
"Terima kasih atas kerjasamanya, saya harap kita bisa menjadi partner untuk ke depannya" ucap Lian sembari menjabat tanganku dan juga ayah, kesepakatan kami berakhir dengan hasil yang memuaskan. Transaksi siang hari ini mencapai titik temu yang diharapkan
"Sama-sama, Lian. Sampaikan rasa terima kasih kami pada miss Mar yang sudah mau memberikan kepercayaan pada perusahaan kami" lanjut Ayah dan kemudian Lian pun pergi dari kafe itu
"Kita bisa bicara sebentar, Nes" pinta Ayah dan kami pun kembali duduk
"Untuk hari ini kita dipercaya oleh miss Mar, untuk menjual kembali properti dan juga rumah miliknya. Tapi kita tidak perlu menjualnya, kita pakai uang kita dulu untuk membayar mereka, bagaimana?" tawar Ayah mengenai apa yang siang ini dibahas
"Jadi maksud Ayah kita menggadainya?"
"Semacam itu, tapi mereka tidak perlu tahu hal itu. Kita berdua tutp rapat pembicaraan ini dan jangan sampai terdengar oleh mereka"
"Apakah Lian juga tahu?" Ayah menggeleng
"Yang dia tahu kita hanya sebagai perantara seperti biasa, nanti setelah rumah dan semuanya terjual kita bisa menghubunginya kembali" jelas Ayah lagi
"Jika itu keinginan Ayah, Agnes ikut saja. Agnes juga masih punya simpanan uang yang mungkin bisa membantu ayah"
"Terima kasih, Nes. Kita bantu saja mereka sekuat kita, mereka sudah baik dan menerima kita dan sekarang giliran kita membantu mereka"
"Iya, Ayah. Oh iya, tadi William menghubungiku dan meminta untuk bertemu"
"Temui saja dia, siapa tahu dia perlu sesuatu" Aku mengangguk
"Agnes akan menemuinya setelah mengantar Ayah ke kantor"
"Tidak perlu, Ayah bisa menghubungi Pras dan memintanya untuk ke sini. Kamu temui William secepatnya"
"Baiklah" aku pun segera pergi dari sana, meninggalkan Ayah yang masih ingin menikmati makanannya sembari menunggu Pras datang
...****************...
Aku kini menuju ke tempat di mana William berada, dia memberiku alamatnya sesaat setelah aku keluar dari kafe ABC. Aku sedikit heran dengan alamatnya kali ini, ini berada jauh dari pusat kota dan bisa dibilang berada di sebuah desa. Tiga jam lamanya aku harus menempuh perjalanan ke sana, sesaat sebelum tiba di sana aku menghubungi Ayah dan mengatakan jika nanti mungkin aku akan pulang larut malam dan ia pun mengizinkannya
Jalan yang aku lewati kali ini benar-benar menguras energi, tidak hanya tanjakan yang tinggi namun juga jalan yang rusak, berbelok serta berlubang membuat jalan ini menjadi sangat sulit dilalui. Di sekitaran jalan ini hanya terdapat beberapa rumah dan selebihnya seperti hutan atau pun semak-semak. Aku sempat berpikir ingin putar balik namun aku teringat kata Ayah yang memintaku untuk menemuinya siapa tahu dia sedang dalam masalah, maka aku pun membulatkan tekadku untuk menemuinya
Tiga jam berlalu, aku pun sudah sampai di lokasi yang dikirimkan William. Aku yang selama perjalanan merasa ketakutan, bukan hanya karena kondisi sekitar yang aku rasa baru tetapi aku sendiri lupa mengisi bahan bakar dan kini bahan bakar mobilku sudah sampai batas akhir. Kuamati sekitar yang tampak lebih ramai dari jalan yang aku lewati, aku mengajukan mobilku perlahan untuk sampai tepat di titik lokasi
__ADS_1
"Tujuan anda berada di sebelah kiri" begitulah suara yang google maps sampaikan, aku pun menoleh ke arah yang dimaksud dan di sana tampak sebuah rumah kecil atau lebih tepatnya sebuah vila sederhana yang asri dan juga bersih
