
Awan kembali ke hotelnya. Ia terduduk lemas begitu saja. Tubuhnya benar-benar melemah karena jawaban Queen atas ungkapannya.
Seharusnya ia bersyukur karena dengan begitu hubungannya dengan Queen tidak akan segera berakhir, tetapi kenapa dadanya terasa sesak? Awan memukul-mukul dadanya, Ia menutup kedua matanya yang dari tadi tidak berhenti mengeluarkan bulir-bulir bening,
"Sial ..., kenapa aku malah menangis? Dasar cengeng !!" kata Awan mengejek dirinya sendiri.
"Awan, bersyukurlah, setidaknya kamu masih bisa menjadi awan yang melindunginya. Kamu masih bisa berada di sekitarnya, hiks ...," isak Awan.
"Pasti akan tiba saatnya aku mengungkapkan perasaanku dan Queen mengerti ...," ucapnya dengan suara yang bergetar.
"Atau mungkin, aku akan memendam perasaan ini hingga akhir ..., hiks!"
"Queen, Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu sampai-sampai aku rela memberikan segalanya untukmu!!! Tapi kenapa kamu malah mencintai laki-laki yang tidak mencintaimu? Kenapa kamu begitu keras kepala???!!! Harus berapa lama lagi aku tersakiti karena perasaanmu yang tak terbalaskan?!!!" sergah Awan sambil memukul-mukul lantai.
"Queen ..., kumohon, sadarlah, setidaknya berhenti untuk mencintai Ryu," lirih Awan lalu menghapus air matanya,
"Beralihlah pada laki-laki yang tulus mencintaimu, hiks!"
"Queen, aku tidak tahu, tetapi aku selalu ingin bersikap egois. Aku ingin kamu melihatku dan mencintaiku seperti diriku yang mencintaimu ...," tangis Awan di dalam kesendiriannya.
*
Keesokan Harinya,
Queen, Gibran, Barlie, Hana, Lidya menjenguk Jonas yang masih berada di bawah pantauan dokter. Katanya kira-kira ia masih harus dirawat selama satu minggu karena habis menjalankan operasi besar,
"Duh, Jonas, kalo kamu gak ada, siapa temenku di kelas?" kata Queen.
"Kamu,kan murah berteman, Queen. Lagipula aku akan segera kembali ke Jakarta jika sudah pulih," jawab Jonas sambil tersenyum.
"Lu jangan pantang menyerah, lu harus kuat dan pulih, entar gak ada yang gue isengin lagi, hahaha ..., Awww ...!!!" tawa Barlie segera sirna karena Hana mencubit pingganya,
"Sakit, sayang!!" protes Barlie,
"Idih, masih SMA dah panggil sayang-sayangan!" ledek Bu Beatrice.
"tau, tuh Bu si Barlie!" kata Hana memprovokasi.
__ADS_1
"Jonas, jangan khawatir, masih banyak lomba yang menanti setelah ini. Kamu pasti bisa mengikutinya," kata Bu Beatrice memberi semangat.
"Iya, Bu, Jonas gak akan khawatir dan patah semangat. Jonas akan berjuang untuk mencapai segudang prestasi," kata Jonas.
"Wah, lu copas kata-kata pak kepala sekolah,ya?" ledek Lidya yang dari tadi diam.
Jonas jadi malu, mukanya memerah dan ia menunduk sambil senyam-senyum.
Bu Beatrice menepuk pundak Lidya pelan,
"Jangan digituin, dong, Gak apa-apa copas, yang penting semangatnya, yah," hibur Bu Beatrice.
Jonas tersenyum dengan lebar. Namun 6 orang di hadapannya malah saling lirik dan menunjukkan wajah mengkhawatirkan. Sebenarnya mereka masih penasaran tentang siapa orang yang tega melakukan hal tersebut pada Jonas, kecuali Gibran yang memang mendengar pengakuan dari Galang sendiri.
Sayangnya, tidak ada satupun dari mereka yang berani menanyakan siapa pelakunya pada Jonas, mereka khawatir membuka luka lama bagi Jonas yang kini bisa tersenyum. Mereka hanya bisa tersenyum dan memberi semangat seolah semuanya akan baik-baik saja.
