HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Mati


__ADS_3

Happy reading......


"FREYA!" jerit Carlen, kemudian dia langsung berlari ke arah Freya.


"Gawat, aku menabrak seseorang," ucap sopir dalam truk tersebut, kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu.


Carlen mendekat ke arah Freya yang sudah bersimbah darah. Dia tidak menyangka jika Freya akan tertabrak oleh mobil.


"Freya, aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Carlen yang merasa miris, kemudian dia menggendong tubuh Freya, namun wanita itu menahan tangannya.


"Car-len ma-afk-an a-ku," ucap Freya dengan nada terbata-bata, kemudian dia pun menghembuskan nafas terakhirnya.


Carlen yang melihat itu pun segera mengecek nadi istri keduanya tersebut, dan ternyata Freya sudah tidak ada. Dia langsung membawa Freya ke rumahnya dan meminta beberapa pelayan untuk segera mengurus jenazahnya. Tidak lupa, Carlen juga meminta pelayan untuk mengurus semua tentang pemakaman wanita itu, sementara dia kembali ke rumah sakit setelah membersihkan dirinya.


Rasa kecewa kepada Freya begitu dalam, sehingga Carlen pun tidak ingin memperdulikan lagi tentang keadaan wanita yang pernah menjadi ratu di dalam hatinya.


Sementara di rumah sakit, mama Gisel dan juga Rania sedang menunggu Maya. Karena wanita itu belum dipindahkan ke ruang rawat inap.


"Maafkan Mama, Maya. Selama ini Mama sudah jahat kepada kamu. Mama tidak pernah menyayangi kamu, bahkan Mama mendukung perlakuan Carlen yang begitu kejam kepadamu. Mama tahu, Mama ini banyak dosa. Bangunlah Nak! Jangan membuat Mama merasa bersalah. Setelah ini kita akan memulai hidup yang baru," ucap mama Gisel sambil memegang tangan Maya.


"Mbak Maya, bangunlah! Apa Mbak tidak ingin bersanding dengan bayi yang ada di dalam kandungan Mbak? Mbak tidak ingin melahirkannya? Mbak tidak ingin melihat wajah mungilnya? Apa Mbak tidak ingin menikmati setiap momen bersamanya?" ucap Rania sambil memegang tangan Maya yang sebelahnya.


Mereka berdua tidak sadar, jika diambang pintu Carlen sudah datang dan mendengar semuanya. Dia pun tak ubahnya seperti mama Gisel. Pria itu sangat menyesal atas segala perbuatan yang telah dia lakukan kepada Maya.


Terlintas semua perlakuan kasar dan kejamnya dulu saat dia tanpa segan menyiksa Maya, dan seketika rasa amarah karena sebuah penyesalan pun hinggap di hatinya.


'Aku sudah menjadi iblis, hanya karena seorang wanita yang selama ini menipuku. Aku sudah menjadi iblis, bagi wanita yang begitu baik seperti Maya. Betapa Bodohnya aku!' batin Carlen sambil menitikan air matanya.

__ADS_1


Dia berjalan ke arah ranjang pasien, dan Rania yang melihat itu pun segera bangkit dari duduknya, kemudian dia berjalan ke arah Carlen dan memukul dada bidang pria itu.


"Puas kamu Kak! Puas sekarang melihat Mbak Maya terkapar lemah tak berdaya? Puas! Selama ini kamu selalu menyiksanya, bukan? Bahkan jika dia mati pun, kamu tidak akan peduli. Dan sekarang Mbak Maya sudah seperti ini. Apa sekarang kamu merasa bahagia? Iya?" tanya Rania sambil memukul dada bidang milik Carlen.


Pria itu tidak membalas, dia membiarkan Rania meluapkan semua emosinya, karena memang pada dasarnya di sini dialah yang salah. Seharusnya dia mendengarkan peringatan dari Maya dan juga Rania saat Freya memberikan teh tersebut.


"Kakak tahu Rania, jika Kakak ini salah. Selama ini Kakak sudah menyiksa Maya, membencinya tanpa alasan. Kakak tahu semua perbuatan Kakak tidak bisa dimaafkan, tapi---"


"Tapi semua sudah terlambat, Kak. Penyesalan, kata itu hanyalah sebuah ucapan saja. Tidak ada gunanya lagi sekarang! Mbak Maya sudah koma, apa yang bisa Kakak lakukan sekarang, hah? Penyesalan sudah gak ada gunanya!" teriak Rania.


