I Love You Queen

I Love You Queen
Bagian 39


__ADS_3

Galang memainkan gitarnya sambil melamun. Ia memikirkan semua yang terjadi hari ini. Selain itu yang paling penting adalah kata-kata Bi tentang Queen yang ditolak Ryu. Harusnya ia senang karena akhirnya penghalangnya hilang, tetapi kenapa tiba-tiba ia merasa galau?


Ceklek !


Gibran masuk ke kamar sambil membawa sepiring semangka,


"Woy, Galang ! Mau Semangka?" Tawar Gibran sambil mendekati Galang.


"enggak." Kata Galang yang masih asyik memetik senar gitarnya.


"heh.., kok kamu sedih. Ada apa?" Tanya Gibran. Ia juga bisa merasakan jika saudara kembarnya itu sedang sedih, galau dan marah.


"emangnya lu bisa bantu apa kalo gue cerita?" Tanya Galang.


"Yah, setidaknya melepas sedikit bebanmu." Kata Gibran.


Galang berhenti memetik gitarnya,


"kok tiba-tiba lu baik sama gue?" Tanya Galang.


"Lah? Emang kapan aku jahat sama Abangku sendiri?"


Galang menyenderkan tubuhnya di dipan tempat tidurnya,


"gue ngerasa aneh sama diri gue sendiri...," Kata Galang tiba-tiba sambil memandang langit-langit kamarnya,


"aneh kenapa?" Tanya Gibran sambil melahap sepotong semangka.


"kenapa gue ikutan sedih,ya pas tau Queen ditolak Ryu? Harusnya,kan gue seneng." Kata Galang lagi.


"Yah, kalo itu, Aku juga gak tau. Aku gak ngerti soal cewek. Mending menyelesaikan soal peluang atau geometri." Kata Gibran tak memberikan solusi sama sekali.


"Aish ! Udah gue duga !!" Kata Galang lalu merebut piring semangka dari tangan Gibran.


"sana !!! Mending lu belajar aja !! Dasar !!!" Kata Galang jadi kesal sendiri.


"Yah, tapi semangkanya...," Rengek Gibran.


"ambil lagi aja sono ! Ini punya gue !!" Kata Galang sambil memakan potongan-potongan semangka itu.


"hadeeh.., untung lu Abang gue !" Kata Gibran kesal lalu bangun, Galang langsung menendang bokong adik kembarnya itu,


"udah, gak usah protes !! Sana pergi lu !" Kata Galang yang juga kesal.

__ADS_1


*


Pangeran hendak mengetuk pintu kamar Ryu, tetapi belum sempat ia menyentuh pintu itu, tiba-tiba pintu sudah terbuka,


"Ran ? " Tanya Ryu yang agak kaget.


"Ah.., Ryu.., Hai.. ," Sapa Pangeran.


"ahaha.., kenapa kamu jadi canggung? Aku baru saja ingin menghampirimu di bawah." Kata Ryu.


"untuk apa lu menghampiri gue?" Tanya Pangeran.


"ada yang ingin kukatakan padamu, uhm.., tetapi, lebih baik aku ceritakan di dalam." Ryu membawa Pangeran masuk ke kamarnya.


*


Ryu POV


Pangeran. Aku diperkenalkan olehnya sejak masih kecil. Aku tidak begitu ingat kapan, yang kuingat saat masih kecil, aku selalu bermain dengannya. Ditambah lagi kedua orang tua kami bersahabat.


Bagiku, Pangeran adalah orang yang penting. Dia adalah satu-satunya orang yang paling mengerti diriku, bahkan jika dibandingkan dengan kedua orang tuaku sendiri. Berbicara dengannya selalu membuatku tenang. Seolah semua masalahku bisa diselesaikan. Namun, jika aku mengatakan tentang pernyataan adik perempuan kesayangannya tadi, Apakah dia mau mengerti diriku?


Pangeran tiduran di atas tempat tidur sambil memainkan rubik 9x9 milikku,


Aku duduk di bangku dan menyandarkan tubuhku,


"Ya.., Tapi aku khawatir kamu akan marah padaku." Kataku jujur.


"Marah? Gue bukan orang yang mudah marah dan emosian. Jadi gak usah khawatir." Itu yang selalu dia katakan, dan itu benar adanya.


