I Love You Queen

I Love You Queen
S2 : Mustahil


__ADS_3

*Flashback on


5 Tahun lalu.


Jonas diseret ke lapangan oleh Galang ketika baru saja menginjakkan kakinya di kantin. Jonas berusaha menahan tangan Galang yang menarik kerahnya agar kemeja sekolahnya tidak robek.


"Kak ... Kak ..." mohon Jonas agar Galang berhenti.


"Sini lu!!!" geram Galang lalu melempar Jonas terjatuh di tengah-tengah lapangan.


"Semuanya!!!" teriak Galang yang sontak membuat para penghuni sekolah menoleh.


Galang menunjuk ke arah Jonas.


"Lihat kalian, si curut ini berani-beraninya nantangin gue!!!!" ujar Galang.


"Kalian lihat ini, siapapun yang berani-beraninya nantangin gue, dia akan bernasib sama dengan dia!!!" tekan Galang.


BYUURRR!!!


Tiba-tiba tubuh Jonas disiram oleh seember lumpur oleh salah satu anak geng Galang.


"Hahahaha ..." tawa mereka.


Jonas hanya bisa diam terpaku mendapatinya.


Galang segera membangunkan Jonas dengan menarik kerahnya.


"Masih untung lu, gak gue habisin!!!" kekeh Galang lalu segera melayangkan bogemnya ke wajah Jonas. Kacamata Jonas yang buram terlepas dan terlempar entah kemana.


"Berani, lu, ya, ngelawan gue??? Berani, lu, ya membantah gue???" pekik Galang. Murid-murid yang menyadari hal itu salah hanya bisa berbisik-bisik, sedangkan guru-guru juga tidak ada yang peduli karena pengaruh orang tua Galang pada sekolah ini.


"A-ampun, kak ..." lirih Jonas memohon.


"Kenapa? Lu kira gua bakal kasih lu am--" Galang tersungkur begitu saja karena ada yang menendang punggungnya dari belakang. Napas para siswa yang hanya bisa menonton tercekat melihat kejadian yang baru saja terjadi.


"Kenapa??? Kakak gak bisa kasih Jonas ampun, maka aku juga gak akan kasih kakak ampun!!!" tegas Queen, orang yang menendang Galang dari belakang hingga tersungkur.


Galang memandang sosok Queen yang tersenyum dengan angkuh padanya. Tidak ada gadis yang pernah berani tersenyum seperti itu padanya.


"Kamu pikir, kamu hebat, hah???" bentak Galang, tetapi sama sekali tidak berhasil membuat Queen bergeming.


Queen langsung memasang kuda-kuda.


"Kalahkan aku, jika aku kalah, Kakak bebas menyuruhku dan Jonas apa saja, jika tidak, lepaskan Jonas!!!" tantang Queen.


Galang menggertakkan giginya, menahan emosi.


"HABISLAH KAU!!!!!"

__ADS_1


*Flashback off


***


Queen membulatkan matanya saat mengingat masa lalunya dengan Galang. Ia ingat betul kalau pembelaannya terhadap Jonas adalah awal mula Galang jatuh cinta padanya.


"Ryu jelas pengganggu, itu karena lu begitu memujanya. Namun Jonas? Gue baru tahu dia yang bernama Jonas ..." kekeh Pangeran.


"Jonas dan aku tidak pernah punya hubungan seperti itu! Kami hanya teman. Sungguh!!!" sangkal Queen tak mau menerima tebakannya sendiri.


"Dia suka sama lu, Queen. Mata gue ini cukup jeli. Mungkin sampai sekarang," tutur Pangeran tak mau kalah. Jelas-jelas ia melihat ada yang aneh dari cara Jonas menatap adiknya.


"Kalau lu penasaran, buat dia menyatakan perasaannya, lalu tolak dia kalau lu memang gak bisa menerimanya!" usul Pangeran.


Queen menatapnya kesal.


"Itu teralu kejam!!! Aku tahu, rasa sakitnya ditolak," imbuh Queen tak menyetujui ide Pangeran.


"Lalu bagaimana? Hubungan itu harus ada kejelasan. Apa lu berniat untuk move on sama dia? It'a okay, tapi kalau gak berniat, jangan bikin harapan palsu. Apalagi sikap baik lu kayak tadi!" tegas Pangeran.


"I-itu karena kita teman!" sangkal Queen lagi.


"Queen, dengar kata gue, kalau lu gak bisa memperjelas perasaan lu ke dia, Dia bisa jadi berbuat hal yang tak diinginkan bahkan di luar nalar yang bisa membahayakan lu atau orang di sekitar lu. Lu gak. mau, kan dia kayak Galang dulu?" Pangeran kini berbicara sambil menatap adiknya dengan sangat serius.


