
"Keluar, Sam!" teriak Alexa sekali lagi, ia masih memejamkan matanya dan merangkul kedua lututnya dan entah tertidur atau hanya enggan malas berbicara
"Aku memahami semuanya, Lexa. Aku tidak memintamu percaya padaku Aku hanya ingin memberitahukan semuanya. Aku hampir gila saat aku tahu apa yang terjadi padamu, aku tidak bisa tidur dan tidak mampu menelan makanan. Namun sebisa mungkin aku bertahan dan pada akhirnya pertahanan ini runtuh Lexa" Alexa masih bisa mendengar penuturan Samuel, matanya memang terpejam tapi tidak dengan pikirannya. Samuel menyandarkan kepalanya pada jeruji besi dingin itu, tubuhnya memang terlihat kurus dan wajahnya juga tirus, berat badannya turun drastis karena masalah ini, ia juga merasakan kesakitan meski hal ini tidak langsung terjadi pada dirinya
"Beri aku satu alasan yang kuat, Lexa. Apa yang membuatmu tidak bisa menerimaku" tidak ada sahutan dari Alexa, tapi Samuel masih di sana dan enggan beranjak
"Kalau pun kamu tidak mau menerima perasaanku ini tapi setidaknya kamu mau menerima bantuan dariku, jika memang aku tidak bisa kamu jadikan orang istimewa maka cukup jadikan aku teman, aku sudah sangat bahagia menerimanya, Lexa"
"Mungkin kemarin alasanku tidak menerimamu adalah karena aku mencintai laki-laki lain, tapi setelah hari itu, hari di mana aku harus menjalani hukuman ini maka alasanku yang paling kuat adalah karena aku sekarang terlalu jahat untuk bisa bersama orang yang tulus sepertimu. Maaf, ini mungkin tidak bisa membuatmu paham dan menerima namun ketahuilah Sam, mulai saat ini aku akan menerima semuanya, aku akan menjalani derita ini dan jika suatu saat nanti kamu masih mau menunggu maka aku akan mencoba membuka hati tapi jika nanti aku sudah bebas dan kamu sudah bersama orang lain maka akan aku anggap ini semua adalah pelajaran yang paling berharga" batin Alexa diiringi setitik air mata yang luruh dari pelupuk netranya
Ini pertama kalinya Alexa merasa trenyuh akan sikap baik orang lain, yang sudah lalu dirinya hanya dipenuhi emosi dan juga kemarahan tak berujung, bahkan kedatangan William beberapa waktu yang lalu tidak membuatnya luluh dan berpikir. Ia mengusap cairan bening itu dengan segera dan kembali berpura-pura tidur
Keberadaan dirinya yang kini jauh dari kekayaan, ketenaran dan bahkan jauh dri teman membuatnya melunak dan mungkin bisa dibilang sadar akan apa yang sudah ia lakukan, namun ia enggan membicarakan semua itu, ia lebih memilih diam dan membiarkan semuanya berjalan sesuai rencana-Nya
...*************...
"Selamat pagi, Bu Arini!" sapa Satpam penjaga rumahku pada Mama, pagi ini ia datang tepat sebelum aku masuk kerja
"Bagaimana kabar, ibu?" lanjut pak Satpam sembari membuka pagar
"Selamat pagi juga, Pak. Alhamdulillah saya baik, bagaimana dengan bapak?" jawab Mama sembari melenggang masuk ke dalam pelataran rumah
"Apa Agnes ada?"
"Ada, Bu. kebetulan Non Agnes belum berangkat kerja"
"Agnes bekerja, di mana?"
