
Beberapa saat sebelumnya.
Queen dan Jonas berjalan bersama mencari taksi untuk segera pergi ke konser musik.
"Queen, apa tidak apa-apa Abangmu tidak ikut nonton?" tanya Jonas agak merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Dia santai, kok orangnya," hibur Queen, tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia berpapasan dengan sepasang kekasih yang sedang bergandengan tangan.
"Kak Galang? Bi?" sahut Queen spontan.
Galang dan Bianca yang sedang bergandengan mesra tersadar kalau namanya dipanggil. Langsung terlukis sebuah senyuman di bibir Galang saat melihat Queen dihadapannya.
"Queen ..." Mata Galang langsung beralih pada Jonas yang berdiri di belakangnya. Jonas segera membuang mukanya. Ia masih ingat betapa kejinya seorang Galang menyerangnya dulu.
"Jonas?" Kali ini Galang menyebut namanya. Mata Bianca langsung membulat, ia juga tahu kenangan masa lalu seperti apa yang terjadi di antara Galang dan Jonas.
"Uhm ... ya ..." ujar Jonas dengan nada agak bergetar karena masih terngiang masa lalu buruk yang menimpa dirinya dulu.
"Wah ... gak nyangka bisa ketemu lu di sini ..." Galang hendak mendekati Jonas, tetapi langsung dihadang oleh Queen.
"Kak Galang ... Kak Galang gak berniat buruk, kan?" tuding Queen.
Galang malah terkekeh mendengarnya.
"Jonas!" panggil Galang tanpa memedulikan tudingan Queen. Namun Jonas masih enggan menoleh.
"Gue tahu, gue udah keteraluan sama lu. Gue juga tahu lu gak akan maafin gue, tetapi gue mau bilang minta maaf sama lu. Semoga lu selalu bahagia," ucap Galang, di sampingnya, Bianca memandang Galang dengan bangga dan takjub. Galang juga melirik kekasihnya itu dan tersenyum. Ia lalu menggandeng tangan Bianca dan menggenggamnya erat. Bianca bisa merasakan kekhawatiran yang dirasakan oleh Galang. Bianca menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Good job," bisik Bianca yang berhasil melukiskan senyuman di bibir Galang.
"Jonas, sudahlah!" ujar Queen berusaha mencairkan suasana sambil merangkul Jonas.
"Kita bisa melupakan masalah sejenak, kita tidak boleh terlambat pergi kek Konser CLD, kan?" lanjut Queen.
__ADS_1
"Hah? Kalian mau ke sana juga?? Gimana kalau kita bareng aja?" tawar Galang.
Hingga akhirnya mereka berakhir di taksi yang sama.
Jonas cemberut sepanjang di perjalanan, apalagi ia harus mendengar Galang yang tak henti-hentinya mengucap kalimat romantis untuk pacarnya.
"Bisa, gak sih kalian gak bikin kita para jomblo ini panas?" sindir Queen sambil mengibaskan-ngibaskan tangannya.
"Sorry, Queen ... tapi mohon dimaklumi, karena kita masih kasmaran," ucap Galang lalu mencium kening pacarnya. Bianca jelas kaget diperlakukan begitu.
"Sudahlah Kak Galang ..." bujuk Bianca.
Sedangkan Jonas masih menahan kekesalannya. Mungkin sudah bertahun-tahun berlalu, tetapi perasaannya pada Queen masih sama.
"Aku bisa bertemu secara random di sini dengan Queen, pasti sebuah takdir. Takdir dimana aku tidak boleh kehilangan Queen lagi. Dia harus jadi milikku kali ini!" tekad Jonas.
Mobil kini memasuki lokasi konser.
"Waw!!! Sebentar lagi kita akan melihat aksi dari CLD!!!" seru Queen kegirangan sendiri. Bianca bahkan melepaskan rangkulan pacarnya dan langsung melongok ke luar jendela taksi, melihat Baliho besar yang tertera wajah ketiga sahabatnya.
"Ya! Aku juga sangat setuju, apa kamu juga penggemar CLD??" timpal Jonas yang langsung dapat lirikan sinis dari Galang.