"Rania, cukup Sayang! Sudah," ucap mama Gisel sambil memeluk tubuh putrinya yang saat ini tengah merosot dan duduk di atas lantai.


Carlen tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia berjalan ke arah Maya, kemudian menggenggam tangan wanita itu lalu mengecupnya.


"Bangunlah sayang! Bangun, aku minta maaf. Aku tahu selama ini aku menjadi pria yang kejam. Menjadi seorang iblis hanya karena wanita jaalang itu! Dia sudah berhasil menguasai hatiku, hingga membutakan mata hatiku untuk bersikap lembut kepadamu. Maafkan aku, setelah kamu sadar kamu boleh membenciku, kamu boleh menghukumku, memukulku, silahkan! Aku tidak akan melawan. Aku akan menerima semuanya," tutur Carlen sambil terus menangis.


Tubuhnya hampir saja limbung, untung tangan seorang yang dia tabrak segera menahan pinggangnya, membuat Rania seketika mendongak menatap ke arah pria tersebut, dan tatapan mereka terkunci satu sama lain.


"Kamu," lirih Rania. Kemudian dia langsung melepaskan pelukan pria itu.


"Kamu temannya Mbak Maya 'kan?" tanya Rania.


"Iya, dan kamu bukannya adik iparnya Maya?" tanya pria yang tak lain adalah Felix.


Rania mengangguk, "Kalau begitu aku duluan," ucap Rania dengan wajah sembabnya. Dia meninggalkan Felix untuk ke taman yang ada di rumah sakit.


Felix merasa heran kenapa gadis tersebut menangis, kemudian dia pun membuntuti Rania dan melihat gadis itu duduk di taman sambil menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Felix merasa tidak tega, lalu dia mengambil sapu tangan yang ada di saku celananya dan memberikannya kepada Rania.


"Tidak baik menangis malam-malam. Apalagi di tempat seperti ini! Nanti kalau ada di demit masuk gimana?" ucap Felix sambil menatap lurus ke arah depan.


"Ada-ada aja, yang ada mereka takut sama aku," jawab Rania dengan suara yang serak, kemudian dia mengambil sapu tangan itu lalu mengusap air matanya beserta ingusnya, lalu memberikannya kembali kepada Felix.


"Tidak, terima kasih! Kau saja yang simpan!" tolak Felix yang merasa jijik, karena sapu tangan itu sudah dipakai untuk mengelap ingus dari Rania


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Felix, setelah mereka beberapa saat terdiam. "Lalu, kenapa menangis malam-malam seperti ini?"


Rania bingung, apakah dia harus mengungkapkan semuanya kepada Felix? Tapi saat ini memang Rania butuh sandaran, tidak terasa air matanya kembali jatuh dan dia pun kembali menangis.


"Mbak Maya masuk rumah sakit, dan saat ini dia sedang koma," ucap Rania dengan nada yang tersedu-sedu.


"Apa! Maya koma? Bagaimana bisa?" tanya Felix dengan wajah yang kaget.


Rania mengangguk, kemudian dia pun menjelaskan kepada Felix tentang kejadian di rumah. Membuat pria itu mengepalkan tangannya dan semakin membuat Rania menangis. Felix yang merasa tidak tega pun langsung merangkul pundak Rania dan membawanya dalam pelukan.


"Sekarang kak Carlen sudah menyesali semua perbuatannya. Tapi semua sudah terlambat. Mbak Maya sedang koma. Entah sampai kapan dia akan sadar? Apakah setelah sadar, mbak Maya masih memberikan kesempatan, walaupun aku berharap iya. Ataukah memang dia ingin pergi? Aku harus bagaimana Tuan? Aku marah kepada kakakku, Ingin sekali aku menghabisinya. Tapi tidak bisa," ucap Rania


"Jangan seperti itu! Walaupun dia jahat, tetap saja dia adalah kakakmu." Felix berbicara dengan bijak, padahal saat ini hatinya juga merasa geram.


"Kita berdoa saja, supaya Maya cepat sadar. Apakah nanti aku boleh menengok keadaannya?" tanya Felix dan Rania langsung menganggukan kepala.


"Tentu saja boleh, tapi jangan sendirian. Aku takut nanti kak Carlen akan marah, dan membuat keributan di rumah sakit," jelas Rania.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2