
Pengajian dimulai, semua tampak khusyuk menyimak dan mendengarkan bacaan ayat suci Al-qur'an yang kini tengah dilantunkan oleh seorang Ustadzah. Malam ini, Ayah hanya mengundang para tetangga terdekat dan juga seorang Ustadzah. Tidak lupa pula ibu-ibu pengajian yang kompak memakai setelan gamis yang berwarna bak bunga matahari yang sedang mekar
Mereka tampak memakai riasan tebal dan juga menor, tak lupa hampir seluruh jari tangan mereka memakai cincin yang entah emas atau hanya imitasi. Gelang di tangan mereka terdengar saling bersahutan karena pemakainya sering menaikkan dan menurunkan tangannya entah sengaja atau tidak. Eh tapi tunggu, kok malah bahas ibu-ibu pengajian sih?
Kita kembali ke topik pembicaraan ........
Setelah selesai melanjutkan ayat suci, maka acara selanjutnya dilanjutkan dengan sebuah ceramah yang juga disampaikan oleh Ustadzah yang cantik itu. Ia menyampaikan sebuah pesan yang begitu mengena di hati, ia menyampaikan semua itu dibarengi dengan guyonan yang membuat kita semua santai dan mudah menerima apa yang ia jelaskan
"Pernikahan itu bukan hanya sekedar saling suka lalu hidup bersama, bukan. Pernikahan memiliki kedudukan yang penting juga sakral dalam Islam dan bukan hal yang main-main. Pernikahan itu ikatan yang suci, harus kita junjung tinggi, kita jaga dan kita pertahankan" kata Ustadzah cantik itu
"Dan lagi, pernikahan itu tidak hanya menyatukan dua orang yang berbeda sifat, berbeda cara pandang, berbeda pola pikir dan berbeda gaya hidup. Tetapi dalam pernikahan itu juga ikut menyatukan keluarga dan sanak saudara mereka agar bisa menjalin silaturahmi yang kuat dan juga erat. Selain itu, pernikahan itu bukan untuk merubah salah satu untuk menjadi seperti yang lain. Akan tetapi, masing-masing dituntut untuk bisa memahami perbedaan di antara keduanya sehingga kebahagiaan dan ketentraman bisa terwujud" lanjutnya lagi
Kami semua masih menyimak apa yang Ia sampaikan, banyak sekali nasihat dan juga petuah yang malam ini aku dapatkan. Pun dengan Mama, ia tampak menangis sesenggukan karena ia merasa tersentil dengan apa yang ia dengar, aku mendekat ke arahnya dan mencoba menguatkannya.
Ia mengangguk dan memelukku, atmosfer haru menular kepada diriku. Aku juga ikut menangis dan kini merasakan apa yang ia rasakan. Kak Sam mendekat dan menguatkan kami berdua, ia menggenggam erat tangan kami berdua mencoba memberi kekuatan
Sesi ini berakhir dengan doa yang dipanjatkan oleh Ustadzah itu, setelahnya ia kemudian berpamitan pada kami semua. Begitu juga dengan para ibu-ibu pengajian, mereka juga bubar seiring dengan kepergian Ustadzah
"Jadilah istri yang baik, menjaga nama baik suami, menjaga kehormatan diri dan jangan tinggalkan shalat" nasihatnya sebelum ia benar-benar berlalu
"Terima kasih, Ustadzah" ia mengangguk dan kemudian benar-benar pergi
Semua orang kini sudah pergi, begitu juga dengan Mbak Sumi. Ia awalnya ingin menginap tapi entah karena ada urusan apa, ia dan Prima juga pamit. Agak tidak rela, sebab aku sudah berencana untuk menceritakan banyak hal padanya malam ini, tapi ya sudah lah, toh kita akan bertemu lagi besok
"Mama, Ayah, kita bisa bicara sebentar?" ajakku pada mereka berdua yang kini tangan mengobrol di luar bersama dengan Om Defrico dan juga Samuel. Mereka beranjak dan mengikutiku ke ruang tamu, aku duduk di sana, pun dengan mereka. Aku duduk di antara mereka. Mama berada di sebelah kiri dan Ayah di sebelah kanan
"Ayah, terima kasih untuk semuanya. Untuk kesabaran Ayah yang menemaniku dan mengajariku banyak hal. Terima kasih sudah mau menjadi tameng saat aku lemah dan terpuruk, terima kasih telah menjadi orang yang selalu bersedia mengusap air mataku saat aku tengah menangis. Agnes belum bisa memberi Ayah apa pun, tapi sekali lagi Agnes meminta restu dari Ayah. Besok Agnes akan menikah, doakan Agnes agar bisa menjadi istri yang baik untuk William"
Ayah tidak menjawabnya, ia yang kini tampak berkaca-kaca hanya mengangguk, ia menahan titik bening yang hampir lolos dari netranya. Ia memelukku erat dan tiba-tiba isakan terdengar
__ADS_1
"Ayah yang harusnya berterima kasih padamu, kamu menguatkan Ayah selama ini. Kamu menjadi satu-satunya alasan Ayah untuk tetap bertahan dan berdiri tegak, berbahagia lah dengan takdirmu, Ayah merestui kalian, semoga semuanya berjalan lancar dan kalian menjadi sepasang suami istri yang berbahagia" Ayah melepaskan pelukannya
Kini giliran aku menghadap ke arah Mama, ia yang sejak tadi hanya terus menerus menangis kini malah semakin menjadi. Ia masih saja terus menangis, wajahnya tampak sembab
"Mama, terima kasih telah melahirkan Agnes. Terima kasih telah menyayangi Agnes selama ini, maafkan Agnes yang belum bisa membahagiakan Mama sepenuhnya. Agnes meminta restu mama dan juga doa mama semoga besok semuanya lancar dan Agnes bisa menjadi istri yaang baik untuk William" ia mengangguk meski tangis masih terus saja tampak
