
🌹🌹🌹 Happy Reading 🌹🌹🌹
Hanya terdengar detak kan jarum jam yang menguasai ruangan itu. Kini lampu ruangan itu yang terang telah berganti dengan cahaya remang dari rembulan yang bersinar terang mengintip masuk ke sudut sudut kamar.
Terdengar hembusan halus nafas Sheila yang menandakan ia telah terlelap kedalam alam mimpi indahnya, berbeda dengan Ken yang gelisah tanpa bisa memejamkan matanya.
"Astaga jika tau rasanya menyiksa seperti ini seharusnya aku tidak mengizinkan nya untuk satu ranjang dengan ku," Kini ken mengutuki dirinya sendiri biar bagaimana pun dia lelaki normal.
Pikiran nya berlayar entah kemana padahal tadi dia sangat kelelahan dengan begitu banyak pekerjaan yang dia selesaikan menjadi tugas dan tangung jawab nya.
"Lihatlah kini dia bisa tidur dengan nyenyak setelah membuat ku seperti ini" Ken menyesali niatnya yang ingin awalnya hanya menggoda Sheila tapi keadaan berbalik dan ternyata dia yang tergoda walaupun terdapat jarak diantara mereka.
Memandang belakang Sheila aja membuat hasrat naluri pria nya memuncak apalagi jika bersentuhan, semakin lama pikiran Ken bertambah kacau dan suasana tentram ruang ini pun sangat mendukung.
Perlahan tapi pasti Ken mencoba mendekati Sheila yang sudah terlelap, menepis jarak diantara mereka tapi rasanya canggung namun hasrat itu semakin kuat dan menguasai tubuh dan pikiran Ken, hati menolak tapi tubuh bereaksi lain.
Gugup dan jantung berdebar tak karuan setelah jarak mereka semakin dekat, Ken ingin membalikan badan Sheila tapi diurungkan niatnya dan menarik kembali tangannya lalu mencoba lagi namun diurungkan nya lagi dan terus begitu, batin dan tubuh berperang.
Hingga akhirnya Ken dikagetkan dengan keadaan saat ini, entah dewi atau dewa keberuntungan apa yang datang mengabulkan keinginan nya, Sheila yang tertidur pulas tiba tiba membalikkan badan nya serta tanpa dia sadari langsung tepat memeluk erat Ken.
__ADS_1
Mata Ken membulat sempurna dengan posisi mereka saat ini, tak ada jarak lagi yang tersisa dan tak ada lagi batas serta tak ada lagi keraguan untuk membawa gadis itu dalam dekapan nya kini gadis itu sendiri yang tanpa sadar datang berbalik serta memeluk erat Ken.
Ken masih tercengang dan bingung harus apa sekarang, ketika Sheila bergerak beberapa kali serta dengan badan yang tanpa menyisakan jarak otomatis rasa itu benda lunak itu serta kini terasa sekali kedua benda pusaka itu bergesekan dengan tubuh Ken.
Ken menahan hasrat itu yang memuncak, sungguh dia tersiksa sekali dan dengan sangat menyesal untuk saat ini kenapa dia terlihat sangat bodoh serta menjadi sangat konyol.
Dia bingung bagaimana keluar dari situasi dan kondisi saat ini, perlahan dia mencoba melepaskan tangan Sheila yang melilit nya dengan erat tapi bukankah terlepas malahan Sheila semakin memperdalam pelukan nya sehingga kedua benda pusaka itu terasa sangat nyata di tubuh ken.
"Oh Tuhan... jujur ini berat dan aku akan lebih memilih lembur dengan pekerjaan kantor yang menumpuk serta aku lebih memilih menghadapi klain yang sadis dan mengerikan dibandingkan harus menahan sesuatu yang minta disalurkan seperti ini" batin Ken meronta ronta menahan hasrat nya yang semakin memuncak, jika Sheila masih bergerak lagi dia yakin tidak akan mampu bertahan dan dia pastikan akan menyerang gadis itu, sekarang dia berusaha tenang untuk menormalkan gejolak yang menimbulkan frekuensi tegangan tinggi.
Biar bagaimana pun dia lelaki normal, malam ini dilewati Ken dengan terasa lama dan menyiksa beberapa kali dia selalu mencoba dan terus mencoba menetralisir pikiran nya yang mulai berkelana kemana mana. Tidak muda dan penuh dengan perjuangan hingga pada akhirnya Ken ikut terbuai oleh larut nya sang malam hingga matanya ikut terpejam menyusul sang istri kedalam Alam mimpi, entah kenapa aroma tubuh Sheila begitu menenangkan bagi nya ketika setiap menghirup aroma itu di setiap helaian nafas.
