
Queen POV
"Karena itu? Maksudnya?" tanyaku bingung, mengapa dia menggantung kalimatnya?? Dia tidak tahu apa, otakku sedang tidak bisa berpikir??
Namun Awan malah tersenyum melihat wajah bingungku. Ia menatapku lekat-lekat.
"Queen adalah orang yang pantang menyerah, tetapi Queen juga bisa melakukan apa saja tanpa mengabaikan norma kebaikan," jelas Awan.
Sayangnya penjelasan Awan malah membuatku semakin bingung.
"I know, lalu?" tanyaku tak sabar.
"Lalu, kamu hanya merasa menyesal telah mempertahankan perasaanmu pada Ryu. Sampai akhirnya dia tidak pernah melihatmu," lanjut Awan.
Aku langsung tertohok. Dari awal Ryu memang tidak pernah melihatku dengan cara yang sama seperti aku melihatnya.
"Itu, rasa sesalmu adalah yang membuatmu keras kepala tidak mau move on. Itu memang bisa terjadi pada siapa saja," lanjut Awan yang berhasil membuatku tertegun.
"Ra-rasa sesal?" ucapku pelan sambil memegangi dadaku yang berdebar-debar.
"Mungkinkah itu penyebabnya?" batinku agak tak percaya.
"Pasti rasa sesal itu ada ..." tambah Awan lalu memandangku yang sedang memandangnya. Tatapan kami bertemu. Aku menggigit bibir bawahku. Mengapa jantungku berdetak semakin cepat. Rasanya caranya menatapku agak berbeda. Tiba-tiba wajahku jadi panas. Aku ingin lepas dari tatapan ini, tetapi hati kecilku enggan melakukannya.
"Pft ... Kamu kenapa, Queen?" tawanya. Aku segera mendudukkan diri dan mengipas-ngipasi wajahku yang terasa panas. Aku benar-benar malu karena deg-degan hanya karena ditatap olehnya. Aku menendang paha Awan.
"Ugh, nyebelin!!!" gerutuku kesal.
"Adaw!!" rintih Awan yang langsung terduduk juga.
"Sakit, Queen! Tega banget, dah!!" protesnya. Masa bodo, lagian dia berani-beraninya membuatku deg-degan sendiri. Aku mana terima?!
"Hu-uh ... pasti begini cara dia membangun chemistry pada setiap pasangannya di atas panggung dan video clip-nya!" keluhku dalam hati. Melihat seorang Awan yang berciuman pipi bahkan bibir sudah menjadi pemandangan yang biasa bagiku.
"Bodo! Ngeselin, sih!!! Orang lagi sedih malah dibecandain!!" marahku sambil melipat tangan.
"Pft ... lagian kamu aneh, intens banget memandang mataku, hati-hati jatuh cinta loh, wkwkwk ..." tawa Awan puas. Ia sampai memegangi perutnya karena saking gelinya. Rasanya ingin aku tonjok perutnya.
"Udah, ah! Aku mau tidur, besok Perry mau ajak aku belanja dan jalan-jalan ke spot-spot keren di Bali," kataku beranjak.
"What?? Belanja??? Mau ikuut!!!" seru Awan heboh.
"Besok kamu luang?" tanyaku. Di dalam hatiku juga agak berharap kalau Awan, Sera dan Liza juga ada waktu luang untukku. Aku rindu kebersamaan dengan mereka.
Awan menggeleng sambil cemberut.
__ADS_1
"Sayangnya enggak ... Besok masih ada pemotretan. Palingan luang pas acara nikahannya Ryu, huhuhu ..." rengeknya.
"Kenapa juga luangnya di saat itu--" Tiba-tiba ia terhenti.
Aku mengernyitkan dahi.
"Kenapa?" tanyaku.
"Apa kamu mau hadir di acara pernikahan Ryu, Queen? Apa kamu sanggup?" tanya Awan dengan wajah serius.
Aku tertegun. Haruskah aku beri jawabannya sekarang? Mampukah aku jika ke sana? Apakah mungkin air mataku ini tak akan menetes jika melihat Ryu dan Scarlett yang bersanding di atas pelaminan?
"Queen?" tegur Awan.
Aku langsung memandang Awan. Aku bingung harus apa? Apakah move on langkah yang benar? Haruskah kulepaskan perasaanku pada Ryu dan jadi orang yang bebas. Tunggu. Bebas? Aku ingin bebas.
Awan masih setia memandangku seolah menantikan jawabanku. Aku mengepalkan tanganku. Aku harus meneguhkan hatiku untuk bisa move on.
"Jika tidak kuat, tidak usah datang," kata Awan.
