
Awan itu terbuat dari air yang menguap akibat panas dari matahari. Awan bukan lah benda padat, sehingga benda apapun tidak bisa menangkapnya, melainkan bisa menembusnya. Anehnya, dia bisa melindungi siapa pun dari teriknya panas matahari.
Sejak dulu "Awan" selalu melindungi langkah "Sang Ratu" agar tidak terkena teriknya panas mentari. Namun sebuah malapetaka tiba-tiba terjadi. Dirinya dihancurkan begitu saja, tetapi untungnya akibat pengorbanannya, "Sang Ratu" yang sempat ia abaikan selamat. Sayang, Di saat terakhirnya "Sang Awan" masih belum mengatakan bahwa dirinya selama ini menjaga "Sang Ratu" bukan hanya karena tugasnya, melainkan karena ia mencintainya.
"Ya, itu lah yang belum sempat aku katakan! Aku belum mengatakan bahwa aku mencintai Queen!" seru Awan tersadar. Mungkin kah ini benar-benar akhir hidupnya? Tidak, ini tidak boleh terjadi.
"TIDAK!" seru Awan yang tiba-tiba pandangannya berubah jadi berwarna putih. Tidak, ini bukan cahaya yang teralu terang hingga pandangannya putih. Ini adalah langit-langit sebuah ruangan dan ia bisa mendengar suara vital sign monitor yang mendeteksi kondisi vital tubuhnya. Tidak hanya itu, ia juga merasa tangan kanannya agak kesemutan.
Awan pun melirik ke tangannya dan sontak metanya membulat. Ia jelas mengenal wanita yang kini sedang menggenggam erat tangannya sambil tertidur. Bukan ibunya, melainkan wanita berambut gelombang.
"Queen?" Awan menyebut nama wanita itu. Namun tak ada pergerakan darinya. Apakah ini masih di dunia mimpi atau malah dunia antara kehidupan dan kematian? Ia ada di dunia ini karena masih ada keinginannya yang belum tercapai. Apakah sekarang ia jadi arwah gentayangan.
"Queen?" Sekali lagi Awan menyebut nama sahabatnya itu. Awan pun perlahan-lahan melepas genggaman tangan wanita yang mirip Queen. Seketika terlihat pergerakan dari wanita itu hingga menunjukkan wajah sayunya yang baru bangun tidur, bahkan terlihat beberapa garis terjiplak dipipinya karena tertekan lipatan selimut yang berantakan. Sontak itu membuat Awan tertawa, tetapi ia segera merasakan nyeri di perutnya. Dia lupa, dia habis ditikam.
"Awan? Kamu memanggilku?" tanya Queen yang masih memejamkan matanya, tetapi ia segera membuka matanya lebar-lebar dan arah pandangnya langsung tertuju pada Awan.
"Tunggu, Kamu udah sadar?" seru Queen yang kaget kedua mata Awan telah terbuka lebar, bahkan lelaki itu melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Awan!" seru Queen yang langsung memeluk tubuh sahabatnya. Sontak Awan kaget, Apakah ini sungguh nyata? Dia masih hidup dan sekarang dipeluk oleh Queen?
Queen melepas pelukannya dan segera menekan tombol untuk memanggil suster. Bahkan Qyeen menangis, tetapi ia tersenyum.
"Aku sangat bersyukur bahwa kamu sudah sadar ..." ucap Queen sambil bergelimang air mata. Wanita itu berusaha menghapus air mata bahagia yang terus bercucuran, tetapi Awan sudah lebih dulu melakukannya. Atensi Queen beralih pada sahabat di hadapannya.
"Kenapa kamu nangis? Aku baik-baik aja ..." ujar Awan berusaha menghibur "Ratu"-nya. Perkataan itu mengundang semburat senyuman di wajah sendu Queen. Ia mengangguk seraya menggenggam tangan Awan yang menyentuh pipinya.
__ADS_1
"Jika kamu tak sadarkan diri, maka aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri ..." isak Queen.
Awan tersenyum, sepertinya ini memang bukan mimpi, ia pun memandang ke sekeliling ruangan dan menemukan ada jam dinding di sisi dinding yang menghadap ke tempat tidurnya. Ya, jika ini mimpi seharusnya tidak akan pernah ada waktu yang tertera di sana. Awan pun kembali memandang wajah pujaan hatinya itu.
"Jangan salahkan dirimu. Ini keputusanku untuk menyelamatkanmu ..." hibur Awan.
Queen menatap Awan lekat-lekat. Pasalnya bukan hanya nyawa Awan yang terancam, melainkan akibat kecelakaan ini akan ada sebuah masalah besar yang harus Awan hadapi. Namun Queen tidak bisa mengatakannya sekarang.
"Queen ... Kamu jangan merasa kesepian lagi, ya ..." ujar Awan yang membuat dahi Queen berkerut, tetapi belum sempat Queen menanggapinya, dokter dan suster datang untuk memeriksa kondisi vital Awan.
Dokter mengatakan bahwa sekarang keadannya membaik, tetapi ia masih harus berada dalam pengawasan. Setidaknya jahitan di perut Awan harus dipantau karena akan memakan waktu cukup lama dalam penyembuhannya. Di hidung Awan juga terpasang selang, tempat Awan makan sebelumnya.
Setelah menjelaskan, Dokter dan Suster pun meninggalkan kamar Awan. Kini kembali tersisa mereka berdua.
"Uhm, Ayah dan bundaku ..."
Awan mengernyitkan dahi.
"Memangnya berapa lama aku tak sadarkan diri, Queen?" tanya Awan.
"Dua hari satu malam ..." jawab Queen.
"Dua hari satu malam?" ulang Awan, memangnya seberapa dalam pisau itu menembus perutnya? Sepertinya terjadi huru-hara di dalam tubuhnya hingga ia harus istirahat selama itu.
"Yang terpenting, sekarang kamu sudah sadar. Pemulihan bisa dilakukan seiring berajalnnya waktu," ujar Queen.
__ADS_1
Awan terdiam, ia pun hendak duduk dan langsung dipapah oleh Queen.
"Awan!" omel Queen panik, tetapi lelaki itu malah cekikikan. Awan memang aneh, padahal dia hampir menghadapi kematian, tetapi malah masih bisa bercanda.
"Daddy Alan datang?" tanya Awan, tentu ia tidak melupakan kewajibannya yang seharusnya Konser, tetapi dirinya malah terbaring tak sadarkan diri selama 2 hari.
Queen terkesiap, apa Awan sudah mau membicarakan hal ini?
"Aku seharusnya Konser, aku seharusnya menghibur fans-ku ..." Awan menatap wajah Queen yang terlihat panik.
"Namun, Aku kurang hati-hati jadi begini ..." sedih Awan.
Queen pun terdiam, mana sanggup ia melihat wajah sedih Awan?
"Kamu ... Fokus saja pada kesembuhanmu, Awan," ucap Queen.
"Aku akan menemanimu sampai kamu keluar dari Rumah Sakit," ujar Queen seraya menggenggam tangan Awan.
Pria 22 tahun itu memandang tangannya yang digenggam erat oleh Queen. Ia tersenyum tipis.
"Kenapa? Apa aku dikeluarkan dari CLD?" tebak Awan yang menohok Queen.
***
**Apakah Awan juga akan kehilangan karirnya?
__ADS_1
Apa ini semua karena ia mencintai Queen**?