
"Terima kasih, Sam"
"Tapi apa kamu yakin akan menunggunya, Sam?" lanjut Willy
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, jika memang dia mau menerimaku maka aku akan dengan setia menunggunya entah kapan pun"
"Baik, aku pegang kata-katamu. Aku harap itu bukan hanya sebuah hal yang ingin kamu coba" Samuel hanya mengangguk dan terus tersenyum, ia lalu berpamitan pada kami berdua dan akan kembali menunggu Alexa, aku dan William memutuskan untuk ikut dengannya
Belum lagi Sam berjalan datang lah Prima yang terlihat kebingungan, ia mengatakan jika Alexa sudah sadar dan tengah mencari Samuel. Kita beranjak lalu berjalan ke ruang rawat Alexa
Dari luar ruang rawat itu terdengar isakan dari dua wanita yang kini tengah mengobrol intim, keduanya terlihat tengah berpelukan dan berurai air mata. Ada raut penyesalan di wajah Alexa, wajah yang dulu penuh keangkuhan, kemarahan serta keserakahan kini berganti menjadi wajah sendi dengan berurai air mata
Pun juga Mbak Sumi, dia yang pada dasarnya wanita lemah lembut dan juga penuh kasih sayang. Kini tampak lebih tenang dan juga sabar, kesakitan dan juga kehilangan yang sempat ia rasakan dulu tak lagi terlihat di wajahnya, rasa ikhlas serta hati yang kuat membuatnya mampu menghadapi jalan hidup yang tidak mudah itu
"Tunggu, biarkan mereka berbicara dulu. Beri mereka waktu" cegah Sam pada kami semua, kami hanya diam di depan pintu sambil sesekali mengamati pemandangan yang terpampang di sana
"Maaf, maafkan aku" lirih Alexa sambil terus menangis, air matanya tak henti menetes
"Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu meminta maaf"
"Aku egois, serakah dan tidak tahu malu. Harusnya aku menerima semuanya dan membiarkan Prima hidup dengan orang yang ia cintai dan dengan begitu maka semuanya tidak akan berakhir seperti ini" sesal Alexa semakin menjadi, ia kembali mengingat apa saja hal buruk yang pernah ia perbuat
"Semuanya sudah menjadi jalan hidup kita masing-masing, menyesal pasti ada namun jangan mengorbankan diri kamu atas semua ini. Kita semua hanya manusia biasa, egois, serakah dan juga tidak tahu malu memang pasti melekat pada diri kita semua, asalkan kita tidak mengulangi hal yang sama pasti hal buruk tidak akan menghampiri kita"
"Kenapa kamu baik sekali, aku sudah membuat hidupmu hancur tapi kamu masih mau memaafkan aku"
"Tuhan saja mau memaafkan umatnya, apalagi kita yang hanya ciptaan Tuhan, kita tidak perlu dendam karena semuanya hanya akan membuat hidup kita menjadi lebih buruk lagi"
"Terima kasih, sekali lagi terima kasih" keduanya kembali berpelukan dan menangis haru
"Kak!" William tidak sabar untuk menyapa kakaknya yang kini sudah sadar itu, Alexa menatapnya dan tangis pun kembali pecah di netra Alexa
Mbak Sumi berdiri dan mendekat ke arah suaminya, sementara William mengajakku untuk mendekat ke arah kakaknya. Ada kekhawatiran tersendiri di hatiku, terakhir kali bertemu dengannya tercipta kondisi yang tidak kondusif di antara kami berdua
__ADS_1
"Agnes" sapanya padaku, aku mengangguk dan duduk di sampingnya
"Bagaimana kabarmu?" ucapnya lirih dan juga lemah, ini pertama kalinya dia menyapaku dengan tatapan teduh dan juga haru, biasanya dia akan menerkam dan mengeluarkan suara yang sadis dan juga sinis
"Aku baik, Kak" Dia tersenyum
"Kudengar kalian akan menikah, kapan?" lanjutnya lagi, aku menatap William dan William mengangguk
"Dalam waktu dekat, Kak" jawabku
"Maafkan aku jika nanti aku tidak bisa hadir di pernikahan kalian berdua, aku tidak bisa berada di dekat kalian dan ikut berbahagia bersama kalian. Tapi aku doakan semoga kalian selalu bahagia dan juga langgeng" kuberanikan diri untuk memeluknya kali ini, aku ikut larut akan suasana kali ini
"Terima kasih, Kak"
"Will, cintai dia sama seperti kamu mencintaiku dan juga mami" William mengangguk
"Maaf, waktu kalian sudah habis. Silakan kembali lagi besok" seorang penjaga masuk dan memberitahukan jika waktu yang kami miliki sudah habis
"Beri kami waktu lima menit lagi, pak" pinta Samuel, petugas itu menggeleng
"Kak, kami akan datang lagi lain waktu. Jaga diri kakak baik-baik, jangan lewatkan waktu makan " Alexa mengangguk
"Kak, aku pamit ya"
"Hati-hati kalian semua" dan kami keluar dari sana, meninggalkan Alexa dengan hati yang berat. Ini pertama kalinya bagiku merasakan khawatir padanya
...****************...
