
"Maafkan Papa, Lexa. Papa melakukan ini semua agar kamu menyadari yang kamu lakukan itu tidak benar" Om Adiputra menemui putrinya yang kini telah berada di dalam kepolisian
Alexa dan juga para komplotannya kini sudah berada di kantor polisi, mereka semua sedang dalam interogasi oleh para aparat dan akan segera dijatuhi hukuman atas apa yang mereka lakukan
Alexa tersenyum sinis, "Aku melakukan semuanya dengan sadar, tidak perlu memintaku menyadarinya"
Om Adiputra hanya mampu menghela nafasnya pelan, memendam amarah yang hendak meluap. Cukup ia memarahi dan memaki putrinya saat sedang di apartemen Alexa kini ia tak mau lagi mengeluarkan emosinya. Ia mencoba bersikap sesabar mungkin sebab ia bukan termasuk orang yang tempramental
"Papa melakukan ini semua agar kamu menyesali semuanya, Lexa. Ingat Lexa ini semua tindakan kriminal dan mencoreng nama baik keluarga" tegas Om Adiputra lagi
"Untuk apa aku harus menyesali semuanya, aku hanya ingin berjuang dan mendapatkan apa yang aku inginkan. Jika Papa merasa nama keluarga kita tercoreng maka Papa bisa mencoret nama Alexa dari kartu keluarga!" Alexa terlihat murka
"Kamu itu benar-benar anak tidak tahu terima kasih!" hampir saja Om Adiputra melayangkan tamparqn pada Alexa tapi buru-buru dicegah oleh Tante Rosa yang sedari tadi terus saja menangis, ia tak habis pikir kenapa putrinya bisa melakukan tindakan seperti ini
"Sudah, Pa. Sudah hentikan, kita harus menerima semuanya dan biarkan Alexa menerima akibat perbuatannya, semoga saja dia segera sadar dan bertobat" lirih Tante Rosa yang kemudian hanya ditanggapi liriknya mata yang sadis dari putrinya
"Bahkan Mama sekalipun tidak bisa memahami semuanya, Mama memang pilih kasih" Alexa kini menangis mendapati Mamanya yang juga tak mendukungnya
"Mama tidak pernah pilih kasih, Lexa. Semuanya Mama sayangi tapi perbuatanmu kali ini benar-benar tidak bisa ditoleransi" Tante Rosa mendekat ke arah putrinya yang sudah berada di balik jeruji besi itu, namun Alexa malah menjauh dan tidak menanggapinya. Sedangkan Om Adiputra kini telah keluar dari kantor polisi dan menerima panggilan dari beberapa kolega bisnisnya yang telah mengetahui kasus yang kini menimpa putrinya
Alexa malah tertawa, " Sama, sama darimana?" Alexa kemudian berjalan mendekat
__ADS_1
"Apa Mama tahu selama ini Alexa sendirian, Alexa memang punya semuanya, karir, harta dan juga nama tapi itu semua membuat Alexa merasa terhimpit dan jauh dari bahagia. Cinta yang selama ini Alexa pendam harus berakhir dengan kekecewaan seperti ini!" teriak Alexa kemudian mendapatkan sorotan tajam dari mata orang-orang yang ada di sekitarnya
Ia tak lagi peduli dengan siapa pun bahkan dengan dirinya sendiri ia tak lagi peduli, entah akan dihukum dengan hukuman yang bagaimana ia hanya pasrah sebab hatinya kini telah hancur mendapati impian cintanya harus berakhir dengan keadaan yang tidak ia harapkan
Air mata yang kini luruh di pipinya tidak berarti ia bersedih, air mata itu menjadi saksi kemarahan akan apa yang ia alami. Kesuksesan yang ia miliki tidak serta merta membuatnya lantas hidup bahagia dan juga senang, ia yang merasa kecukupan dengan harta dan juga nama tapi malah kekurangan akan rasa tenang dan bahagia akan jalan hidupnya
"Kenapa kamu memendam semuanya sendiri, kamu bisa ceritakan semuanya dengan Mama. Kamu tidak harus melakukan semuanya jika kamu tidak ingin, sayang" Tante Rosa terlihat memelas, ia luruh dan berselonjor di depan bui sang putri
