HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Aku Ini Suamimu, Freya!


__ADS_3

Happy reading........


Carlen memutuskan untuk tidak mencari Maya. Dia tidak ingin wanita itu kegeeran. Namun tetap saja, di dalam hati pria tersebut seperti ada yang kurang, apalagi karena mengingat bagaimana saat dia menyetubuhi Maya dengan sangat kasar.


'Apa iya benih ku bisa tumbuh dalam satu kali pembuatan?' batin Carlen.


.


.


Jam menunjukkan pukul 19.00 malam, saat ini Carlen baru saja sampai di rumah. Dia terlihat begitu sangat lelah, bukan hanya karena soal kantor saja, tapi pikirannya juga terkuras seharian ini.


Pria tersebut masuk ke dalam rumah, tapi tidak melihat Freya. Biasanya yang menyambutnya pulang adalah Maya, wanita itu selalu saja berdiri di depan pintu dan mengambil tas kerja serta jasnya, tapi kali ini Carlen seperti merasa ada yang kurang.


Dia langsung berjalan menuju kamar namun, tidak melihat Freya sama sekali. 'Ke mana dia? Kenapa tidak ada di kamar? Tidak ada di lantai bawah juga. Apakah Freya belum pulang?' batin Carlen bertanya-tanya.


Lalu dia pergi membersihkan diri, dan setelah beberapa menit pria itu pun keluar dengan wajah yang segar. Dan berbarengan dengan itu, Freya masuk sambil menenteng barang belanjaannya dan menaruhnya di sofa.


"Kenapa kamu jam segini baru pulang? Tidak lihat ini sudah jam berapa?" tanya Carlen dengan nada yang dingin dan sedikit kesal.


"Aduh sayang, kamu jangan marah-marah deh. Ini baru juga jam 20.00 nggak usah sensi. Lagi pula, aku capek tahu! Aku mau mandi dulu," jawab Freya dengan cuek.


Carlen yang melihat itu pun segera mencekal tangan Freya dan menatapnya dengan tajam. "Seharusnya suami pulang itu kamu sambut, sudah ada di rumah. Tapi malah keluyuran? Lain kali kalau sampai terjadi seperti ini lagi, aku tidak akan membiarkanmu untuk belanja, paham!" gertak Carlen, kemudian dia masuk ke dalam ruang ganti.


"Sayang, nggak bisa gitu dong! Aku 'kan juga butuh hiburan. Mana mungkin di rumah terus-menerus? Kamu nggak bisa mengekang aku kayak gitu!" teriak Freya tidak percaya dengan apa yang suaminya katakan.


"Kenapa tidak bisa? Maya saja bisa. Sekarang di sini hanya ada kamu, istriku. Kamu harus melayaniku! Aku ini suamimu." Carlen berbicara sambil memakai bajunya.

__ADS_1


"C'mon sayang, jangan samakan aku dengan wanita udik itu! Kami jelas-jelas aja sangat berbeda dari segi apapun. Kamu 'kan tahu, aku ini seorang model, fashion itu sudah menjadi duniaku. Beda dengan wanita udik itu yang hanya bisanya ngepel, nyapu dan juga masak," jawabnya dengan sedikit ketus.


"Dan sekarang, harusnya kamu seperti itu. Kamu memasak buat aku, kamu nyediain semua keperluan aku, 'kan kamu istriku," jelas Carlen.


"Aku istrimu, tapi bukan pembantumu. Lagi pula, untuk semua kebutuhanmu 'kan ada pelayan. Bisa dikerjakan dengan mereka, masak juga. Kamu 'kan tahu, aku tidak terlalu pandai dalam memasak?"


Carlen menghela napasnya dengan kasar, rasanya kepala dia sudah sangat pusing. Apalagi harus berdebat dengan Freya. "Terserah, aku malas berdebat dengan kamu. Kalau sampai hal ini terjadi lagi, aku tidak akan memberikanmu jatah, paham!" ancam Carlen, setelah itu dia keluar dari kamar sambil membanting pintunya.


Brak!


Carlen berpikir, jika Freya benar-benar sangat berbeda dengan Maya. Di mana saat wanita itu dimarahi, Maya akan diam saja dan menurut, tetapi beda dengan Freya. Wanita itu malah melawannya, bahkan tidak memperdulikan dirinya sebagai seorang suami.


