
Adlan masih tersenyum, ia sudah bisa menduga kehadiran Scarlett. Senyumnya makin lebar ketika menyaksikan wajah Ryu yang panik dan was-was.
"Kalian sedang berlibur bersama, atau tidak sengaja bertemu di sini?" selidik Adlan. Ia berusaha memancing Ryu dan Scarlett.
"Tentu saja berlibur bersama," jawab Scarlett percaya diri sambil memeluk pinggang Ryu.
Adlan tersenyum lagi.
"Padahal jelas-jelas Ryu menutupinya, tetapi Scarlett mengungkapkannya secara gamblang. Ini akan seru jika Queen datang ke sini," gumam Adlan dalam hati.
"Ternyata hubungan kalian langgeng, ya? Atau sebenarnya hubungan kalian lebih dari sebelumnya?" tanya Adlan frontal. Ia juga sadar bahwa baju yang dikenakan oleh Scarlett dan Ryu adalah baju couple.
Ryu menghembuskan napas kasar lalu meletakkan cangkir kopinya di atas pasir lalu merangkul wanita yang sempat terlepas saat memeluk pinggangnya.
"Ya, dia istriku!" ungkap Ryu dengan tegas yang berhasil membuat mata Adlan hampir copot karena saking kagetnya.
"A-apa??!!!" ujar Adlan tak percaya. Bukan kekasih lagi, melainkan Scarlett adalah istri dari seorang Ryu. Adlan mulai berhitung jarak usia mereka.
"Kok bisa? Se-sejak kapan?" tanya Adlan melemah. Kabar ini teralu mengagetkan baginya.
"Sejak satu tahun yang lalu," jawab Ryu sambil menatap Scarlett. Scarlett juga menoleh dan menatap mata suaminya penuh cinta.
"Kami menikah saat di Jepang, tetapi karena sibuk jadi belum sempat bulan madu--"
"Siapa yang bulan madu?" Ryu yang mendengar suara itu langsung bergidik ngeri. Ia menelan ludahnya dan menoleh ke asal suara.
"O-ow ... Orang yang tidak diharapkan benar-benar datang ke sini?" gumam Adlan.
"Queen?" ucap Ryu tak menyangka sama sekali.
"Hai, Queen ..." sapa Scarlett.
Scarlett tak menggubrisnya, ia langsung menghampiri Ryu.
"Ke-kenapa kalian saling merangkul begini? Ka-kalian masih bersama?" tanya Queen.
Ryu menatapnya dengan tatapan rasa bersalah. Ia menelan ludahnya.
"Bukan hanya bersama, kami sekarang sudah terikat di dalam ikatan pernikahan. Hubungan kami sah, iya, kan Ryu?" tanya Scarlett sambil memeluk Ryu dan menyandarkan kepalanya di dada Ryu.
Queen tertegun. Ia benar-benar merasa terpukul, tetapi tidak mau percaya itu. Ia langsung menatap wajah Ryu. Mencari kebenarannya.
__ADS_1
"Ryu ... benarkah itu? Atau wanita ini hanya mengada-ada untuk memanas-manasiku??" tanya Queen lagi.
Perry yang datang bersama Queen langsung menghampiri Adlan.
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Adlan.
"A-aku juga tidak menduga. Dia bilang, dia ke sini karena melihat postingan kakak Ryu ..." jawab Perry.
"Aduh ... Tapi cepat atau lambat, ia memang harus menghadapi kenyataan ini ..." ujar Adlan.
"Duuh ... suasana jadi tegang begini, bagaimana, dong?" bisik Perry panik sendiri.
"Biarkan saja, Queen memang harus tahu fakta ini," kata Adlan lagi.
"Jawab aku Ryuuji!!! Aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri!!!" sergah Queen yang matanya sudah berkaca-kaca.
Ryu kini menatap lurus ke arah mata Queen. Tatapannya begitu dingin, sekalipun ada rasa bersalah, Queen harus menghadapi kenyataan ini.
"Ya, Scarlett ... Tidak! Kejora adalah istriku sejak satu tahun lalu. Kami ke Bali untuk menghilangkan penat sekaligus berbulan madu--"
"Apa? Berbulan madu??" ujar Queen tak menyangka. Bulir air matanya kini berhasil menetes dan mulai membanjiri pipinya.
Ia menggigit bibir bawahnya.
"Aku mencintainya, Queen. Aku sudah mengatakannya waktu itu ..."
"Kenapa?" lirih Queen yang kini menunduk. Ia tidak mau terlihat lemah di saat seperti ini.
"Kenapa bahkan kamu tidak memberikanku kesempatan sedikit saja??!!!!" sergah Queen putus asa. Ryu langsung memeluk Scarlett erat, khawatir Queen melakukan hal-hal tak terduga. Ia sangat tahu bagaimana seorang Queen ketika benar-benar marah. Ryu langsung mendorong Scarlett agar berlindung di belakangnya.
