I Love You Queen

I Love You Queen
S2 : Privasi


__ADS_3

Ghibran berjalan dengan langkah tidak pasti sembari mencari nomor kamar yang tertera di pesan yang ia dapatkan dari nomor asing tadi. Ia agak curiga kalau Liza-nya berada dalam bahaya atau mungkin hanya ingin mengerjainya. Namun, tidak ada seorangpun yang tahu tentang hubungannya dengan selebriti itu selain sahabat-sahabatnya.


Langkah Ghibran terhenti begitu menemukan Justin yang sedang berdiri tak jauh dari sebuah pintu kamar hotel. Ghibran segera menghampirinya.


"Justin??" ucap Ghibran yang membuat laki-laki itu menoleh ke arahnya.


"Aduh ... Mas Ghibran, akhirnya datang juga," sahut Justin sambil menyelipkan sebuah kartu di saku jas Ghibran. Ghibran tentu sadar akan hal itu.


"Ya udah, ya ... udah ditunggu sama Sister Liza di dalam," kata Justin lalu pergi begitu saja.


"Apa? Jadi benar pesan itu dari Liza?" gumam Ghibran ia langsung merogoh sakunya dan mengintipnya. Ia menemukan sebuah kartu kamar hotel di sana. Ghibran lalu menoleh ke kanan dan ternyata nomor kamar yang sesuai dengan isi pesan itu ada di sampingnya.


"Liza ..." Jantungnya berdegup sangat keras sambil membayangkan sosok Liza di dalam sana. Dua sudut bibirnya langsung terangkat.


"I'm coming Liza!" serunya dalam hati lalu langsung membuka pintu kamar itu. Ia langsung menutupnya dan menelisik isi kamar dengan sorot matanya yang tajam.


"Liza!!! I'm coming!!!" teriak Ghibran kegirangan. Ia sudah tidak bisa mengendalikan kebahagiaannya. Akhirnya ia bisa melepas rasa rindunya.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Tidak ada yang merespon Ghibran. Apakah ia benar-benar ditipu? Namun Justin yang memberikan kartu kamar hotel ini padanya.


"Seharusnya Liza ada di sini?" ujar Ghibran heran dan mulai menyusuri seluruh sudut ruang kamar. Ia tidak menemukan orang ataupun barang yang menandakan keberadaan seseorang.


"Liza dimana? Dia tidak mungkin dalam bahaya, kan--"


Ceklek!


Tiba-tiba ada pintu yang terbuka, tetapi bukan pintu kamar. Ghibran langsung mencari pintu mana yang terbuka. Ternyata kamar ini adalah kamar sambung dan pintu sambungnya yang terbuka.


Ghibran segera berlari ke sana untuk mengetahui siapa yang datang.


Dari balik pintu muncul sosok wanita yang sangat ia rindukan kini sedang menatapnya tajam.


"Liza!! I Miss you!!" ungkap Ghibran sambil menengadahkan kedua tangannya hendak memeluk pujaan hatinya.


PLAK!!


Tiba-tiba Liza menamparnya sekeras mungkin. Ghibran jelas kaget dengan apa yang terjadi barusan. Ia menatap wanitanya dengan bingung sambil memegangi pipinya.


"Liza ... why?" tanya Ghibran tak mengerti.


"Peng-Khi-A-Nat!!!" tuding Liza dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa?" ujar Ghibran makin tak mengerti.

__ADS_1


***


Queen kini duduk sendirian di mobil Van milik Awan. Di sana ia ditemani oleh Cecil, asisten Awan.


"Kakak ... Cecil udah hubungi Kak Awan ... bentar lagi dia datang, kok. Kakak sabar, ya," bujuk Cecil yang sebenarnya juga iba melihat Queen yang dari tadi tidak berhenti menangis.


"Kakak ... Kakak masih butuh tissue? Ada banyak di bagasi. Mau Cecil ambilin?" tawar Cecil, tetapi tak dapat jawaban dari Queen, Queen hanya menatap keluar jendela sambil sesenggukan. Ia berharap Awan segera datang.


Ia benar-benar butuh sosok Awan, ia ingin mendapatkan pelukannya. Ia ingin dapat belaiannya. Ia ingin segera mendapatkan ketenangan.


"Kenapa Awan lama sekali??" Akhirnya Queen bersuara dengan nada yang berat.


Cecil langsung mengecek ponselnya dan membuka ruang chatnya dengan majikannya itu.


"Tunggu sebentar lagi, Kak, Ada banyak wartawan yang mewawancarainya, setelah itu Kak Awan akan segera ke sini," jawab Cecil berusaha membujuk Queen. Cecil juga tahu, kalau hubungan Awan dan Queen cukup dekat, meskipun Queen bukan berasal dari kalangan artis.


"Apakah Awan marah padaku karena aku menangis di hadapan mempelai? Apakah dia sengaja mengulur waktu bertemu denganku karena tidak mau bicara denganku?" lirih Queen malah membuat air matanya semakin deras.


"Enggak, kak ... Kak Awan sebentar lagi ke sini, kok," hibur Cecil yang jadi ingin ikutan menangis menyaksikan kepiluan yang dirasakan oleh Queen.


Ceklek


Sreek!


Tiba-tiba pintu mobil Van terbuka dan muncullah sosok Awan dari sana. Queen langsung menatap Awan dengan wajah yang sudah tak karu-karuan.


