I Love You Queen

I Love You Queen
S2: Apa Alasanmu Memilihku?


__ADS_3

Queen terkesiap mendengar ucapan Awan. Ia tak mampu berkata-kata dan hanya bisa melipat mulutnya. Awan tersenyum miring seraya memegang pundak Queen.


"Lalu, bagaimana konsernya kemarin? Kamu datang?" tanya Awan berusaha memancing, tetapo Queen malah menunjukkan matanya yang berkaca-kaca.


"Apaan, sih? Mana mungkin aku datang ke Konser, lebuh baik aku jaga kamu!" tekan Queen agak kesal karena lelaki ini masih saja membicarakan Konser. Queen saja merasa sesak mendenger kosekuensi yang harus Awan dapatkan dari Liza.


"Jadi Konsernya tetap berjalan ..." duga Awan. Ia kira, akibat musibah ini, ia menyebabkan bencana besar.


Queen melirik ke arah Awan yang terlihat santai.


"Me-memangnya kamu tidak khawatir, Awan? Ba-bagaimana jika para fansmu mengutuk kamu?" sahut Queen menakut-nakuti.


Awan menggeleng.


"Aku tahu, makanya aku tidak takut," jawab Awan.


Queen pun menghadapkan tubuhnya pada Awan.


"Daddy Alan bilang akan mengadakan jumpa pers setelah kamu pulang dari Rumah Sakit ..." ujar Queen.


"Untuk keputusannya bagaimana, Aku tidak tahu," jawab Queen lagi. Liza hanya memberitahukan dugaan tentang kosekuensi yang akan dihadapi oleh Awan.


"Berarti kemungkinan bayar denda. Sepertinya aku akan bangkrut," jawab Awan dengan santainya, tetapi tidak untuk Queen yang malah panik sendiri. Bagaimana Lelaki ini bisa mengatakan dia akan bangkrut dengan santai begini? Apa otaknya rusak karena teralu lama tak sadarkan diri?


"Awan! Itu masalah! Gara-gara aku kamu jadi bangkrut." Sekali lagi Queen menyalahkan dirinya sendiri.


Awan melirik ke arah Queen.


"Kalau begitu, bantu aku bayar denda," kekeh Awan yang malah mendapati wajah cemberut Queen.


"Awan! Aku tidak punya uang sebanyak itu!" rengek Queen.

__ADS_1


"Bukannya kamu punya uang dari endorse?" Awan malah melanjutkannya.


"Aku tidak mau menggunakan uang itu! Aku juga tidak mau endorse apapun lagi, itu semua membuatku kembali ke masa kelam itu!" sedih Queen.


Awan memandang Queen sekali lagi. Diam-diam ia tersenyum, ternyata wanita ini begitu peduli padanya. Boleh kah ia berharap bahwa perasaannya akan dibalas suatu saat nanti?


"Lagian, kalau tau akan jadi begini, aku akan mengusirmu kemarin!" lanjut Queen yang kini terisak. Sontak Awan tersadar dari lamunannya. Apa yang ada di pikiran wanita berambut gelombang ini?


"Memgusirku? Jika kamu kenapa-napa, aku yang akan merasa bersalah seumur hidup! Mana mungkin aku bisa melakukan itu!" Tiba-tiba nada suara Awan jadi tinggi, membuat suasana sedih berubah jadi agak mencekam.


Queen menatap Awan lamat-lamat cukup lama hingga akhirnya air matanya bergulir.


"Kenapa ... Kenapa kamu juga Awan ..." ucap Queen sambil sesenggukan.


"Aku ... aku tidak rela ini semua terjadi padamu. Rasanya aku ingin mengulang waktu. Semuanya!" Tangis Queen tiba-tiba pecah, Awan pun reflek hendak memeluknya, tetapi bekas operasinya masih terasa sakit hingga ia hanya bisa memegang pundak wanita pujaan hatinya itu.