"Kita ke mana, Mas?" kulihat jalan yang tidak menuju ke arah rumah melainkan ke tempat lain
"Kita ke tempat kerja dulu, ya. Ada sesuatu yang ingin Akh tunjukkan padamu" aku mengangguk
Beberapa saat kemudian kami sampai di gedung itu, akunturun dari mobil dan ikut William masuk. Di sana sudah ada Prima yang entah kapan datangnya namun tak kulihat Mbak Sumi di sampingnya
__ADS_1
"Banyak yang datang, Prim?"
"Enggak, Will. Kenapa?"
"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan, apa kamu bisa handle semuanya sebentar saja?" Prima mengangguk, aku dan William pergi ke lantai dua, dia mengajakku ke kantor miliknya yang berada tepat di samping mini cafe
Aku masuk ke dalam kantor itu, kantor dengan dinding kaca di sekelilingnya, membuat aktivitas yang ada di luar tampak dari sana, di dalam ruangan itu hanya terdapat sebuah meja kaca bentuk bundar dan di kelilingi dengan kursi yang berwarna putih bersih, di sudut kiri ruangan itu terdapat sebuah rak besi besar yang berisi contoh foto pernikahan, dekorasi serta berbagai bentuk undangan pernikahan
Aku duduk di salah satu kursi itu, menunggu William yang kini tengah mencari sesuatu di rak besi itu, satu per satu dari semua buku yang berjajar di sana tak luput dari pengamatan Willy
Sesaat kemudian ia selesai dengan apa yang ia kerjakan dan mendekat ke arahku membawa setumpuk buku yang ia bawa dengan kedua tangannya
"Lihat semuanya dan pilih yang kamu suka" buku-buku itu mendarat tepat di depan mataku, seketika aku langsung melakukan apa yang diucapkan oleh William, kulihat dengan seksama apa yang ada di dalam buku-buku itu mulai dari dekorasi, foto prewedding sampai akad nikah serta berbagai bentuk dan warna undangan
Aku sempat terpikir memilih sebuah dekorasi yang menurutku sangat lah elegan namun simpel, sebuah undangan dengan warna dan bentuk yang unik serta sebuah konsep foto prewedding yang menurutku juga simpel, tapi saat aku kembali ingat jika salah satu anggota keluarga William berada di dalam penjara maka aku urungkan niatku untuk memilih semua itu. Kututup kembali semuanya dan kusodorkan pada William yang berada tepat di depanku
"Loh, kok ditutup?" ia tampak heran
"Kamu enggak suka sama semua desain dan konsepnya atau kamu punya konsep sendiri?" aku menggeleng
"Lalu?"
"Apa kamu yakin akan merayakan pernikahan kita dengan mewah saat kak Alexa berada di penjara seperti saat ini?" Willy terdiam mencerna apa yang aku tanyakan padanya
"Aku bukannya tidak mau memakai semua desain dna konsep yang ada di katalogmu tapi bagiku semuanya terlalu berlebihan, aku tidak ingin berbahagia saat kak Lexa sekarang tengah mengaduh kesakitan dan menjalani hukumannya"
"Terus kita enggak jadi nikah dong?" kuusap lembut tangannya mencoba menghilangkan wajah masamnya yang kini sudah ada di sana
"Kita tetap akan menikah, Mas. Tapi kita tidak perlu membuat pesta perayaan apa pun. Aku tidak ingin Kak Alexa semakin sedih dan membuat pikirannya terbebani" Sekali lagi aku jelaskan padanya, meski selama ini Kak Alexa tidak pernah menyuakiku tapi aku tidak akan membalasnya, toh membalas seseorang yang tengah tak berdaya itu bukanlah hal yang patut dibanggakan dan diunggulkan, terlebih lagi sekarang dia juga sudah menyadari dan meminta maaf atas apa yang pernah ia lakukan maka tidak qda salahnya jika aku juga membalas niat baiknya
"Kamu tidak ingin pesta pernikahan?"
Aku mengangguk, "Pesta itu tidak penting, Mas. Yang penting kita sudah sah di mata agama dan juga hukum, kedua orang tua, saudara, teman dan juga kerabat mendoakan hal baik untuk kita"
__ADS_1
"Tapi, sayang" buru-buru aku memintanya diam dan tidak lagi mencari alasan untuk pernikahan kita nanti
"Aku punya rencana, Mas. Aku harap kamu menyetujuinya"