
Kumakan makanan itu tanpa ragu, terasa enak dan juga pas di lidah. Sudah lama aku tidak memakannya sebab aku sendiri jarang ke luar rumah dan tengah sibuk dengan aktivitasku
Tiba-tiba aku merasa mengantuk, tidak tahu kenapa mata terasa begitu berat dan ingin terpejam. Kulirik ponselku dan di sana masih menunjukkan pukul 19.00 tapi kenapa rasanya aku ingin seklai tidur. Beberapa detik kemudian aku pun sudah tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya
Di tempat lain,
William dan Prima baru saja menyelesaikan pemakaman untuk Pak Samin. Ia dibantu oleh beberapa tenaga medis, Pak Samin sendiri dimakamkan di sebuah tempat pemakaman umum yang tidak jauh dari rumah sakit. Prima sengaja melakukan itu semua karena ia tidak tahu harus memakamkan Pak Smain di mana, ia juga tidak mungkin membawa Pak Samin ke kampung halamannya, ia hanya berjaga jika besok atau lusa Mbak Sumi sadar dan bertanya tentang Pak Samin maka dengan cepat ia akan menunjukkan dan tidak perlu perjalanan jauh
Ditambah lagi, di kampung halamannya Pak Samin sudah tidak memiliki saudara lagi ia hanya memiliki Mbak Sumi sebagai saudaranya, ia juga ingin menghindari beribu pertanyaan yang pastinya akan dilontarkan oleh tetangga Pak Samin di kampung
"Kita mampir beli makan dulu, Agnes pasti belum makan" kata William seraya mengemudikan mobilnya
Prima mengangguk pelan, di dalam hatinya ia merasa sangat tidak enak hati pada William. Terlebih lagi mengingat dirinya yang pernah melakukan hal yang tidak pantas pada William, merebut cinta kekasihnya dan pada akhirnya ia mencampakkannnya. Namun, kini saat ia sedang terpuruk justru orang yang ia sakiti lah yang selalu ada di sampingnya, membantunya dan juga melindunginya
"Will" William pun menoleh lalu kembali ke kemudinya
"Ada yang ingin aku katakan"
"Nanti saja, kita mampir dulu ke tempat itu. Kita beli makan malam" Tunjuk William pada sebuah restoran kecil yang berada tepat di seberang jalan. Prima pun menghela nafasnya dan ikut turun William yang kini sudah masuk ke dalam restoran itu dan segera memesan makanan apa yang ia inginkan
__ADS_1
Di rumah sakit,
Tepat setelah beberapa menit aku tertidur, seseorang yang berpakaian serba hitam pun masuk, kedua tangannya juga terbalut dengan sarung tangan hitam. Dengan langkah yang biasa saja ia pun mendekat ke arahku seraya melambaikan tangannya tepat di depan mataku, ia juga menepuk pipiku pelan memastikan apakah aku benar-benar tertidur atau tidak
Setelah beberapa saat ia pun meyakini jika aku memang tertidur dan dengan segera ia pun bergerak ke arah di mana Mbak Sumi berada, ia mengamati tubuh Mbak Sumi yang masih terbalut selimut dan juga beberapa selang menempel di sana. Seringai licik tercipta di bibirnya dan dengan segera ia pun menawarkan aksinya
Pertama-tama ia melepaskan selang infus yang menancap di tangan Mbak Sumi, lalu setelahnya ia malah membelai wajah Mbak Sumi dengan tangannya
"Kamu terlalu cantik untuk mati muda, jika saja Bos membiarkan aku untuk bisa memilikimu maka dengan senang hati aku akan melakukannya. Tapi sayangnya aku kemari untuk menghabisimu bukan untuk memilikimu!" ia pun segera mengusap pipi Mbak Sumi tentu saja dengan pikiran kotor dan mesum yang kini menggema di otaknya
Ia pun kembali melancarkan aksinya, kali ini ia mencabut semua kabel yang menempel di dada Mbak Sumi, kabel yang terhubung langsung dengan komputer. Selanjutnya ia memotong selang oksigen Mbak Sumi, namun belum lagi selang itu putus dan membuat Mbak Sumi lemah, terdengar suara langkah kaki seseorang mendekat ke arah ruangan itu
Panik pun menghampiri laki-laki itu, ia tidak bisa berpikir jernih. Ia melihat sekeliling mencoba mencari jalan pintas tapi hasilnya nihil. Di ruang itu tidak ada ventilasi sama sekali, yang ada hanya kamar mandi dan ia pun tidak mungkin bersembunyi di sana
Keduanya terkejut dan saling pandang, tak berselang lama keduanya pun segera berlari masuk ke dalam ruangan Mbak Sumi
"Agnes!"