"Queen nembak aku tadi." Kataku tanpa basa-basi. Tepat pada saat itu jari Pangeran berhenti memainkan rubik di tangannya. Ia langsung terduduk dan menatapku lurus,


"nembak? Serius??" Katanya malah nyengir. Sepertinya bukan hal yang mengagetkan baginya,


"iya..," Tegasku.


Ia melanjutkan permainan di tangannya,


"terus, lu terima atau tolak?" Tanyanya. Sebenarnya ini pertanyaan paling mengerikan. Jika aku jawab jujur, mungkin saja aku tinggal nama setelah ini.


"entah kenapa, aku merasa pernyataan cintanya itu konyol. Ternyata dia masih mencintaiku hingga sekarang. Menurutku, dia hanya terjebak di dalam cinta monyet...,"


Pangeran mendengus kesal. Sepertinya aku lupa kalau yang sedang dibicarakan di sini adalah adiknya

__ADS_1


"Gue nanya, lu terima atau tolak?" tanyanya dengan nada yang dingin, membuat tubuhku bergidik ngeri. Aku menarik napas panjang,


"aku Tolak." Jawabku jujur. Lagi-lagi jari-jari panjangnya itu berhenti memutar rubik itu. Ia tidak merespon apapun, Sepertinya ia sedang berpikir.


"Dasar Gegabah !" Umpatnya. Lalu kembali memainkan rubikku.


"Kamu gak marah?" Tanyaku penasaran. Reaksinya benar-benar bertolak belakang dengan dugaanku.


"Nah, selesai !" Ia berhasil menyelesaikan permainan rubikku, Lalu menoleh ke arahku sambil tersenyum,


"tidak. Kenapa marah? Gue gak mau pusing sama urusan percintaannya. Lagian gue juga tau, kok dia suka sama lu dari dulu."


"Tapi tadi dia hilang entah kemana, mungkin karena sedih." Kataku jujur. Ya, aku tau, Queen tadi menghilang pasti karena sedih.


Pangeran melempar rubik di tangannya ke arahku, untungnya aku bisa menangkapnya,


"Dengar ini Ryu, Tidak segala sesuatu yang kita inginkan itu selalu bisa kita dapatkan dengan mudah. kalo lu ngasih dengan mudah, maka dia gak akan menghargai perasaannya ke elu."


"dia sangat menghargaiku, Ran..," Kataku. Ya, Queen sangat menghargaiku. Dia menghargai keputusanku karena dia tidak memaksaku mencintainya, seperti ibuku yang dulu sempat memaksakan ayahku untuk mencintainya, ya meskipun pada akhirnya mereka saling mencintai.


Pangeran terdiam. Ia seolah sedang berpikir lagi,


"Tapi..," Lanjutku yang membuat ia menatapku lagi,


"Aku memang tidak memiliki perasaan seperti itu pada Queen." Kataku.


Pangeran malah tersenyum,


"keputusan lu, mau suka sama adek gue atau enggak, Ryu. Yah.., tapi lu juga harus tau, Kalau Queen bukanlah orang yang mudah menyerah. Persiapkan saja diri lu__, uhm.., enggak ! Tapi persiapkan hati lu !" Kata Pangeran lagi.


Aku jadi menyunggingkan senyumku ketika dia berkata begitu. Benar juga. Hati ini bukanlah benda kokoh yang tidak bisa bergerak. Hati adalah benda yang mudah terombang-ambing, tergantung keadaan. Mungkin sekarang aku tidak mencintai Queen. Namun, entah di masa depan, apakah hatiku akan berbalik mencintainya. Entahlah.


"hei ! Kalau sudah selesai berpikir, Ayo turun ! Kita makan malam bersama." Ajak Pangeran yang sudah beranjak.


"Iya." Kataku sambil tersenyum.


.


.


.


**kalian kalau penasaran sama cerita ini atau menantikan pengumuman lainnya, bisa masuk GC Mamauzda, tulis aja alasannya apa aja, nanti Mamauzda terima 🤗🤗

__ADS_1


♥️♥️Kalau kalian suka cerita ini jangan lupa Favorit, rate 5, like, komen, vote and share ♥️♥️**


__ADS_2