HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Memabawa Pergi


__ADS_3

Happy reading.......


Rania benar-benar marah kepada Carlen. Selama ini dia mencoba untuk menahannya, bahkan gadis itu bisa memaafkan karena Maya. Tapi kali ini dia sudah benar-benar tidak bisa mentoleransi perlakuan sang kakak.


"Rania, tarik ucapanmu Nak! Tidak boleh berbicara seperti itu! Dia adalah kakakmu. Tidak pantas kamu untuk membencinya," ucap mama Gisel dengan air mata yang sudah menetes.


"Sidah cukup, Mah! Selama ini aku diam saat Kak Carlen menyiksa Mbak Maya, tapi sekarang, kesabaranku tuh ada batasnya. Tidak seperti Mbak Maya yang mempunyai hati luas, kesabaran yang begitu banyak. Hanya demi berbakti kepada suaminya, hanya demi surga, dia rela untuk disiksa. Hanya demi wasiat dan juga amanat dari kedua orang tuanya, dia rela hidup dalam neraka. Apa kalian pernah memikirkan itu? Pernah tidak! Wanita seperti ini kalian malah sia-siakan,ndan malah membela wanita ular seperti dia!" teriak Rania sambil menunjuk wajah Freya dengan dada memburu naik turun.


"Ayo Mbak! Biarkan saja mereka. Aku yakin, suatu saat penyesalan akan meliputi hati mereka. Dan untuk kamu Kak, pegang ucapanku! Jika sampai ucapanku meleset, dia ..." Rania menggantung ucapannya sambil menunjuk wajah Freya dengan tatapan penuh kebencian.


"Suatu saat akan terbongkar sifat busuknya, dan saat itu tiba, jangan pernah mengemis pertolonganku untuk kembali pada Mbak Maya! Dan saat itu tiba, aku pastikan penyesalan akan datang di hati kalian. Dan kamu pasti akan berjuang, dan mungkin saja, Mbak Maya sudah pergi dari hidupmu. Jika itu terjadi, sungguh kamu telah melakukan kesalahan yang begitu sangat besar."


Setelah mengatakan itu, Rania membawa Maya masuk ke dalam kamar, kemudian mengemasi pakaian Maya.


"Kita mau ke mana? Kenapa pakaian Mbak kamu beresin?" tanya Maya dengan bingung.


"Kita pergi dari sini, Mbak. Aku tidak kuat melihat Mbak terus-menerus disiksa oleh kak Carlen. Setidaknya Mbak harus menyayangi tubuh Mbak sendiri. Emangnya Mbak mau mati di tangan suami sendiri? Pikir dong Mbak! Kita lemah boleh, menurut boleh pada suami, berbakti boleh, jangan menjadi wanita yang bodoh! Mau untuk disakiti dan tidak melawan!" bentak Rania. Kemudian dia menghempaskan koper ke lantai.


Wanita itu menangis tersedu-sedu di lantai, dadanya begitu sangat sesak. Sebagai seorang wanita, tentu saja Rania merasakan bagaimana rasa sakit yang diderita oleh Maya. Melihat luka-luka yang selama ini ditorehkan oleh sang kakak, bagaimana mungkin bisa dia tersenyum bahkan tampak baik-baik saja.


Maya dapat melihat kasih sayang yang begitu dalam pada diri Rania kepadanya. Dia memeluk Rania yang sedang menangis dengan tubuh bergetar.

__ADS_1


"Maafkan Mbak, jika selama ini Mbak merepotkanmu. Sungguh kamu adalah orang yang begitu baik. Jangan menangis! Mbak tidak kuat melihatmu bersedih," ucap Maya sambil menghapus air mata Rania dengan tangan yang diperban.


Rania melihat tangan itu, kemudian dia mengecupnya. Rasa bersalah yang begitu dalam menghampiri hati wanita tersebut. "Maafkan kakakku, Mbak. Dia memang iblis yang tidak punya hati. Sungguh demi apapun, aku tidak rela Mbak disakiti lagi! Kita pergi dari sini.nHati Mbak juga tidak kuat bukan? Jangan menjadi wanita yang bodoh! Aku mohon, buka hatimu Mbak. Tidak semua hal yang berbakti kepada suami itu dengan cara seperti ini? Nabi pun tidak mengizinkan, begitupun dengan Allah, dia bahkan melaknat suami yang dzolim kepada istrinya bukan?" seru Rania dengan suara yang bergetar.


Maya menganggukkan kepalanya> dia setuju untuk pergi dari sana. Kemudian mereka keluar dari kamar sambil menenteng satu koper, dan Carlen yang melihat itu menjadi geram.


