HATI YANG TERBAGI

HATI YANG TERBAGI
Bab 24


__ADS_3

Selamat membaca semoga terhibur.


Maaf kalau masih banyak kekurangan dalam tulisan saya.


____________


Sheila mengerjapkan mata, tidurnya terganggu dengan deru nafas Ken yang berhembus mengenai tengkuknya. Terasa meremang dan geli belum lagi beban berat yang kini sedang melilit di perutnya.


Betapa kagetnya mendapati tubuhnya begitu posesif didalam dekapan Ken. Sepertinya ini akan menjadi kebiasaan Ken untuk selalu memeluk ketika tidur.


Perlahan Sheila pun memindahkan tangan Ken dan setelahnya keluar dari pelukan Ken, ia pun bangun dan menuju ke kamar mandi.


Karena sudah subuh ia pun akan menjalankan kewajibannya sebagai umat beragama.


Berkali-kali ia mencoba membangunkan Ken tapi hasilnya nihil, hanya erangan yang keluar dari mulut pria itu.


"Sepertinya dia sangat lelah," gumam Sheila.


"Ah,,, sudahlah kalau nunggu dia bangun bisa-bisa aku terlambat!" Sheila pun beranjak menjalankan kewajibannya sebelum fajar benar-benar muncul dan dia terlambat melaksanakan kewajibannya.


_______


Pagi ini Sheila kembali berkutat dengan beberapa alat tempur di dapur, Kedua asisten rumah tangga itupun menyerah dan di tugaskan untuk membersihkan rumah saja.


Beberapa menu sarapan pun kini sudah tertata cantik di meja makan begitu dengan secangkir kopi panas dengan asap yang masih mengepul yang pastinya itu kopi Ken dan Sheila lebih memilih segelas jus alpukat tanpa gula.


Ia sangat menyukai buah satu ini, tak heran jika ia memiliki kulit yang sehat serta berat badan yang ideal.


"Beres juga,, huh..." ujarnya.


Sudah hampir jam tujuh tapi Ken masih belum terlihat. Terakhir Sheila meninggalkan kamar seusia sholat dan Ken masih terlelap.


Sheila tak tega membangunkan Ken, ia tau pria itu pulang sangat larut, semalam ia memasak banyak berniat ingin makan malam bersama tapi pada akhirnya semua masakan itu ia bungkus dan berikan kepada orang lain karena yang ditunggu tak kunjung menampakkan diri.


Dari pada di buang sayang banget, mendingan berikan kepada yang membutuhkan.

__ADS_1


"Pak, titip bagikan makanan ini didepan komplek, walaupun tak banyak lumayan cukup bisa bantu beberapa perut yang masih kurang beruntung hari ini." Sheila mengingat kejadian malam itu.


Ada kecewa dalam hatinya tapi ia mengerti dan paham, suaminya bukan orang biasa yang memiliki banyak waktu.


______


Ken menuruni tangga hari ini penampilannya sama seperti biasanya sudah rapi dengan balutan jasnya.


Sheila tersenyum, Ken ternyata memakai pakaian yang ia siapkan.


"Selamat pagi" ucap Ken ketika jarak mereka sudah lebih dekat, lalu ia menarik kursi dan duduk manis.


"Selamat pagi juga,," jawab Sheila, senyum di wajahnya begitu membuat ia terlihat sangat cantik di pagi hari.


"Mau sarapan apa?" tanya Sheila ketika Ken sudah duduk manis di kursinya.


"Apapun yang kau buat aku suka!" ucapnya sukses membuat Sheila berbunga bunga, tak bisa ia pungkiri ia sudah jatuh cinta dengan masakan Sheila ketika pertama kali ia memakannya.


Sheila pun meraih piring dan mengisi piring itu dengan nasi goreng dan telur omelet sesudah itu ia memberi kepada Ken, Ken pun mulai memakannya dengan lahap.


"Kau tak ikut sarapan?" tanya Ken ketika melihat Sheila hanya meminum jus alpukat saja.


"Nih...!"


Ken melirik sejenak dan kembali lagi fokus pada sarapannya.


Setelah selesai dengan sarapannya Ken pun menyesap beberapa kali kopinya yang masih terasa hangat.


