I Love You Queen

I Love You Queen
S2 : Khawatir


__ADS_3

Awan bersandar duduk di bangkunya sambil dikipasi oleh Cecil-- asistennya. Wajahnya tidak boleh berkeringat karena ia masih harus melakukan pemotretan.


"Duuh ... Lebih kencang lagi, Cil ... Awan panas banget, nih ..." pinta Awan sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


Cecil menambah kecepatan kipas angin portabelnya, ia lalu menyalakan kipas portabel lainnya dan mengarahkannya pada wajah Awan.


"Iya, sebentar Kak Awan, duuh ... Panas, ya? Emang cuaca lagi cerah dan terang benderang, jadi panas, deh," bujuk Cecil agar Awan bisa sedikit bersabar.


"Duh ... Kenapa panas banget, sih?" gerutu Awan. Sebenarnya rasa panas yang ia rasakan bukan berasal dari teriknya panas matahari melainkan karena ia tidak bisa berhenti memikirkan permintaan Queen yang menginginkan ia jadi pasangannya.


"Ugh, kenapa gak sekalian aja kamu minta aku nikahin kamu, sih Queen???" gerutunya dalam hati.


"Eh?" Ia teringat sesuatu.


"Jangan, deng, Kontrak baru berakhir empat tahun lagi, nanti aja mintanya saat aku sudah boleh menikah," pikirnya lagi.


"Duh, kira-kira bagaimana nantinya jika aku bergandengan tangan dengan Queen di hadapan Ryu, Ya ampun ... Gak kebayang!!!" serunya kelabakan di dalam hati.


"Awan, giliran lu sama Sera, tuh!" kata Liza yang memecahkan pergulatan Awan dengan dirinya di dalam hati.


"Lah? Kamu Udah? Haduh, akhirnya ... Aku rasanya mau segera pulang, ugh ..." gerutu Awan langsung beranjak.


Liza mengibas-ngibaskan wajahnya.


"Duh, gila! Panas banget! Kenapa juga harus di pantai, sih??" keluh Liza langsung duduk di samping Awan.


"Asistenmu mana?" tanya Awan yang sedang di touch up sedikit oleh Cecil.


"Lagi beliin minuman, Udah, sana, buruan! Biar kita cepat pulang!" suruh Liza.


"Iya-iya, ini lagi di-touch up biar tetap glowing, iya, kan," ujar Awan.


"Ya udah, buruan, deh, duuh, gak betah Liza begini, Pusyiiing!" keluhnya sambyi memijit-mijit keningnya.


Awan yang baru selesai di-touch up hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Ya udah, Awan duluan, ya, bye-bye cantik," pamit Awan langsung pergi ke area pemotretan, Cecil langsung memasang payungnya dan memayungi artisnya.


Ting!


Selepas Awan pergi, ada pesan masuk di ponsel Liza.


"Duuh, siapa, sih yang hubungi gue di saat gue bisa emosi kapan aja??!!!" gerutunya tetapi tetap memeriksa layar ponselnya.


Matanya langsung melotot saat melihat nama yang tercantum di notifikasi ponselnya.


*♥️*My Eben♥️ : Liza, Apa kamu tau, Ryu sudah menikah???


Liza cemberut membaca pesan itu. Mengapa pesan Ghibran setelah 1 bulan tak menghubunginya berbunyi seperti itu?

__ADS_1


"Bodo, ah!! Gak mau jawab!" kata Liza ngambek dan langsung menon-aktifkan ponselnya.


***


Di sisi lain.


Ghibran masih berusaha menelpon Liza, wanita yang sangat ia rindukan.


"Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di--" Ghibran mematikan panggilannya.


"Kenapa dia gak angkat???" gerutu Ghibran.


Galang dan Bianca yang sedang menikmati jus buah hanya melirik seorang Ghibran yang kelabakan sendiri.


"Liza lagi pemotretan, Ghibran. Dia sibuk kali," hibur Bianca.


"Iya, Bi ... Aku tahu, Justin, asisten Liza udah kasih tau aku semua jadwal dia, tetapi harusnya sekarang dia udah selesai. Aku hanya ingin melepas rindu bersamanya! Kalian berdua, kan juga tahu, kenapa aku mau ke Bali," kata Ghibran panjang lebar sambil berusaha menelpon Liza.


"Kenapa tidak ke hotelnya saja? Liza pasti sibuk sekarang, Ghibran," ujar Bianca.


"Ya, Bi benar, lagian lu juga pasti tahu, kan dimana hotel Liza?" tambah Galang.


"Tahu, tetapi jika seperti ini mungkin saja Liza marah besar padaku ..." sesal Ghibran sambil memukul-mukul kepalanya.


"Lagian, setelah satu bulan gak kontak lu malah nanya-nanya tentang Ryu, cowok yang dia benci. Ya, jelaslah, Liza kesal," celetuk Galang.


