
Liza bisa merasakan sebuah tangan besar yang membelai pipinya. Ia pun memegang tangan itu dan membuka matanya perlahan-lahan.
"Liza? Apa kamu terbangun karena aku?" tanya seorang laki-laki yang membuat senyuman Liza mengembang. Laki-laki itu biasanya pakai kacamata, tetapi kali ini tidak. Rambutnya juga berantakan dan mau saja direpotkan mengurus Liza yang tertidur.
"Apa Eben baru bangun tidur juga? Setelah memberikanku kenangan di sini," Liza menunjuk bibirnya.
"Dan berhasil membuatku terlelap, kamu kemana?" tanya Liza malu-malu, tapi penasaran.
Laki-laki itu alias Ghibran tertegun dan malah jadi ikutan malu.
"Ah ... Setelah membuatmu tidur, tentu saja aku ke kamar sebelah. Mana ada aku keberanian tidur di sampingmu. Aku takut khilaf," kata Ghibran sambil garuk-garuk kepala.
Liza lalu bangun dan duduk di hadapan Ghibran.
"Ya ampun, imutnya!" kata Liza sambil mencubit gemas pipi Ghibran. Ghibran langsung mengangkat kepalanya dan menatap Liza.
"Lalu kemana kacamatamu?" tanya Liza.
"Kacamataku?" Ghibran langsung memegang area matanya dan baru sadar tidak menggunakan kacamatanya.
"Pantas saja penglihatanku agak buram, haha ..." kekehnya mengejek dirinya sendiri.
"Jika penglihatanmu buram, kenapa bisa sampai sini?" tanya Liza.
"Karena aku sudah merindukanmu, jadi aku hanya menggunakan feeling-ku ... aduh, konyol, ya diriku ini?" ujar Ghibran menertawakan dirinya.
Liza lalu memeluk lelaki pujaannya itu.
"Tidak. Ebenku tidak pernah konyol. Ebenku adalah laki-laki yang paling hebat sedunia!" puji Liza lalu mencolek hidung Ghibran.
Ghibran tersenyum.
"Terimakasih, Liza. Kamu juga wanita yang paling hebat di dunia," ujar Ghibran lalu mengecup puncak kepala Liza.
Setelah itu Liza langsung melepas pelukannya.
"Sudah-sudah, ayo mandi! Sudah selesai!" Liza segera turun dari tempat tidurnya. Ghibran hanya menatapnya bingung. Ia belum puas melepas rindu pada Liza.
"Nanti ... nanti kita bertemu di tempat lain lagi, ya ... Eben juga bersenang-senanglah ... Uhm, Liza mau mandi dulu, Eben pergilah ke kamar sebelah!" perintah Liza yang memalingkan wajahnya. Jika ia melihat wajah Ghibran, ia tak akan berani berpisah, sedangkan ia tahu kalau hari ini masih ada jadwal LIVE.
"Kapan?" tanya Ghibran.
"Na-nanti aku kabari ..." kata Liza kikuk sendiri.
Ghibran yang menyadari tingkah kikuk Liza hanya tersenyum lalu memeluknya dari belakang.
"Baiklah, Sayangku," bisik Ghibran memeluk Liza gemas lalu mencium singkat pipi Liza.
__ADS_1
"Aku tunggu chat-mu," kata Ghibran hingga akhirnya ia pergi ke kamar sebelah.
***
Lagi-lagi di cottage Queen dipenuhi dengan semua anggota keluarganya ditambah Sakura yang entah bagaimana bisa hadir di sini juga tanpa ada Yura ataupun Ori--orangtuanya.
"Papa, papa sudah tahu kalau Bang Ran mau menikah??" celetuk Queen di tengah sarapan mereka.
Semua orang kecuali Iskandar langsung menatap Queen karena celetukannya.
"Apa??" tanya semua orang di meja.
"Ya, Papa tahu. Papa juga sudah berdiskusi dengan Tuan Fusena tentang ini," jawab Iskandar tenang sambil memakan sarapannya.
Rin yang belum duduk sama sekali langsung duduk di samping Putra sulungnya itu
"Kamu belum bilang sama Mama!" tuntut Rin.
"Ah, gini, Ma ... Itu baru rencana," jawab Pangeran.
"Rencana???" Kini Sultan yang sewot.
"Lalu, kenapa hanya beritahu Papa?" cecar Sultan.
"Karena itu harus dibicarakan, Lagipula Bang Ran gak nikah bulan ini, kok. Bahkan ini belum dibicarakan dengan Komandan," kata Pangeran enteng.
