I Love You Queen

I Love You Queen
Bagian 75


__ADS_3

Queen dan rombongannya akhirnya kembali ke Jakarta. Setelah kejadian yang sempat membuat kegaduhan, akhirnya mereka bisa tenang kembali seperti semula.


Seperti biasa di akhir Minggu, Queen menghabiskan waktunya bersama Awan. Kini ia sedang tiduran di pangkuan Awan sambil berselancar di dunia maya melalui ponselnya,


"Awan ...," panggil Queen sambil meletakkan ponselnya di sampingnya.


"Hm?" tanya Awan yang sedang sangat menghayati drama India favoritnya di aplikasi tonton video miliknya melalui ponselnya,


"Kamu kalo udah lulus sekolah, mau ngapain?" tanya Queen tiba-tiba.


Gara-gara pertanyaan Queen, Awan terpaksa menghentikan episode yang sedang ia putar lalu berpikir,


"Jadi penyanyi lah. Aku,kan udah pernah bilang, aku mau jadi selebriti," jawab Awan lalu memandang Queen yang ada di pangkuannya.


"Cari produser dong? Atau cukup studio rekaman aja?" tanya Queen lagi.


Awan tersenyum,


"Kabar baiknya, Daddy Alan udah pernah nawarin aku gabung sama perusahaan entertainment-nya. Kamu tau,kan ANT ENTERTAIN," kata Awan lagi,


JEDUG!


Queen yang kaget malah membenturkan jidatnya ke jidat Awan sehingga Awan terjungkal ke belakang,


"Adaw ...!!! Sakit, woy !" protes Awan sambil mengusap-usap keningnya.


"Uhuhuhu ..., Queen juga sakit, tau ...," rengek Queen sambil mengusap-usap keningnya dengan rambut keritingnya.


"Lagian, ngapain kamu tiba-tiba bangun, haduh!" keluh Awan.


"Soalnya kamu tuh bikin kaget dan bikin iri!! Bisa-bisanya udah ditawarin gabung sama perusahaan Daddy Alan. Tunggu, apa ini karena ayah kamu udah dianggap adik kandung sekaligus kamu deket sama Sera, hemm ...," selidik Queen.


Awan terdiam sejenak lalu malah tertawa,


"Ahahaha ..., Awan gitu, loh," katanya malah menyombongkan diri,


"Ih, makin nyebelin nih anak satu!!!!" ucap Queen kesal lalu hendak mencubit Awan, tetapi Awan segera menghindar,


"Wee ..., kejar aku kalau bisa!" tantang Awan lalu segera beranjak dan berlari mundur.


"Ih, mancing gue lu ya?!" kata Queen tak terima dan langsung loncat sejauh-jauhnya untuk bisa mencapai Awan dan,


Gedubrak!


Kini Queen mendarat di atas tubuh Awan, kedua tangannya mengurung tubuh Awan dan bibirnya menimpa bibir Awan. Awan langsung melotot mendapatinya, siapa sangka hal seperti ini bisa terjadi.


Queen yang menyadarinya langsung bangun, tetapi lututnya malah menekan tulang kering Awan,


"Adawww ...!!!" rintih Awan.


"Ih ...., Apa yang terjadi barusan? Ugh!" Queen segera mengusap-usap bibirnya kasar.


Awan bangun sambil mengusap tulang keringnya dan memegangi bibirnya lalu memandangi Queen,


"Ih, Awan ..., Maafkan Queen, Maaf ..., Queen gak sengaja. Sumpah!" kata Queen merasa bersalah, tetapi Awan hanya diam saja. Ia menatap Queen dengan sedih.


Queen yang merasakan kesedihan Awan jadi makin merasa bersalah. Ia lalu mendekati Awan dan menyentuh lembut pipinya,


"Awan, maaf, Queen gak sengaja, maafkan Queen," pinta Queen.


Awan tidak jawab apa-apa dan malah memeluk Queen,


"Awan? Ada apa? Kenapa Awan memeluk Queen?" tanya Queen kebingungan.


"Aku mencintaimu, Queen, rasanya aku ingin menciummu sepuasnya, tetapi hubungan kita yang hanya teman mencegahku untuk melakukannya. Aku tidak mau menyakitimu," teriak Awan di dalam hati. Pelukannya semakin erat,


"Baiklah, baiklah ..., Queen akan memelukmu, tenanglah dan maafkan Queen," ucap Queen lembut sambil mengusap-usap punggung Awan lembut.


