HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 93. Aku akan menunggumu


__ADS_3

Kami pun beralih ke ruang tamu apartemen Alexa, tawa yang tercipta di sana kemudian beralih menjadi pembicaraan serius. Aku yang awalnya ragu akan pertemuan ini kemudian mampu membuangnya sebab Tante dan Om Adiputra terlihat lebih welcome dan tidak mempermasalahkan pernikahan yang batal kemarin


Mereka justru memberiku motivasi dan juga dukungan untuk tetap kuat dan sabar menghadapi permasalahan yang menimpa kedua orang tuaku, mereka juga tidak merasa keberatan jika pernikahan itu diundur sebab mereka memahami bagaimana perasaanku saat aku akan menikah tapi justru orang tuaku malah berpisah


Menyesal, hanya itu yang kini terbesit di dalam benakku. Permasalahan yang sebenarnya tidak mereka ketahui, pun juga mereka tahu apakah mereka akan bersikap sama seperti sekarang. Kebaikan dari mereka membuat rasa bersalah ini semakin membuncah dan sampai kapan sandiwara ini akan terus ada, aku sendiri tidak bisa memastikannya dan hanya Tuhan yang akan menjawabnya


"Alexa, duduklah. Papa ingin bicara!" terdengar suara barito Om Adiputra begitu menggema di ruangan itu


Kami semua pun berhenti berbincang dan mulai terlihat serius. Alexa sendiri kini pun duduk di antara kami meninggalkan aktivitasnya yang entah apa yang ia kerjakan sebab sejak tadi ia mondar-mandir tak karuan. Mungkin ia cemas dan merasakan ketakutan akan rivalnya yang kini terlihat lebih sehat dari sebelumnya


"Bisa jelaskan ini semua?" Om Adiputra kemudian menyodorkan ponselnya dan meminta penjelasan akan video yang diputar di sana


Gugup, jelas tergambar di mimik wajah Alexa. Keringat dingin mulai menyeruak dan membuat jantungnya semakin berdetak tak karuan


"A-aku tidak tahu apa maksudnya, Pa" kilah Alexa terbata, tapi Om Adiputra tidak menelan mentah-mentah apa yang dikatakan Alexa


"Lihat video itu sampai habis!" perintah Om Adiputra sekali lagi, Alexa hanya mampu menurut sambil terusencari alibi apa yang akn ia sampaikan pada papanya yang menginterogasinya


"Itu bukan Lexa, Pa!" teriak Alexa


"Jika itu bukan dirimu, harusnya kamu tidak perlu gugup dan juga marah seperti itu. Papa tahu siapa kamu, bagaimana kamu dan juga hal kecil tentang kamu, lebih baik kamu jelaskan semuanya sekarang sebelum Papa bertindak lebih jauh!" suara Om Adiputra tak kalah dari putrinya, ia sudah memendam semuanya sejak beberapa jam yang lalu hingga kini kekecewaan itu pun mencuat


Alexa menciut dan kemudian berdiri, "Iya, memang Alexa melakukannya. Kenapa?"


"Apa Papa akan marah dan menghukum Alexa, silakan lakukan yang Papa inginkan tapi satu hal yang Papa harus tahu, Alexa sudah dewasa dan Alexa sudah bisa memilih jalan hidup Alexa sendiri!" lanjut Alexa, matanya memerah dan juga suaranya bergetar


Om Adiputra pun ikut berdiri dan mendekat ke arah putrinya, ia melayangkan tangannya dan hendak menanpar Alexa namun hal.itu dengan cepat dicegah oleh Tante Rosa


"Istighfar, Pa. Sudah" Tante Rosa mencoba menenangkan suaminya. William berdiri dan kemudian mendekat ke arah ketiganya

__ADS_1


"Akui saja Kak, semuanya sudah terbukti"


"Kamu itu bodoh atau apa Will, kenapa kamu harus membela orang lain dan kini malah akan menjatuhkan keluargamu sendiri?"