Mana boleh begitu? Tidak datang sama dengan menunjukkan bahwa diriku itu lemah. Sekalipun harus menghabiskan waktu puluhan tahun atau seluruh sisa hidupku untuk belajar move on, aku harus melakukannya. Aku, Adelia Queenisha Utama, tidak akan pernah jadi pelakor.
Aku menarik napas panjang.
"Te-tentu saja aku datang!!!" kataku mantap.
"Ih, kok gitu? Masa aku gak boleh nangis??!! seingatku tadi kalimatmu puitis banget, deh tentang air mataku!" kataku tak mau kalah.
Awan terkekeh sambil geleng-geleng kepala.
"Kamu mau datang ke sana hanya untuk menangis?" Pertanyaan Awan benar-benar menohokku sampai rasanya aku ingin terbatuk-batuk.
"Uhm .. emm ..." Aku bingung mau jawab apa. Mana mungkin ke acara pernikahan hanya untuk menangis? Queen tidak boleh terlihat lemah di depan siapapun.
"Jika kamu berencana menangis, mending tidak usah ke sana. Mending kita jalan-jalan bersama untuk menghilangkan penat," usul Awan. Usulannya memang tidak salah.
Aku mengencangkan rahangku, menunjukkan bahwa aku sudah membulatkan tekad.
"Tidak! Aku akan tetap datang!!! Aku sudah membuat keputusan!!!" tekadku.
Awan mengernyitkan dahi.
"Keputusan apa?" tanyanya dengan nada remeh
"Aku akan move on! Sekalipun aku akan menangis, sekalipun besok dadaku akan sesak, sekalipun perasaanku akan berkecamuk sedih, aku akan tetap berusaha menghadapinya!" tekadku.
__ADS_1
Awan menaikkan alisnya sebelah.
"Sekalipun kamu akan pingsan?" timpalnya yang membuatku tertegun. Memangnya aku bisa sampai pingsan hanya karena menyaksikan pasangan suami-istri itu? Konyol!
"Aku tidak akan pingsan!!! Aku akan menangis sepuasnya sampai air mataku habis sebelum acara pernikahan itu!! Aku akan mengatakan dengan mantap pada Ryu kalau aku akan move on!!!" tekadku.
Meskipun sebagian kecil hatiku masih sedikit berharap. Tidak. Harapan itu tidak boleh disimpan lagi, tidak boleh diperjuangkan lagi. Hidupmu harus berlanjut tanpanya!
"Jangan repotkan aku dengan harus menggendongmu loh, ya ..." kata Awan memperingatiku. Dia ini memang keteraluan. Masa tidak mau direpotkan denganku?
"Kau ini kejam sekali, Awan!" ketusku.
"Aku hanya mengkhawatirkanmu Queen ..." lirihnya. Lalu tiba-tiba mendekatiku. Aku heran, ia lagi-lagi memandangku dengan tatapannya yang sendu dan dalam itu.
"Kenap--" Tiba-tiba Awan membawaku ke dalam dekapannya.
"Awas saja kamu menangis apalagi pingsan, Aku tidak akan mau bicara padamu selama seminggu, bahkan lewat chat!" ancamnya.
Mendengar itu tubuhku jadi merinding. Aku takut. Mana bisa seperti itu?
"Kenapa kamu makin kejam!! Kamu jahat, Awan!" tuduhku.
"Ya, aku harus tegas padamu! Jika aku tahu akhirnya akan begini, Aku akan mencegahmu untuk mengejar Ryu sejak 15 tahun lalu!!!" marah Awan.
"Bahkan Papa Iskandar tidak melarangmu untuk mengejar Ryu, tetapi kini aku berbeda. Pokoknya jangan perlihatkan sisi lemahmu padanya!!!" tegas Awan.
Aku menganggukkan kepala lalu memeluk pinggang Awan dengan erat.
"Oke, aku terima tantanganmu, tetapi ada syaratnya," kataku.
Awan melepas pelukannya dan memandang wajahku.
"Sya-syarat? Syarat apa?" tanyanya bingung.
Aku tersenyum lebar dan melukis senyuman di bibirnya dengan telunjukku. Ia makin heran dengan tingkahku. Aku lalu memeluk lengannya seolah-olah memeluk calon suamiku. Ia makin memandangku heran.
"Apa maksudnya?" tanya Awan.
"Kamu harus jadi pasanganku si pesta pernikahan Ryu nanti!" seruku mantap.
"Hah?!!"
***
Apa jadinya jika Queen dan Awan datang sebagai pasangan?
__ADS_1
Jangan lupa Favorite, rate 5, like, vote dan kasih hadiah, supaya mama Uzda semangat terus updatenya, Love you all