
Kini Sera dan Queen duduk bersebelahan di atas pasir pantai. Sera mendengarkan semua yang Queen rasakan, bahkan mimpinya yang menikah dengan Awan.
"Apakah menurutmu itu aneh, Sera? Apa aku ini mesum??" tanya Queen yang mengkhawatirkan dirinya sendiri.
Sera menggeleng, ia lalu menjadikan telapak tangannya topangan tubuhnya sembari memandang langit malam.
"Toh Awan adalah satu-satunya laki-laki yang dekat denganmu," ujar Sera.
"Hah?" Queen malah tak mengerti.
"Ya, dulu kamu menganggap Ryu adalah pangeranmu, kamu selalu memimpikannya dan berharap kalian akan bersama, tetapi di samping itu ada Awan yang selalu setia jadi guardianmu," ucap Sera mengumpamakan hubungan antara Queen, Awan dan Ryu.
Queen menatap Sera dengan seksama, berusaha memahaminya.
"Ketika kamu patah hati, ketika kamu rapuh, guardianmu akan selalu ada di sampingmu, menjagamu." Kini Sera memandang wajah Queen sambil tersenyum.
"Mungkin awalnya hubungan kalian bagaikan majikan dan guardian, tetapi siapa yang tahu kalau hubungan itu bisa berkembang jadi hubungan yang lebih dalam lagi ..." lanjut Sera seraya tersenyum.
Queen memandang Sera sambil menggigit bibirnya.
"Guardian?" ulang Queen lalu memeluk dirinya sendiri. Ingatan Queen langsung membawanya ke setiap momen bersamanya dengan Awan. Ketika ia sedih, ia selalu berlari lagi kepada Awan. Tangan Queen merambat ke dadanya, ia merasakan ritme dari detak jantungnya yang terasa tidak normal.
"Kamu gak marah, Sera?" tanya Queen tiba-tiba.
Sera melirik ke arah Queen sambil terkekeh.
"Marah? Kenapa marah?" tawa Sera heran.
"Yah, kamu, kan dekat dengan Awan. Siapa tau gitu, kamu suka sama dia?" ujar Queen menebak-nebak.
"Hahahaha ...." Sera malah tertawa.
"Aku atau kamu, nih jadinya yang suka, hah??" ledek Sera sambil tertawa terbahak-bahak.
Queen langsung tertohok malu. Wajahnya jadi memerah sekarang.
"Masa aku yang suka??? Enggak ... gak secepat itu move on! Masih tersisa luka di hatiku karena Ryu ... tetapi ... ucapan Sera juga tidak salah ...eh? Enggak! Aku gak suka sama Awan!!!" sangkal Queen dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa? Mau menyangkal?" tebak Sera yang lagi-lagi sangat tepat.
"Sera!!! Jangan bicara lagi!!!" ujar Queen malu.
"Yah, terserah kamu, sih ... Intinya kalau aku gak keberatan kalian bersama, toh apa salahnya? Wajar, kok," tutur Sera sembari memandang langit malam.
"Aku bukannya mau bersama Awan, tetapi gara-gara mimpi itu, entah kenapa perasaanku seolah terpengaruh. Aku jadi tidak bisa biasa-biasa saja ketika berhadapan dengannya ... Aku tidak mau itu terjadi. Bagaimana jika aku bahkan tidak bisa menghadapinya jika perasaan ini terus ada?" pungkas Queen panjang lebar. Sejujurnya ada sebuah rasa takut di dalam hati Queen jika ia tidak bisa berhadapan dengan Awan.
Sera tertegun mendengarnya. Kini ia memandang sahabatnya itu yang sedang dirundung kebingungan. Ia mau mengarahkannya untuk membalas perasaan Awan juga sulit, pasalnya jika Queen memang benar-benar jatuh cinta pada Awan, mungkin ia malah akan menjauh.
"Aneh. Padahal ketika Queen mencintai Ryu, dia mati-matian ingin berdekatan dengannya," gumam Sera dalam hati.
Sera tersenyum sambil memandang langit.
"Ternyata namanya memang benar-benar Awan ..." ucap Sera mulai beranalogi dan berhasil menarik perhatian Queen.
"Maksudmu?" tanya Queen yang heran.
"Awan di atas langit, ketika dia berada di sekitar kita, dia akan melindungi kita dari teriknya panas matahari, wujudnya indah dan rasanya ingin memeluknya ..." Sera terhenti.
__ADS_1
"Namun, ketika kita ingin menggapainya, ternyata ia tak dapat disentuh ..." Sera lalu menoleh ke arah Queen.
"Sama halnya seperti Awan kita." Kali ini ia membicarakan Awan sahabat mereka.
Queen menyunggingkan senyumnya.
"Memeluknya? Aku selalu berhasil memeluknya," ujar Queen terkekeh.
"Namun jika sampai perasaan ini berubah, mungkin lain cerita. Selain itu, apakah Awan juga akan menerima perasaan seperti itu? Bagaimana kalau ternyata dia malah menjauh?" lanjut Queen panik sendiri. Lagi-lagi Sera tersenyum.
"Ah, kalau begini namanya bukan dugaan lagi, mungkin tanpa sadar Queen sudah jatuh cinta pada Awan ... tetapi sejak kapan? Mungkinkah saat ia patah hati karena Ryu? Mungkinkah Awan hanya jadi pelariannya atau memang sudah sejak lama Queen beralih?" pikir Sera menerka-nerka.