Vila bercat coklat dan di bagian luarnya ditopang dengan bambu itu terlihat nyaman dan juga hangat, ada beberapa pot yang menggantung di sana berisi tanaman yang berwarna serba hijau terlihat menyegarkan mata
Halaman vila itu tidak begitu luas, di sisi kiri dan kanannya terdapat kebun buah jeruk yang kini tengah berbunga dan mengeluarkan aroma yang menyegarkan indera penciuman. Berjarak sekitar 500 meter terdapat beberapa bangunan yang berukuran sama dengan vila yang kali ini aku lihat, di kanan kirinya pun memiliki pemandangan yang tidak jauh berbeda. Tepat di seberang jalan terdapat sebuah pemandangan yang tidak kalah menyejukkan mata, hamparan sawah dan pegunungan terlihat sejauh mata memandang, memberikan rasa ketenangan yang tak pernah dirasakan di ibukota
Aku pun turun dari mobil sesaat setelah memarkirkan mobilku di halaman, kulangkahkan kaki sembari menghubungi William melalui sambungan telepon. Berkali-kali aku meneleponnya namun tidak ada jawaban, aku menghentikan langkahku dan melihat sekeliling. Tidak ada aktivitas apa pun dan bahkan tidak ada orang tang lewat kala itu, matahari sudah mulai naik tapi hanya angin yang berhembus
Aku kembali masuk ke dalam mobil, ketakutan pun tak bisa aku hindari. Kucoba kembali menghubungi William namun lagi-lagi tak ada jawaban, untuk menghindari ketakutan kunyalakan musik dengan volume yang sedang dan kemudian mencoba menghubungi William kembali
Tiga puluh menit berlalu, aku berniat untuk pergi dari sana sebelum pada akhirnya suara ketukan di jendela mobilku membuatku semakin takut. Aku tidak tahu siapa dia, tapi semakin ke sini semakin keras mengetuk dan membuatku semakin gemetar
Ponselku berdering dan tampak nomor William di sana, segera aku menyambarnya dan menjawab panggilan itu
"Kamu di mana, Will?" segera setelah panggilan terhubung
"Aku di luar, buka mobilmu" aku melihat ke jendela dan ternyata di sana memang William, rasa lega pun muncul dan dengan segera aku membuka pintu mobilku. Tanpa aba-aba aku memeluknya untuk menepis ketakutan yang beberapa saat lalu aku rasakan
"Kamu kenapa, Nes. Ada apa?" sambung William saat aku memeluknya, aku pun tersadar dan melepaskan laki-laki yang kini terlihat berbeda itu. Wajahnya sedikit tirus, mata panda terlihat di wajahnya, rambutnya yang tidak tertata serta kini yang ia kenakan hanya kaos polos warna hitam dan juga celana yang pendek, tidak seperti biasanya ia yang selalu terlihat berwibawa dan juga tampan mengenakan setelan jas kantornya
Aku menatap wajah itu, ada guratan kesedihan di sana. Ada beban berat yang ia rasakan saat ini tapi ia mencoba menutupi semua itu dengan sebuah senyuman yang sedikit dipaksakan
"Maaf, aku tadi pergi ke suatu tempat. Poselku aku kantongi sebab aku membawa motor" William menunjuk ke arah motor yang sudah terlihat tua itu, motor yang sudah berwarna kusam dan beberapa bagian sudah berkarat. Sungguh di luar ekspektasi, seorang William Adiputra yang seorang konglomerat kini harus menghadapi kehidupan yang berbanding terbalik dengan apa yang ia lakoni beberapa saat lalu, karena kesalahan saudaranya ia pun juga harus menanggung dampak negatif dari hal itu