Untuk beberapa detik mama masih belum bisa menjawabnya, ia masih asyik dengan tangisan dan juga pikirannya sendiri. Ia kemudian mencoba tenang, mengatur nafas dan menyeka air matanya
"Yang seharusnya minta maaf itu mama, sayang. Mama sudah egois dan membiarkan kamu sendiri. Mama sudah memilih jalan lain dan meninggalkanmu yang saat itu tengah terpuruk. Mama minta maaf, mama belum bisa jadi orang tua yan baik untuk kamu" aku menggeleng dan menyeka cairan bening yang kini kembali mengalir
"Waktu berlalu begitu cepat, kamu gadis kecil yang dulu merengek dan menangis karena tertusuk duri mawar kini sudah jadi dewasa, sebentar lagi akan menjadi seorang istri. Doa mama selalu bersamamu, sayang. Mama restu kalian, berbahagia lah bersama cintamu. Jadilah istri yang baik, jangan mencontoh Mama ya?" aku kembali memeluknya, kali ini suasana haru semakin terasa dari pada saat pengajian tadi
"Memang, Agnes sempat marah dengan perceraian kalian. Agnes menyalahkan mama karena mama pergieninggalakan Ayah, Agnes juga kecewa dengan Ayah karena Agnes merasa Ayah tidak mampu menahan mama untuk tetap berada di sisi Ayah. Tapi itu dulu, sekarang Agnes tahu dan Agnes paham alasan di balik perceraian kalian berdua,cinta itu bukan hal yang mampu dipaksakan pada hati, bukan hal yang bisa kita yerima melalui logika karena cinta itu masalah hati, meski sampai saat ini Agnes memang tidak membenarkan semuanya tapi Agnes sendiri tahu kita semua punya jalan hidup masing-masing soal cinta. Agnes bahagia karena kini kalian berada di samping Agnes untuk saat ini. Terima kasih, Mama, Ayah!"
Mereka berdua memelukku, pelukan hangat yang sudah sangat lama aku rindukan, pelukan yang entah kapan terakhir kali aku merasakannya, kini aku kembali merasakan semuanya meski aku tahu ini tidak akan selamanya. Ayah dan mama tidak lagi bisa bersama dan aku mulai besok akan menjadi istri William dan pastinya akan sangat merindukan hal ini
Setelahnya aku mengajak mereka berdua keluar, kembali mengobrol dengan Om Defrico dan juga Samuel. Mereka berdua kini tampak serius entah apa yang mereka bicarakan
"Ingin bicara?" ia seolah tahu apa yang aku pikirkan. Aku mengangguk lalu mengajaknya bicara
...************...
Acara pengajian di rumah baru Om Adiputra juga baru selesai, seluruh tetangga dan juga orang-orang yang diundang juga sudah kembali ke rumah masing-masing. Kini tinggal lah mereka berlima yang berada di ruang tamu rumah itu
Ruang tamu yang tentunya sedehana, hanya satu set sofa yang melingkar di tengah-tengahnya serta satu buah televisi yang berukuran tidak terlalu besar. Ruang tamu rumah itu jauh berbeda dengan rumahnya yang dahulu, meski begitu Om Adiputra merasa sangat bahagia sebab kini usahanya sudah mulai berkembang dan dia sudah bisa membeli rumah ini
"Willy, mendekat lah!" Oma Mariyam tampak memegang sesuatu, sebuah kotak kayu kecil yang terlihat sangat tua
"Iya, Oma" William duduk di samping omanya
__ADS_1
"Apa kamu yakin akan melangsungkan akad nikah di sana?" William tampak mengangguk mantap
"Apa boleh?"
"Boleh, Ma. Izin sudah kita dapatkan" sambung Adiputra
"Izin di tempat itu sangat mahal, terlebih lagi prosesnya sangat rumit. Banyak hal yang harus kita lakukan, dari mana kalian mendapati uangnya?" kekhawatiran terlintas di wajah Oma Mariyam, keuangan keluarganya yang belum stabil membuatnya memikirkan hal itu
Tidak dipungkiri, dulu saat keuangan keluarnya sedang jaya, ia tidak perlu berpikir untuk sekedar meminta izin melakukan sesuatu sebab segala sesuatu pasti akan selesai dengan uang, namun kini mereka tengah berada di posisi bawah yang mengharuskan berpikir beberapa kali untuk berbuat sesuatu
"Oma tidak perlu khawatir, Om Defrico sudah membereskan semuanya. Besok kita tinggal berangkat dan semuanya sudah ada yang mengatur" jelas William sekali lagi
"Defrico, siapa dia?"
"Dia Ayah Samuel, laki-laki yang selama ini menunggu Alexa" Oma mengingat Samuel, dan beberapa saat kemudian ia menganggukkan kepalanya
"Samuel itu kakak tiri Agnes, Ma. Sementara Defrico itu suami baru Arini" imbuh Mama Rosa dan kali ini Oma Mariyam paham akan situasi yang ia hadapi
"Baik jika begitu, Oma akan mengikutinya. Besok Oma akan berterima kasih secara langsung padanya!"
William kini masuk ke dalam kamarnya, kamar yang berukuran kecil yang berada di rumah baru itu. Rumah itu memiliki beberapa kamar dan salah satunya yang kini ditempati William
Ia terus membolak-balikkan badannya, tak bisa tidur dan terus merasa gugup. Ia berulang kali menghafal ijab qabul yang akan ia langsung kan besok
.
.
.
__ADS_1
.
Pernikahan makin dekat, yuk doakan Agnes dan William semoga samawa. jangan lupa untuk like, vote dan komen sebanyak-banyaknya