Queen mengernyitkan dahinya sambil memandangi wajah Abangnya.


Pangeran terkekeh sambil menyenderkan punggungnya.


"Yah, gue udah kasih tahu, selebihnya keputusan lu, Queen. Kalau ada apa-apa, gue selalu ada buat lu," ujar Pangeran.


Queen tak menanggapi perkataan Pangeran sama sekali. Namun hatinya tiba-tiba jadi tidak tenang.


"Tidak ... Jonas bukan Galang!!" sangkal Queen dalam hati.


***


Beberapa hari kemudian. Kini Queen sudah kembali ke Jakarta. Ia melanjutkan aktivitas liburannya dengan melatih bela diri.


"Argh!!!" Ia berhasil melumpuhkan lawan dengan membantingnya.


"Nona muda ... Anda teralu berlebihan," keluh Ehsan, putra dari pelatih Judo Queen.


"Saya laki-laki, tetapi bukan berarti anda harus mengerahkan semua kekuatan anda," keluh Ehsan lagi sambil berdiri dengan tertatih-tatih.


"Kamu yang teralu menganggap remeh Nona Muda kita, Ehsan," bela Pak Hardi, pelatih Judi Queen.


Queen tersenyum miring.


"Aku baru mengerahkan lima puluh persen kekuatanku, loh Ehsan ..." ujar Queen angkuh, tetapi mengulurkan tangannya pada Ehsan.

__ADS_1


Ehsan menggapainya dan tangannya segera ditarik oleh Queen.


"Nona Queen memang tak bisa diremehkan," kekeh Ehsan memasang kuda-kuda lagi.


"Asal Nona tahu, aku baru mengeluarkan dua puluh persen kemampuanku," ledek Ehsan.


Sontak tendangan kaki Queen segera mendarat di lengan kokoh Ehsan.


"Hey!! Itu curang!" keluh Ehsan.


"Itu karena kamu menyebalkan!" gerutu Queen.


"Sudah-sudah ... lebih baik istirahat dulu!" ucap Pak Ehsan melerai dua anak muridnya.


Akhirnya Ehsan duduk sambil meminum air mineral dingin masing-masing. Sementara di sampingnya ada Queen yang dari tadi bertatap dengan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri. Diam-diam Ehsan meliriknya.


"Iya, deh, yang lagi refreshing sama pacar," ledek Ehsan sambil terkekeh.


Queen yang terganggu langsung melirik rivalnya itu dengan sinis.


"Pacar? Siapa yang punya pacar???" ketus Queen lalu mengetik sesuatu di ponselnya setelah itu mengakhiri obrolannya.


"Itu chatting sama siapa kalau bukan sama pacar? Senyam-senyum sendiri. Hiiy," ledek Ehsan lagi geli.


"Ini sama Jonas! Temen aku! Dia temenku! Kenapa semua orang bilang dia pacarku, sih?" gerutu Queen.


"Emang siapa lagi selain aku?" Ehsan malah penasaran.


Queen mengangkat alisnya mendengar pertanyaan Ehsan. Ia masih ingat jelas bahwa Pangeran mengatakan kalau Jonas itu ada hati dengannya.


"Yah, siapa, kek!" katanya menyangkal pertanyaan Ehsan.


Ehsan memicingkan matanya sambil tersenyum miring.


"Kalau Tuan Muda Pangeran yang bilang, bisa jadi tebakannya itu benar delapan puluh persen," tukas Ehsan yang sontak membuat Queen tertohok.


"De-delapan puluh persen? Uhm ... Memangnya itu pertanda akan terjadi. Masih ada kemungkinan dua puluh persen, kan?" sangkal Queen, bola matanya bergerak ke sana kemari.


"Lagian banyak kemungkinan terjadi dengan perkiraan satu persen!!! Sudah jangan membahas itu lagi! Ayo lanjutkan latihannya!" Queen berusaha mengalihkan topik. Ia segera beranjak dari tempat duduknya lalu melirik Ehsan yang hanya memandangnya dengan pandangan meledek.


"Kenapa tidak berdiri? Ka-kamu takut dikalahkan oleh perempuan sepertiku?" tantang Queen.


Ehsan hanya geleng-geleng kepala lalu beranjak juga.


"Terserah katamu, Nona Muda," ujar Ehsan sambil terkekeh dan menuruti kata-kata Queen.


***


Update setiap hari pukul 10.00 pagi

__ADS_1


__ADS_2