"Ayo masuk, ada yang ingin aku bicarakan" tanganku pun digandeng olehnya memasuki vila itu. Vila yang terlihat nyaman di luar dan juga tak kalah menyenangkan di dalam, tempat ini begitu antik dan juga klasik. Semua furniturnya terbuat dari kayu yang usianya sudah sangat tua namun masih sangat kokoh, segala bentuk perabotannya pun juga terbilang langka mulai dari peralatan makan hingga lampu hias yang menggantung di ruangan ini. Kenyamanan pun sangat terasa kala sorot lampu warna putih berpadu dengan cat yang berwarna coklat itu
William mengajakku ke sebuah ruangan yang berada di sudut vila itu. Sebuah kamar yang memang hanya satu-satunya yang berada di tempat ini, kamar yang bersisihan dengan dapur dan juga ruang tamu itu
"Assalamualaikum, Oma. Ini Willy" ucap William saat mengetuk pintu. Mendengar kata oma aku pun teringat akan apa yang dikatakan oleh Ayah dan juga Lian tentang William dan juga bu Mariyam, aku mulai menebak apakah oma yang dimaksud adalah Bu Mariyam atau ada oma yang lain
"Oma?" kuberanikan diri untuk bertanya dan Willy mengangguk
"Nanti kamu juga akan tahu" jawabnya dan setelah sahutan terdengar dari dalam kami pun masuk
Baru juga melangkah, aku sudah bisa melihat siapa yang kini berada di atas tempat tidur berukuran besar itu. Bu Mariyam, benar orang itu adalah Bu Mariyam atau yang dikenal dengan miss Mar, nenek dari William yang selama ini aku pun tidak menyadari kehadirannya. Aku mulai berpikir, apa yang akan aku katakan padanya nanti tentang kebohongan pernikahan yang pernah aku ceritakan padanya
William melangkah terlebih dulu mendekat ke arah omanya yang terlihat kurang sehat itu, aku masih berdiri di ambang pintu dan melihat keakraban mereka berdua
__ADS_1
"Agnes!" Panggil William membuyarkan lamunan, aku mendekat namun dengan hati was-was namun bu Mariyam malah tersenyum menatapku
"Bu Mariyam" lirihku saat duduk di kursi yang berada di depannya
"Iya sayang" jawabnya lirih sembari merentangkan keduanya tangannya ingin memelukku, aku pun menyambutnya dan memeluknya
"Maaf, selama ini oma sudah membohongi kamu tentang siapa oma dan juga tentang rumah itu" lanjutnya dan kemudian melepaskan pelukannya
"Tidak apa, Oma. Agnes juga sudah berbohong sama oma soal pernikahan itu" Bu Mariyam menggeleng "Jangan merasa bersalah, semua manusia pasti pernah lalai"
"Mari kita berkenalan" Bu Mariyam mengulurkan tangannya
"Mariyam, oma Mariyam. Dan mulai sekarang kamu juga harus memanggil dengan sebutan oma seperti Willy"
"Aku Agnes, Oma" aku juga memperkenalkan diriku dan kita bertiga pun tertawa
"Apa kamu tahu, Nes. Aku cucunya, tapi beberapa hari ini dia terus mencarimu dan tidak menganggapku" William menyilangkan kedua tangannya di dada, ia merasa cemburu sebab oma Mariyam lebih ingin bersamaku dan tidak ingin bersamanya
"Kamu cemburu, Will?" William mengangguk
"Aku sangat cemburu, Nes" dan kami pun kembali tertawa, benar-benar kondisi yang hangat saat ini, menghilangkan kecemasan yang beberapa saat lalu aku rasakan
"Kenapa beberapa hari ini kamu tidak menghubungi oma, tidak datang ke rumah dan juga meninggalkan barang-barang tanpa berpamitan?"
"Maaf oma, beberapa hari ini Agnes bekerja dan soal barang-barangku dan juga tidak berpamitan itu coba oma tanyakan sendiri pada cucu oma itu!" aku menatap William berharap dia menjelaskan semuanya
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Yuk vote dan like nya dikeluarkan
jangan pernah bosan untuk selalu stay di novel ini ya