Sementara bagi Gibran yang mengetahui segalanya, ia lebih memilih bungkam. Ia tidak ingin Galang semakin dibenci apalagi oleh Queen. Meskipun dia sudah mengatakannya pada Liza, kekasihnya sekarang juga Ryu. Namun dua oran itu berjanji tidak akan bilang siapapun. Sesungguhnya Gibran merasa agak bersalah pada Galang karena ia malah berbahagia karena terbalaskan cintanya, sedangkan Galang malah makin jauh.
*
Sebelum kembali ke Jakarta Queen menyempatkan diri mengunjungi Galang yang masih berada di balik jeruji. Sebenarnya Queen tidak ingin peduli lagi pada seorang Galang. Ia sudah terlanjur membencinya, tetapi ia masih penasaran, apa alasan seorang Galang melakukan ini semua.
"Aku ke sini bukan karena khawatir pada kak Galang," ucap Queen dingin.
"I know," kata Galang.
"Aku gak habis pikir, kakak bisa bertindak sejauh ini, Aku mau dengar alasan kakak dari mulut kakak sendiri. Aku gak mau salah paham karena mendengar ini dari orang lain!" kata Queen lagi.
Galang mengernyitkan dahinya,
"Siapa yang menceritakan kejadiannya sama elu? Ryu atau Gibran?" tanya Galang.
"Gak penting siapa, yang penting sekarang aku mau dengar dari mulut kakak sendiri, kenapa kakak berusaha membunuh Ryu?" tanya Queen.
Galang mengernyitkan dahinya lagi,
"Membunuh Ryu, dia baru tahu aku hanya menyerang Ryu, bukan Jonas. Baguslah..., ugh, tapi sialnya polisi sudah tahu, sama aja," gumam Galang dalam hati.
__ADS_1
"Cepat katakan! Kenapa kakak bertindak sejauh ini? Aku akan mendengarkannya dan mencernanya__,"
"Gue gak suka kalo ada yang berusaha merebut elu dari gue. Gue cinta sama lu, gue sayang sama lu dan gue ingin lu jadi milik gue seorang ...," Galang berhenti,
"Tapi sialnya lu malah suka sama si culun Ryu. Gue penasaran, kalo dia gak ada, apakah elu bisa berpaling pada gue?" tanya Galang.
"Jawabannya tidak. Bahkan jika kak Galang berhasil membunuh Ryu, aku akan makin setia padanya. Tidak akan ada celah untuk kak Galang!" kata Queen masih dingin pada Galang
"Jadi begitu ..., keh, sial!" umpatnya.
"kenapa? Menyesal?" tanya Queen.
Galang kini menatap Queen tajam,
"Menyesal? Gue maunya menyesal, tetapi setidaknya gue puas melihat dia dihabisi karena dia bukan cuman bikin elu gak ngeliat gue, dia juga nyakitin elu__,"
BRAAK!
Queen malah menggebrak meja,
"Kakak gak berhak bertindak apapun atas apa yang aku rasakan!" bentak Queen.
Ia lalu berdiri dan menunjuk wajah Galang dengan telunjuknya,
"Asal Kakak tahu, tindakan kakak itu malah membuatku semakin membenci kakak, ingin menjauhi kakak, bahkan jijik lihat muka kakak. Aku muak sama kakak!!! Jangan pernah muncul dalam hidupku lagi!!!" ucap Queen memberinya peringatan. Galang yang mendengar itu hanya menggesekkan giginya karena menahan rasa kesalnya. Ia kesal pada dirinya sendiri.
"Sudahlah! Sejak awal mengenal kakak, aku sudah tahu kalau kita gak akan cocok. Sekalipun Aku akan berpaling, akan kupastikan, aku tidak akan berpaling pada kakak. Pasti di luar sana ada seorang gadis yang bisa menjadikan kakak lebih baik lagi, tapi sayangnya itu bukan aku!" lanjut Queen lalu mengeluarkan sebuah kotak makan,
"Ini, aku belikan untuk kakak. Semoga kakak bisa menjadi lebih baik lagi setelah ini," kata Queen lalu memberikan kotak itu dan pergi begitu saja.
Galang langsung menendang-nendang kaki meja karena kesal,
"Sial! Sial! Sial!!!" ucapnya kesal. Polisi penjaga langsung membawanya kembali ke balik jeruji.
*
*
__ADS_1
*