HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Episode 78


__ADS_3

"Tahu apa kamu soal cinta, jangan menasehatiku, apa pun nanti akhirnya kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu semua. Dan ingat satu hal, buang rasa suka dan cintamu itu sebab sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyukaimu!"


Samuel tersenyum, " Aku memang tidak tahu apa-apa soal cinta, tapi satu hal yang aku memahaminya. Memeng cintaku padamu tidak pernah terbalas, tapi setidaknya aku tidak pernah mengusikmu atau pun menyakiti orang yang dekat denganmu, aku cukup bahagia bisa mencintaimu meski itu dari kejauhan. Dan ingat Alexa, cinta ini akan tetap di hati dan biarkan yang memiliki cinta itu sendiri yang akan menariknya kembali nanti!"


"Terserah apa maumu, aku tidak peduli. Keluar sekarang!" Tegas Alexa seraya menunjuk ke arah pintu ruangannya dan tanpa membalas ucapan Alexa , Samuel pun segera pergi dari sana dengan wajah datar dan tentunya hati yang sakit


Cinta yang selama ini ia perjuangkan dalam diam dan dalam kejauhan akhirnya menemui titik terang bahwa dirinya tak bisa bersama dengan orang yang ia harapkan. Samuel pun melangkah ke luar dari restoran Alexa dan segera kembali masuk ke dalam mobilnya dan melaju entah ke mana.


Di rumah sakit


Prima masih enggan beranjak dari sisi kekasihnya, sudah berhari-hari ia tak pulang dan bahkan tak pernah ke luar dari ruang rawat itu.


Untuk membeli makan, ia tidak berani untuk beranjak se senti pun dari sisi kekasihnya itu. Untung saja selama ini William selalu berada di dekatnya, sehingga hal itu membuat hubungan mereka kembali menghangat dan kini sudah sedikit akrab.


"Makanlah dulu, kamu akan ikut sakit jika terus seperti itu" Tunjuk William pada sebuah kantong yang berada di atas meja


Prima menoleh dan tersenyum, "Terima kasih, Will". William pun kemudian berdiri sembari membenahi setelan jas yang ia kenakan saat ini


" Aku akan kembali nanti sore, kabari aku secepatnya jika ada hal yang penting" William pun kemudian ke luar dari ruangan itu sedangkan Prima sendiri kemudian berdiri dan mendekat ke arah apa yang ditunjukkan oleh William beberapa saat lalu


Ia membukanya dan kemudian memakannya, namun baru beberapa suap makanan itu masuk ke dalam mulutnya ia pun berhenti tatkala dikejutkan dengan suara nyaring yang menggema di dalam ruangan itu


Tiiiiiitttttttt ......

__ADS_1


Suara nyaring itu membuatnya seketika terkejut dan menghentikan aktivitasnya, ia pun berdiri dan segera menghampiri suara itu


Matanya menatap ke dua buah alat pendeteksi jantung yang kini berjajar, didengar dan dilihatnya berulang kali dua benda itu mencoba memastikan apa yang baru saja terjadi


Dan benar saja, suara nyaring itu berasal dari salah satu alat pendeteksi jantung yang kini berada di depan matanya, ia melihat alat itu terus bersuara dan menunjukkan sebuah garis lurus ya g panjang dan tak berbeda, dan hal itu terjadi pada alat pendeteksi jantung milik pak Samin


Dengan segera Prima pun berlari ke luar ruangan dan memanggil dokter dan perawat yang sedang berjaga


"Dokter tolong!" teriak Prima saat melihat dokter yang kala itu berjalan di koridor dan dengan segera ia pun kemudian berlari ke arah di mana Prima berada


"Tolong segera masuk. Darurat, Dok!" Prima dengan segera menyeret laki-laki berjas putih itu masuk ke dalam ruangannya dan segera menunjukkan apa yang terjadi. Sang Dokter pun segera bergegas memeriksa Pak Samin yang ini terlihat makin pucat.