"Di perusahaan bapak, eh maksud saya di perusahaan pak kuncoro. Apa ibu mau masuk atau saya panggilkan Non Agnes?" tawar pak Satpam pada Mama, tapi mama tidak ingin masuk dan lebih memilih menunggu di pos satpam
Tak berselang lama, aku yang sudah siap dengan setelan kerjaku, setelan jas warna abu yang aku padukan dengan sepatu hak tinggi warna putih. Kubawa beberapa berkas yang kini bertumpuk, roti isi yang terselip di antara bibirku serta tas punggung warna hitam yang kini bergelayut di punggung membuatku tidak mengamati sekitar dan langsung menuju ke garasi kemudian meletakkan tumpukan kertas dan tas punggung itu di atas jok mobilku
"Selamat pagi, Pak!" sapaku pada pak Satpam yang kini berdiri di depan posnya, kepalaku menyembul dan menatapnya
"Pagi, Non" jawabnya namun wajahnya terlihat kebingungan
Aku menyadari hal itu, " Ada yang ingin bapak bicarakan?" lanjutku kemudian mematikan mesin mobilku dan keluar dari mobil
"Anu, itu ....." dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aku menatapnya tajam
__ADS_1
"Ada yang menunggu, Non. Maaf saya tidak bisa mengantarkannya masuk karena dia ingin menunggu Non di sini"
"Siapa?" pak Satpam menunjuk ke dalam posnya, aku segera menuju ke tempat yang dimaksud
Deg,
Di dalam pos satpam duduk lah Mama, ia tampak lebih tua dari terakhir aku melihatnya. Pandangan mata kami bertemu, ada getaran aneh kala itu, orang yang aku rindukan kini ada di hadapanku namun di sudut hati yang paling dalam masih ada rasa kecewa dan juga marah. Perasaan ini kembali aku rasakan
Ingin aku menyapanya tapi mulutku terasa kaku, tenggoroka kering dan kisah masa lalu kembali berputar. Mama pun juga sama, ia terdiam tapi kali ini ia sedikit mendekat, jarak kami hanya tinggal beberapa langkah saja
"Agnes anak mama" ia mendekat dan memelukku, tidak ada perlawanan dan juga tidak ada balasan. Aku terdiam dan tak bergeming
"Apa kamu baik-baik saja, sayang. Mama merindukanmu" lanjutnya kemudian melepaskan pelukannya, dia menatapku dan mengusap wajahku lembut
"Anak mama sudah dewasa sekarang, dia bukan anak kemarin sore yang menangis saat tertusuk duri mawar" netra mama mengembun ada cairan bening yang berkumpul dan siap meluncur
Kuhela nafasku kasar, "Aku terpaksa menjadi dewasa, karena menjadi anak kecil itu membosankan, melelahkan, dan tidak enak. Kita terus menerus dibohongi tanpa tahu kapan itu akan berakhir" Mama memalingkan wajahnya dan kemudian terlihat mengusap cairan bening yang kini benar-benar lolos dari tempatnya
"Maaf, Nes. Mama benar-benar minta maaf"
"Aku sudah memaafkan mama, tapi maaf itu tidak akan bisa mengubah yang sudah terjadi bahkan tidak akan bisa mengembalikan waktu"
"Menyesal pun tidak ada gunanya, Ma. Semua sudah terjadi, Agnes sudah bisa menerima semuanya sekarang, apa pun itu meski Agnes tahu ini tidak akan mudah dan akan terus membekas"
"Terima kasih jika kamu sudah memaafkan mama, mama senang mendengarnya. Dengan begitu, mama akan tenang menikmati masa tua mama tanpa harus berpikir jika kamu belum bisa memberi mama maaf"
"Ini ada hadiah kecil untukmu, mungkin tidak seberapa tapi pesan mama, ingatlah mama saat kamu melihatnya" mama memberikan sebuah paper bag warna hitam yang ia bawa sejak tadi, aku menerimanya dan mama pun berlalu pergi
"Mama akan kembali ke luar negeri besok pagi, jaga dirimu baik-baik, kunjungi mama jika kamu punya waktu" ucapnya saat berada di luar gerbang dan selanjutnya ia pun pergi bersama sebuah mobil yang sedari tadi menunggunya
