
Tubuh Awan lemas saat ia mendengar semua penuturan Alan dengan sangat jelas. Ia tahu konsekuensinya akan sebesar ini jika ia tidak hadir di konser terakhirnya kemarin. Bukan hanya telah mengecewakan fans, tetapi ia juga harus menanggung ganti rugi yang tertulis di kontrak. Hal itu malah membuat jahitan di perutnya terasa nyeri. Hingga pintu kamarnya pun terbuka. Awan bahkan tidam sanggup menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Paling juga Galang. Pria itu setidaknya ingin menyenderkan punggungnya dahulu sebelum Galang mulai mengoceh.
"Awan!" seru sebuah suara perempuan yang beberapa akhir ini mengisi hari-hari Awan. Lelaki itu pun menegakkan tubuhnya dan menemukan seorang wanita berambut keritung dan bergelombang tengah menatapnya dengan penuh rasa khawatir. Dahinya mengernyit.
"Queen?" sahut Awan agak kaget. Ia kira Queen tidak akan menjemputnya.
Tanpa menunggu lagi, Queen langsung menghampiri Awan dan duduk di sebelahnya. Ia memapah tubuh Awan seraya menatapnya penuh empati.
"Apa lukanya masib terasa sakit Awan?" tanya Queen khawatir. Namun Awan malah tersenyum. Ia tidak mau membuat Queen khawatir, tetapi sejujurnya ia tidak memiliki kekuatan apapun sekarang. Awan pun menyenderkan kepalnya di bahu Queen, membuat tubuh perempuan itu membeku sesaat.
"Awan! Ka-kamu—"
"Sebentar aja, Queen. Aku mau bersandar di bahumu, rasanya menenangkan," ucap Awan yang membuat Queen tertegun. Ucapqn Awan barusan seilah menembus ke dalam lubuk hatinya yang terdalam hingga meni mbulak sengatan listrik kecil di sekujur tubuhnya.
"Pe-perasaan apa ini?" batin Queen salam hati.
Kemudian tangab Awan malah merambat ke pinggang Queen dan memeluk perempuan uty dengan erat. Queen langsung bisa tahu bahwa ada hal lain selain jahitan di perutnya yang menimpa lelaki ini. Queen yang awalnya agak ragu pun akhirnya memilih untuk mengelus keoala Awan. Tunggu. Kenapa ia merasa ragu? Bahkan jantungnya berdebar-debar. Memanjakan Awan harusnya adalah hal biasa. Lantas apa arti debaran yang timbul kali ini?
Queen hanya bisa memandang Awan yang terlihat sangat rapuh. Ia sendiri belum bisa menerjemahkan perasaan anehnya pada Awan.
"Daddy Alan ... Daddy Alan bilang, CLD akan bubar ..." ucap Awan yang membuat Queen tertegun.
__ADS_1
"Bubar?" ulang Queen kaget. Bukankah itu berarti karir Awan, Liza dan Sera terancam?
Awan mengangguk pelan, tetapi Queen bisa merasa ada kesedihan mendalam pada Pria ini.
"Maaf, Queen ... Maaf karena aku tiba-tiba begini," ujar Awan sambil menegakkan tubuhnya dan menatap wajah bingung sahabatnya.
"A-apa Queen boleh tahu, apa yang terjadi Awan? Kenapa CLD bubar? A-apa itu ada kaitannya dengan Queen?" tanya Queen merasa agak tidak yakin ia berhak tahu. Namun Awan tersenyum seraya memegang kedua pipi Queen.
"Tidak ... Ini murni kesalahanku. Tidak ada kaitannya sama sekali denganmu." Awan tidak mau membuat Queen merasa bersalah. Jika tidak, maka Queen pasti akan menajuhinya. Ia paling takut jika itu terjadi.
"Lantas karena apa lagi kalau bukan karena Awan yang menyelamatkan Queen? Andai saja ... Andai saja—"
"Semua sudah terjadi ..." ucap Awan kemudian menatap wajah khawatir Queen. Pria itu memegang kedua pipi Queen.
"Aku akan lebih menyesal jika tidak bisa menyelamatkanmu. Aku ... " Suara Awan tercekat.
"Aku akan lebih menyesal jika Pria kurang ajar itu menyentuhmu ..." geramnya dalam hati. Awan kemudian menempelkan keningnya pada kening Queen hingga membuat wanuta 20 tahun itu tersentak. Seolah ada sengatan listrik kecil yang menyetrum tubuhnya saat kulit hangat Awan menyentuh keningnya.
Awan memejamkan matanya dan merrsapi suhu tubuh Queen dari kening mereka yang menempel.
"Aku tahu ini konsekuensinya, tetapi tetap saja, aku merasa kecewa ..." ujar Awan.
__ADS_1
"Namun, Aku sudah memperkirakan ini, maka aku akan segera baik-baik saja," lanjut Awan lagi. Queen hanya memandang wajah Awan yang begitu dekat dengannya. Ia bisa merasakan perasaan miris Awan yang kehilangan impiannya sebagai seorang idol. Perjuangannya selama 5 tahun ini telah sia-sia.
"Jangan salahkan dirimu, Queen ... Aku ... Aku lebih butuh pelukanmu daripada apapun—"
Tiba-tiba Queen menarik tubuh Awan hingga kening mereka terlepas kemudian Queen memeluk Pria itu dengan erat.
"Katakan saja. Katakan apapun yang kamu inginkan. Jika kamu ingin pelukanku, maka akan aku berikan!" bisik Queen yang sebenarnya detak jantungnya mulai tak karuan. Namun tanganbya tidak mau melepas pelukannya. Akhirnya ia mengabaikan reaksi tubuhnya.
Awan pun tersenyum tipis kemudian membalas pelukan Queen. Mereka saling mengeratkan pelukannya. Sangat lama sampai mereka berdua merasa sesak. Awan pun melepas pelukannya seraya memandang wajah Queen yang memerah. Mungkin kah karena pelukannya teralu erat?
"Kamu ... Kenapa wajahmu memerah, Queen?" tanya Awan sambil menyentuh kening Queen dengan punggung tangannya.
Queen terhenyak. Wajahnya memerah? Pantas saja ia merasa suhu di sekitar wajahnya naik. Queen pun memegang kedua pipinya kemudia menatap Awan yang masih menunjukkan raut khawatirnya.
"Apa kamu sakit?" tanya Awan lagi yang kini malah menyentuh leher Queen dengan punggung tangannya. Queen buru-buru menangkap tangan Awan tanpa melepas pandangannya.
Atensi Awan kini beralih pada Queen. Tatapan mereka bertemu. Kini Queen dapat merasakan jantungnya yang berdetak sangat keras sekaligus mendengar detak jantungnya.
"Tidak, ini bukan detak jantungku!" sahut Queen dalam hati.
"I-ini ... Mu-mungkinkah ini adalah detak jantung Awan?" batin Queen agak berharap. Ia pun menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya apa yang salah. Ia merasa hal ini tidak pernah terjadi ketika berhadapan dengan Awan. Apa arti dari semua ini?
__ADS_1