I Love You Queen

I Love You Queen
S2 : Apakah Ini Jebakan?


__ADS_3

Mengalahkan 1 orang bukan lah hal yang sulit bagi Awan. Kini Ia telah mengenakan setelan dan kartu aksesnya. Seluruh Pintu di bangunan mewah ini menggunakan kunci otomatis. Setidaknya kartu akses ini bisa menjadi jalan pintas baginya.


"Hemm, aku harus mengganjal pintu ini untuk bisa dimasuki Papa ..." gumam Awan mencari suatu benda. Namun matanya tertuju pada keset di depan pintu. Ia pun tersenyum, Awan pun masuk ke dalam tanpa lupa mengganjal pintu otomatis itu dengan keset.


Di dalam justru berbanding terbalik dengan di luar sangat sepi. Namun berdasarkan GPS, posisi Queen tidak jauh.


"Apa semua penjaga dikerahkan keluar?" gumam Awan. Hingga ia mendengar sebuah langkah. Awan langsung mengenakan kacamata hitamnya dan mulai berakting layaknya penjaga di sana.


Rupanya itu adalah penjaga lainnya. Ia yang menganggap Awan adalah rekannya melewati Pria itu begitu saja.


"Jika mereka lihat wajahku, bisa gawat. Aku ini 'kan terkenal," pikir Awan kembali menyusuri bangunan besar ini sembari memastikan GPS posisi Queen. Hingga Awan sampai di sebuah ruangan. GPS menunjukkan bahwa Queen ada di sana.


Jantung Awan tiba-tiba berdebar saat hendak membuka pintu ruangan tersebut.


"A-aku kenapa?" gumamnya heran. Mungkin kah ia takut telah terjadi sesuatu pada Queen di dalam? Atau mungkin Queen tidak ada di dalam? Atau ada hal yang lebih menakutkan di dalam ruangan ini, semisal ia harus melawan seseorang yang keji?


Namun Awan menggelengkan kepalanya, membuang semua ketakutan yang muncul. Di kepalanya harus fokus pada satu tujuan, menyelamatkan Queen. Awan pun menggunakan kartu aksesnya dan matanya terbelalak. Ternyata hanya sebuah ruang kosong. Awan bisa melihat tas yang sering Queen gunakan terletak di atas sebuah meja kecil di pojok kanan ruang tersebut. Seketika kakinya lemas karena tidak menemukan sosok sahabatnya.


Awan pun masuk dan mengambil tas milik Queen. Ia memeriksa isinya dan menemukan ponsel Queen yang dayanya hampir habis. Awan menggenggam erat ponsel milik gadis yang diam-diam ia cintai itu.


"Queen ada dimana?" gumamnya. Haruskah ia memeriksa semua ruangan di bangunan besar ini?


"Jika memang itu satu-satunya cara, maka aku akan melakukannya!" tekad Awan. Awan pun keluar dari ruangan tersebut dan kembali memeriksa ruangan-ruangan di bangunan besar tersebut.


***


Iskandar akhirnya berhasil menumbangkan semua orang yang menghalanginya. Tubuhnya agak sakit karena sudah mulai menua. Segera setelah itu ia menghubungi polisi kenalannya melalui ponsel Awan, ya sebelum bertukar ponsel, Iskandar juga sudah mengirim nomor kenalannya ke ponsel Awan. Iskandar bahkan mengirimkan foto wajahnya untuk meyakinkan kenalannya tersebut. Setidaknya personil polisi bisa membantunya jika ada pasukan merepotkan seperti ini lagi. Keadaannya tidak se-prima dulu yang bisa menghabisi 2 kali lipat dari jumlah orang sekarang.


Pria yang hampir berkepala 5 itu menghubungi Awan untuk memastikan keadaan di dalam.


"Aku belum menemukan keberadaan Queen, Papa ..." lapor Awan dengan suara agak berbisik.


"Namun, barang-barang Queen, sudah bersama Awan," lapor Awan lagi yang sempat membuat Iskandar lemas. Hal itu menandakan bahwa keberadaan Queen bisa saja tidak di bangunan besar ini. Namun apa salahnya berharap.


"Baik lah, di luar sudah aman. Sebentar lagi polisi juga akan ikut membantu ... Bagaimana Papa bisa masuk?" tanya Iskandar. Awan pun menjelaskan pintu mana yang sudah ia buat untuk bisa dimasuki oleh Iskandar.


"Namun, Pa ... setiap ruangan butuh kartu akses untuk memasukinya," lapor Awan.

__ADS_1


"Kartu akses? Kamu punya?" tanya Iskandar.


"Ya, Awan dapatkan dari salah satu personil yang menjaga pintu, Pa," lapor Awan lagi.


"Bentuknya seperti apa?" tanya Iskandar lagi sambil melirik salah satu personil yang berhasil ia tumbangkan.


"Awan akan kirim fotonya." Tak lama nampak sebuah foto kartu aksea di ruang obrolan mereka. Iskandar langsung tahu kartu itu dimiliki oleh setiap personil. Kemudian Pria paruh baya itu langsung merebutnya dari salah satu personil yang paling dekat dengan dirinya.


"Baik, Papa juga sudah punya!" ujar Iskandar.


"Sekarang katakan, Ruang mana saja yang telah kamu jajaki?" tanya Iskandar sambil melangkah menuju ke pintu yang Awan maksud. Awan pun menjelaskan bagian mana yang telah ia jajaki, tetapi masih tak menenmukan sosok Queen.


"Baik lah, kamu dimana sekarang?" tanya Iskandar lagi. Awan pun menjelaskan bahwa dirinya ada di lantai 2 sekarang, tepat di depan ruangan yang terletak di samping tangga.