Di pagi hari
Masih didalam kamar di mana kedua makhluk yang berbeda jenis sedang menikmati tidur nya dengan mimpi yang berbeda, tanpa salah satu diantara mereka tidak menyadari begitu intimnya tubuh mereka bersentuhan saat ini dan betapa nyaman dan damainya mereka rasa kan satu sama lain sehingga pelukan itu semakin mereka eratkan satu sama lain.
Sheila terbangun dari tidur nya, menggerjap perlahan mengumpulkan sebagian nyawanya yang masih mengembara di alam mimpi. Terasa hembusan nafas pelan yang menggelitik bahu nya serta terasa berat beban di area perutnya, masih mencoba mengumpulkan kesadaran dan setelah beberapa saat ia teringat kembali bahwa dia saat ini berada di ranjang yang sama dengan Ken seketika mata nya pun membulat sempurna.
Perlahan dan pasti ia pun mendongak ke atas dan benar saja Ken yang dia lihat dan untuk sesaat ini langsung sja debaran jantung nya pun berpacu dengan kecepatan tinggi sehingga membuat dia terasa sulit bernafas, dengan pelan dan hati hati Sheila memindahkan tangan Ken yang memeluk erat tubuhnya.
__ADS_1
"Astaga apa ini? bagaimana bisa tubuh kami seintim ini? sangat memalukan jika dia bangun dan menyadari kejadian ini" gumam Sheila dalam hati nya, berusaha menetralkan pacuan detak kan jantung dan berusaha menarik nafas dan mengeluarkan perlahan hingga beberapa kali.
Kini Sheila berhasil keluar dari pelukan Ken, terasa lega dan sangat malu untuk nya saat ini, apa pilihan nya tidur di satu rajang dengan Ken adalah kesalahan, tapi dia juga menyadari posisi dan status nya cepat atau lambat semua pasti akan terjadi entah sekarang hari ini atau li esok hari yang akan datang.
Setelah keadaan jantung dan nafasnya mulai kembali normal ya walaupun masih deg deg gan dengan getaran yang aneh di tubuhnya kini dia memilih memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri serta tak lupa ia menjalankan ibadah nya, ingin rasnya membangun kan lelaki yang tertidur pulas di ranjang itu agar bisa menjadi imam dalam sholat untuk nya tapi ia urungkan niatnya itu karena mengingat pekerjaan lelaki itu serta jarak yang dia lewati untuk datang menemuinya cukup jauh dan pasti sangat melelahkan.
Setelah menjalankan ibadah nya Sheila yang kini duduk di atas ranjang menatap kagum akan pemandangan indah didepan nya sekarang, tanpa terasa terukir sebuah senyuman yang indah dari raut wajahnya pun terpancar noda semu kemerahan.
Ya kini dia menatap pria itu dengan debaran jantung yang cukup kencang, terlihat raut wajah pria yang berstatus suaminya hampir 4 tahun itu begitu menarik perhatian nya serta Sheila begitu terpesona akan makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini.
Selama pernikahan baru kali ini dia bisa melihat dengan jelas wajah Sang Suaminya itu. apakah ini artinya sudah tumbuh benih-benih cinta di hati Sheila, lalu bagaimana dengan Ken? ya Sheila hanya tau lelaki ini adalah suaminya dan dia pun tidak mengetahui apapun tentang Ken dan masa lalunya karena selama tinggal bersama mertuanya pun mertuanya hanya menceritakan kisah dari Ken lahir hingga dewasa.
Masih betah menatap lelaki yang berstatus suaminya dan merasakan debaran yang aneh dalam hati nya hingga akhirnya kesadaran kembali dan dia menjadi malu sendiri dan canggung.
Lalu bergegas dia keluar dari kamar itu dan melajukan langkah kakinya menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, langit masih tampak bersemu bersama dengan embun pagi yang sangat menyegarkan setia helaian nafas kehidupan serta matahari pun sepertinya masih sangat malu untuk memberikan kehangatan.
bersambung...
😉😉
__ADS_1
Jangan lupa like ya sayang 🥰🥰🥰🥰
lope uuuuuu