I Love You Queen

I Love You Queen
S2 : Kedatangan Ryuuji (2)


__ADS_3

Tubuh Queen mematung saat mendapati Ryu menyapanya dengan begitu santai seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Namun di kepala Queen semuanya kembali diputar. Queen yang jatuh cinta padanya, Queen yang menciumnya, Queen yang menyatakan perasaannya, Queen yang ditolak mentah-mentah cintanya, Ryu yang hampir celaka karena Queen dan saat Ryu berdiri di pelaminan bersama Scarlet. Semua ingatan itu membuat dada Queen sesak.


"Queen, kamu sudah pulang? Bagaimana keadaan Awan?" seru Iskandar yang membuyarkan lamuman Queen, tetapi hatinya yang berdenyut masih terasa. Queen kemudian berusaha terlihat baik-baik saja dengan tersenyum.


"Awan, sudah lebih baik dan sudah pulang ke rumahnya diantar Kak Galang," jawab Queen.


"Berarti dia sudah ada di rumah!" sahut Ryu kemudian beralih pada Iskandar.


"Pa, Ryu mungkin langsung ke rumah Awan, ya. Ryu sangat khawatir dengan kondisinya. Scarlet juga begitu, makanya dia memaksa Ryu untuk ke sini sekarang," ujar Ryu sambil terkekeh dengan wajah yang bersemu. Tidak salah lagi, Pria itu sedang memikirkan istrinya.


"Scarlet tidak bisa tenang kalau tidak memastikan Awan baik-baik saja. Ryu juga jadi ikut tidak tenang," ungkap Ryu yang entah apa tujuannya. Apakah Pria ini bermaksud memberitahukan bahwa hubungannya sangat baik dengan istrinya itu? Tetap saja, mendengar nama Scarlet, masih membuat Queen jengkel. Terlebih wanita bersuami itu bisa-bisanya mengkhawatirkan Pria lain. Kenapa semua Pria yang Queen sukai selalu berusaha direbut olehnya?


"Kamu tidak menginap di sini, Ryu?" tanya Iskandar lagi yang membuat Queen tersentak. Tawaran macam apa itu? Apakah Sang Papa lupa masih punya anak perawan. Tidak boleh ada Pria Asing yang menginap di sini! Ya, bagi Queen Ryu adalah Pria Asing.


"Ah, tidak, Pa ... Ryu akan menginap di hotel atau kalau bisa menjaga Awan di rumahnya. Ryu dengar Om Loli dan Tante Jesica sedang ada di Aussie." Bahkan Pria ini tahu kabar tentang Awan sampai sejauh itu. Dia memang luar biasa.


"Oh, begitu. Baik lah. Papa juga tidak bisa memaksa," ujar Iskandar lagi yang langsung dapat tatapan sinis dari Queen. Lagian, untuk apa Ryu dipaksa menginap?


"Oke, Ryu izin pamit, ya. Salam sama Mama Rin dan Sultan," izin Ryu yang kemudian setengah membungkuk dan pergi begitu saja. Kini tinggal Queen dan Sang Papa. Queen langsung menatap tajam ke arah Papanya sendiri.


"Papa!" gerutu Queen yang membuat Iskandar bingung.


"Papa, pokoknya, kalau Ryu datang lagi, Sangat dilarang untuk diajak nginep!" tegas Queen sambil membentuk tangannya menjadi silang.


Sang Papa hanya mengerjap. Ia baru ingat bahwa Putrinya ini punya kenangan buruk dengan Pria tadi. Ya ampun, menjadi tua memang berbahaya.


"Papa dengar?" tekan Queen lagi. Iskandar pun mengangguk.

__ADS_1


"Iya, Sayang ... Maaf, ya. Lain kali Papa tidak akan mengulanginya," ujar Iskandar lembut sambil membelai kepala putrinya.


Queen kemudian menunduk.


"Queen, Queen masih sesak kalau bertemu Ryu. Queen masih butuh waktu lebih lama lagi untuk pulih," lirihnya kemudian segera pergi ke kamarnya.


Iskandar sendiri hanya terdiam. Ia bisa merasakan kesedihan putrinya, meskipun ia tidak paham seberapa sakit hati Queen karena cintanya yang ditolak oleh Ryu.


***


Awan melongo saat mendapati Pria berkacamata yang membawa sebuah ransel besar ada di depan pintunya. Ia tidak menduga bahwa Pria ini akan datang hari ini juga.


"Hai, Awan!" seru Ryu dengan nada cerianya kemudian masuk ke dalam rumah Awan sebelum dipersilakan. Awan hanya bisa mengikuti Pria berkacamata ini dengan raut bingung.