*


Beberapa Minggu kemudian,


Setelah mengikuti persidangan atas kasusnya dan setelah Tuan Levi, papanya berhasil menebus dirinya pada kepolisian, Galang memutuskan untuk pergi ke Rabbit Cafe milik Teguh, ayahnya Bianca di Bandung.


Baginya berinteraksi dengan para kelinci di sana selalu bisa membuat hatinya lebih tenang. Ia mendekati seekor kelinci anggora berbulu cokelat yang sedang berdiam diri, entah apa yang sedang diperhatikan sang kelinci.


"Hai, Ronaldo ...," sapa Galang. Ia tidak lupa kalau nama kelinci itu adalah Ronaldo. Galang lalu duduk bersila di samping kelinci itu, lalu mengelus kepala hingga tubuhnya dan membawanya ke pangkuannya.


"Ronaldo, lu mau, gak denger curhatan gue?" tanya Galang sambil terus mengelus tubuh Ronaldo. Ronaldo lalu memutar tubuhnya dan melompat-lompat di atas pangkuan Galang,


"Apa? Lu mau gue gendong? Sini," Galang lalu menggendong kelinci itu. Ronaldo akhirnya tenang di dalam dekapan Galang,


"Thanks ya, lu mau dengerin gue, uhm ...," Galang bergumam, ia bingung harus mulai darimana.


"Lu pernah jatuh cinta,gak?" tanya Galang lalu ia malah terkekeh,


"Dasar bodoh, mana bisa lu jawab, ya ...," katanya malah menertawakan dirinya,


"Hah ..., Gue gak ngerti, gue gak paham sama diri gue. Gue begitu cinta sama Queen, tetapi Queen malah benci gue. Lu kenal sama Queen gak? Majikan lu, kan sahabatnya," tanya Galang, tetapi Ronaldo hanya diam saja,

__ADS_1


"Gue yang salah. Gak bisa ngendaliin emosi gue. Gue benci sama Ryu, dia dengan begitu mudahnya menyia-nyiakan cinta Queen dan menyakitinya. Gue mau balas dendam sama Ryu, supaya dia tau rasanya disakitin, tetapi gue salah ....,"


"Gue kira Ryu sama lemahnya kayak si curut, tetapi dia kuat banget. Bahkan Gibran udah gak berpihak sama gue, gue sendirian sekarang," katanya mencurahkan isi hatinya,


"Gue juga bodoh ...," katanya tiba-tiba,


"Gue teralu gegabah. Kalau gue gak gegabah, mungkin piala kemenangan atas tim basket bisa gue sentuh sekarang, tapi Papa memutuskan untuk mengirim gue ke luar negri. Gue diasingkan dan dibuang sama bokap gue ..., Hah, gue menyedihkan, ya? Hiks!" isak Galang.


"Dasar lebay!" celetuk seorang gadis dari belakang Galang, Galang lalu membalikkan badannya, di saat yang bersamaan, Ronaldo langsung loncat dari pelukan Galang dan kembali bermain bersama kelinci lainnya.


Galang terbelalak dengan kehadiran gadis itu. Ia segera menghapus bulir air matanya yang sempat menetes tadi,


"Bi?? Lu__, sejak kapan lu ada di belakang gue?" tanya Galang kikuk. Ia malu jika ada yang tahu kalau dia bisa menangis.


"Sejak tadi, sejak lu duduk bersila, hihi ...," tawa Bianca


"Ugh, sial!" umpat Galang sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Gadis itu lalu duduk bersimpuh di sebelahnya,


"Nih," Bianca mengulurkan sebatang cokelat,


"Untuk apa?" tanya Galang.


"Supaya jadi enjoy. Lu mau pisah,kan sama kita semua," kata Bianca.


Galang memandang cokelat itu, lalu menerimanya dengan ragu-ragu,


"Thanks ...," ucap Galang lalu langsung memakan cokelat itu.


"Jadi, lu mau dikirim ke mana?" tanya Bianca sambil memakan coklat miliknya.


"Ke Berlin. Bulan depan," jawab Galang.


"Lu gak nolak aja, entar kalo gue kangen gimana?" tanya Bianca, Galang langsung menoleh cepat,


"Kangen? Asbun aja lu!" kekeh Galang lalu mengunyah coklatnya lagi.


"Lagian, lu,kan sahabatnya Queen, kok bisa-bisanya kangenin gue?" kekeh Galang lagi.


"Ya, bisa aja. Masalah lu,kan sama Queen, bukan sama gue,"


"Gue udah mau bunuh Ryu, lu tetep gak masalah?" tanya Galang.


