
Hari ini Queen tidak ada kelas karena dosennya tidak bisa datang, alhasil gadis ini sedang duduk santai di sofa ruang tamunya sambil mengusap layar ponsel seraya melihat postingan-postingan di sosial media. Rin yang barus saja dapat kabar bahwa Awan hari ini akan pulang dari rumah sakit, heran karena anak perempuannya yang kemarin bersemangat untuk menyempatkan datang setiap hari ke rumah sakit, kini malah bersantai di sofa rumahnya. Wanita berkacamata itu pun menghampiri anak perawannya.
"Queen ... Kamu udah denger kalau Awan pulang hari ini?" tanya Rin seraya duduk di samping anak perempuannya.
Queen hanya mengangguk tanpa melepas tatapannya dari layar besi tipis canggihnya. Ini sungguh bukan respon yang harusnya Rin lihat daei anak perempuannya.
"Queen ... Apa kamu tidak mau menjemput Awan? Hari ini kamu tidak ada kelas 'kan? Awan pasti senang melihatmu nanti," bujuk Rin lagi. Tentu dia sangat paham hubungan Putrinya dengan lelaki itu.
"Queen gak mau jemput Awan. Queen mau menjauhi Awan, Ma ..." ucap Queen datar yang sekali lagi membuat dahi Rin mengernyit.
"Menjauhi Awan? Kenapa? Kalian 'kan udah sahabatan dari kecil ..." Apakah ada sebuah masalah yang tidak Rin ketahui? Kenapa sikap anaknya jadi tiba-tiba dingin? Atau ini masih karena Awan yang menolong putrinya sehingga harus mengalami kecelakaan ini?
Rin memvelai lembut rambut putri satu-satunya ini.
"Kamu masih merasa bersalah, Sayang?" tebak Rin yang mampu menarik atensi Queen.
"Mama ..." Kini mata bulat Queen tengah berkaca-kaca. Tebakan Sang Mama benar-bebar tepat. Ia pun tak kuasa membendung air mata yang jatuh begiti saja di pipinya.
"Queen ..." Rin langsung memeluk putrinya itu.
Tangisan Queen pun pecah dalam pelukan ibunya.
"Ini semua salah Queen, Ma ... Ini semua salah Queen ..." rutuknya pada diri sendiri.
Rin menepuk-nepuk punggung putrinya dengan tegar. Ia tak pernah tega jika melihat putrinya yang tangguh ini menangis.
"Bener kata Tante Amara, Ma ... Queen Pembawa sial ..." rutuknya lagi pada diri sendiri. Rin pun melepas pelukannya dan menatap wajah sembab putrinya.
"Apa maksud kamu? Kenapa kamu bilang begitu?" sedih Rin. Kenapa putrinya masih terpengaruh dengan kalimat wanita yang tak bisa menerima takdir itu? Bahkan putranya sekarang sudah baik-baik saja.
"Kamu tahu 'kan, Kecelakaan Galang bukan karena kamu. Tetapi ini perencanaan pembunuhan dari Jonas ..." Rin kembali mengingatkan putrinya. Sayang, Queen malah menggeleng.
"Ini semua gara-gara Queen, Ma!" tangisnya.
Rin tak bisa berkata-kata. Sepertinya kalimat hiburan yang ia lontarkan sama sekali tak berpengaruh pada putrinya. Dia telah terperangkap dalam pemikirannya sendiri. Ron pun menghela napas. Ia harus memutar otak untuk membuat putrinya ini tak berlarut-laryt dalam penyesalan.
"Gara-gara kamu? Coba jelaskan sama Mama ..." pinta Rin.
Queen terisak.
"Saat Queen masih SMA, Mama ingat, Jonas yang suka sama Queen mendapat petaka karena ulah Galang, bahkan Ryu—Laki-laki yang Queen sukai juga ikut kena malapetaka ..." pungkas Queen.
Rin mengangguk.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Rin lagi masih mau menggali pemikiran putrinya.
"Mama tau 'kan penyebabnya? Galang!" tekan Queen kembali terisak.
"Galang teralu terobsesi pada perasaanya ke Queen dan melakukan semua kejahatan itu!" Queen membuka cerita lama, Rin hanya mengangguk. Ia jelas masih ingat semua itu.
"Lalu?" Rin masih mau mendengarkan pemikiran putrinya dengan bersabar, tidak ingin berkomentar sama sekali.
"Lalu yang berikutnya, Galang yang juga pernah menyukai Queen sampai akhirnya kena kecelakaan, siapa penyebabnya? Jonas!" ujar Queen.
"Jonas tidak rela Queen menolak perasannya dan melampiaskannya pada Galang." Bulir-bulir bening kian semakin deras bergulir di pipi wanita berambut gelombang itu.
"Kemudian ... selanjutnya adalah Awan, Ma ..." Queen menatap ibunya lamat-lamat.
