
Happy reading......
Hari-hari dijalani oleh Maya tanpa kehadiran Carlen. Luka di tangannya juga sudah mulai membaik, walaupun masih terasa sakit.
Dia masih belum ingin untuk kembali ke kediaman Dalmiro. Mungkin bisa dibilang, Maya adalah istri yang durhaka, sebab telah meninggalkan suaminya. Akan tetapi, untuk saat ini Maya masih harus menenangkan hatinya.
"Assalamualaikum, Mbak Maya," ucap seorang perempuan yang sedang mengetuk pintu kontrakan Maya.
"Waalaikumsalam. Eh, kamu Rania." Gadis itu pun masuk ke dalam kontrakan Maya.
Rania memang setiap hari selalu ke sana sepulang dari kampus. Dia selalu mampir ke rumah kontrakan Maya, sebab Rania malas untuk berlama-lama di keluarga Dalmiro. Apalagi melihat keromantisan Carlen dan juga Freya.
Sementara itu, saat ini Carlen sedang sarapan bersama dengan Freya dan juga sang mama. Suasana di rumah itu terasa begitu sunyi, apalagi sejak kepergian Maya. Mama Gisel terus saja berdiam diri, dia bahkan menjadi pribadi yang pendiam.
Entah kenapa, jauh di dalam lubuk hatinya, dia merasa bersalah kepada Maya. Wanita itu seperti sedang merindukan kehadiran Maya. Biasanya pagi-pagi seperti itu dia melihat menantunya sedang menyiapkan sarapan.
Para pelayan di sana juga kehilangan sosok Maya, karena biasanya Mayalah yang mengajar ngaji dan juga shalat, mereka juga belajar dari Maya tentang agama.
"Sayang, nanti siang aku mau belanja. Ada tas baru, boleh ya!" pinta Freya dengan manja.
"Nanti uangnya aku transfer ya," jawab Carlen tanpa menoleh ke arah Freya sedikitpun.
Setelah sarapan, Carlen pun keluar dari rumah untuk masuk ke dalam mobilnya. Namun langkahnya terhenti saat mendengar obrolan dua pelayan di rumahnya yang sedang menyiram tanaman yang berada di teras.
"Rumah ini seperti kehilangan sebuah warna yang terang ya, saat mbak Maya pergi dari sini. Kita tidak bisa lagi belajar mengaji dan juga shalat, sedangkan selama ini yang menuntun kita dalam agama, itu adalah mbak Maya,".tutur salah satu pelayan yang sedang menyiram bunga.
__ADS_1
"Kamu benar. Jika kita punya bukti bahwa mbak Maya tidak bersalah, maka Tuan Carlen akan percaya. Karena jelas-jelas kita pun melihat sendiri, bahwa mbak Maya tidak bersalah sama sekali, tapi mau bagaimanapun, tetap saja, kita ini seorang pelayan," jawab salah satu temannya
Dahi Carlen mengkerut heran, saat mendengar dua obrolan pelayan tersebut yang mengatakan jika Maya sama sekali tidak bersalah. Dan mereka menjadi saksinya. Namun saat Carlen akan melangkah, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan ternyata itu adalah panggilan dari Gio, yang memintanya untuk segera berangkat ke kantor.
Di dalam mobil Carlen terus saja memikirkan ucapan dua pelayan tersebut. 'Apakah benar, jika Maya tidak bersalah? Dan Freya melukai dirinya sendiri? Tapi untuk apa? Aku rasa Freya tidak sejahat itu. Apa kedua pelayan tadi sedang memanipulasi diriku?' batin Carlen.
.
.
Siang ini Maya sedang berada di cafe. Dia membantu para pelayan untuk membawa makanan dan minuman pada customer.
"Ini pesanan meja nomor 34 Mbak," ucap pelayan tersebut pada Maya.
Maya menganggukkan kepalanya, kemudian dia mengantarkan makanan tersebut, dan ternyata yang memesannya adalah seorang pria yang saat ini tengah duduk sendiri. Namun alangkah kagetnya Maya, saat melihat pria tersebut adalah Felix.
"Hai, kita bertemu lagi," jawab Felix.