"Perlu aku antar ke kampus?" ujar Ken.


"Apa tidak merepotkan, kita beda arah Ken,!" jawab Sheila, tapi dalam hati ia sangat mengharapkan Ken mengantarnya.


Ken melirik jam tangannya dan ia ingat dengan beberapa jadwal rapatnya dengan beberapa pemegang saham, Rey susah beberapa menghubungi dirinya berpesan agar tidak terlambat.


"Mungkin lain kali aku antar ya sayang, hari ini jadwal ku sangat padat dan Rey sudah menghubungi ku beberapa kali mengingatkan. tidak perlu tunggu aku malam ini, sepertinya aku akan lembur dan tidak bisa pulang karena sore harinya aku akan keluar kota untuk bertemu dengan investor." ucap Ken menjelaskan kesibukannya.

__ADS_1


"Apa lama di luar kota?" tanya Sheila.


"Perlu aku siapkan keperluan mu?" ujar Sheila lagi, mendengar Ken berkata tidak akan pulang membuat dirinya merasa sedikit sedih.


"Tenang saja, aku usahakan secepatnya kembali, jaga diri baik-baik dan setelah pulang dari kampus jangan kelayapan, langsung pulang ke rumah oke," pesan Ken.


"Supir baru yang akan mengantar mu kemanapun kau mau,-" ucapnya terpotong.


"Tapi Ken,, aku bis-"


"Tidak ada bantahan okey!" sergah Ken dan Sheila terdiam tak berani berkata lagi.


Percuma dia protes dan ujung-ujungnya dia harus menurut juga, mau tak mau ia pun setuju.


"Baiklah,, aku berangkat sekarang, jaga diri mu baik-baik aku akan kembali jika pekerjaan ku selesai" Ken pun beranjak dari kursinya diikuti Sheila dari belakang dan Ken pun menghentikan langkah berbalik.


Sheila yang tak menyadari Ken berhenti pun masih terus berjalan dan akhirnya ia pun menabrak dada bidang Ken.


Tak ingin membuang kesempatan itu Ken justru memanfaatkan keadaan ini langsung memeluk erat tubuh Sheila, Sheila membulatkan matanya dan belum sempat keterkejutan itu berakhir kini Ken pun mendaratkan bibirnya di atas bibir Sheila serta sedikit melum*tnya.


Sheila yang masih dalam keadaan kaget pun terdiam kaku tak berani bergerak maupun balas ciuman Ken, dia masih shock dengan insiden ini.


Ken yang menyadari Sheila sangat kaku pun melepaskan ciumannya dan kembali ia mencium kening Sheila cukup lama, Sheila yang masih berdiri kaku dengan keterkejutannya.


"Aku pergi, jaga diri mu dan tunggu aku kembali!" ucap Ken lagi.


Sheila tak bergeming dan Ken pun mulai beranjak meninggalkan Sheila yang masih terdiam kaku.


Setelah Ken tak terlihat dari pandangannya lagi baru ia sadar ini semua bukan mimpi, nafasnya terasa sesak karena jantungnya tidak bisa bekerja normal untuk saat ini sehingga ia begitu kesulitan mengambil oksigen.


Ia pun menekan dadanya dengan tangannya berusaha menghirup udara sebanyak mungkin agar debaran ini kembali normal seperti semula.


Sungguh Ken bisa membuat dirinya terkena serangan jantung dan penyakit berbahaya lainnya jika terus seperti ini perlakuan yang Ken lakukan pada dirinya.


Sheila kembali kedalam meraih tas dan bekalnya yang sudah tersedia di atas meja lalu ia pun bergegas juga pergi ke kampus dengan supir, walaupun dalam hatinya ia sudah membayangkan pergi sendiri akan lebih leluasa namun keputusan sang suami sudah mutlak dan tidak dapat di ganggu gugat lagi sehingga akhirnya Sheila pun berangkat dengan di hantarkan sang supir.

__ADS_1


"Sungguh menyebalkan si Ken, kesel!!! bangat sama Ken,huh,,,,," Sheila hanya bisa mengumpat dan bersungut-sungut saat ini.


Bersambung....


__ADS_2