"Aku hanya membela yang benar, Kak. Meski kakak adalah keluargaku, jika memang kakak salah sebaiknya akui saja"


Plak


Alexa terlihat menampar William, aku pun terkejut saat melihat pemandangan yang langka itu. Alexa yang kesehariannya bersikap lembut dan juga anggun kini tampak bar-bar dan juga arogan, yah meski ini bukan kali pertama aku melihatnya tapi tetap saja aku terkejut


"Alexa hentikan!" teriak om Adiputra


"Terus saja salahkan Lexa, terus dan jangan pernah berhenti!" teriak Alexa yang seolah seperti kerasukan setan


Aku pun berdiri dan menarik William untuk kembali duduk, ada tatapan aneh yang dipancarkan oleh mata Alexa padaku. Aku tahu dia membenciku sejak awal dan aku tidak tahu apa masalahnya


"Jadi sekarang Papa menyesal, sudah membuang uang Papa demi Lexa. Apa Papa tahu selama ini Alexa terus hidup di bawah tekanan, dibully saat SMA, dijatuhkan, tidak pernah dihargai, tidak bisa memilih jalan hidup Alexa sendiri dan satu hal lagi apa Alexa juga tidak bisa memiliki cinta yang Alexa inginkan. Apa itu semua juga salah Lexa?"


Pertengkaran hebat pun tak terelakkan, William kemudian lebih memilih menarikku dari sana. Ia lebih memilih pergi dan membiarkan semua orang yang memang berada dalam lingkaran masalah itu menyelesaikan masalahnya. William juga sudah meninggalkan beberapa bukti visual maupun audio pada Om Adiputra jika saja Alexa masih menyangkal


William membawaku dengan mobilnya dan mengajakku kembali ke tempat kosku. Aku pun turun ketika sampai di sana


"Terima kasih, Will" ucapku dan berlalu masuk, tapi belum lagi aku melangkah William menarik tanganku


"Apa kita bisa bicara?" tampak William memohon


"Aku sedang ingin sendiri, Will" balasku tak kalah pelan


"Aku akan menunggumu"

__ADS_1


"Pulanglah, aku lelah"


William menghela nafasnya, sedetik kemudian mengangguk kepalanya dan melepaskanku, membiarkan aku pergi namun dia masih di sana menatap punggungku yang lama semakin lama tak terlihat


Dia masih di sana meski aku kini sudah berada di dalam kamarku, kubuka jendela dan kulihat William malah duduk bersama dengan Pak Satpam, mereka berbincang entah apa yang mereka obrolkan tapi kelihatannya itu sangat menyenangkan


Aku masih terus asyik mengamatinya dari kejauhan, tak lama kemudian bu Mariyam datang menghampiri keduanya. Beliau pun ikut nimbrung dalam pembicaraan pria itu yang sepertinya memang menyenangkan


Petang pun datang, William masih saja di sana. Tidak beranjak satu senti pun dari pos Satpam. Sesekali ia mengamati jendela kamarku yang memenag kubuka sejak tadi, ia juga beberapa kali sempat menerima telepon dari entah siapa tapi hal itu tidak membuatnya untuk pergi dari sana


"Ayo pergi makan" pesan yang William kirimkan untukku, aku hanya membacanya dan tidak berniat membalasnya


"Nes" Sekali lagi pesan dari William masuk, aku yang baru saja selesai mandi dan berganti baju pun segera turun untuk menemui William


"Mau ke mana, Nes?" Tanya Bu Mariyam yang kebetulan berpapasan denganku di ujung tangga dan aku pun menjelaskan padanya ke mana akan pergi, senyum manis mereka di bibirnya dan dia berpesan agar aku tak pulang larut malam


Sekali lagi aku mengamati ruang tamu, ruangan yang di kelilingi oleh kamar pengguna kos yang lain tapi sekali lagi tidak aku jumpai adanya aktivitas yang menunjukkan keberadaan mereka


Kubuka pintu utama tempat itu, aku pun disambut dengan senyum manis William yang kini berdiri di di depan mobilnya, wajahnya yang terlihat kusut dan juga kumal tak mengurangi ketampanan yang ia miliki tapi membuatku meragu dan ingin menjauh


.


.


.


.


yuk di vote dan juga dukung otor ya....

__ADS_1


__ADS_2