
Queen terus memandang Galang yang malah asyik bermain dengan para kelinci peliharaan Bianca, seolah sudah biasa dengan mereka. kalimat Galang barusan seolah menyadarkan dirinya, betapa merepotkan dirinya dahulu, kala mengejar-ngejar cinta Ryu. Jelas saja Ryu sanggup mengatakan hal menyakitkan 5 tahun lalu.
Namun wanita itu kini sadar bahwa cinta Ryu bukan lah miliknya. Mungkin jika ia sadar hal itu sejak dulu, hatinya tidak akan pernah se-sakit ini.
Atensi Queen pun kembali pada Galang yang malah cekikikan sendiri saking gemasnya dengan kelinci yang ada dalam pelukannya. Pria ini jauh terlihat lembut dibandingkan dulu. Apa karena berhubungan dengan Bianca?
"Jadi, sejak kapan Kakak suka sama Bi?" penasaran Queen yang membuat tawa Galang terhenti.
"Kenapa tiba-tiba tanya itu?" bingung Galang yang melepaskan kelinci dalam pelukannya.
"Yah, hubungan kalian sama sekali tidak terendus, sih. Tau-tau jadian," ujar Queen.
Galang pun menatap langit, Ia juga tidak begitu ingat kapan perasaan itu muncul.
"Jika ditanya kapan pertama kali aku suka Bi, maka sejak kecil," jawab Galang. Lelaki ini memang pernah memiliki teman masa kecil yang selalu menghiburnya. Sebelum jadi jagoan, Galang adalah anak yang cengeng dan selalu ada Little Bunny yang menghiburnya.
Queen menoleh cepat sambil membulatkan matanya.
"Sejak kecil? Kalian kenal sejak kecil?" kaget Queen.
Galang malah terkekeh.
"Reaksi lu berlebihan tau, gak?"
"Ya, habis ... Ini kabar yang baru aku dengar!" sahut Queen.
"Yah, bisa dibilang, Hubungan gue sama Bi adalah Cinta Lama Bersemi Kembali ..." Galang tersenyum penuh arti.
"Tapi, gue baru sadar kalau hati gue emang buat Bi semenjak kejadian itu. Di antara semua orang terdekat gue, termasuk bokap dan nyokap gue, dan Gibran, cuman Bi yang gak nge-judge gue." Galang kini menunjukkan raut wajah penuh arti.
"Dia yang gak memojokan gue dan menyalahkan gue, tetapi dia buat gue sadar bahwa tindakan gue salah dan masih ada cara untuk memperbaikinya ..." Galang tersenyum.
"Seketika saat itu di kepala dan hati gue, nama lu langsung hilang. Gue jatuh cinta yang bener-bener jatuh cinta. Kayak—"
"Dia adalah orangnya," ujar Queen menerjemahkan kalimat rumit Galang.
Sontak kedua sudut bibir Galang terangkat.
"Ya, It's Her. Dia adalah orangnya. Dan malah keterusan sampai sekarang, Belum lagi kita punya hobi yang sama." Wajah Galang kini memerah, Lelaki itu bahkan tak bisa berhenti tersenyum, membuat hati Queen iri, mengingat dulu lelaki ini pernah mengejar-ngejarnya.
__ADS_1
"Kalau udah waktunya, gue mau ngelamar dia," ungkap Galang.
"Tapi Bi belum siap." Galang malah cekikikan sendiri.
"Yah, gue juga belum siap, sih ... Apa lagi, gue gak sekolah setelah kejadian itu. Gue di Berlin juga cuman asah skill gue dengan ikut beberapa workshop atau kelas. Gue gak kuliah apa lagi jadi seorang peneliti kayak Gibran."
Queen bisa merasakan ada rasa ketidakpercayaan diri pada seorang Galang. Sampai akhirnya bos berandal ini juga ditundukkan oleh nasib.
"Tapi, Asalkan Bi nerima Kakak, Papa Teguh dan Mama Anna nerima Kakak, Why not?" seru Queen yang menciptakan kembali senyum di wajah Galang.
"Thanks, ya Queen ... Gue harap lu cepet move on dan bisa bilang, 'It's Him' seperti gue," ujar Galang.
Queen mengangguk, Mengobrol denga Galang selalu jadi obat baginya sejak dulu. Dia bagaikan Kakak bagi Queen.
Galang pun beranjak sembari menoleh ke arah Queen.