"Kenapa kamu bisa-bisanya berpikir untuk menyelamatkanku? Kenapa kamu mempertaruhkan karir dan bahkan hidupmu? Apa alasannya?" tangis Queen.


"Kamu sahabatku ... Kamu adalah orang paling penting dalam hidupku ..." lanjut Queen, tetapi perkataannya membuat tangan Awan terlepas dari pundak Queen. Wanita ini sekali lagi menekankan hubungan mereka dan entah kenapa rasanya lebih sakit daripada pisau yang kemarin menembus kulit bahkan organ dalamnya.


"Jika kamu tidak ada—"


"Queen, bisa tinggalkan aku sendiri dulu?" pinta Awan dengan suara yang dingin.


Queen sendiri malah bingung, kenapa tiba-tiba cara bicara Awan berubah.


"Awan, Aku akan menemanimu—"


"Please!" tekan Awan sambil menatap tajam ke arah Queen. Lelaki ini sama sekali tidak pernah menatap orang dengan cara seperti itu. Queen pun tak bisa menolak permintaannya.


"Baik lah ... Aku akan keluar. Tapi, jika kamu butuh apa-apa, aku akan berjaga di luar. Oke?" ujar Queen yang sebenarnya enggan meninggalkan Awan sendirian. Awan hanya mengangguk tanpa ekspresi. Sontak napas Queen seolah berhenti. Apa yang terjadi pada Awan? Ia tidak pernah memasamg wajah se-datar ini. Namun Queen tak bisa memaksanya . Wanuta itu akhirnya meninggalkan Awan sendirian.

__ADS_1


Tepat setelah Queen menutup pintu, Awan meringis, meluapkan rasa sakit akinat penekanan Queen atas hubungan mereka.


"Queen, Aku mencintaimu ... Aku mencintaimu, sangat mencintaimu!" jerit Awan setelah Queen tidak ada di hadapannya. Kenapa ia sama sekali tak sanggup mengatakan itu saat ada kesempatan? Kenapa ia tidak bisa mengatakannya dengan lantang di hadapan Queen? Apa karena hubungan persahabatan begitu menakutinya?


"Queen, Aku rela melakukan segalanya karena aku mencintaimu ..." lirih Awan seraya meloloskan bulir bening dari sudut matanya.


***


Queen duduk di bangku panjang yang tersedia di depan kamar Awan. Ia menyenderkan punggungnya ke sandaran bangku seraya memandang langit-langit bangsal.


Jelas, hatinya masih bertanya-tanya tentang raut wajah tak biasa dari Awan. Apakah Awan marah? Namun marah karena apa? Apa karena sebenarnya Awan menyesal telah menyelamatkannya? Atau karena Queen terus-terusan menyalahkan dirinya?


"Mungkin ini memang bukan waktu yang tepat ..." gumam Queen sambil menitikkan air mata. Awan baru saja bangun setelah 2 hari tak sadarkan diri, ia yang sangat penasaran malah tidak sabar dan melempar pertanyaan bertubi-tubi pada lelaki itu. Padahal sudah diselamatkan, tetapi malah tidak tahu diri.


"Apa sebaiknya aku menjauh saja dari Awan? Mungkin setelah ini hidupnya akan lebih baik?" gumam Queen. Queen memandang ke pintu kamar Awan.


"Tidak, aku sudah berjanji akan ada di sampingnya sampai ia sembuh," tekad Queen.


"Jika sudah sembuh ... Baru lah ..." Queen terisak, rasanya jantungnya diremas seakan tak rela ia mengucapkan tekad selanjutnya.


"A-aku ..." Queen kembali menitikkan air matanya.


"Se-setelah itu, A-aku ..." Queen berusaha sekuat tenaga.


"Aku akan menjauh dari Awan," ucapnya hingga tangisannya benar-benar pecah. Malam itu Queen melewatkannya dengan derai air mata.


***


**Happy ending or sad ending?


Menurut kalian gimana nih**?

__ADS_1


__ADS_2