"Aku adalah fans pertama mereka," sahut Bianca menimpali Jonas yang terpukau.
"Aku sudah tidak sabar!!!" celetuk Queen. Diam-diam Jonas melirik ke arah Queen seraya tersenyum.
***
Jonas POV
Aku sudah mencintainya sejak SMA. Bukan karena dia cantik, meskipun kenyataannya Queen memang perempuan paling cantik yang pernah aku temui. Namun karena dia selalu ada di pihakku. Apalagi ketika di membelaku dari perundungan Galang Romero, kakak kelas yang paling sok berkuasa dan hal yang paling menyebalkannya dia begitu populer dan digandrungi para siswi.
Sayangnya semua itu berubah ketika berita dia telah mencelakaiku. Memang berita itu tak menyebar luas, tetapi kepergiannya setidaknya membuatku bisa bernapas sesaat.
__ADS_1
Namun ternyata penghalang terberat-ku bukanlah dia. Queen sudah memiliki seseorang di hatinya. Galang, juga sempat menghancurkannya, tetapi kabarnya pria itu selamat. Tidak seperti diriku yang terkapar, dia melawan para orang biadab itu dengan kemampuannya.
Kini kami sedang berada di kerumunan para penonton yang sedang menyanyikan lagu yang dinyanyikan oleh CLD. Aku diam-diam meliriknya beberapa kali. Wajah cerianya selalu jadi obatku.
"Queen ... mungkinkah kamu sudah bersamanya?" Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar begitu saja.
"Bersama siapa, Jonas?" tanya Queen yang masih fokus pada konser CLD.
"Lelaki pujaanmu dulu." Pertanyaan itu sudah terlanjur diucapkan. Lanjutkan saja. Lagipula aku juga penasaran.
Queen yang tadi bernyanyi, tiba-tiba berhenti dan raut wajahnya langsung muram. Ia terdiam sejenak, lalu memberikan senyumnya lagi.
"Dia sudah menikah dengan wanita pilihannya. Kumohon, jangan bicarakan dia," jawab Queen yang mengerti.
"Me-menikah?" ulangku tak menyangka. Bukankah itu berarti penghalang terbesarku sudah pergi semua? Bukankah itu berarti dunia ini hanya tinggal aku dan Queen. Diam-diam aku menyunggingkan senyumku.
"Jelas dari perkataannya kalau dia sedang patah hati. Bukankah jika aku bisa berada di sampingnya dia akan benar-benar jadi milikku? Queen ... kau akan jadi milikku ... beralihlah padaku, Queen ..." batinku lalu melirik ke arah Galang yang sedari tadi merangkul kekasihnya.
"Bahkan laki-laki itu sudah tidak mempedulikan Queen lagi, tetapi kira-kira Queen akan beralih pada siapa?" batinku lagi.
Aku memandangi Queen yang matanya berbinar-binar sambil menyanyikan lagu CLD yang sebentar lagi akan selesai. Dia bahka juga mengidolakan CLD. Apalagi yang tidak cocok dari kami?
"Wooow ...!!!" sorak para penonton ketika CLD selesai beraksi. Semua menyorakinya dengan girang.
"CLOUDYY!!!!" seru para Fangirl. Memang Cloudy atau nama aslinya Louigi Awanda Lorenzo satu-satunya anggota laki-laki di grup ini dan menjadi penarik para Fangirl. Namun aku harus akui, dia memang sangat keren, senyumnya juga begitu manis.
"Awan!!!" seru Queen tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya dengan mata yang membulat.
"Kau memanggilnya Awan?" ucapku.
Queen langsung melirkku heran.
"Kenapa? Namanya Awan, kan?" tanyanya seolah tidak merasa ada yang aneh.
__ADS_1
Jika dia fans, bukankah harusnya dia panggil Cloudy? Awan? Bukankah harusnya dipanggil Louigi jika memanggil nama aslinya?
"Queen ... Kamu ... kenapa kamu memanggilnya begitu?" tanyaku, entah kenapa perasaanku tidak enak. Mungkinkah saingan baru?