"Aku dengar kamu mengalami sebuah insiden berbahaya. Sekarang bagaimana keadaanmu?" tanya Ryu sambil meletakkan tas besarnya di sofa kemudian berbalik. Sementara Awan berusaha duduk di sofa sambil memegangi bekas operasinya. Rasa nyerinya memang sudah mereda, tetapi tetap saja, ia harus berhati-hati.


Ryu yang melihat Awan kesulitan langsung menghampirinya, tetapi Awan sudah keburu duduk duluan.


"Daripada itu, aku malah lebih kaget karena kau tiba-tiba datang. Sendirian lagi, dan kau tahu darimana aku ada di rumah?" tanya Awan.


Dahi Ryu mengernyit. Sepertinya ia harus menjelaskan hal yang sama ke semua orang.


"Aku habis dari rumah Papa Iskandar ..." jawabnya yang membuat Awan tertegun hingga bekas operasinya terasa nyeri, tetapi ia berusaha menyembunyikannya. Untunglah tangannya masih memegang bagian bekas operasi itu jadi tidak teralu kentara.


"O-oh ... Be-berarti kau bertemu Queen?" selidik Awan.


"Ya, Queen yang memberitahuku kalau kamu sudah pulang," jawab Ryu sambil tersenyum, tetapi tidak dengan Awan yang ketar-ketir.

__ADS_1


"Ka-kalau begitu, Queen baru saja bertemu Ryu. Lantas, bagaimana reaksi Queen saat itu?" panik Awan dalam hati. Kemudian ia melirik ke arah Ryu yang wajahnya terlihat begitu cerah sedang memainkan ponselnya.


"Wajahnya tidak pernah se-cerah ini. Apa karena habis bertemu Queen? Ah, tidak mungkin, Ryu memilih Scarlet, sangat mustahil ia beralih pada Queen. Kenapa aku jadi khawatir, ya? Apa aku tanya saja?" pikir Awan.


"Uhm—"


Tiba-tiba Ryu menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Awan


"Aku boleh minta fotomu, Awan? Scarlet masih tidak percaya kalau kamu baik-baik saja," ucapnya dengan nada ceria. Awan hanya mengerjap, ternyata dia sedang berkomunikasi dengan Scarlet. Awan pun melirik ke layar ponselnya yang berisi ruang obrolannya dengan Scarlet. Apakah ia boleh membaca pesan antara pasutri ini?


Tetap saja, matanya tak sengaja membaca pesan di ruang obrolan itu. Dari pesannya ia bisa tahu bahwa Scarlet sangat mengkhawatirkannya. Wanita itu memang menganggapnya sebagai adik. Awan pun menghela napas, ternyata ia berpikir teralu jauh.


Atensi Awan pun beralih pada Ryu yang masih setia menunggu jawabannya. Ia kemudian mengangguk. Tanpa menunggu lagi, Ryu langsung berswafoto dengan Awan.


"Ingat, senyum, ya! Hitungan ketiga, bilang Cheese!" ujar Ryu memberi aba-aba. Tepat setelah hitungan ketiga, Awan mengikuti aba-aba Ryu dan jadilah hasil jepretan yang cukup bagus. Setidaknya Awan terlihat sehat di sana.


"Aku akan segera mengirimnya ke Scarlet ..." ujar Ryu yang puas. Ia pun sibuk mengutak-atik ponselnya. Sementara Awan menyenderkan punggungnya ke sofa seraya memandang langit-langit rumahnya.


"Aku tidak menyangka, Awan ..." ujar Ryu tiba-tiba. Atensi Awan pun beralih padanya.


"Apa?" tanya Awan yang kini telah menegakkan tubuhnya.


Ryu kemudian menghadapkan tubuhnya ke arah Awan.


"Cintamu sungguh besar pada Queen. Jika itu aku, aku tidak akan melakukan hal yang sama sepertimu," jawab Ryu yang tersenyum penuh arti. Dahi Awan mengernyit, sepertinya Ryu sudah mendengar semuanya.


"Jika sudah begini, apa lagi yang kamu tunggu, Awan? Nyatakanlah cintamu agar Queen mengerti. Aku mendukungmu," ujar Ryu lagi sambil menepuk-nepuk pundaknya.

__ADS_1


Awan hanya tersenyum tipis. Jika ditanya, Lidahnya memang selalu ingin mengungkapkan perasaannya pada Queen dari dulu, tetapi ia masih takut. Ia sangat takut jika Queen masih menganggapnya bukan seorang Pria. Bagaimana caranya agar ia bisa memastikan itu?


***


__ADS_2