I Love You Queen

I Love You Queen
S2: Salah Tingkah


__ADS_3

"Bagimu, apakah aku seorang Pria?"


Mata Queen mengerjap. Seratus persen Queen yakin, Awan aneh hari ini! Terlebih caranya yang menatap Queen sekarang, seolah berusaha merambah masuk ke dalam hatinya!


Queen menggeleng dengan cepat.


"Awan! Hentikan!" ujar Queen tegas. Dahi Awan mengernyit. Apa maksud Queen menyuruhnya berhenti?


"Kamu ... Apa karena kamu sakit, makanya kamu begini?" Queen malah menatao wajah Awan seraya meletakkan punggung tangannya ke dahi Pria itu.


Dahi Awan mengernyit. Ia diam-diam menggugit bibirnya. Lagi-lagi begini jadinya. Tidak. Ia tidaj mau memulai dari titik nol. Ia tidak mau lagi Queen-nya dilirik atau beralih pada laki-laki lain. Queen sekarang harus jadi miliknya!


Awan langsung menanhkap tangan Queen dan menyingkirkannya. Tatapannya kini berubah jadi serius.


"Queen, inilah Awan yang sebenarnya," tegas Awan.


Alis Queen menyatu, sembari menelisik arti ucapan Awan dari raut wajahnya.


"A-apa maksudmu Awan? Ja-jangan-jangan ka-kamu meledekku, ya? Jangan bercanda!" Queen malah memaksakan tawanya, sekalipun hatinya ketar-ketir karena wajah serous Awan tidak berubah sama sekali.


"Kesempatannya hanya sekarang, Queen. Aku sudah menyia-nyiakan kesempatanku selama lima belas tahun," ungkap Awan yang makin membuat Queen bingung.


"Li-lima belas tahun? Uhm, kesempatan apa yang kamu maksud, Awan? Jika itu lima belas tahun, bukankah itu sejak awal persahabatan kita dimulai?" Queen melioat bibirnya tanpa mengalihkan pandangan dari Awan, takut-takut ia salah bicara.


Awan mengangguk tanpa melepas pandangannya dari wanita berambut keriting di hadapannya.


"Ya, kamu benar. Itu sejak persahabatan kita dimulai," imbuh Awan.


"La-lalu, Kesempatan apa yang sudah kamu sia-siakan? Dan apa hubungannya denganku?" cecar Queen yang masih tidak mengerti. Peluhnya kembali menetes, bahkan satu tangannya perlahan merambat ke dadanya yang sejak tadi berdebar-debar.


"Jawab dulu pertanyaanku, baru aku ungkapkan semuanya." Awan mengajukan syarat.

__ADS_1


"Pertanyaan? Pertanyaan yang mana—"


"Jangan pura-pura tidak tahu, Queen!" bentak Awan yang langsung membungkam mulut Queen. Tubuh wanita itu terpaku. Ini pertama kali dalam lima belas tahun mereka bersahabat Awan membentaknya seperti ini.


"Ugh! Sial!" Awan langsung menunduk dan perlahan melepas genggamannya di tangan Queen.


"Maaf, Queen. Aku benar-benar tidak tahan dan malah membentakmu. Aku tidak seharusnya—" Awan mengangkat kepalanya dan malah menemukan Queen yang telah mloloskan sebuah bulir bening dari sudut matanya.


Awan buru-buru menghapus bulir bening itu dari pipi Queen yang masih terpaku.


"Queen, aku tidak bermaksud membentakmu, maaf—" Queen tiba-tiba menarik kedua pipi Awan hingga wajah mereka berdekatan. Sontak mata Awan membulat, tetapi ia tak bisa berhenti menatap mata hazel milik Queen yang kini menatapnya lekat-lekat.


"Qu-queen ... Kamu—"


"A-aku punya permintaan!" potong Queen sambil memejamkan matanya. Kemudian wanita itu kembali membuka matanya dan menatap Awan yang masih setiap menatapnya.


"Aku punya permintaan sebelum aku jawab pertanyaanmu," ucap Queen yang kini napasnya mulai menderu-deru. Entah kenapa tiba-tiba muncul energi besar yang me.buncah dalam dirinya. Sejak tadi jantungnya terus saja berdetak kencamg tak karuan. Mungkin wajahnya kini semerah tomat.


"Apa?" tanya Awan.


