
Mau dimanapun, di belahan dunia manapun, Pasar adalah tempat yang selalu penuh dengan keramaian. Queen dan Perry saling memeluk lengan sambil berjalan menyusuri pasar agar tidak hilang. Tangan satunya mereka gunakan untuk membawa belanjaan mereka.
"Haduh ... Barang-barang di sini unik semua! Rasanya mau aku beli semua!" sahut Queen yang takjub dengan barang-barang yang dijajakan di sana.
Sedangkan Perry hanya memandang Queen diam-diam. Ia dari tadi berusaha menelusuri, apakah masih ada kesedihan di wajah Queen.
"Kamu sudah lebih baik, Queen?" tegur Perry tiba-tiba.
Queen langsung menoleh ke arah Perry.
"Lebih baik? Uhm, bisa dibilang begitu. Aku lebih baik sekarang ketika sumber energiku datang kemarin," ucap Queen sambil memeikiy sosok yang selalu bisa menenangkannya dengan pelukan.
"Awan?" tebak Perry yang cukup menohok Queen.
"Kenapa kamu bisa langsung tahu?" tanya Queen sambil cengengesan. Entah kenapa nama itu kini bisa membuatnya tersipu malu. Ada yang aneh dengan dirinya.
"Karena energi Awan memang sangat baik. Setiap aku curhat padanya, aku juga selalu merasa lebih baik," jawab Perry sambil memandang Awan-awan yang bergerak pelan karena tiupan angin. Queen tertegun dengan kalimat yang dilontarkan Perry.
"Ah, aku sempat lupa, kalau Awan itu milik semua orang. Kukira dia hanya milikku," batin Queen agak kecewa.
"Dia itu bagaikan Awan yang melindungi kita dari panas dan teriknya matahari. Selalu membawakan keteduhan dan ketenangan, seperti namanya, Awan," ujar Perry malah membuat perumpamaan.
Queen hanya memandang Perry tanpa arti. Entah kenapa ia malah kesal mendengar Perry memuji-muji Awan seperti itu.
"Uhm ... Nanti apakah kamu akan datang, Perry ke acara pernikahan Ryu?" tanya Queen berusaha mengalihkan pembicaraan.
Perry jadi menoleh ke arah Queen dan menatapnya. Ia mengernyitkan dahinya.
"Bukannya itu harusnya jadi pertanyaanku?" ujar Perry balik tanya.
Queen malah tertawa mendengar itu.
"Iya, juga, ya? Kamu, kan pasti datang karena Scarlett adalah sepupumu juga," kata Queen. Ya, secara teknis, Scarlett adalah kakak sepupu Perry karena Ayahnya Scarlett adalah Kakak sepupu dari Ayahnya Perry.
"Ya, bisa dibilang kamu adalah kerabat dari mempelai wanita," lanjut Queen.
"Ya, bisa dibilang begitu. Aku pasti akan datang karena Papa sudah menganggap Mike seperti kakak kandungnya sendiri," jawab Perry.
"Uhm ... Kalau Queen bagaimana?" Kini Perry yang balik tanya.
"Bagaimana apanya?" tanya Queen sok-sokan bingung.
"Apakah Queen akan datang di acara pernikahan Ryu? Soalnya, kan ..." Perry ingin melanjutkannya, tetapi ia tidak enak hati karena Queen bahkan menangis karena undangan itu selama tiga hari.
"Aku akan datang!" ucap Queen buru-buru.
"Hah? Kak Queen yakin?" tanya Perry tak menyangka. Ia hanya khawatir kalau nanti Queen teringat akan kesedihannya. Sesuatu bisa terjadi.
"Tentu saja. Sekalipun tidak yakin, aku harus yakin. Aku harus melawan rasa sakit ini ..." lirih Queen sambil memegangi dadanya.
"Aku tidak boleh jadi orang yang tersakiti sendirian. Aku harus melawannya dan menunjukkan padanya kalau aku ... hiks!" Queen malah terisak. Perry jadi merasa bersalah karena menanyakannya.
__ADS_1
"Kak Queen ... tidak usah dilanjutkan, tidak apa-apa ..." ucap Perry tak tega.
Queen menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Kamu atau bahkan semua orang harus tahu ini!!!" tekad Queen.
"Sekalipun perasaanku tidak pernah dilirik olehnya. Sekalipun cintaku ditolak olehnya dengan cara begini, aku ... aku tetap harus menunjukkan bahwa aku ... hiks!" Queen terisak lagi. Suaranya mulai berat dan tersendat-sendat.
"Kak Queen ..." lirih Perry makin merasa bersalah.
"Tidak, Perry, aku harus mengatakannya agar kamu tahu, kalau aku ... aku akan move on dan hidup bebas tanpanya!" ucap Queen lantang.
Perry hanya memandang Queen takjub.
"Camkan itu!" lanjut Queen sambil memandang Perry yang juga sedang memandangnya.
"Dan satu lagi," ujar Queen.
"Apa?" tanya Perry.