"Senang bisa bertemu dengan Anda, Tuan. Silakan dinikmati makanan dan minumannya. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Maya. Namun Felix segera menahan tangannya.
Maya sangat kaget saat tangannya dipegang oleh seseorang yang bukan muhrimnya. Dan Felix yang melihat itu pun segera melepaskan tangan wanita tersebut, dan dia meminta maaf karena sudah lancang memegang Maya.
"Maafkan aku. Bisakah kamu menemaniku sebentar! Aku tidak punya teman di sini," pinta Felix.
Maya terdiam sejenak, kemudian dia pun mengangguk. Wanita itu pikir, tidak ada salahnya jika menemani Felix. Karena mereka di sana juga tidak sendirian. Ditambah Felix juga pernah menolong dirinya saat berada di Jerman.
__ADS_1
Akhirnya Maya pun duduk di hadapan Felix, membuat pria itu merasa sangat bahagia. "Oh iya, Tuan. Apakah Anda tidak kembali ke Jerman? Apa masih banyak pekerjaan di Indonesia?" tanya Maya membuka pembicaraan.
"Iya, kerjaanku masih sangat banyak. Kemungkinan juga menetap di sini untuk beberapa bulan," jawab Felix. Kemudian matanya terarah pada tangan Maya yang masih diperban.
"Tangan kamu kenapa? Apa terluka sampai harus diperban seperti itu?" tanya Felix dengan tatapan menyipit.
"Oh ini, iya kemarin tidak sengaja teriris pisau," jawab Maya.
Dia tidak mungkin menceritakan jika yang mengiris tangannya adalah Carlen, suaminya sendiri. Bagaimana Maya bisa mengatakan itu kepada orang lain, walaupun sebenarnya Carlen selama ini selalu menyiksa dirinya. Tapi Maya tidak sejahat itu yang harus membuka aib keluarganya sendiri.
Mereka pun mengobrol soal bisnis, dan Felix baru tahu jika kafe tersebut adalah milik Maya. Dia begitu bangga pada wanita tersebut yang terlihat begitu sederhana, namun ternyata punya kemampuan yang bisa dibilang sangat mumpuni.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kantor Carlen tidak bisa tenang. Entah kenapa, dia merasa sejak kepergian Maya dari rumah, ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya, seperti kehilangan sesuatu yang berharga.
"Kenapa aku memikirkan dia ya? Aku sangat merindukan wajah yang selalu memohon ampun kepadaku, dan deraian air mata yang terus mengalir saat aku menyiksanya. Di mana dia sekarang? Aku rasa Rania mengetahui keberadaan wanita udik itu?" gumam Carlen sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya.
Dia yakin jika adiknya pasti mengetahui tentang keberadaan Maya. Tapi semenjak kejadian waktu itu, bahkan Rania selalu menghindari Carlen. Gadis itu pun selalu saja telat makan, dan sekalinya mereka berada dalam satu meja makan, Rania hanya diam saja. Dia seperti tidak memperdulikan adanya Carlen.
"Aku sangat merindukan adikku yang dulu, yang manja dan bergantung kepada aku. Tapi sekarang, jangankan manja, untuk bertutur sapa saja Rania seperti menghindariku? Apakah dia benar-benar membenciku ? Kenapa rasanya sesakit ini dibenci oleh adik sendiri?" Pria tersebut bermonolog pada dirinya sendiri sambil menghela napasnya dengan
kasar.
Rania bukan hanya menghindari Carlen, tapi juga menghindari mamanya. Rasa kecewa di dalam hati gadis tersebut begitu sangat dalam kepada keluarganya, karena tidak bisa bersikap adil kepada Maya. Ditambah mereka bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan Maya.
'Sepertinya aku harus menyewa anak buah untuk mengetahui tentang keberadaan wanita udik itu.' batin Carlen. Namun seketika dia menggelengkan kepalanya, 'Tidak! Untuk apa aku harus mengetahui tentang keberadaannya? Bukan harusnya itu bagus, karena aku dan juga Freya bisa saling bersama tanpa adanya gangguan dari wanita itu?' bingung Carlen pada dirinya sendiri.
__ADS_1
BERSAMBUNG......