Ghibran memandang Kakak Kembarnya itu.


Galang dan Bianca langsung memutar bola matanya.


"Ya iyalah, salah!" ujar mereka kompak.


"Yaah ... mau gimana lagi? Aku benar-benar kaget dengan undangan yang diberikan oleh Ryu. Selain itu, Ryu, kan ..." Ghibran memutus kalimatnya.


"Ryu kenapa?" tanya Bianca sambil menyeruput jus buahnya.


Ghibran menatap Galang dan Bianca secara bergantian.


"Ryu, kan cinta pertama Liza. Aku rasa kabar itu juga cukup penting baginya. Makanya ..."


"Hah! Sudahlah! Sebaiknya kalo lu ingin ketemu dia jangan bahas itu, lu sendiri, kan yang bilang kalau Ryu bukan cuman cinta pertama Liza, tetapi juga laki-laki pertama yang menyakiti Liza?" tanya Galang panjang lebar. Ghibran mengangguk.


"Ya udah, mendingan lu ke hotelnya sana, gue mau berduaan sama cewek gue!" ujar Galang sembari merangkul Bianca yang duduk di sampingnya.


Ghibran mengernyitkan dahi.


"Kenapa kalian tiba-tiba pacaran?" selidiknya.


"Hah?" tanya Galang sambil mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Apa, sih? Gue suka Bi, Bi suka gue, iya, kan Bi?" ujar Galang sambil memandang kekasihnya itu.


Bianca memabalas tatapan Galang. Entah kenapa ia merasa ada yang aneh dengan kalimat kekasihnya. Namun Bianca berusaha mengabaikannya. Ia menarik napas panjang sambil menyentuh tangan Galang yang merangkulnya.


"Iya, benar kata Galang. Gue sangat menyukai Galang ..." ucap Bianca sambil membalas tatapan Galang.


"Dari dulu ..." lanjut Bianca jujur yang berhasil membuat Galang tertegun.


"Dari dulu? Sejak Galang di luar negri atau .--"


"Sejak Galang sebelum dikirim ke luar negri," ungkap Bianca jujur. Lagi-lagi Galang tertegun dibuatnya.


"Jadi ... jadi sudah selama itu kamu menyimpan rasa padaku, Bi?" tanya Galang tak percaya. Entah kenapa mendengar ungkapan Bianca malah membuatnya merasa bersalah.


Bianca menyenderkan kepalanya di bahu kekasihnya sambil mengelus tangan Galang yang merangkulnya.


"Uhm ... Aku juga tidak tahu, kenapa aku menyukaimu, tetapi aku tidak bisa mengungkapkannya karena hatimu masih miliki Queen ..." Bianca memotong kalimatnya. Lagi-lagi Galang dibuat tertegun, bahkan Ghibran juga tertegun.


"Bi--"


"Waktu itu," lanjut Bianca memotong kata-kata Galang.


Bianca langsung memandang Galang sambil tersenyum.


"Bi, jangan salah paham, Hatiku sudah--"


"Ya, aku tahu ..." ujar Bianca sambil menyentuh pipi Galang dengan telapak tangannya. Ia memandang Galang dengan intens.


"Aku berharap, hatimu kini benar-benar untukku, Galang. Aku berharap kamu tidak memikirkan wanita lain selain diriku, sekalipun itu adalah sahabatku," batin Bianca khawatir. Entah kenapa perasaan takut itu datang di hati kecilnya.


Galang membalas tatapan sendu kekasihnya. Ia bisa melihat kekhawatiran di mata Bianca. Telapak tangannya yang besar juga menyentuh pipi chubby Bianca. Tangan satunya menarik kursi Bianca agar merapat pada kursinya. Ia lalu menarik pinggang Bianca agar lebih dekat padanya.


"Please ... jangan khawatirkan apapun, Bi ..." pinta Galang seraya menatap lekat-lekat ke dalam mata kekasihnya itu.


Bianca tersenyum.


"Maka, jangan buat aku mengkhawatirkanmu--" Tanpa aba-aba atau bahkan izin, Galang langsung mencumbu bibir Bianca. Bianca jelas kaget dengan aksi tiba-tiba kekasihnya itu. Ia bingung harus meresponnya bagaimana. Ia hanya dia terpaku dan membiarkan Galang melahap bibirnya.


Sedangkan Ghibran yang menyaksikan saudara kembarnya sedang mencumbu kekasihnya hanya bisa menutupi matanya dengan jari-jemarinya.


"Aduh, adegan dewasa, kah ini?" keluhnya dalam hati.


Ting!


Tiba-tiba ada notifikasi masuk di ponsel Ghibran. Ghibran langsung memeriksanya.


"Justin?" gumamnya.


***

__ADS_1


Jangan lupa Favorite, rate 5, like, vote dan kasih hadiah, supaya mama Uzda semangat terus updatenya, Love you all


__ADS_2