
"Terima kasih, Will" aku melenggang masuk ke dalam rumah kos yang selama ini aku tempat, aku pergi begitu saja setelah berterima kasih tanpa basa-basi meminta William untuk mampir, bukan tanpa alasan, selain karena apa yang ia katakan tadi dan juga rasa canggung yang aku rasakan selama perjalanan pulang. Hampir tidak ada percakapan di antara kami berdua dan aku lebih memilih untuk menatap ke luar kaca mobil dari pada melihat ke arah William
"Tidur nyenyak, Nes. Jangan lupa mimpikan aku!" teriaknya kemudian, aku yang mendengarnya hanya terus diam tanpa punya niat untuk alasan atau pun menoleh ke arahnya. Hal yang dulu aku inginkan dari William dan sangat aku harapkan kini menjadi hambar rasanya dan seolah tidak punya efek apa pun
William hanya tersenyum kecut melihatku masuk tanpa berucap apa pun, ia kemudian segera kembali masuk ke dalam mobilnya dan melaju pulang. Aku sendiri kini sudah ada di dalam rumah dan sekali lagi rumah kos ini terasa sangat sepi tanpa aktivitas apa pun padahal ini baru pukul sembilan malam
Tanpa ambil pusing aku pun segera melangkah menuju ke arah kamarku dan ingin segera merabahkan tubuhku yang terasa lelah
...*****************...
William sudah sampai di rumahnya dan kini tengah memarkirkan mobil mewahnya ke dalam garasi, ia melangkah masuk dan mendapati Alexa tengah berbincang dengan seseorang melalui panggilan telepon
Ia yang awalnya ingin menyapa tapi kemudian mengurungkan niatnya setelah mendengar apa yang dibicarakan oleh Kakaknya
"Sial, cari bala bantuan lain dan alihkan mereka" kata Alexa lirih tapi dengan ekspresi wajah yang kurang mengenakkan, saking seriusnya percakapan itu, Alexa tak mendengar kedatangan William
William masih berdiri dan diam di samping pintu yang masih tertutup rapat itu, sekali lagi umpatan dan juga makian ke luar dari mulut wanita cantik itu. William sendiri juga heran, ia tak.pernah melihat Alexa bersikap seperti itu sebelumnya bahkan dulu waktu ia dibully dan di caci mati-matian ia lebih memilih diam dan menangis tapi kenapa sikapnya sekarang justru berubah
__ADS_1
Panggilan itu berakhir dan diakhiri dengan suara yang cukup mengejutkan, entah apa yang dibanting Alexa tapi sepertinya benda itu berukuran cukup besar dan menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Tak mau hal buruk terjadi pada Kakaknya, William yang wal ya diam kini langsung masuk ke dalam rumah tanpa aba-aba
"Stop, Alexa!" Alexa yang ingin membanting guci sekali lagi kemudian dicegah oleh William dan Alexa pun terkejut kemudian menoleh ke arah Kakaknya
"William!" ekspresi wajah Alexa berubah, sedikit pucat dan juga gugup. Ia takut jika William mendengar apa yang baru saja ia katakan di telepon
"Sejak kapan kamu pulang?" lanjutnya kemudian menurunkan guci yang akan ia banting, William berusaha bersikap setenang mungkin dan menutupi hal yang baru saja ia dengar
"Baru saja, Kak. Aku langsung masuk setelah mendengar suara yang mengejutkan ini. Apa yang sebenarnya terjadi?" Kilah William berusaha menyembunyikan kenyataan, ia tidak ingin membuat apa yang ingin ia ketahui sia-sia dan akhirnya tidak bisa mengungkap kebenaran
"Apa yang sebenarnya terjadi, jika ada masalah coba ceritakan, jangan memendamnya sendiri" William menarik Alexa menjauh dari pecahan guci yang kini berserakan dan membawanya duduk di sofa ruang tamu
"Ceritalah, Kak. Bukankah kita sudah terbiasa untuk berbagi cerita sejak kita kecileskipun kita sering bertengkar" buruk Willia. sekali lagi tapi Alexa terlihat sedikit gugup, ia tidak tahu hal apa yang akan ia ceritakan pada William. Tidak mungkin juga ia bercerita yang sebenarnya
"Begini, Will" Alexa menarik nafas dalam-dalam, mencoba mencerna kebohongan
"Kamu tahu kan, aku memang tidak ingin kembali ke luar negeri dan ingin fokus di Indonesia untuk saat ini, tapi entah siapa yang telah melakukannya, tiba-tiba sebuah agensi luar negeri menghubungiku dan mengatakan jika aku harus segera ke sana untuk menjalankan proyek dari kontrak itu!" Alexa merangkai kebohongan yang mungkin bisa diterima oleh orang awam yang tidak mendengar percakapan dirinya sebelum ini, tapi bagi William itu semua bukan halnyang harus ia percaya karena ia telah mendengar semuanya dan tang kini harus ia lakukan adalah mengikuti alur kebohongan sang kakak agar ia mampu mendapatkan bukti dari apa yang ia curigai
__ADS_1
"Apa kakak sudah menghubungi semua kolega dan kenalan kakak di sana, siapa tahu salah satu dari mereka yang menyetujui kontrak itu dan ingin bekerja kembali dengan kakak" William terus mengikuti kebohongan Alexa
"Tidak, Will. Aku masih ingin tetap di sini, aku ingin berkarya di sini sekarang lagi pula masih ada beberapa hal yang belum aku capai dan sedang aku perjuangkan"
William hanya mengangguk pelan mendengarkan kebohongan itu, "Ya sudah, jika itu mau kakak sebaiknya bicarakan semuanya baik-baik dan katakan apa yang kakak ingin lakukan sekarang, semuanya bisa diselesaikan dengan baik dan tidak perlu memakai kekerasan"
Alexa mengangguk dan kini bisa bernafas lega karena ia pikir kebohongan yang ia buat sudah dipercaya oleh sang adik
"Istirahatlah, Kak. Bicarakan kembali semuanya besok" Alexa mengangguk dan William berdiri kemudian berjalan ke arah kamar ART, memintanya untuk memberikan kekacauan yang dibuat oleh Kakaknya dan setelahnya ia pun masuk ke dalam kamarnya
Alexa yang merasa bebas kini malah ke luar dari rumah dan kembali menghubungi seseorang di luar, William menyadari pergerakan sang kakak. Ia pun kemudian segera bergerak dan mengendap-endap mengikuti ke mana Kakaknya pergi
William kembali mendengarkan percakapan yang kini lebih horor dari pada sebelumnya, ia semakin tidak mengenali Kakaknya yang kini bersikap arogan dan juga egois
"Aku akan tambahkan satu orang, jemput dia di jalan merdeka dan bawa dia ke tempatmu sekarang!" titah Alexa di sambungan telepon itu, William yang mendengarkannya langsung menghubungi seseorang dan mengikuti rencana Alexa yang baru saja ia dengar
Percakapan pun usai, William segera bergerak ke kamarnya dengan langkah yang lebih cepat agar tidak kepergok Alexa yang kini kembali berwajah murka dan juga marah
__ADS_1
William sudah berada di dalam kamarnya, belum berganti baju dan tengahenghubungi seseorang yang akan ia perintahkan untuk mengacaukan rencana Alexa
"Aku sudah kirimkan lokasinya, pakai baju yang sama persis dengan yang aku katakan dan ganti namamu dengan nama itu, pastikan kamu menyingkirkannya terlebih dulu baru kamu berjalan sesuai rencana"