
Sakura tersenyum lebar di hadapan Sultan yang hendak berangkat, sekalipun ia sangat malas.
"Lu??" ujarnya tak sanggup berkata-kata lagi. Ia paling benci melihat sosok gadis itu di hadapannya.
"Apa kamu kaget, Sultan? Sakura ke sini hanya untukmu loh ..." ucap Sakura sambil tersenyum lebar.
"Memangnya siapa yang mengharapkanmu datang ke sini??!!!!" ketus Sultan sambil memutar bola matanya.
"Siapa yang datang Sultan?" tanya Queen yang langsung terhenti begitu melihat sosok Sakura.
"Sakura?" ucapnya tak menyangka.
"Kalo kak Queen!" seru Sakura girang yang langsung disambut decihan dari mulut Sultan.
"Bukannya kamu harus jadi Bridesmaids? Kenapa di sini?" tanya Queen heran sembari menghampiri Sakura yang masih berdiri di depan pintu.
Sakura langsung menggeleng.
"Tidak, Sakura bilang, Sakura mau menjemput Sultan," ujarnya girang sendiri sambil memandangi Sultan yang sedang membuang muka padanya.
"Kalau begitu, Sultan, pergilah bersamanya," suruh Queen. Sultan langsung menatap kakaknya sendiri dengan tajam.
"Kak Queen gila, ya??!!!" sergah Sultan.
"Hah? Gila? Kenapa gila?" tanya Queen bingung.
"Argh ...!!" Kini Sultan menatap Sakura tajam.
"Lihat wajahnya saja sudah buatku muak!!! Lebih baik kamu pergi sendiri sana!!!" usir Sultan lalu keluar melewati Sakura.
Sakura hanya diam terpaku mendapatinya. Entah kenapa ia tak bisa bergerak secenti pun.
"Sakura, maafkan Sultan, ya ... Uhm, mungkin dia masih terpukul karena melihat diriku yang bersedih, tetapi aku tidak kesal padamu, kok. Aku hanya agak sedikit tersakiti oleh Ryu ... jadi ..." Queen jadi merasa bersalah. Entah kenapa ia melihat sosok dirinya di dalam diri Sakura.
Tiba-tiba Sakura menyentuh tangan Queen, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Kak Queen ... Sakura mohon, maafkan Ryu-niichan, ya?" pinta Sakura yang sudah berhasil meneteskan air matanya.
"Sakura ..."
"Sakura juga tidak tahu kalau Kak Queen akan merasa agak sedikit tersakiti, meskipun begitu, rasa sakit itu tetap terasa sakit, kan? Sakura tahu rasanya ..." lirih Sakura sambil menggenggam tangan Queen.
"Ya ampun ... kamu jangan menangis sepertiku. Sudah-sudah ..." hibur Queen sambil mengelus tangan gadis remaja di hadapannya.
"Queen, apakah kamu sudah siap?" Tiba-tiba datang seorang laki-laki dari belakang Sakura yang mengalihkan perhatian Queen. Sakura yang penasaran juga langsung memutar tubuhnya.
"Si-siapa itu?" tanya Sakura.
"Dia temanku," jawab Queen sambil tersenyum.
Tak selang berapa lama, muncul pasangan lainnya, Bianca dan Galang. Mata Queen terbuka lebih lebar lagi saat melihat sosok Galang. Mau bagaimana pun Galang dulu sempat memujanya dan sekarang ia dengan nyamannya datang sembari merangkul sahabatnya itu.
"Jadi mereka benar-benar bersama?" gumam Queen dalam hati.
"Biasa saja memandang kami, Queen ..." sindir Galang dengan senyum senganya.
__ADS_1
"Woah ... mereka ini siapa?" tanya Sakura yang seolah melupakan kesedihannya.
"He? Siapa anak kecil, ini Queen?" tanya Ghibran.
"Adiknya Ryu," jawab Queen.
"Sakura! Apa kamu ingat aku?" tanya Bianca lembut.
Galang malah menoleh ke arah kekasihnya dengan wajah heran.
"Adiknya Ryu? Dia punya adik perempuan?" tanya Galang kaget.
"Sedang apa dia di sini?" tanya Ghibran lebih heran lagi.
"Sakura mau jemput Sultan dan kakak Queen, tetapi ..."
"Aku akan pergi dengan mereka, Sakura. Apa kamu juga mau ikut?" tawar Queen.
"Tidak! Aku tidak mau dia masuk ke mobil gue!" celetuk Galang buru-buru.
"Kenapa???" ujar Queen agak kesal.
"Tidak ada tempat lagi! Gue udah pusing dengan adanya Ghibran dan lu, sekarang nambah satu lagi?" ujar Galang.