"Kak Awan!" seru Cecil lega.


"Baik, kak! Siap!" seru Cecil lalu langsung keluar dan memastikan tidak ada wartawan yang mengikuti artisnya.


Sedangkan Awan masuk ke dalam dan langsung menutup pintu. Ia langsung datang pada Queen dan membawa wanita itu ke dalam dekapannya. Tangisan Queen langsung pecah.


"Awaaan ...." ucapnya di sela tangisnya.


Awan mengusap-usap punggung wanita yang sebenarnya ia anggap sebagai wanita, bukan sahabatnya.


"Awaaan .... Kukira ... kukira kamu tidak mau bicara denganku lagi ... kukira, hwaaa ...." tangisan Queen pecah sepecah-pecahnya. Ia memeluk Awan dengan sangat erat seolah segala kepiluan ia tumpahkan pada lelaki itu.


"Bodoh! Mana mungkin aku tidak mau bicara denganmu? Aku yang tersiksa jika melakukan itu," ucap Awan dengan suara berat. Ia juga tak tahan menghadapi kepiluan Queen. Air matanya juga tak bisa ia bendung lagi.


Pelukan Queen makin erat.


"Aku begitu tersiksa saat kamu tidak ada di sampingku ... Rasanya tadi aku berperang tanpa senjata dan semua senjata lawan menyerangku secara bertubi-tubi ..." lirih Queen yang benar-benar tak kuasa menahan segala kesedihannya.


Awan bisa merasakannya dari sekuat apa cengkraman tangan Queen yang memeluknya.


"Maafkan aku, Queen ... Maafkan aku," ucap Awan jadi merasa bersalah.


Queen mengangkat kepalanya dan sudah melihat wajah Awan yang juga basah karena air mata. Queen langsung menghapusnya dengan ibu jarinya.

__ADS_1


"Kenapa kamu menangis, Awan? Cukup aku saja yang menangis. My Cotton Candy tidak boleh menangis," ujar Queen sambil membersihkan wajah Awan dari air matanya.


Awan memegang kedua pergelangan tangan Queen sambil menatapnya.


"Bagaimana aku tidak menangis? Aku tidak tahan melihatmu menangis, aku bisa merasakan kepedihanmu, Queen ..." tangis Awan.


"Aku tidak bisa membayangkan jika aku yang berada di posisimu, Queen. Mungkin aku tidak akan bisa move on dan memilih hidup sendiri selamanya," batin Awan.


"Sekalipun kamu menangis, kamu sudah sangat kuat. Kamu sungguh tangguh. Kamu masih bisa berpikir jernih. Kamu--"


"Tapi aku masih butuh kamu, Awan!" ucap Queen sambil memeluk Awan lagi.


"Aku tidak akan punya kekuatan ini jika kamu tidak di sampingku. Kamu sumber kekuatanku," ucap Queen lagi sambil mempererat pelukannya.


"Rasanya aku tidak mau melepas pelukan ini. Aku ingin seperti ini sampai besok pagi," batin Queen.


"Lakukanlah sesuka hatimu, Queen," ucap Awan masih dengan suara berat sambil membelai rambut Queen.


Queen mengangkat kepalanya dan menatap Awan.


"Bolehkah?" tanya Queen.


Awan mengangguk.


"Tentu saja boleh," jawab Awan sambil melemparkan senyumnya. Pelukan Queen semakin erat ketika Awan mengatakannya.


Beberapa jam kemudian.


Awan tiba-tiba terbangun begitu saja. Rupanya habis menangis sepuasnya tadi bersama Queen, mereka berdua ketiduran karena kelelahan. Di dalam mobil kini masih tinggal mereka berdua. Sopir dan asistennya belum berani masuk.


Awan lalu menoleh ke arah Queen yang sedang tertidur lelap dengan bersandar di bahunya. Wajah damai Queen saat tertidur membuat Awan melukiskan senyum di wajah sembab Awan.


"Aku bahagia jika kamu bahagia, Queen ..." ucap Awan sambil membelai lembut rambut keriting Queen.


Awan lalu mengecup puncak kepala Queen penuh dengan kasih sayang. Mendapati itu, Queen malah melingkarkan tangannya ke pinggang Awan. Awan jelas kaget dengan respon seorang Queen. Kini jantungnya berdetak sangat kencang. Wajahnya mulai memanas. Seolah ada gairah yang muncul dari dalam dirinya.


"Queen ... jangan begini ..." bisik Awan, tetapi Queen malah semakin mempererat pelukannya hingga posisinya begitu nyaman.


Awan masih berusaha menahan keinginannya untuk menganggap seorang Queen sebagai seorang wanita.


"Queen ..." bisik Awan, tetapi Queen malah mengangkat kepalanya.


"Berisik! Aku cium, nih!" ancam Queen yang masih memejamkan matanya.


"Tapi--"


Belum sempat Awan menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba tangan Queen menarik wajahnya dan menautkan bibir mereka berdua. Awan hanya bisa diam terpaku. Tubuhnya seketika membeku.


***

__ADS_1


Hayoo ... jangan ikutan membeku juga ya kalian ...


Jangan lupa Favorit, like, vote dan komen. Kirim hadiah juga boleh banget. Sejuta cinta untuk kalian


__ADS_2