"KENAPAA??!!!" jerit Queen pilu ia mulai main tangan, hendak memukul Scarlett, tetapi Ryu menghalaunya.
"Queen, cukup!!!" bentak Ryu sambil memegangi kedua tangan Queen.
"Kenapa, Ryu??? Kenapa kamu malah menikah dengannya??? Aku yang melamarmu duluan!!!!!" jerit Queen lagi sambil menangis sejadi-jadinya. Rasanya sungguh perih. Rasanya ia ingin menghancurkan alam semesta ini untuk melampiaskan rasa sakit hati dan perih di dadanya.
Adlan yang sigap langsung menarik kedua lengan Queen dan menguncinya. Ryu yang sudah melepaskan tangan Queen langsung mundur dengan masih berusaha melindungi istrinya.
"Queen, tenanglah!" ujar Adlan.
"Tidak bisa!!!! Mana bisa aku tenang!!! Jika Ryu hanya bilang tidak menyukaiku, aku masih bisa terima, Adlan ... tetapi ia malah menikahi wanita lain ... kenapa harus Scarlett???!!!!" pekik Queen masih tak terima.
__ADS_1
"Segala pintu kesempatanku sudah dihancurkan olehnya ... Aku tidak punya kesempatan lagi ..." tangis Queen. Adlan langsung memeluknya. Berusaha membuat Queen tenang.
"Hwaaaaa ...." teriak Queen di sela tangisnya. Perry yang menyaksikannya bahkan menitikkan air mata. Namun ia tidak bisa membela salah satunya. Scarlett juga kakak sepupunya, bahkan Papanya sangat menghormati Ayahnya Scarlett.
"Kumohon ... kumohon ... semoga ini mimpi ... ini mimpi yang buruk, kan?? Hwaaaa ...." teriak Queen masih tak terima. Ia bahkan memukul-mukul dada Adlan sekarang. Adlan hanya bisa memeluknya. Ia juga tidak bisa mengatakan kalau ini adalah mimpi.
"Kenapa??? Lima belas tahun itu bukan waktu yang sebentar ... kenapa???" ucap Queen pilu. Kepalanya mulai terasa semakin pusing ditambah dadanya yang begitu sesak.
"Adlan ... katakan ... katakan ini mimpi ..." Tepat setelah mengatakan itu Queen jatuh pingsan di dalam pelukan Adlan.
"Kakak Queen!!" teriak Perry khawatir dan langsung mendekati Adlan yang sedang memeluk Queen.
Ryu yang menyaksikannya semakin merasa bersalah.
"Apakah bisa sampai seperti itu?" tanya Ryu yang mulai memberikan perhatiannya pada Queen. Scarlett langsung menatapnya sinis. Bukannya tidak punya hati, tetapi rasa cemburu itu tetap ada.
Namun Adlan mencegah Ryu mendekat. Adlan lalu menggendong Queen di atas pundaknya.
"Ryu, jika kamu memang ingin menolaknya, maka tolaklah dengan benar. Jangan lagi memberikan perhatian apapun pada Queen. Itu akan lebih menyakitinya," ujar Adlan lalu ia melihat ke arah Scarlett yang hanya mengemerutukan giginya.
"Kamu juga akan menyakiti hati istrimu. Biar aku dan Perry yang mengurusnya. Dia hanya shock. Dan kamu harusnya ingat, Queen bukanlah wanita yang lemah," ujar Adlan mengingatkan.
Ryu langsung tersadar dan menoleh ke arah Scarlett yang sedang cemburu.
"Scarlett ..." lirih Ryu. Scarlett hanya menghela napas.
"Nikmatilah liburan kalian. Jangan pikirkan Queen. Setelah sadar, dia pasti akan baik-baik saja," kata Adlan.
"Ini untuk terakhir kalinya," kata Ryu.
"Buat Queen kembali lagi, buat ia baik-baik saja, oke. Aku mengandalkan kalian berdua," kata Ryu.
"Tenang saja Kakak Ryu. Perry akan buat Kakak Queen baik-baik saja. Nikmatilah liburan kalian, oke?" kata Perry.
Ryu lalu menggandeng tangan Scarlett.
"Kalau begitu kami pergi dulu," pamit Scarlett sambil membawa istrinya pergi.
Perry menghela napas lalu melirik ke arah Adlan.
"Sekarang gimana?" tanya Perry yang khawatir melihat Queen yang masih jatuh pingsan.
__ADS_1
"Tentu saja bawa ke cottage-nya. Kamu pikir dia tidak berat?" protes Adlan.
"Ah, iya, bawa dia ke sana. Aku akan memanggil tim medis ke sana," kata Perry.