I Love You Queen

I Love You Queen
S2: Pembawa Sial


__ADS_3

"INI SEMUA GARA-GARA KAMU!"pekik Amara sambil melempar teh yang Queen sodorkan hingga tumpah begitu saja. Untungnya di ruang itu hanya ada mereka.


Sedangkan Queen terpaku karena bingung, kenapa dirinya yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan Galang?


"Ma, Mama tenangkan diri Mama," ujar Bianca yang tidak menyangka dengan tindakan Amara.


Amara pun menoleh ke arah Bianca sambil menatapnya sinis.


"Bianca, jangan karena kamu adalah sahabatnya, maka kamu mau membela perempuan pembawa sial ini!" geram Amara sambil menunjuk Queen.


Bianca jelas menyadari bahwa ucapan Amara sama sekali tak berdasar, tetapi ia tidak bisa menangkisnya jika melihat kondisi Amara yabg begitu putis asa.


"Andaikan Putra saya tidak jatuh cinta denganmu, atau andai saja dulu kamu menerima pernyataan cintanya ... Dia tidak akan melakukan hal buruk yang membuatnya kena karma begini ..." tangis Amara putus asa.


"Hidupnya sudah sangat sulit, ia harus menghadapi banyak ujian, ia bahkan tidak bisa mendapatkan gelar sarjana seperti kembarannya ..." tangis Amara tak kuasa mendapati nasib putranya yang tidak seperti kebanyakan orang.


"Ia tidak bisa melanjutkan studinya karena semoat cinta buta pada perempuan tak tahu diuntung seperri kamu!" tuding Amara lagi.


"Pasti ... Pasti Pria yang dulu kau kejar seperti orang gila juga menyadari hal itu sejak awal, makanya dia meninggalkanmu!" pekik Amara yang membuat bulir bening jatuh begitu saja dari sudut mata Queen. Tentu Amara juga tahu mengapa Sang Putra dulu melakukan hal buruk yang membuatnya dijebloskan ke penjara.


"Queen ... Queen ... Seharusnya kamu tidak berada di sekitar Putraku agar dia tidak tertimpa sial begini!" sergah Amara tak kuasa lagi.


"Kau adalah penyebab ini semua! Enyah lah daei pandanganku!" pekik Amara lagi.


Queen hanya bisa menangis. Tudingan Amara bagaikan tombak yang menusuk jantungnya secara pelan-pelan hingga rasanya begitu perih dan sesak.


"Ta-tante ... Queen minta maaf jika memang salah—"


"Kamu yang hadir di hidup putraku dan kamu yang dilahirkan memang sebuah kesalahan!" jerit Amara sehingga membuat tubuh Queen kaku dan pikirannya kosong.


"Mama ..." Bianca berusaha menenagkan Amara dengan memeluk tubuh wanita paruh baya itu.


"Jangan membela sahabatmu, Bianca! Sebaiknya kamu juga menjauhi Si Pembawa Sial ini!" sinis Amara.


"Ma-maaf!" seru Queen kemudian berlari pergi meninggalkan Amara dan Bianca.


Ia sama sekali tidak mengerti dengan situasi sekarang, tetapi dirinya juga masih ingat rasa bersalah akibat kejadian 5 tahun lalu ketika tindakan gegabah Galang yang menyebabakan banyak hiduo seseorang terancam. Pada akhirnya perkataan ara benar, itu semua akibat dirinya yang teralu egois mencintai Ryu.


Sampai akhirnya, siapa pun yang pernah memiliki perasaan untuknya akan berakhir tragis. Queen yang sedang berlari tiba-tiba hilang keseimbangan dan terjatuh di taman Rumah Sakit hingga lututnya tergores aspal dam berdarah. Namun rasa perih di lututnya tidak lebih sakit dari rasa sesak di dadanya.


"Apa aku memang tidak seharusnya dicintai? Apa aku memang seharusnya tidak hadir di dunia ini?" ucapnya putus asa.


"Andaikan saja ... Andaikan—" Tiba-tiba di hadapannya ada sesosok laki-laki yang menatapnya.

__ADS_1


"Queen, Itu kah kamu?" tabya laki-laki itu dengan lembut, tetapi nalah membuat tangisan Queen semakin menjadi-jadi.


"Awan!" seru Queen yang melepas semua rasa sedihnya. Daei belakang laki-laki itu juga muncul kedua sahabat lainnya—Liza dan Sera.


"Queen, kamu kenapa?" seru Sera yang membantu Queen berdiri.