"Awan juga jadi korban ..." tangis Queen langsung pecah kembali. Rin hanya bisa mengelus punggung putrinya.
"Kenapa, setiap orang yang punya perasaan pada Queen dan yang Queen sukai selalu mengalami ini ..." sesal Queen di sela tangisnya.
Rin menaikkan alisnya sebelah mendengar pertanyaan yang merupakan pernyataan putrinya. Namun ia memiliki sebuah ide untuk menyadarkan anak perawannya ini.
"Queen ... Boleh Mama bicara?" tanya Rin yang langsung dapat anggukan kepala Queen.
"Oke ... Uhm, Mama ingin bertanya pada Queen ..." izin Rin dulu, membuat Queen meredakan tangisnya seraya menatap Sang Mama.
"Uhm, tadi Queen bilang, laki-laki yang suka sama Queen dan Queen sukai pasti akan mendapat sesuatu yang Queen sebut 'Malapetaka' 'kan?" Rin menekankan kata malapteka. Sekali lagi Queen mengangguk.
"Lalu, Mama mau tanya, memangnya Awan masuk dalam kategori itu, ya?" Sontak Queen membeku mendengar pertanyaan Sang Mama.
"Kamu dan Awan bukannya sekedar sahabat? Kalian tidak pernah terlibat hubungan yang romantis 'kan?" selidik Rin lagi.
Queen terdiam, air matanya yang tadi tak bisa berhenti seketika hilang dan mengering. Wanita itu mengerjap.
"Atau, jika kita ikuti teorimu itu, Awan berarti suka sama kamu!" tebak Queen yang berhasil menarik atensi Queen.
"Kamu pernah dengar dia menyatakan perasaannya padamu, Sayang?" selidik Rin lagi. Queen tak bisa berkata-kata. Selama ini, Awan tak pernah menyatakan ungkapan seperti itu padanya.
Queen hanya bisa memandang ke Sang Mama sambil menggeleng.
"Kalau begitu ... jangan-jangan kamu yang punya perasaan padanya?" tebak Rin yang langsung menohok Queen. Ia langsung mempertanyakan hal itu pada dirinya sendiri. Hal itu membuat jantung Queen berdebar-debar.
"Apakah aku punya perasaan seperti itu pada Awan?" batinnya.
Rin menepuk paha putrinya, membuat Queen kaget dan menoleh ke arah ibunya.
__ADS_1
"Sudah dapat jawabannya?" tanya Rin yang langsung mendapat gelengan kepala dari Queen.
Rin pun tersenyum sembari membelai rambut putrinya.
"Jadi, apakah teorimu itu bisa dibenarkan, Sayang?" tanya Rin lagi yang langsung dapat gelengan kepala.
Queen bergumam seraya berpikir.
"Queen berlebihan, ya, Ma?" tanyanya yang mendapati tawa kecil Rin.
"Ya bisa jadi ... Tapi semua orang juga begitu, kok," hibur Rin, tidak mamu memojokkan putrinya.
"Kamu harus sadari, Queen ... Mungkin semua laki-laki yang kamu sebut tadi memang kena kecelakaan, tetapi itu bukan karena kamu. Itu karena mereka sendiri yang salah ambil langkah," jelas Rin.
"Galang yang dulu atau Jonas yang sekarang, mereka hanya tak bisa mengungkapkan perasaan mereka dengan bijak dan benar, makanya begitu. Ini sama sekali bukan salahmu," ucap Rin lagi.
Queen menyenderkan kepalanya di pundak Sang Mama.
"Maaf, ya Ma ... Mama harus dengar keputuasaaan Queen yang tak berdasar ..." ucapnya sambil memeluk pinggang Sang Mama.
Rin membalas pelukan putrinya sambil tertawa kecil.
"Tidak apa-apa. Justru Mama di sini untuk membimbingmu, Sayang ..." ucap Rin lagi.
Queen pun mengangkat kepalanya.
"Ma, kalau begitu, Queen sekarang mau siap-siap!" ujarnya yang kembali bersemangat.
"Siap-siap?" ulang Rin.
Queen mengangguk.
"Ya, Queen mau ke rumah sakit, jemput Awan! Queen gak bisa jauh-jauh dari Awan!" ujarnya. Rin hanya tersenyum mendapati keceriaan putrinya kembali.
"Ma, terima kasih, ya! Queen pergi dulu. Queen juga tidam sabar menanti senyuman di wajah Awan!" serunya ceria kemudian beranjak dan meninggalkan Rin sendirian.
Rin hanya mengernyitkan dahi, tak menyangka apa yang didapatinya. Ia sepertinya menemukan sebuah fakta baru tentang putrinya, tetapi Rin memilih diam, ia ingin jadi pengamat dahulu untuk sekarang.
***
**Kalian bisa tebak apa yang Rin temukan tentang Queen?
Thanks for reading, jangan lupa favorite, like, komen cerita ini ya
__ADS_1
Love you guys**