"Apa Mama pernah punya waktu, apa Mama pernah memerhatikan aku, yang Mama tahu hanya bekerja dan menjalankan bisnis tanpa tahu anak-anak Mama merasakan apa. Memang selama ini tidak pernah kekurangan yang tapi apa Mama tahu jika kasih sayang yang seharusnya Mama berikan tidak pernah Lexa dapatkan?" Alexa sekali lagi berurai air mata, kesakitan itu kini muncul dan seolah menemui jalannya
Tante Rosa pun hanya terdiam, ia menyadari apa yang dikatakan anaknya itu benar adanya. Selama ini ia memang tidak pernah berada di rumah, kesehariannya ia habiskan untukemcari uang dan meluaskan bisnisnya tanpa ia sadari hal itu berimbas buruk pada pertumbuhan mental sang anak
"Maafkan Mama, Lexa. Itu salah Mama"
"Apa Mama baru menyadarinya sekarang, apa Mama tahu selama ini aku hancur karena bully lalu aku memutuskan pergi ke luar negeri agar aku bisa terbebas dari hal itu, dan apa Mama juga tahu jika Prima yang selama ini terus mendukungku dan memberikan semangat. Aku kira dia menyukaiku ma, tapi nyatanya itu hanya rasa kasihan semata dan setelah aku tahu hal itu aku menjadi semakin malu dan terluka. Apa Mama tahu semuanya!" Alexa kembali berteriak, kini ia pun menangis sejadi-jadinya, kala mengingat semuanya terlebih lagi saat dia sejak kecil tak mendapatkan kasih sayang penuh dari Tante Rosa
Alexa kecil hanya dirawat oleh sang pengasuh sebab Tante Rosa masih terus berjuang dengan Om Adiputra. Tante dan Om melakukan semuanya sebab mereka berdua bukan orang berada sejak lahir meski kini kekayaan mereka melimpah dan menjadi orang terpandnag di negeri ini. Berbeda dengan William, sewaktu kecil ia memang selalu diasuh oleh Tante Rosa karena saat itu keadaan ekonomi mereka sudah membaik dan bisa dibilang sudah menjadi milyader
"Sudah, Bu. Sebaiknya ibu keluar dulu, semua yang dikatakan saat emosi tidak akan pernah berhasil" saran seorang aparat polisi pada Tante Rosa, ia pun kemudian berdiri dan berjalan menyusul suaminya yang kini masih sibuk dengan panggilannya
...*************...
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan, sayang?" Prima berjalan ke arah kekasihnya yang kini tengah duduk di ruang tamu, ia menyalakan televisi tapi mata dan pikirannya entah ke mana
Prima yang mendapati kekasihnya itu tidak merespon pertanyaannya kemudian duduk di sampingnya dan mengelus pucuk kepalanya
"Apa yang kamu pikirkan?" Sekali lagi pertanyaan itu terucap dengan suara yang lembut
Mbak Sumi menggeleng, ia hanyaengulas senyuman di ujung bibirnya dan kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Prima
"Sekarang semuanya sudah baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan"
"Tapi, Mas. Apa kita tidak terlalu jahat pada Alexa?" Prima menatap kekasihnya itu sembari tersenyum
"Inilah yang membuatku menyukaimu, meski kamu dilukai dan disakiti tapi kamu masih bisa menerima dan bahkan memaafkan semuanya dengan mudah seolah tidak pernah terjadi apa-apa"
"Bukannya mudah menerima, Mas. Tapi kita sendiri tidak boleh dendam dengan orang yang menyakiti kita, Allah saja maha pemaaf, kenapa kita yang hanya ciptaan-Nya malah tidak bisa memaafkan"
"Iya, Mas tahu itu. Tapi negara kita negara hukum, jadi siapa pun yang bersalah pasti juga akan menerima balasannya"
Mbak Sumi menghela nafasnya pelan, ia sebenarnya tidak ingin masalah ini berlanjut ke jalur hukum. Ia sudah memaafkan Alexa, tapi Prima sendiri yang ingin semuanya diproses secara hukum agar Alexa jera. Mbak Sumi pun kemudian pasrah, ia tak mau berdebat lagi dengan kekasihnya itu
"Jangan memikirkannya lagi, sebentar lagi kita akan menikah, aku tidak mau calon istriku merasa terbebani saat akan menikah" Prima mencubit hidung calon istrinya itu dengan lembut sambil mengecup hangat keningnya
__ADS_1