"Baik lah, Papa akan cari di lantai satu bagian utara, kamu tetap lah mencari di lantai 2. Berharap lah, kita tidak sedang dikecoh oleh pelaku," ujar Iskandar mengungkapkan kemungkinan terburuk. Kini ia hanya bisa berharap pada Tuhan. Semoga Putrinya masih bisa diselamatkan karena ia yakin Queen bukan lah wanita yang lemah.


***


Tepat setelah sambungan telepon Awan dengan Iskandar terputus, matanya malah terusik pada sebuah ruangan dengan pintu yang dikuir oleh bunga yang berakar rambat di bagian bingkai pintunya, terdapat bungan mawar besar yang terbelah karena ruangan tersebut memiliki dua daun pintu, bahkan ada tirai berwarna merah maroon yang menutupi pintunya. Awan bisa melihat dari desain ruangan ini, bahwa ruangan ini diperuntukkan bagi seorang wanita. Awan langsung menaruh harap, semoga saja Queen ada di dalam.


"Queen!" teriak Awan, masa bodo jika ia harus menemui penjaga di sini lagi, tetapi di setiap ruangan, nama itu lah yang selalu Awan serukan.


"Queen, Apa kamu di sini?" seru Awan lagi terus masuk menelusuri ruangan tersebut. Ternyata ada sebuah pintu, tetapi pintu tanpa kartu akses. Awan pun membuka gagang pintunya, sayang pintu itu terkuci.


"Ugh, sepertinya aku harus merusak properti orang!" ujar Awan kemudian mengumpulkan kekuatannya dan membuat ancang-ancang. Awan langsung menendang gagang pintu itu dengan jurus tarkwondonya. Sontak, dalam sekali tendangannya, gagang pintu itu langsung terlepas.


"Waw! Aku ternyata cukup kuat!" ujarnya berbangga diri. Namun ia segera menggelengkan kepala.


"Siapa itu?" Sontak Awan mendengar suara seorang perempuan yang ia kenal.


"Siapa?" tekan perempuan itu lagi yang membuat Awan segera bergegas masuk ke dalam.


Sontak langkahnya terhenti melihat penampakan seorang perempuan yang diikat dengan cara yang aneh, tetapi ia paham maksudnya. Diam-diam, Pria itu menggeram.


Sementara Sang Perempuan menatapnya tak percaya.


"A-awan? Apa itu kamu?" tanyanya agak tidak yakin. Jika memang benar, bagaimana lelaki itu bisa sampai di sini?

__ADS_1


Tanpa mengatakan apa-apa, Awan segera mengambil ponselnya dan mengabarkan apa yang ia temukan pada Iskandar.


"Katakan! Apa kamu Awan?" pekik perempuan itu yang sebenarnya adalah Queen. Ia kini sungguh ketakutan dan tak bisa melakukan apa pun. Apakah sosok orang yang dikenalnya adalah sosok yang nyata?


"Iya, ini Aku Queen!" jawab Awan yang langsung membuka kacamata hitamnya dan segera menghampiri Queen.


Seketika air mata Queen tumpah, mendapati Awan, orang yang ia percaya ada di tempat menyeramkan ini.


"Bagaimana kamu bisa ke sini? Bukan kah besok kamu Konser?" tanya Queen, tetapi Awan malah fokus pada ikatan yang menjerat tangan dan kaki sahabatnya ini.


"Akan aku jawab nanti ..." Awan menatap lekat-lekat wajah Queen yang begitu ketakutan, kemudian membelainya.


"Yang terpenting adalah melepaskanmu dulu. Papa juga ada di sini dan akan segera datang," ujar Awan.


"Papa ada di sini?" Seketika Queen merasa lega. Jika Sang Papa ada di sini, maka kemungkinan ia selamat bisa jadi lebih besar.


"Ya, kamu tenang, ya ..." Awan kembali menatap wajah Queen yang juga menatapnya. Kemudian lelaki itu mencium kening Queen dengan lembut, membuat Queen membeku sesaat.


"Aku akan melepas simpul ini," ujar Awan lagi. Queen langsung tersadar, apa yang ia harapkan dari ciuman Awan di keningnya? Mereka hanya lah sahabat. Kemudian mata Queen terusik pada tasnya yang tergantung di bahu Awan.


"A-ada pisau di dalam tasku," ujar Queen. Awan sempat memandang heran ke sahabatnya itu. Kenapa seorang gadis membawa pisau di tasnya? Namun bukan saatnya memikirkan itu.


"Aku membawa itu untuk jaga-jaga, bentuknya seperti alat medicure-pedicure," ujar Queen lagi. Awan langsung menemukannya.


"Pertama, lepaskan ikatan di kakiku dulu," pinta Queen. Awan pun menekan tombol kecil dinpinggir pisau itu dan hebatnya pisau itu ternyata memiliki banyak fungsi.


"Gunakan saja pisau, guntingnya tak kuat untuk memotong," ujar Queen lagi. Awan pun mengikuti aba-aba dari sahabatnya, tetapi tali yang cukup tebal, membuatnya agak kesulitan.


"Sedikit lagi ..." ujar Queen, tetapi sudut matanya melihat sosok lain yang muncul dari belakang.


"Awan, Awas!" seru Queen ketika melihat sosok itu hendak melayangkan pisau di tangannya.


***


Awan selamat gak nih? Stay tune terus yaa ...


Mungkin aku update nya akan agak lama, tapi cerita ini pasti tetap berlanjut. Terima kasih kepada pembaca setia yang selalu setia menunggu update-tannya

__ADS_1


__ADS_2