"Ah, aku mengerti ..." kata Queen.
"Bang Ran baru mau mulai pedekate, iya, kan? Sama siapa, nih calonnya?" ledek Queen yang entah kenapa terlihat segar pagi ini setelah nangis sejadi-jadinya semalam.
Semua orang malah menatap Queen heran.
"Kenapa?" tanya Queen yang bingung ditatap oleh semua orang.
"Uhm, Kakak Queen baik-baik saja?" tanya Sakura memberanikan diri.
Queen malah heran dengan pertanyaan itu.
"Memangnya aku kenapa?" tanya Queen seolah tidak ada yang terjadi.
"Sudah-sudah. Memang lebih baik kita tidak usah membicarakannya," kata Pangeran yang tahu semuanya semalam. Namun ia memilih diam karena merasa itu adalah rahasia Queen.
"Yah, sebenarnya aku lebih penasaran, siapa calonnmu? Tadi Papa bilang sudah membicarakannya dengan Tuan Fusena," kata Sultan mengalihkan topik.
"Yah, aku juga!" seru Queen.
"Ah, calon Bang Ran, ya ..." Pangeran melirik Papanya yang masih asyik memakan buah semangka.
__ADS_1
"Amanda. Amanda Randini Fusena," jawab Iskandar membantu Sang Putra Sulung.
"Harusnya jika kamu menyukainya, kamu bisa menyebut namanya dengan lantang, Ran," sindir Iskandar.
Rin yang mendengarnya tak terima putra sulungnya disindir seperti itu.
"Memangnya dia mirip siapa?" tanya Rin sewot.
Iskandar mengernyitkan dahi.
"Hah?"
"Yah, Papanya juga tidak lantang menyebut nama Mama saat pertama kali jatuh cinta. Tenang Ran, kamu mirip Papamu. Semua itu butuh proses!" kata Rin membela putranya.
"Apa?" sahut Iskandar yang kini tak terima.
"Hihihi ... Udah Papa ngaku aja," kekeh Queen membela mamanya.
Iskandar hanya menghela napas kasar.
"Untung Papa mencintai kalian semua!" gerutu Iskandar. Rin segera beranjak dan memeluk suaminya.
"Duuh, makasih loh Papanya anak-anak," ledek Rin yang merasa menang lalu mencium pipinya
Iskandar hanya cemberut, tetapi hatinya juga senang karena mendapat ciuman di pipinya dari Sang istri.
"Oke, kalau gitu selesaikan sarapan kalian, setelah ini kita semua akan jalan-jalan," ujar Rin membuat pengumuman.
"Jalan-jalan? Yeaay!!!" seru Sultan girang sendiri. Diam-diam Sakura tersenyum sambil memandang Sultan.
***
Sementara itu Awan yang baru selesai mandi memandang dirinya di depan cermin sambil memegang bibirnya. Ia masih ingat jelas apa yang terjadi semalam dengan seorang Queen. Dirinya benar-benar nekat. Sialnya, Pangeran menyadarinya saat Awan mengantarkan Queen ke cottage-nya. Setelah acara LIVE, Pangeran memintanya untuk bertemu hanya berdua dengannya.
Awan langsung mengacak-acak rambutnya.
"Argh ... Awan!!! Kenapa kamu sangat nekat?? Bertemu dengan Pangeran sama halnya dipanggil oleh Papa Iskandar. Kira-kira apa yang akan dia bicarakan denganku???" ucap Awan jadi gusar. Ia lalu memandang jam dinding di kamar hotelnya.
"Ah, masih ada waktu tiga jam lagi untuk LIVE," ujarnya lalu menatap kasurnya. Ia langsung membanting tubuhnya di sana dan memandang langit-langit.
"Kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh Pangeran? Mungkinkah aku akan dipaksa menikahinya--" Awan terhenti.
"Tunggu, kenapa Ryu yang menikah, lalu aku jadi latah ingin menikah juga???" tanya Awan sambil guling-guling di atas kasar.
"Memangnya aku tidak mau menikah??? Tentu saja aku mau!!" rengek Awan lalu berguling-guling lagi.
"Hwaa ....!!! Aku bisa gila karena kamu, Queen--" Tiba-tiba ponselnya berdering. Awan segera bangkit dan mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Hah? Queen?? Kenapa tiba-tiba dia meneleponku?" gumam Awan gusar sendiri, lalu ia mengangkat teleponnya.
Awan :"Hallo?" sapa Awan.