I Love You Queen

I Love You Queen
Bagian 8


__ADS_3

"Lepasin gak cewek gue ?!!!" ancam Galang sambil menarik kerah Ryu,


"heit !" Amanda langsung menarik Galang menjauh dari Ryu, sehingga ia melepaskan cengkramaannya.


"dari tadi gue biarin elu, ya ngikutin kita karena lu gak ada temen di sini, tapi jadi orang yang sopan dong !!!" kata Amanda mengomelinya.


"lu siapa, hah?? Lu pikir, lu berhak bentak-bentak gue ???" tanya Galang sambil menunjuk Amanda dengan telunjuknya.


"hey,hey.., cukup..., kenapa kalian jadi bertengkar?" tanya Ryu berusaha meredam suasana.


Queen memeluk lengan Ryu semakin erat,


"kakak Ryu, aku menggandeng tangan kakak saja hari ini." kata Queen.


"tapi, Queen...," kata Ryu yang sebenarnya tidak enak dengan Galang.


"please...," pinta Queen.


"biarlah, Ryu.., biar dia denganku!" kata Amanda lalu menarik tangan Galang dan memeluknya,


"ih, apa-apaan, sih lu ??" kata Galang yang berusaha melepaskan lengannya, tapi tidak bisa.


"silahkan kalian berkeliling.., biar anak ini berkeliling bersamaku." kata Amanda sambil menatap Galang sinis.


"eh? tapi, tapi.., Queen !!!" Amanda sudah keburu membawa Galang pergi.


Kini tinggal Queen dan Ryu berdua,


"ayo, Queen.., kita sapa yang lainnya." ajak Ryu.


Queen mengangguk tanda setuju.


*


Gibran mendatangi kedua orangtuanya,


"Nah, ini Gibran...," kata Levi memperkenalkan putranya pada Idho.


"hallo Gibran? Ya ampun.., kamu benar-benar sudah besar,ya...., berarti Papa Idho udah lama banget gak ketemu kamu...," kata Idho takjub.


"ah, iya om__,"


"no, panggil Papa Idho, oke?" pinta Idho.


"oke Papa Idho..," kata Gibran sopan.


"hey, Gibran, dulu saat kamu dan kakakmu masih bayi, Papa Idho yang sering mengajak kalian bermain...," kata Levi.


Gibran hanya memberikan senyum untuk menimpalinya,


"oh,iya.., apa hari ini kita akan bertemu dengan putrimu?" tanya Amara.


"entahlah.., dari tadi aku belum melihatnya__,"


"Papa !" Tiba-tiba ada seorang gadis di belakangnya,


Idho memutar tubuhnya, Gibran langsung melotot saat melihat gadis di belakang Idho.


"ah, ini dia putri sulungku, Liza..," kata Idho lalu menarik Liza agar berdiri di sampingnya,


"Papa.., Liza bajunya kotor.., Liza mau pamit pulang...," bisik Liza.


"ya ampun, Liza, kamu sapa dulu Papa Levi, baru pulang..," bisik Idho.


"ehem !!" Tegur Levi.

__ADS_1


Idho langsung memasang senyum ramahnya,


"ini, Liza putriku...," kata Idho,


Gibran yang bersiap mau kabur, dicegah oleh Amara,


"kamu mau kemana, sayang?" tanya Amara.


"ah, itu.., itu...,"


"culun !!" Kata Liza yang menyadari keberadaan Gibran. Levi, Amara dan Idho langsung melotot dengan kata yang keluar dari mulut Liza.


*


Queen duduk di bangku yang tersedia di dekat panggung. Queen memijit-mijit kakinya.


"ugh.., sakit..," keluh Queen yang hari ini memakai sepatu hig-heels.


"kamu tidak terbiasa,ya Queen?" tanya Ryu yang berdiri di depannya.


"yah, aku kan biasanya pake sepatu kets atau sepatu Runner atau flat-shoes.., gak biasa yang kayak gini...," keluh Queen.


"apa aku teralu jauh mengajakmu berkeliling? Maaf, Queen...," kata Ryu buru-buru.


Queen menggeleng,


"tidak Ryu..., aku senang bisa berjalan-jalan denganmu...," kata Queen.


"ayolah Queen, tanyakan pertanyaanmu sepuluh tahun lalu! Lalu dengarkan jawaban Ryu !!" kata Queen.