Kubuka paper bag itu, di sana terdapat sebuah kotak berukuran sedang dan juga sebuah surat
"Untuk anak mama, Agnes. Mama tahu kamu masih belum bisa menerima mama dan kehidupan mama yang sekarang. Tapi mama harap suatu saat kamu akan mengerti bagaimana perasaan mama yang sebenarnya. Mama harap di hari ulang tahunmu ini kamu bisa memberi maaf pada Mama dan juga semuanya. Selamat ulang tahun anak gadis mama"
"Apa hari ini aku ulang tahun?" tanyaku pada diriku sendiri, entah, aku sudah tidak peduli apakah hari ini aku ulang tahun atau bagaimana. Lagi pula ulang tahu atau tidak toh tidak akan ada yang berubah, semua masih sama karena dunia akan berputar pada porosnya dan bukan pada kehendakku
Aku pun melajukan mobilku dan menuju ke kantor, hari ini adalah hari terakhir ayah bekerja di luar kota dan kemungkinan sore nanti ia sudah kembali. Aku pun tiba di kantor tapi enggan ke luar dari mobil sebab di luar sana sedang ada drama percintaan yang episodenya terus berlanjut setiap pagi dan juga sore hari. Aira dan William, mereka tidak ada henti-hentinya memamerkan kemesraan mereka di tempat umum dan itu benar-benar membuatku enggan melihatnya
Kuraih paper bag dari mama yang kini duduk bersama tas punggungku. Kubuka kotak yang berada di dalamnya, sebotol parfum di sana, parfum dengan botol kaca bentuk segitiga ada bintang-bintang biru kecil di antara cairan warna putih itu. Kubuka penutup botol dan kusemprotkan sedikit ke tanganku, aromanya menenangkan dan aku akui, aku menyukainya
__ADS_1
Tiiiiinnnnnnnnnnttttttttt
Suara itu mengejutkanku, botol parfum yang aku pegang hampir saja jatuh namun aku sigap menangkapnya. Kutengok ke sumber suara, ternyata itu William yang membunyikan klakson motornya dan meninggalkan kekasihnya. Akhirnya drama itu berakhir dan salah seorang pemainnya pergi, selepasnya aku merapikan botol parfum itu dan kemudian turun dari mobil membawa serta kerta bertumpuk dan juga tas punggungku yang sedari tadi teronggok di jok belakang
"Selamat pagi, Bu" sapa Aira ramah di balik meja resepsionis
"Selamat pagi juga" aku menghentikan langkahku di sana
"Ini ada undangan untuk Bu Agnes, suatu kehormatan jika ibu berkenan datang" aku menerima undangan merah itu, undangan yang bertuliskan AW pada sampulnya itu
"Ini undnagan apa, Aira?" aku belum membukanya dan hanya membolak-balikkannya saja
"Malam ini saya akan bertunangan, Bu" jawabnya dengan wajah bahagia
Bertunagan?
Malam ini?
William akan bertunanagan dengan Aira?
Ini mimpi atau kenyataan?
"Saya usahakan datang ya" aku pun melenggang pergi dari sana, tidak ingin menunjukkan apa yang aku rasakan pada Aira, dia pun mengangguk senang
Apakah ia tahu jika William adalah mantan kekasihku? banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan tapi tidak mungkin, aku terus berjalan ke arah ruanganku dengan pikiran penuh dan juga tatapan yang kosong
Begitu sampai di ruangan, kuletakkan semua barang bawaanku di meja, kukunci pintu ruanganku dan kurebahkan tubuhku di sofa ruangan itu, pikranku seketika menerawang jauh kembali mengulang masa lalu dan air mata kembali mengalir
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
. yuk yuk yuk di vote, kasih hadiah buat otor 🤭🤭🤭 biar makin semangat up episode barunya. Mohon maaf ya kalau ada typo bertebaran