
Ghibran membawa Queen yang ada di dalam gandengannya menuju pelaminan dimana Ryu dan Scarlett menyambut para tamu.
"Kamu yakin tidak mau mencicipi makanan dulu, nanti kalau pingsan, kan sayang ..." bisik Ghibran yang langsung disambut dengan tatapan malas oleh Queen.
"Tujuanku ke sini adalah menegaskan keputusanku! Bukan untuk makan!!!" tegas Queen.
"Oh, begitu rupanya, uhm ... tapi Queen ..." Ghibran menatap Liza yang berada tak jauh dari mereka yang sedang menatap tajam pada Ghibran.
"Ya?" tanya Queen yang pelukannya makin kuat di lengan Ghibran karena rasa takut dan gugupnya mulai muncul.
"Kamu baik-baik saja, Queen? Jika tidak bisa, maka kita pergi saja," saran Ghibran khawatir.
"Tidak, pasti bisa!!" tekad Queen semakin kuat saat barisan mereka sudah semakin dekat.
Di belakang Galang malah menatap Queen dengan khawatir.
"Kenapa kita harus di belakangnya, sih? Kenapa tidak di depannya saja supaya bisa mengutuk Ryu lebih dulu???" pungkas Galang penuh dendam.
Bianca mencubit gemas pinggang kekasihnya.
"Mana boleh begitu??" tukas Bianca.
Galang langsung menatap Bianca tak terima.
"Kenapa? Apa karena kamu fansnya Ryu, makanya melarangku begitu?" sewot Galang.
Bianca menghela napas kasar lalu menyentuh pipi kekasihnya dan menghadapkan pada wajahnya.
"Bukan! Kita harus lihat dulu apa yang akan dilakukan Queen. Dia masih merahasiakannya. Jangan bertindak yang tidak sesuai dengan apa yang akan Queen lakukan. Kita semua mendukungnya, kan? Maka kita harus mendukung mau seperti apa dia menghadapi Ryu," jelas Bianca sambil menatap kekasihnya dengan serius.
Galang membelai tangan Bianca yang memegang pipinya, ia lalu malah tersenyum.
"Boleh aku menciummu?" izinnya sambil tersenyum nakal.
Bianca tertegun, ia langsung menyembunyikan tangannya yang menyentuh pipi Galang dan langsung menatap kekasihnya dengan malas.
"Ini tempat umum. Lagipula ini pesta pernikahan. Mana boleh melakukan itu! Hanya mempelai yang boleh melakukannya!!" omel Bianca.
"Aku bercanda, Sayang," goda Galang lalu menatap Ghibran dan Queen di depannya.
"Jika kata Bianca-ku begitu, maka aku akan mempercayainya," ucap Galang lagi yang berhasil membuat wajah Bianca memerah.
"Apaan, sih?" ujarnya sambil membuang mukanya.
"Hey ... kamu malu, ya?" ledek Galang sambil cekikikan sendiri.
Kini akhirnya sudah tiba. Hanya tinggal beberapa langkah lagi Queen bisa menghadapi seorang Ryuuji Rahyudi.
Kakinya mulai terasa lemas, ia mulai tak bisa berdiri dengan tegak. Beberapa kali keseimbangannya goyah. Untungnya ia memeluk lengan Ghibran dan Ghibran benar-benar menjaganya.
__ADS_1
"Queen ... jika tak sanggup--"
"Jangan memberikan opsi tak sanggup!! Aku sudah berjanji tidak akan menangis apalagi pingsan! Aku harus memberitahukan keputusanku!!" tekad Queen dengan mata yang berkaca-kaca. Perasaannya sudah berkecamuk. Apalagi ketika Ryu sadar akan kehadirannya dan malah menatapnya dengan tatapan merasa bersalah.
"Untuk apa kamu menatapku begitu, Ryu?? Jika kamu merasa bersalah, harusnya kamu tidak menikahi Scarlett, melainkan Aku-- Ugh! Queen! Berhentilah mengharapkan pria yang tak pernah menghargai perasaanmu itu!!!" omel Queen pada dirinya sendiri di dalam hati.
Tak terasa, kini Queen sudah berdiri di hadapan Ryu dan Scarlett.
"Queen ... kamu datang?" ucap Ryu kaget. Ia masih ingat jelas dengan kejadian di Pantai beberapa hari lalu.
"Aku tidak pernah menyangka kamu akan datang. Apakah kamu akan baik-baik saja?" tanya Ryu lagi. Ghibran yang mendengarnya langsung mengernyitkan dahi.
"Aduh, aku, kan laki-laki, tetapi kenapa aku juga tidak suka mendengar pertanyaan seperti itu?" batin Ghibran.
"Se-selamat ... A-a-atas pe-pernikahan kalian," ucap Queen terbata-bata sambil menundukkan kepalanya.
"Apa? Kamu mengatakan apa, Queen?" tanya Scarlett yang pura-pura tidak mendengar.
Queen langsung menatap dua mempelai itu dengan wajahnya yang sudah basah karena air matanya yang tak berhenti keluar.
"SELAMAT ATAS PERNIKAHAN KALIAN!!!" teriak Queen yang membuat beberapa pengunjung di sana memandang mereka.
Galang dan Bianca juga tertegun mendengarnya. Galang langsung menatap ke arah Bianca.
