
William beserta keluarganya sudah berada di rumahku sekarang, sesuai janjinya tadi pagi mereka berkunjung dan akan membicarakan tanggal pernikahanku dengan William. Ayah menyambut baik kedatangan calon besan
(Eaaaaa calon besanπππ)
"Silakan duduk, saya panggilkan Agnes dulu" Ayah mempersilakan om Adiputra dan juga rombongan untuk duduk di ruang tamu. Malam ini Oma Mariyam tidak ikut bersama mereka, ia tengah berada di suatu tempat dan melakukan hal penting lainnya
Tak berselang lama, aku sudah turun ke ruang tamu bersama Ayah. Aku menghampiri mereka semua dan menyalami mereka satu per satu, aku memilih duduk satu kursi dengan Ayah berseberangan dengan William dan orang tuanya. Rasa gugup kembali hingga dan membuatku sedikit berkeringat
Om Adiputra kemudian mengutarakan niatnya tanpa basa-basi, ia dengan keyakinan kembali melamar untuk William. Gugup kembali datang dan kini semakin bertambah, raut wajah William tak jauh berbeda dariku, ia juga tampak gugup dengan keringat yang kini mengalir di pelipisnya
"Saya sangat berterima kasih pada Pak Adiputra dan juga keluarga, saya sendiri merasa tersanjung sebab kalian semua masih mau memberi kesempatan pada putri saya untuk kembali melanjutkan pernikahan ini. Saya sebagai orang tua tidak bisa menolak atau mengiyakan apa yang menjadi pembicaraan malam ini sebab yang akan menjalaninya bukan saya melainkan putri saya" Ayah kini menghadapi ke arah ku yang berada tepat di sampingnya
"Bagaimana, Nes. Apa kamu mau menerima lamaran ini kembali?" tanpa ragu aku mengangguk dan senyum bahagia kembali terukir di wajah William, rasa gugupnya sedikit berkurang
"Alhamdulillah, tapi bukankah yang akan menikah adalah kamu, Will?" om Adiputra menatap ke arah putranya
"Iya, Pa. Tapi apa maksudnya?" William tidak tahu maksudnya Ayahnya
"Lamar Agnes secara langsung di depan kami semua, bukankah nanti dia akan menikah denganmu dan bukan dengan Papa?" William kini tahu apa maksud dari perkataan sang ayah, dia pun kembali mengatur nafas dan juga detak jantungnya. Kini ia baru merasakan ternyata begini toh kegugupan seseorang yang akan melamar pujaan hatinya, ia tidak mengira hal ini lebih mendebarkan dari pada menghadapi klien atau pun menangani kebangkrutan yang kemarin ia alami
Sekuat tenaga ia mengumpulkan keberanian dan mengalahkan rasa gugup yang sedari tadi menguasai dirinya. Ia terlihat mengusap keringat di kening nya dan menghembuskan nafasnya pelan
"Bismillah" lirih nya lalu kembali menatapku
"Agnes, mau kah kamu kembali bersamaku, kembali mengulang kisah kita yang sempat tertunda dan akan menjadikannya cerita indah sampai nanti kita menua?" kata-kata itu meluncur secara lancar begitu saja di mulut William, ia juga tidak mengira bisa menguasai dirinya yang sebelumnya sangat gugup
Hanya anggukan kepala yang kini aku lakukan, entah kenapa seolah mulutku terkunci dan sangat kaku untuk digerakkan, aku masih gugup dan kini ditambah kekagumanku pada laki-laki setia yang meminta ku untuk menikah dengannya
__ADS_1
"Alhamdulillah" Ayah, Om Adiputra dan tante Rosa tampak begitu lega dan bahagia
"Lalu, kapan kita akan menikah kan mereka?" Tante Rosa angkat bicara
"Secepatnya saja, sebelum kita kembali ke luar negeri. Bukankah lebih cepat lebih baik?" Om Adiputra mengajukan pemikirannya
"Bagaimana jika minggu ini saja, akhir pekan ini?" timbang Ayah, kesepakatan pun di dapat. Fix, aku dan William akan menikah minggu ini
"Baik, kami setuju. Tapi apakah anda sudah tahu di mana akan melaksanakan pernikahan?" Ayah menggeleng
"Saya ikut saja di mana pun tempatnya, tidak jadi masalah untuk saya" Lalu aku pun mengatakan apa yang sejak kemarin aku katakan pada William dan keluarganya, di mana aku ingin menikah, apa dan kenapa aku juga kembali menjelaskannya
Tidak ada penolakan dari Ayah, ia mendukung penuh apa yang aku inginkan. Mengingat alasan yang aku sampaikan membuatnya tak lagi menimbang seperti William dan keluarganya
Pembicaraan intim pun usai, kami semua segera makan malam bersama di rumahku. Sengaja memang aku meminta ARTku memasak banyak malam ini agar bisa menjamu keluarga William. Tidak ada obrolan penting saat dan sesudah makan malam, tak berselang lama mereka semua pamit dan undur diri