Sakura langsung memasang raut wajah sedih.
"Sudah, dia sama papa dan mama saja," ucap seorang Pria dari belakang Queen.
"Papa ..." ucap Queen. Galang dan Ghibran langsung tertegun.
"O-om ... perkenalkan, saya Ghibran, temannya Queen. Ya, temannya Queen," ucap Ghibran buru-buru agar Iskandar tak salah paham.
"Ghibran? Queen sudah sering cerita. Dia itu menghormatimu. Kamu jangan buat Ghibran kesulitan, ya," pesan Iskandar pada putrinya.
"Apaan, sih, Pa? Queen cuman minta ditemenin doang, kok," jawab Queen kesal.
"Baguslah, tapi kamu harus ingat, dia itu pacarnya Liza," tambah Iskandar yang membuat semua orang terbelalak.
"O-om tahu saya pacarnya Liza?" tanya Ghibran kaget.
Iskandar malah tersenyum.
"Ya, Tau lah ... Papanya Liza juga sering menceritakan dirimu pada Om," jawab Iskandar sambil senyum-senyum sendiri.
"Dan kau, saudara kembarnya, ya, kan?" tunjuk Iskandar kali ini pada Galang.
Galang langsung membungkukkan badannya.
"Ya, Om! Sa-saya Galang!" ucap Galang sopan dan jadi salah tingkah, tetapi perilakunya justru malah mengganggu Bianca.
"Ya sudah, segeralah berangkat, biar Sakura dengan Papa, oke," perintah Iskandar.
"Iya, Pa!" Queen langsung menggandeng lengan Ghibran.
"Kalau begitu, Queen berangkat, ya. Sakura jangan sedih," hibur Queen.
__ADS_1
Sakura menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Sampai ketemu nanti!" ujar Sakura.
Queen bersama Ghibran, Bianca, dan Galang melambaikan tangannya sebelum akhirnya pergi.
***
Sementara itu di ballroom acara pernikahan Ryu dan Scarlett.
Liza dari tadi memasang matanya ke seluruh pengunjung yang datang.
"Sebenarnya kamu cari siapa, Liza?" tanya Awan yang sedang asyik makan es krim.
"Siapa lagi kalau bukan My Eben!" seru Liza agak kesal karena tak kunjung menemukan tambatan hatinya itu. Sejujurnya ia sudah sangat merindukan pria itu.
"Untuk apa kamu mencarinya? Memangnya kamu bisa bersamanya?" sindir Awan.
"Itu urusanku! Aku sudah mengatur agar kami punya waktu berdua!" jawab Liza.
"Kamu gak berencana menghabiskan malam dengannya, kan?" celetuk Awan yang langsung menohok Liza.
Liza langsung menginjak kaki Awan.
"Diam aja lu! Bicara sembarangan!" ketus Liza, meskipun memang itu rencananya.
"Jangan lupa, kita juga mau menohok seorang Ryu," kata Sera yang tiba-tiba muncul sambil membawa piring kecil berisikan kue-kue mini.
"Makanya, kita harus menunggu Queen juga!" timpal Liza sekalian mencari sosok sahabatnya itu. Sedangkan Awan terdiam. Ia tahu Queen tidak mau membahas apalagi balas dendam pada Ryu.
"Sepertinya itu--"
"Itu Queen!!" seru Liza, tetapi raut wajahnya langsung kecewa. Ia langsung terbakar api cemburu.
"Kenapa dia memeluk lengan My Eben????" geramnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
Awan dan Sera juga kaget dengan apa yang mereka lihat. Queen datang bersama Ghibran sambil memeluk lengannya.
"Aku harus tanya!! Tidak bisa kubiarkan!!!" seru Liza hendak pergi ke arah Ghibran dan Queen, tetapi dicegah oleh Awan.
"Jangan ke sana, Liza. Kamu mau apa ke sana?" tanya Awan.
"Aku mau menanyakan alasan, kenapa mereka bertindak seolah seperti pasangan??? Ugh, dasar Eben sialan!!!" kesal Liza.
"Apa yang mau coba kamu lakukan, Liza?? Mau marah-marah?? Mau menunjukkan kamu cemburu? Kamu ingat kata Mince, bahkan kita tidak boleh terlihat punya kekasih!!!" ujar Sera.
"Ugh!!! Sial!!! Lihat saja nanti!!!" kata Liza lalu pergi entah kemana.
Awan dan Sera langsung saling lirik.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa Queen bicara sesuatu padamu, Awan?" tanya Sera.
Awan menggeleng.
"Tidak. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi," jawab Awan khawatir.
__ADS_1