"Selamat atas pernikahannya? Apa maksud dia?" bisik Galang.
"Itu berarti keputusan Queen. Jangan bicarakan lagi tentang Ryu," jawab Bianca yang langsung mengerti.
"Lakukan saja seperti yang dia lakukan," jawab Bianca yang langsung direspon dengan anggukan kepala Galang.
Sementara itu Mata Ryu terbelalak mendengar ucapan Queen, begitu juga dengan Scarlett.
"Hiks!" Queen terisak, Ghibran buru-buru mengusap punggungnya agar Queen bisa lebih tenang.
"Selamat ... atas pernikahan kalian dan aku berharap kau, Ryu! Kau tidak menyakiti Scarlett seperti kamu menyakitiku," tangisan Queen pecah. Mendengar penuturan Queen, Scarlett langsung menggenggam tangan suaminya seerat mungkin.
"Aku ... kalian tenang saja. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi," ucapnya lalu kini menatap pasangan suami-istri itu secara bergantian.
"Seperti keinginanmu, Ryu. Aku akan berhenti mempertahankan perasaanku. Aku akan berhenti mengharapkanmu, sekalipun itu sulit, tetap akan kulakukan ..." lirih Queen di sela tangisnya.
"Queen?? Kenapa kamu menangis? Kamu sudah berjanji pada Awan tidak akan menangis?? Bagaimana jika Awan tidak mau bicara denganmu???" batin Queen berusaha menghentikan air matanya. Sementara Ghibran masih berusaha menenangkannya.
"Aku ... Aku berharap pernikahan kalian langgeng. Aku berharap pernikahan kalian awet ... jangan sia-siakan aku yang sudah melepas Ryu untukmu, Scarlett ... hiks," Isak Queen sambil menghapus air mata yang bercucuran di pipinya.
"Queen--"
"Jangan berkomentar apapun. Aku tidak butuh komentarmu, Ryu," tolak Queen yang masih sesenggukan.
"Tidak. Kamu harus mendengar ini," ucap Ryu yang wajahnya malah berseri-seri.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menyangka kamu akan datang ke sini, tetapi malam ini, dengan datang ke sini dan mengatakan itu ..."
"Terimakasih, Queen," potong Scarlett. Ryu langsung menoleh ke arah istrinya.
"Terimakasih, Queen. Aku tidak akan menyia-nyiakan kamu yang sudah melepas Ryu untukku. Terimakasih, Queen ..." ucap Scarlett yang matanya mulai berkaca-kaca. Ia tidak boleh menangis, nanti riasannya bisa luntur.
Ryu tersenyum dan berusaha memandang wajah Queen.
"Ya, terimakasih. Itu juga kata yang mau aku ucapkan, Queen," ujar Ryu. Queen menggigit bibirnya. Berusaha menahan marah dan sedihnya.
"Kalau begitu, permisi," kata Queen yang langsung melepas gandengannya pada Ghibran dan berlari pergi begitu saja. Ia tidak peduli dengan bisikan-bisikan orang yang membicarakannya.
Kini tinggal Ghibran sendiri di hadapan Ryu dan Scarlett.
"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Ghibran sambil berusaha tersenyum.
"Terimakasih, terimakasih sudah hadir," jawab Ryu. Ghibran hanya menganggukkan kepalanya dan pergi turun dari pelaminan. Ia lalu memeriksa ponselnya dan di sana entah kenapa ia mendapat pesan dari nomor asing.
085********* : pergilah ke kamar nomor 403 jika kamu masih mencintai Liza.
"Masih mencintai Liza? Apa ini dari Liza?" gumam Ghibran.
"Coba kita lihat!" gumamnya lalu langsung pergi ke kamar yang tertera di pesan itu.
Berikutnya adalah Galang dan Bianca. Ryu malah kaget melihat mereka datang bersama.
"Galang, kau ..."
"Kenapa? Kaget ngeliat gue dateng bawa cewek gue?" tanya Galang sambil merangkul Bianca.
"Uhm ... tidak hanya saja ..."
"Tadinya gue sama Bi mau maki-maki lu! Tapi Queen gak melakukan itu, jadi gue dan Bi cuman bisa bilang ..."
"Selamat atas pernikahannya," ucap Galang dan Bianca kompak. Ryu kini menatap keduanya, sekalipun ucapan selamat yang keluar dari mulut mereka, tetapi entah kenapa Ryu jadi merasa bersalah mendengarnya.
Kini dua sejoli itu berusaha memberikan senyumnya.
"Semoga langgeng, Sensei," ucap Bianca.
"Ya, terimakasih," jawab Scarlett mewakili Ryu. Galang dan Bianca langsung turun dari pelaminan.
Scarlett menggenggam tangan suaminya.
"Sudah berakhir, Ryu ... kumohon, berhentilah merasa bersalah. Kini pikirkanlah tentang aku dan kamu saja. Pikirkanlah tentang kita," bisik Scarlett. Ryu langsung memandang wajah istrinya yang terlihat khawatir.
Ryu menganggukkan kepalanya.
"Ya, kamu benar. Pikirkan tentang aku dan kamu. Pikirkan tentang kita," lirih Ryu seraya menatap netra istrinya dalam-dalam.
__ADS_1
***
Mama Uzda cuman bisa bilang, Semangat Queen, heuheu ...