"Yah, nasihat gue ketika lu sangat tergila-gila pada seseorang, Coba lu peka sedikit aja, untuk bisa lihat, siapa orang yang selama ini sangat mencintai lu, menghargai lu dan menghormati lu. Kalau udah ketemu, maybe dia adalah orangnya," ucap Galang sambil tersenyum.
"Awan maksudnya, eh?" Queen mengerjap-ngerjapkan matanya, ia heran dengan pemikiran spontannya. Bagaimana mungkin nama itu bisa muncul dalam benaknya?
"Ya udah, ya ... Gue tiba-tiba kangen sama cewek gue ... Lu gak apa-apa 'Kan gue tinggal?" izin Galang.
Sementara Queen merasakan getaran aneh dalam dadanya. Ia seolah pernah merasakan hal ini, tetapi kali ini getaran itu muncul akibat nama orang yang berbeda.
"Gak, gak mungkin aku suka sama Awan. Masa hanya karena mimpi aneh itu, hati dan pikiranku jadi terpengaruh, sih?" gumam Queen panik sendiri.
"La-lagian, Awan sedang terikat kontrak. Tidak mungkin ia bisa memiliki pacar 'kan— Eh? Apa yang aku pikirkan? Memangnya siapa yang mau jadi pacarnya?" Queen pun beranjak dengan wajah yang terasa panas.
"Duh, Aku ini kenapa, sih?" Queen memandang ke langit yang cukup terik.
"Pasti wajahku panas karena suhu di sekitar sini panas!" duganya yang kemudian masuk ke dalam rumah.
***
Seorang Pria yang sedang menikmati hangatnya kopi seraya memandang langit jingga di sore hari tiba-tiba diusik oleh suara ketukan pintu ruangannya, membuat Pria itu mendelik kesal karena ketenangannya diganggu.
"Masuk!" ucapnya yang meskipun kesal, tetapi tahu bahwa orang di balik pintu ruangannya adalah orang yang ia tunggu-tunggu sejak tadi.
Orang dari balik pintu itu pun masuk dan langsung berlutut di belakang kursi yang diduduki orang berkacamata itu.
__ADS_1
"Katakan, Dia ada dimana sekarang?" tanya Pria itu yang masih membelakangi tamunya.
"Dia di Bandung, Tuan ... Menginap di rumah salah satu sahabatnya, Bernama Bianca Teguh. Dia menghabiskan seluruh liburannya di sana," lapor orang itu.
"Apakah hanya ada dia dan sahabatnya di rumah itu?" tanya Pria berkacamata itu.
"Tidak, Tuan ... Ada seorang Pria bernama Galang di sana. Kabarnya ia adalah kekasih—"
PRANG!
Tiba-tiba cangkir kopi yang verada dalam genggaman Pria berkacamata itu dilempar hingga pecah dan menumpahkan isinya hingga mengotori dinding.
"Galang? Sebuah nama yang membuat darahku mendidih!" geram Pria itu.
"Apa hubungannya dengan Wanitaku hingga mereka menginap di tempat yang sama?" sinisnya.
"Bukan dengan wanita itu, Tuan, melainkan dengan sahabatnya, Bi ... Galang adalah kekasihnya," ucap Orang itu lagi.
Namu Pria berkacamata itu malah memukul sandaram kursinya dengan kepalan tangannya.
"Tetap saja, mereka tinggal di atap yang sama!" geramnya.
"Namun, Tuan ... Saya dapat info bahwa Pria bernama Galang itu akan kembali lusa ke Berlin" lapor orang tersebut.
Hal itu membuat alis sebelah Sang Pria Berkacamata naik sebelah.
"kembali Ke Berlin? Bukankah itu berarti dia akan melalui sebuah perjalanan?"
"Ya, Tuan. Anda benar," timpal orang tersebut.
"Baik lah, cari informasi, bandara mana, jalur mana, yang akan Pria bernama Galang itu lalui ..." Sang Pria Berkacamata itu pun beranjak dari tempat duduknya seraya menatap ke luar jendela kaca di ruangannya.
"Kita buat dia menderita sedikit, atau mungkin bukan kembali ke Berlin, melainkan kembali ke Sang Pencipta!" ujarnya dengan senyum liciknya.
"Baik, Tuan Jonas!" ujar Orang itu menimpali perintah Tuannya.
***
Ada yang penasaran?
__ADS_1
Tunggu kelanjutannya, ya!