"uhmm.., Ryu..," kata Queen.


"hm?"


"tanya apa?"


"uhm.., Ng...,"


"Ryu ?!" Belum sempat Queen bicara, tiba-tiba ada orang yang datang, membuat Ryu beralih,


"Ryu !!! long time no see !!!" kata Orang itu sambil memeluk Ryu.


"long time no see, Yanuar...," kata Ryu memeluk lelaki itu, Yanuar adalah salah satu teman Ryu selain Adlan dan Pangeran.


"hello Queen!" sapa Yanuar.


"hello." kata Queen sambil memaksakan senyumnya.


*


"Culun !!!" kata Liza lantang, membuat 3 orang dewasa di hadapannya melotot,


"culun?? bisa-bisanya dia menyebut putra tampanku ini dengan sebutan begitu??" gumam Amara kesal dalam hati.


"Liza, namanya itu Gibran.., Gibran...," bisik Idho.


"eh? Gibran?" kata Liza yang mulai sadar bahwa ia akan kena badai tornado karena amarah kedua orang tua si culun itu.


Gibran buru-buru mengulurkan tangannya untuk mencairkan suasana,


"aku Gibran...," kata Gibran ramah. Ia bahkan tersenyum.


"setidaknya jangan sampai Mama dan Papa tahu kalau aku baru saja buat masalah dengannya..," batin Gibran.


Liza menatapnya sinis, tetapi tetap menjabat tangan Gibran,

__ADS_1


"Liza...," kata Liza lalu segera melepaskan jabatan tangannya. Ia berusaha bersikap baik-baik saja meskipun sebenarnya tidak baik-baik saja.


"ah, uhm.., kalian ini, dulu,kan sering main bersama saat masih bayi. Kalian itu teman masa kecil." kata Idho berusaha menghilangkan suasana tegang di Antara mereka.


"ah.., begitu,ya..., kalau begitu dia adalah teman lamaku.., benar,kan Pa?" kata Liza berusaha terlihat ramah.


"tentu saja...," kata Idho.


"tapi putraku tidak seharusnya disebut begitu...," protes Amara, reflek, Levi langsung menyenggol siku istrinya.


"ah, maafkan putriku, Dia kadang memang suka asal bicara. Aku akan menasihatinya lagi...," kata Idho lalu langsung melirik sinis ke arah Liza.


"bukannya seharusnya kita membiarkan sepasang teman lama ini berbincang-bincang berdua?" tanya Levi.


"apa?" tanya Liza, Idho langsung menyenggol siku putrinya,


"wah.., ide yang bagus." kata Idho sambil tersenyum.


"Pa, papa yakin?" bisik Amara pada Levi.


"yakin. Sudah, tenang saja ma...," timpal Levi.


"kalau begitu, biarkan anak muda menjalankan masa mudanya." kata Idho lalu merangkul Levi.


"ya, kau benar..," kata Levi.


"kalau begitu, ayo kita temui kak Alan." ajak Idho pada sepasang suami istri itu.


Kini tinggallah Liza dan Gibran.


*


Dari kejauhan Awan memandangi Queen yang sedang duduk sambil sesekali tersenyum karena obrolan antara Ryu dan Yanuar.


"ehem !" tegur Sera.


"ada apa, Sera?" tanya Awan.


"apa yang kamu lihat, my Cotton candy?" tanya Sera.


"melihat Queen. Dia tersenyum begitu indah." kata Awan.


Sera berdiri di sebelah Awan dan berusaha melihat apa yang Awan lihat,


"ooh...," kata Sera lalu menoleh untuk melihat wajah Awan. Sera mengernyitkan dahi heran.


"kenapa kamu sedih?" tanya Sera.


"sedih?" tanya Awan lalu menoleh pada Sera.


"jelas-jelas aku tersenyum? Kenapa aku sedih?" tanya Awan.


"mulutmu tersenyum, tapi matamu pilu....," kata Sera.


Awan tertegun,


"ah, apa coba alasannya, mataku pilu?" kata Awan sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


"alasannya?" tanya Sera lalu berpikir,


"entahlah ! Hanya kamu yang tahu." kata Sera lalu pergi meninggalkan Awan.


Awan menggeleng-gelengkan kepalanya,


"dasar Sera aneh!" katanya.

__ADS_1


__ADS_2