Sera lalu tersenyum dan merangkul sahabatnya.
"Our Cotton Candy tidak akan seperti itu. Ia mana mampu jauh dari kita semua," hibur Sera.
"Entahlah Sera, aku hanya takut, aku takut jika kejadianku dengan Ryu terulang lagi ..." ujar Queen.
"Ah ... sudah dipastikan dugaanku benar, tetapi Queen masih agak trauma karena si kacamata itu," batin Sera lagi.
"Tenanglah, Queen, tidak akan terulang lagi kejadian seperti itu. Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah mengobati luka di hatimu dulu. Buat dirimu ikhlas dan bahagia," nasihat Sera.
"Tentu saja hal itu tak akan terulang karena Awan sudah mencintaimu sejak dulu, Queen," teriak Sera dalam hati.
"Semoga ... dengan siapapun nantinya hatiku akan berlabuh, aku harap kejadian dengan Ryu tak terulang lagi. Cinta sendiri itu sungguh menyakitkan ..." ungkap Queen lagi yang kini matanya berkaca-kaca menahan pilu.
Sera lalu memeluknya.
"Jika ingin menangis, menangislah ... aku ada di sini untukmu," bisik Sera lembut.
"Hiks .. hiks ..." Queen mulai terisak hingga akhirnya ia melepas tangisannya di dalam pelukan Sera.
Awan mengerjap-ngerjapkan matanya melihat Amanda yang begitu agresif pada Pangeran.
"Jadi, sejak kapan kalian jadian?" ulang Awan.
Wajah Pangeran memerah.
"Ah, itu ... belum lama ini ..." ujar Pangeran malu-malu.
Amanda langsung mencubit pinggang Pangeran.
"Kenapa kamu gak menyebut tanggal jadian kita??" tuntut Amanda.
Pangeran langsung menatap kekasihnya itu
"Ayolah Amanda ..." mohon Pangeran.
"Haduh ... untung aku cinta sama kamu!" keluh Amanda.
Awan yang melihatnya malah terkekeh.
"Jadi kapan nikahnya?" pancing Awan.
"Masih akhir tahun!" jawab Pangeran dan Amanda kompak.
"Oh ... jadi beneran mau nikah ..." timpal Awan sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kakak ipar, selamat, ya!" ucap Awan sambil mengedipkan matanya.
Mata Pangeran terbelalak.
"Apa-apaan lu? Sok-sokan bilang kakak ipar? Emang lu adek gue??!!!" sewot Pangeran.
Namun Awan hanya tersenyum penuh kemenangan.
"Kalau gitu, Awan permisi, ya. Moga langgeng, Darah kakak Amanda cantik," pamit Awan lalu melambaikan tangannya dan pergi.
"Cantik? Dia panggil kamu cantik???" ujar Pangeran tak terima.
Amanda langsung mencubit pipi kekasihnya itu.
"Unch ... kamu kalo lagi cemburu makin kelihatan imut, ya?" kekeh Amanda.
Pangeran melirik kekasihnya sinis.
"Ugh! Sakit tau!" katanya sambil mengusap-usap pipinya, tetapi segera tersenyum.
"Udah, ayo pergi!" ajaknya sambil merangkul Amanda pergi.
Di sisi lain.
Queen baru selesai mencuci mukanya di kamar mandi. Ia lalu memandang wajahnya di cermin kecilnya yang selalu ia simpan di sakunya.
"Ya ampun ... masih kelihatan sembab lagi ..." keluhnya sambil memandang dirinya sendiri yang baru saja puas mengeluarkan tangisannya bersama Sera tadi.
"Gimana aku ketemu anak-anak kalau begini?" katanya bingung sendiri.
"Udah, ah! Bodo! Lagian ini acara, kan buat bareng-bareng. Masa aku gak nimbrung!" tukasnya lalu keluar dari kamar mandi. Belum jauh ia berlari, tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang dulu pernah menaruh hati padanya.
Lelaki itu bisa langsung menyadari wajah sembab Queen.
"Queen? Lu kenapa?" tanya lelaki itu.
"Ah ... Kak Galang ... uhm ... enggak, gak apa-apa, kok ..." jawab Queen menyebut nama lelaki itu.
Lelaki itu alias Galang mendekatinya dan menyentuh dagunya lalu memeriksa wajah Queen.
"Kamu nangis? Nangis kenapa? Jangan bohong. Gue tahu, loh!" tekan Galang agak memaksa.
"Uhm, E-enggak kak Galang ... ini ..." Queen terhenti begitu melihat Bianca di belakang Galang. Queen segera menyingkirkan tangan Galang.
"Kak Galang, Queen, uhm ... ada apa?" tanya Bianca yang datang mendekati mereka.
"Enggak, gak kenapa-kenapa ..." Queen segera merangkul Bianca.
"Kalian belum selesai mainnya, kan?" tanya Queen.
"Be-belum, sih ..." jawab Bianca.
"Kalau begitu, aku harus ikut. Bukankah sayang kalau aku gak ikut. Kapan lagi, ya, kan?" ujar Queen sambil membawa Bianca pergi bersamanya.
"Sayang, aku pergi ke toilet dulu, ya, nanti aku gabung," izin Galang pada Bianca.
"Iya!" ujar Bianca dan Queen kompak. Mata Bianca langsung membulat, seolah bertanya,
__ADS_1
"What do you mean?"