Beberapa Suster kemudian berlarian masuk ke dalam ruang itu menyusul sang Dokter yang kini tengah berusaha untuk menyelamatkan Pak Samin.


"Maaf, Mas. Kami sudah melakukan yang terbaik tapi takdir berkata lain!" Jelas Dokter sembari berjalan mendekat ke arah Prima


Perasaan hancur itu sekali lagi ia rasakan. Sakit yang beberapa hari ini ia rasakan kini bertambah dengan perginya orang penting yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri. Prima tak mampu berucap, ia hanya diam sembari menganggukkan kepalanya pelan. Ia juga tak habis pikir, hal apa yang akan ia katakan pada kekasihnya nantinya saat ia tersadar dan terbangun, ia tahu pasti ini bukan hal yang baik dan mudah diterima dan pastinya akan mengguncang hati Mbak Sumi


Inilah takdir. Baik, buruk, menyenangkan atau pun menyedihkan tidak bisa kita pilih satu per satu, kita harus menjalani semuanya dengan ikhlas dan juga hati yang lapang. Mudah memang mengucapkan sabar dan ikhlas walaupun pada kenyataannya hal itu sangat sulit dijalani tapi hidup harus terus berjalan.


Kita harus melihat ke depan dan menyusun hidup yang lebih baik, lupakan yang sudah terjadi biarkan kenangan itu hidup di hati dan juga memori kita, memberikan pelajaran dan juga penuturan agar kita tidak mengulang hal yang mungkin menyakitkan atau pun menyebabkan hal yang kita miliki pergi meninggalkan kita


Dengan segera dokter pun pergi dari ruangan itu, menyisakan beberapa Suster yang kini tengah sibuk mencabut beberapa selang dan juga alay lainnya yang menempel pada tubuh laki-laki tua itu. Dengan segera selimut yang membalut separuh tubuhnya itu kini telah menutupi seluruh tubuh laki-laki renta yang tubuhnya penuh dengan luka itu.

__ADS_1


Tak berselang lama, tubuh kaku Pak Samin pun di bawa ke luar dari ruang perawatan itu dan suster pun segera meminta Prima untuk segerabmengurus semuanya. Ia hanya mengangguk sekali lagi dan sebelum itu ia pergi mengambil ponselnyqnyang tergeletak di atas meja dan segera menghubungi seseorang


...***************...


Aku sendiri kini tengah bersama dengan Bu Mariyam, sejak kemarin dia tidak pernah mau aku tinggal dan selalu mengikuti ke mana pun aku pergi


"Tetaplah di sini, temani saya!" pintanya sekali lagi sembari menepuk kursi ruang tamu yang kini ia duduki


"Iya, Bu. Bukankah sejak kemarin saya di sini dengan Bu Mariyam" ucapku sembari meletakkan dua gelas teh hangat yang baru saja aku ambil dari dapur


"Kapan kamu akan menikah?" pertanyaan itu kembali terlontar, aku menatapnya dengan tatapan yang entah aku pun bingung menhelaskannya


"Kenapa menatapku seperti itu?" lanjut Bu Mariyam


Aku pun kemudian berpaling dan menatap ke arah yang lain, " Ah, tidak. Aku akan menikah dengannya tidak lama lagi" lanjutku kemudian


"Apa aku boleh tahu tanggalnya?" selidiknya lagi


Aku semakin tidak tahu harus menjawab apa, jika akuengatakan hal yang sebenarnya maka kebohongan ini akan terbongkar tapi jika aku berbohong maka aku tidak tahu kapan kebohongan ini akan terus berlanjut dan jawaban apa yang akan aku beri


Belum aku jawab pertanyaan itu, tiba-tiba ponselku berdering. Mengejutkan aku yang kala ini tengah berpikir mencari alasan apa yang akan aku katakan. Aku pun kemudian beranjak dan meminta ke luar sebentar untuk mengangkat panggilan itu


Lega rasanya bisa terbebas dari interogasi Bu Mariyam yang semakin menyudutkanku

__ADS_1


"Halo, ada apa Will?"


__ADS_2