"Ya ampun, lutut Queen terluka!" seru Liza yang melihat darah di lutut sahabatnya itu.


"Queen, ayo kita obati lukamu ..." ajak Sera.


Namun Queen malah menggeleng.


"Lukaku bisa diobati nanti ..." isak Queen seraya menatap ketiga sahabatnya.


"Kalian paati ke sini mau menjenguk Kak Galang 'kan?" tebak Queen.


Ketiganya mengangguk bersamaan.


"Tapi, kamu harus jelaskan, Queen. Kenapa kamu di sini menangis sendirian? Apa keadaan Kak Galang sangat mengkhawatirkan?" tanya Sera.


Queen hanya mengangguk.


"Untuk lebih jelasnya kalian bisa tanyakan pada Bi dan Tante Amara," ucap Queen sambil sesenggukan.


"Kaliam berdua, jenguk lah Galang duluan ..." ucap Awan.


"Awan, tapi Queen—"


Awan menoleh ke arah 2 sahabatnya.


"Serahkan saja padaku," ucap Awan penuh dengan keyakinan.


Sera dan Liza hanya bisa mengangguk. Mereka juga sangat tahu, jika ada masalah besar, Queen hanya bisa mengungkapkannya pada Awan.


"Baik lah, jangan lupa juga obati luka Queen," pesan Liza. Awan mengangguk pelan. Akhirnya Liza dan Sera meninggalkan Awan dan Queen berduaan.


"Queen, ayo tenangkan dirimu di dalam," ajak Awan. Queen yang sebenarnya merasa pusing hanya mengikuti ucapan Awan.


Mereka pun berakhir di mobil Awan karena di sana ada kota P3K. Awan mengobati luka di lutut Queen, sementara Queen hanya termenung setelah akhirnya berhenti menangis.


Sesekali Awan melirik ke arah Queen yang sedang bersandar di jok mobil dengan tatapan kosong sembari menempelkan plester di lutut sahabatnya itu.


"Sudah beres!" seru Awan yang menarik atensi Queen. Wanita itu melirik ke arah Awan dengan tatapan lesunya.

__ADS_1


"Awan, apa baik-baik saja jika kamu bersamaku?" tanya Queen lemah.


Awan mengernyitkan dahi.


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Awan sambil membereskan kotak P3K-nya.


"Nanti kamu dikira punya kekasih ..." ujar Queen.


Awan malah tersenyum.


"Memangnya kita sepasang kekasih?" Sontak Queen tertohok, pertanyaan Awan lagi-lagi membuat detak jantungnya tak karuan.


"Bu-bukan ..." jawab Queen.


"Ya sudah, maka tidak ada masalah 'kan?" ujar Awan.


"Lagipula Daddy Alan tahu hubungan kita. Daddy akan melindungiku nantinya, toh sekarang kita sedang dalam keadaan sedih karena sahabat kita terkena musibah," ujar Awan lagi yang membuat Queen kembali lesu.


"Ini semua gara-gara aku, Awan ..." cetus Queen yang membuat Awan mengernyit.


"Gara-gara kamu? maksudnya?" Awan malah tidak mengerti.


Queen denganw ajah sedihnya mengangguk lemas.


"Tante Amara bilang ini semua karma karena Galang pernah jatuh cinta denganku ..." Queen mengangkat kepalanya dan menatap Awan.


"Tante Amara juga bilang, siapapun yang jatuh cinta dengan Queen maka akan kena karma buruk, makanya Ryu meninggalkan Queen ..." lirih Wanita berambut gelombang itu lagi.


"Ya ampun, jika memang benar, maka aku juga tidak baik-baik saja, dong?" kekeh Awan dalam hati, kemudian membelai rambut bergelombang Queen sembari berdiri di hadapan wanita itu.


"Queen, kenapa kamu terpengaruh?" tanya Awan.


"Tante Amara hanya sedang putus asa mendapati keadaan Putranya yang kritis. Dia hanya mencari seseorang untuk bisa jadi pelampiasan. Jadi kamu tidak perlu khawatir," ucap Awan lembut.


Namun Queen malah terdiam.


"Lalu, bagaimana jika itu benar, Awan? Karena sudah ada dua orang yang menghadapi situasi begini karena pernah menyukaiku?" sedih Queen. Awan hanya bisa menghela napas.


"Bagaimana cara menjelaskannya?" batin Awan.


****


Jangan lupa Like, Fav, komen yaa

__ADS_1


__ADS_2