Queen menelan salivanya sembari memandangi bibir merah muda Awan. Ia kemudian kembali menatap Awan dengan tatapan tajam. Dahi Awan mengernyit, apakah Queen akan marah padanya?


"Queen, katakan, apa permintaanmu?" tanya Awan lagi.


"Permintaanku adalah ..." Queen menarik wajah Awan, tetapi tanpa sengaja ujung hidung mereka malah bertubrukan.


"Queen!" kaget Awan yang reflek mendorong tubuh Queen menjauh. Pria itu langsung memalingkan tubuhnya sambil memegangi hidungnya.


"A-awan? Apa sakit? Aku melakukan kesalahan, ya. Awan maafkan aku! Aku tidak sengaja," sesal Queen sambil mendekati Awan yang kini memunggunginya.


"Aduh, lagian, kamu sebenarnya mau apa, sih Queen? Kenapa tiba-tiba menarik wajahku, tetapi kekuatanmu itu, ugh!" Awan malah merintih, entah karena terkena tulang hidungnya jadi terasa agak kurang nyaman atau apa.

__ADS_1


Queen malah mengerucutkan bibirnya sambil memunggungi punggung Awan.


"Kenapa kamu tanya, sih? Masa gitu doang kamu gak paham? Terus ngapain nanya-nanya ke aku, aku anggap kamu Pria atau bukan?" gerutu Queen.


Awan tertegun. Teka-teki apa yang harus ia pecahkan dari ucapan Queen sekarang? Pria itupun kini menghadapkan tubuhnya ke pada Queen yang memunggunginya sambil melipat tangan.


"Tatapanmu, caramu bicara, semuanya aneh! Hari ini kamu aneh! Kamu gak berperilaku seperti Awan sahabatku! Kamu seperti—" Awan tiba-tiba menyentuh pipi Queen dan menariknya.


"Aku seperti apa?" cecar Awan dengan tatapan sendu. Queen tertegun, lagi-lagi tatapan Awan yang mampu membuatnya mabuk kepayang. Wanita itu menelan salivanya.


"Kamu ... Kamu seperti pacarku!" jawab Queen memalingkan pandangannya karena tidak kuat dengan tatapan Awan yang begitu dalam.


Awan pun menaikkan kedua sudut bibirnya. Tangannya pun melingkar di pinggang Queen dan menariknya. Sontak atensi Queen kembali pada Awan.


"Awan, apa yang kamu lakukan?" panik Queen, tetapi ia malah bertemu lagi dengan Awan yang masih menatapnya lamat-lamat.


"Queen, jika kamu tidak suka tindakanku, tolong dorong tubuhku sekuat tenaga," ucap Awan.


"Mendorongmu? Apa maksud—" Tanpa menunggu Queen selesai bicara, Awan langsung menarik wajah Queen dan menambatkan bibir mereka. Sontak mata Queen membulat, apa ini? Apa yang sedamg terjadi? Apa yang sedang Awan lakukan? Menciumnya? Namun kenapa?


Queen ingin mendorong tubuh Awan, tetapi sebelum itu, Awan malah memperdalam ciumannya, membalut bibir Queen dengan lembut hingga membuat Queen melayang. Wanita itu akhirnya memejamkan matanya dan memeluk tubuh Awan.


Ia mulai membalas sentuhan bibir Awan dengan bibirnya. Namun hal itu malah makin membuat Awan memperdalam aksinya. Pria itu dengan lihai membuka mulut Queen dan mulai menyentuh lidah wanita itu. Queen yang terpancing pun juga tak mau kalah dan malah menautkan lidahnya dengan lidah Awan. Mereka bertukar saliva. Tubuhnya seketika terasa lemas, Awan seolah menyerap energinya dari pagutan panas ini.


Dorongan Awan yang begitu kuat pun akhirnya membuat tubuh Queen terjatuh ke tempat tidur. Seketika ciuman mereka terlepas. Awan kini mengurung tubuh Queen tanpa melepas tatapannya. Napas keduanya masih terengah-engah karena aksi mesra mereka barusan.


Jari-jari lentik Queen pun menyentuh pipi Awan dengan lembut. Hingga akhirnya telapak tangannya menyentuh pipi Awan. Queen tersenyum, tetapi tidak untuk Awan yang kini alisnya malah turun.


"Apa kamu membenciku, Queen?"


Seketika pertanyaan Awan menghapus senyum di wajah Queen.

__ADS_1


__ADS_2