"Saya seorang kurir dan saya datang ke sini karena ada kiriman untuk Anda" jelasnya seraya menunjukkan apa yang ia bawa


"Kiriman apa, perasaan saya sendiri tidak memesan apa pun"


"Ini dari Tuan William, tadi dia memesan makanan dan dia juga memintanya untuk dikirim ke alamat ini" terangnya sekali lagi


Tanpa rasa curiga dan tanpa konfirmasi terlebih dahulu aku pun menerima kiriman itu, setelahnya kurir pun pergi dan aku kembali masuk ke ruangan Mbak Sumi


Kuletakkan makanan itu di atas meja, di sana terdapat beberapa kotak makanan dan isinya adalah makanan kesukaanku, awalnya aku menaruh curiga pada kurir itu apakah memang benar ini semua dari William tapi setelah aku melihat isinya aku pun kemudian menjadi yakin jika itu memang dari William. Aku pun mengirimkan pesan pada William dan mengucapkan terima kasih atas perhatiannya


Kumakan makanan itu tanpa ragu, terasa enak dan juga pas di lidah. Sudah lama aku tidak memakannya sebab aku sendiri jarang ke luar rumah dan tengah sibuk dengan aktivitasku

__ADS_1


__ADS_2