"Sumi!" ucap keduanya bersamaan mendekat ke arah pujaan hati masing-masing. Prima yang kala itu langsung mengamati sekujur tubuh Mbak Sumi, memastikan apakah ada yang aneh atau tidak sedangkan William, ia mencoba membangunkan aku berkali-kali, ia menggoyangkan tubuhku dan juga menepuk pipiku tapi aku masih tetap saja terlelap karena obat tidur yang tercampur dalam makanan. William pun kini duduk di sampingku dan membaringkan tubuhku di atas pahanya
__ADS_1
Prima pun segera berlari ke luar dan memanggil dokter setelah menyadari jika selang infus, oksigen dan juga beberapa kabel tidak terpasang pada tempatnya. William sendiri kini masih mencoba membangunkan aku, dilihatnya beberapa bungkus makanan yang berada di atas meja dan dri situ ia berpikir apakah hal menimpaku ada hubungannya dengan ini semua
Tak berselang lama, Dokter pun datang bersama Prima yang paniknya tidak karuan. Dokter itu kemudian memeriksa apa yang terjadi sebenarnya, ia kemudian kembali memasang infus di tangan Mbak Sumi, meletakkan kabel pendeteksi jantung pada tempatnya dan juga mengganti selang oksigen yang hampir terputus itu, wajah pucat kini juga terpasang di wajah Dokter itu
"Kenapa bisa seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Dokter itu dan Prima pun segera menjelaskannya, Prima juga bercerita jika tadi sebelum menemui Dokter ia sudah meminta Satpam untuk mengejar laki-laki misterius yang tadi masuk ke dalam ruangan di mana Mbak Sumi dirawat
"Untung saja kalian cepat datang, jika terlambat lima menit saja mala semuanya akan berakhir" raut wajah Prima kini tidak panik lagi, William sendiri kini bergantian meminta Dokter untuk memeriksa keadaanku dan dengan segera ia pun memriksanya
Dokter itu meminta William untuk membaringkan tubuhku di atas tempat tidur di samping Mbak Sumi, William pun kemudian membopong tubuhku dan membaringkan aku di sana. Dokter kembali memeriksaku dan mengatakan jika aku tidak kenapa-kenapa, aku hanya terkena bius atau sejenis obat tidur makannya aku terlelap dan tidak sadarkan diri
Kelegaan pun menghampiri William dan Prima, setelahnya Dokter pun pergi dan berpesan agar hal seperti ini tidak terjadi lagi, keduanya mengangguk dan Dokter pun kini ke luar dari sana
"Apa yang sebenarnya terjadi, apa kamu punya musuh atau seseorang yang membemcimu?" Tanya William seraya duduk di sampingku
Prima menggeleng, "Aku tidak punya musuh sama sekali dan saat ini aku juga tidak sedang bermasalah dengan siapa pun" jelas Prima
"Lalu kenapa ada orang senekat ini, apa kecelakaan yang menimpa kekasihmu itu ada hubungannya dengan orang yang tadi datang ke tempat ini?"
"Entah, Will. Aku juga tidak mengerti" Prima terdiam dan kemudian teringat sesuatu. Ia kembali menegakkan kepalanya dan menatap William. William sendiri bingung saat mendapatkan tatapan matanya dari Prima
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku ingat sesuatu, Will!" Lanjut Prima kemudian