"Kita pulang dulu ya, sayang" Tante Rosa memelukku sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobilnya
"Sampai jumpa besok, Nes" Om Adiputra juga bersuara. Aku menyalami mereka berdua dan akhirnya ku lambaikan tanganku melepas William pulang
"Masuk, Nes. Ayah ingin bicara!" aku mengikutinya dan kembali duduk di ruang tamu
"Apa Mamamu sudah tahu hal ini?" aku menggeleng
"Nes, Ayah tahu kamu kecewa, Ayah memahaminya. Tapi semua itu tidak akan pernah berakhir jika kamu sendiri tidak mengakhirinya, dia mamamu bagaimana pun dan apa pun yang terjadi di antara kalian tidak akan pernah bisa menghapus kenyataan itu"
"Agnes sudah memaafkannya, Yah. Agnes juga sudah mencoba menerima semuanya, Agnes juga sudah bicara sama Samuel mengenai semuanya"
__ADS_1
"Bagus jika begitu, tapi Ayah harap kamu benar-benar serius dengan apa yang kamu katakan. Datangi mamamu atau minimal kamu kabari dia, minta restu padanya karena kamu akan segera menikah" Aku mengangguk, Ayah kemudian berdiri ia berjalan ke arah kamarnya meninggalkan aku yang masih terdiam di ruang tamu
Aku kemudian berdiri dan pergi ke kamarku seraya berpikir kapan aku harus benar-benar menghubungi mama sebelum akhir pekan ini. Apa aku harus minta bantuan Sam atau aku harus menghubunginya sendiri
Kurebahkan tubuhku di atas ranjang kesayanganku, kehidupan ponselku dan kemudian kucari sebuah kontak yang aku simpan di sana. Mama, aku berulang kali melihat nama dan nomernya, aku masih bimbang apakah harus menghubunginya atau tidak
Hampir satu jam lamanya aku menimbang hal itu, awalnya aku ragu karena tidak tahu apa yang akan aku katakan saat pertama kali mendengar suaranya nanti, dan dengan hati yang mantap aku kemudian berani menghubunginya. Sambungan telepon itu cukup lama tersambung namun tidak ada jawaban dari pemilik nomer, berulang kali kucoba tapi hasilnya masih sama. Kuputuskan untuk menghubunginya kembali besok, mungkin mama sedang melakukan aktivitas mengingat di luar negeri pasti sekarang sedang siang hari
...***************...
Pagi menjelang, aku sudah bersiap dengan rencana hari ini. Setelah menyelesaikan sarapan aku, menunggu William di luar. Tak berselang lama dia datang dengan senyuman tampan yang kini menghiasi pipinya yang sudah tidak tirus lagi
Ia berjalan ke arahku, tangannya memegang sebuah buket bunga mawar yang dari kejauhan aku sudah bisa menghirup aromanya. Ia terlihat sangat bahagia
"Pagi, sayangku!" ia menyerahkan bunga itu tepat di depan mataku. Bahagia sudah pasti, terlebih perhatian seperti ini lah yang aku harapkan dari dia, perhatian yang hadir meski aku sedang tidak marah, perhatian kecil yang mampu membuatku tersenyum senang dan perhatian yang membuatku tahu jika saat ini aku memang yang ia mau
"Pagi juga, Mas" kuraih buket bunga itu dan menciumnya, senyumku juga mengembang tanda aku juga bahagia
"Berangkat sekarang?" aku mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam mobil. Kubawa serta buket bunga itu bersamaku
Kami sudah sampai di tempat tujuan. Butik, ya sebuah butik. Rencananya hari ini kami berdua akan fitting baju pengantin, meski nanti kami tidak akan mengadakan resepsi tapi kami harus menyiapkan baju ini untuk acara ijab qabul. Acara sakral yang diharapkan terjadi sekali se umur hidup
Kami berdua masuk ke tempat itu, butik sederhana dan tidak semewah saat aku akan menikah dengan William dulu. Ini hanya butik rumahan yang pengerjaannya pun masih manual dan langsung ditangani oleh pemiliknya. Aku tahu tempat ini dari mama, sebab dulu ia pernah merekomendasikan tempat ini. Katanya pemilik butik ini adalah temannya dan dulu waktu mama menikah ia juga membeli baju di tempat ini. Selain itu dari aku juga tahu dari sosial media, banyak dari mereka yang pamer telah memakai rancangan butik ini, meski bukan butik mewah namun memiliki kualitas
Racun media sosial membuatku penasaran hingga pada akhirnya aku berkunjung ke tempat ini. Tempat ini berada tepat di pinggir jalan, butiknya pun berdampingan dengan rumah pemiliknya. Di dalam butik ini memang tidak banyak rancangan yang pajang sebab sang pemilik hanya akan membuat ketika pelanggan meminta dan untuk contoh biasanya sang pemilik akan memberikan katalog yang dia punya serta beberapa contoh rancangan yang telah mereka buat
"Assalamualaikum, selamat pagi"
__ADS_1