"Aku akan tetap datang ke acara pernikahan itu bersama Awan, Awan akan terus di sampingku, jadi aku pasti akan baik-baik saja," jawab Queen dengan wajah berseri.
Perry langsung tersenyum.
"Entah kenapa, setiap membicarakan Awan, wajahnya selalu berubah jadi berseri. Aku berharap wajah seperti inilah yang akan ditunjukkan Kak Queen seterusnya," batin Perry.
"Oke, cukup di sini bersedihnya. Ayo kita lanjut belanja! Hilangkan penat dengan berbelanja!!" ajak Perry bersemangat.
***
Bianca melepas ciuman Galang. Galang memandang Bianca heran.
"Kenapa kamu melepasnya? Bahkan kamu tidak membalasku!" geram Galang merasa dikhianati.
"A-aku, aku ..." Bianca bingung harus jawab apa.
Greb!
Galang langsung membawa Bianca ke dalam dekapannya.
"Maaf. Aku sudah membentakmu," ucap Galang lalu mencium pundak Bianca.
Galang melepas pelukannya dan memandang Bianca lekat-lekat.
"Apa ... Apa ini pertama kalinya--"
Bianca langsung mengangguk pelan sambil menunduk karena masih malu. Dicium seperti itu adalah pengalaman pertamanya.
Tuk...
Tuk...
__ADS_1
Tuk...
Ghibran mengetuk meja mereka sambil menatap pasangan di hadapannya dengan malas.
"Oke, oke ... aku paham kalian baru jadian dan masih kasmaran. Tapi, hello! Kalau mau mesra-mesraan bisa, kan di ruang privasi. Masih ada aku loh di sini!!" protes Ghibran yang kesal karena ia sedang diabaikan oleh wanita pujaannya.
"Uhm, maaf, ya Ghibran ..." kata Bianca malah cengengesan.
Galang merangkul Bianca dan menatap saudara kembarnya dengan sinis.
"Heh, Lu salah sendiri, duduk di meja pasangan yang baru aja jadian. Harusnya lu duduk di meja lain sana!" usir Galang sambil menunjuk adiknya.
Ghibran menghembuskan napas kasar karena saking kesalnya.
"Sudahlah!" ujar Ghibran lalu menunjukkan layar ponselnya yang berisi ruang chat bersama Justin, Asisten Liza.
"Justin bilang, Liza akan sampai di hotel satu jam lagi, aku akan segera ke sana sebelum dia sampai! Jadi kabar baiknya aku akan meninggalkan kalian berduaan," ujar Galang sambil merapikan barangnya lalu memasukkannya ke ransel.
"Jadi, selamat bermesraan!" ketus Ghibran lalu menggendong tas ranselnya dan pergi dari hadapan pasangan itu.
***
Kini Awan, Sera dan Liza sedang diceramahi oleh Mince perihal jadwal mereka yang hendak menghadiri acara pernikahan Ryu.
"Mince kasih izin kalian, ya ... tapi kalian harus ingat, di sana itu banyak wartawan, banyak paparazzi. Jangan bertingkah aneh-aneh. Jangan terlihat terlalu akrab dengan lawan jenis. Wartawan pasti curiga kalau kalian memiliki kekasih," pungkas Mince panjang lebar.
"Kalian tahu, kan kalau kalian dicurigai punya pasangan, akan seheboh apa? Itu juga akan dianggap melanggar kontrak dan otomatis kalian akan dapat sanksi," lanjut Mince mengingatkan lagi.
Justin yang mendengar itu langsung tertegun. Jelas saja, ia baru mengabari laki-laki spesial Liza tentang info keberadaan Liza.
"Sekalipun pasangan HTS* kalian datang, jangan terlihat terlalu akrab. Biasa saja, jika ditanya, katakan kalau kalian bersahabat," tambah Mince sambil memijit-mijit kepalanya.
"Heh, kalian denger, gak, sih?" bentak Mince yang tidak mendapatkan respon.
"Denger Mince," jawab Awan, Sera dan Liza kompak.
"Awas, ya kalau kalian bikin skandal, Mince gak mau nolongin tuh di hadapan Mas Adlan yang super galak, hadeeh ..." katanya pusing sendiri.
"Yeah, I know," jawab Awan, Sera dan Liza kompak. Di saat seperti ini segala ocehan Mince di-iya-in saja. Supaya mulutnya itu segera berhenti bicara.
"Jangan di-iya-in aja!!! Jalani!!!" bentak Mince lagi yang menyadari kalau ketiga artisnya hanya menjawab iya saja.
"Iya, Mince!" jawab ketiga artisnya tak kalah galak.
"Hadeh, puspita, deh Akika ...." keluhanya sambil mengipas-ngipasi dirinya.
"Aduh, semoga aja tuan Ghibran gak aneh-aneh," batin Justin yang ketakutan dalam hati.
"Ya ampun, Padahal, kan aku mau jadi pasangan dengan Queen," ucap Awan dalam hati panik sendiri.
***
__ADS_1
Jangan lupa Favorite, rate 5, like, vote dan kasih hadiah, supaya mama Uzda semangat terus updatenya, Love you all