Tidak Carlen pungkiri, Freya memang pandai memuaskannya di atas ranjang. Akan tetapi, wanita itu tidak pandai jika melayani kebutuhannya yang lain, apalagi soal perut.


Carlen berjalan ke ruang makan, kemudian dia meminta pelayan untuk membuatkannya kopi. Berbarengan dengan itu, Rania baru saja keluar dari kamarnya dan mengambil air dingin.


Setelah meminum air dingin, Rania pun berencana untuk meninggalkan ruang makan, tapi Carlen menahan tangannya, sehingga membuat gadis itu berhenti dan menatapnya dengan tajam.


"Tunggu! Kakak 'kan lagi manggil kamu, kenapa tidak menyahut? Kamu tidak tuli 'kan?" kesal Carlen.


"Tidak! Aku tidak tuli. Hanya malas aja meladeni kamu. Udahlah, aku masih banyak tugas!"ketus Rania, kemudian dia melepaskan tangan Carlen dengan kasar.


Namun lagi-lagi pria itu menghentikan Rania.


"Kamu itu kenapa sih, Dek? Heran Kakak sama kamu, sampai segitunya membela wanita udik itu? Sudah jelas-jelas dia salah, tapi---"


"Cukup! Terserah deh Kakak mau bilang dia bersalah, Kakak mau bilang dia nggak bersalah, nggak ada artinya di mata Kakak. Lebih baik, sekarang Kakak urusi aja tuh istri Kakak yang tercinta itu. Nggak usah ngurusin aku ataupun mbak Maya! Dan asal Kakak tahu ya, aku yakin, lama-lama dompet Kakak akan terkuras habis. h

__ADS_1


Hanya pria bodoh yang nggak bisa melihat dengan logika, mana wanita yang benar dan mana wanita yang hanya mengincar harta." Setelah mengatakan itu, Rania pun pergi dari sana.


"Rania, Kakak belum selesai bicara!" Rania tidak peduli.


Mama Gisel yang baru saja akan melakukan makan malam terkejut saat melihat Rania melewatinya tanpa menoleh ke arahnya sedikitpun. Dia merasa putrinya menjaga jarak dengan dirinya.


'Aku rasa, aku harus berbicara dengan Rania.' batin mama Gisel.


Dia melihat Carlen sedang duduk dengan wajah yang kesal. Tadi mama Gisel juga sempat mendengar teriakan putranya, kemudian dia menatap ke arah Carlen dan duduk di hadapan pria tersebut.


"Kamu kenapa sih malam-malam teriak-teriak?" tanya mama Gisel sambil mengambil lauk dan nasi ke dalam piring.


"Gimana aku nggak marah-marah, Mah? Itu si Rania, makin hari kelakuannya benar-benar tidak bisa ditoleransi. Dia malah melawan aku, dan membandingkan Freya dengan Maya. Sudah jelas-jelas wanita itu salah!" kesal Carlen.


Mama Gisel yang mendengar itu pun hanya diam saja, dan Carlen semakin heran saat melihat tidak ada jawaban dari sang mama.


"Mama kenapa diam aja? Aku lagi ngomong loh," ujar Carlen.


"Entahlah. Mama juga tidak tahu, siapa yang benar dan siapa yang salah? Tapi entah kenapa, jika Mama boleh jujur, melihat kemarahan adikmu kemarin, membuat Mama sakit hati. Apakah dia memang benar-benar membenci kita, karena Mama tidak pernah melihat Rania semarah itu? Dia begitu sangat menyayangi Maya. Apakah memang kita terlalu jahat kepada Maya? Dan apakah memang benar dia tidak bersalah, dan Freya melukai dirinya sendiri?" Mama Gisel akhirnya mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya.


"Aku---"


"Sebaiknya kamu selidiki, daripada kita menerka-nerka! Di sini kamulah kepala keluarganya. Kamu laki-laki satu-satunya di rumah ini Carlen, jadi harus bijak dalam mengambil keputusan." Mama Gisel memotong ucapan putranya.


Carlen terdiam, dia membenarkan perkataan sang mama. Di mana pria itu harus menyelidiki semuanya, tapi tidak mereka sadari jika ada seseorang yang mendengar ucapan mereka, yaitu Freya.


'Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Mereka tidak boleh tahu kebenarannya!' batin Freya sambil tersenyum licik.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2