"Mau ke mana kamu, hah! Enak saja main pergi dari sini. Kamu juga Rania, ini urusan rumah tangga Kakak ya, kamu jangan ikut campur!" geram Carlen.


"Sungguh Allah tidak akan pernah meridhoi seorang suami yang kejam kepada istrinya. Jangankan setetes darah, datu tetes air mata saja karena penderitaan dari suami tersebut, entah siksaan apa yang akan didapatkan di alam kuburnya," jelas Rania.


"Dengan kepergian Mbak Maya dari sini, kalian bebas melakukan apapun. Kamu juga Freya, bebas untuk menguasai harta keluarga kami. Itu 'kan yang kamu incar? Silahkan, jika kamu dapat menguasainya. Dan seharusnya kamu juga senang 'kan Kak, jika Mbak Maya pergi dari sini? Tidak harus kamu menyiksanya. Tidak harus kamu melihat wajahnya yang menjijikan!" Setelah mengatakan itu, Rania menarik tangan Maya untuk keluar dari rumah tersebut.


"Bawa saja pergi dia dari sini!" teriak Carlen.


Rania menyetir mobilnya, sedangkan Maya hanya diam duduk sambil menatap ke arah jalanan. Kata-kata yang terlontar dari mulut Carlen terlintas di benaknya, apalagi saat pria itu dengan tidak peri kemanusiaannya mengiris kedua tangan Maya.


Bahkan tidak ada rasa khawatir yang ditunjukkan oleh Carlen saat tangannya terluka, tidak seperti saat Freya yang memfitnah dirinya.


"Mbak!" panggil Rania. "Jangan terlalu dipikirkan. Aku yakin, suatu saat kebenaran akan terbongkar. Allah itu tidak tidur Mbak," jelas Rania.


"Mbak hanya tidak menyangka saja, Rania. Kenapa hidup Mbak bisa se menderita ini? Ksalahan dan dosa apa yang pernah Mbak perbuat," ujar Maya sambil menitikan air matanya.

__ADS_1


"Memang benar apa yang dikatakan Mbak kepadaku, jika garis takdir kita sudah ditentukan oleh Allah. Tetapi kita bisa bukan untuk merubahnya? Mbak, aku tidak ingin melihat Mbak sakit, apalagi terluka karena ulah kakakku. Dulu Kak Carlen orang yang baik, lemah lembut, pelindung wanita, tapi entah kenapa aku pun tidak tahu, kenapa dia sangat begitu membenci Mbak Maya? Padahal kepergian Freya, karena wanita itu berselingkuh, bukan hanya karena tidak direstui oleh kakek," jelas Rania.


"Freya selingkuh?" tanya Maya dengan heran.


"Iyax Freya selingkuh. Dia menjadikan restu dari kakek sebagai alasan untuk pergi dari kakak. Tapi kakak begitu sangat mencintai wanita itu, sampai-sampai kebodohan sudah mengalahkan logikanya. Aku yakin, saat kebusukan Freya terbongkar, saat itu pula dia akan menyesali semua yang telah dilakukannya pada Mbak Maya," tutur Rania.


Maya akhirnya meminta Rania untuk mengantarkannya ke sebuah kontrakan yang berada tak jauh dari Cafe. Karena di sana ada kontrakan beberapa karyawannya juga. Maya tidak ingin pulang ke rumah peninggalan orang tuanya, sebab dia ingin menenangkan diri.


"Mbak yakin, ingin tinggal di sini?" tanya Rania saat menurunkan koper Maya dari mobil.


"Yakin! Sudah, kamu nggak usah khawatir. Lagi pula, ini deket juga dengan Cafe Mbak," jelas Maya.


Rania mengangguk, kemudian dia membantu Maya untuk membereskan kontrakan tersebut. Di mana hanya ada satu dapur, kamar mandi, satu kamar dan juga ruang tengah.


"Malam ini apa Rania boleh menginap, Mbak? Rasanya aku tidak ingin pulang ke rumah dulu," pinta Rania dengan wajah yang sendu.


"Tentu saja. Mbak telepon karyawan dulu ya, mau minta mereka untuk membawakan makanan ke sini," ucap Maya dan Rania langsung memanggukan kepalanya. Sebab mereka belum sarapan pagi, karena langsung disuguhi drama yang begitu menguras emosi.


"Iya, Rania juga lapar habis marah-marah. Ternyata bener ya kata pepatah, marah-marah juga membutuhkan tenaga? Buktinya nih perutnya laper banget," kekeh Rania sambil memegangi perutnya yang sedari tadi berbunyi minta asupan gizi.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2