Bianca menoleh dan memandang Galang. Ia berpikir sejenak,


Galang mengalihkan pandangannya ke langit-langit ruangan,


"Itu masalahnya dan sungguh menyebalkan. Kenapa dia gak bales aja? Cara seperti itu membuat gue terkesan sungguh sangat jahat," kata Galang lagi.


"Emang lu jahat," celetuk Bianca yang berhasil membuat Galang menatapnya sinis,


"Sialan lu!" umpat Galang,


"Pft ..., Baper, ih ...," ledek Bianca.


"Berisik!" sahut Galang kesal.


"Tapi, Galang, kalo lu menyesal, berarti lu gak jahat. Menyesal dan memperbaiki," kata Bianca lagi.


Galang lalu melirik ke arah Bianca dan memandangnya diam-diam,


"Mungkin gak, Queen bakalan cinta sama gue?" tanya Galang.


"Gak mungkin," jawab Bianca jujur.


"Udah, diem aja lu!" kata Galang jadi ngambek.


"Eh, beneran, selera Queen itu tinggi. Dia melihat dari segala aspek untuk jatuh cinta. Apalagi kalau menghadapi bokapnya, hiih .., paling ngeri ...," kata Bianca lagi.


"Jadi maksud lu, Ryu itu sempurna?" tanya Galang.


"Iya, dia sempurna, sangat sempurna sampai-sampai sulit menandinginya," jawab Bianca.


"Ugh, gue emang bener-bener sial!!" umpat Galang merutuki dirinya sendiri.


"Kasihan banget, sih lu jadi orang, hahaha ...," ledek Bianca.


"Diem gak lu!! Kalau buka mulut, gue cium bibir lu!" ancam Galang. Bianca langsung menutup mulutnya,


"Heh, awas lu berani-berani cium gue, bisa hilang masa depan lu!" ancam Bianca tak mau kalah.


Galang langsung bisa mengerti,


"Heh, sini lu!!" bentak Galang kesal, Bianca buru-buru bangkit,


"Waa ..., Ayah, Galang nakal !!" teriak Bianca mengadu sambil lari, kabur dari seorang Galang.


"Dasar!" gumam Galang sambil tersenyum lalu bangkit dan mengejar Bianca.

__ADS_1


***


Di sisi lain,


Liza memonyongkan bibirnya sambil melipat tangannya, sedangkan Gibran yang sedang memeriksa barangnya yang akan dibawa ke luar negri malah tersenyum. Ia lalu mendekati Liza yang duduk di atasa tempat tidurnya dan malah mencubit bibir monyong Liza,


"Ugh, Eben ngeselin!" kata Liza makin ngambek.


"Hey, kamu kenapa? Kenapa malah manyun, sih? Kucium juga, loh!" ledek Gibran.


"Ugh!" Liza segera menormalkan bibirnya.


Gibran langsung memeluk Liza untuk melunakkannya,


"Ada apa, sih Lizaku? Kenapa kamu cemberut, aku sedih loh kalo kamu sedih," goda Gibran lalu mencolek ujung hidung Liza,


"Dasar manusia gak peka!" gerutu Liza tak melunak dengan sikap manis Gibran.


"Hadeh," Gibran kesal sendiri dan melepas pelukannya,


"Oke aku gak peka, kalo gitu kasih tau, kenapa kamu sedih?" tanya Gibran.


Liza malah semakin sedih,


"Hwaa ..., kenapa Eben harus ikutan keluar negri bareng kak Galang? Gimana Liza? Liza LDR-an dong sama Eben, huhuhu," rengek Liza.


Gibran terdiam. Ia berpikir bagaimana harus menjelaskannya pada Liza. Kedua orangtuanya memintanya mendampingi saudara kembarnya yang dikirim ke luar negri agar tidak berbuat hal buruk lagi.


"Maafkan aku, Liza, tetapi ini permintaan Mama dan Papa. Aku juga tidak ingin saudara kembarku di sana sendirian, makanya ...,"


"Kalau gitu kita putus aja!" potong Liza.


"Apa? Putus? Kenapa__,"


Liza langsung memeluk Gibran sangat erat,


"Liza juga gak mau putus, tapi itu syarat untuk bergabung dengan perusahaan entertainment Daddy Alan, hiks!" isak Liza.


Gibran terdiam berusaha mencerna,


"Bagaimana menurut Eben? Apa Liza teralu egois? Apa Liza teralu__,"


Gibran menarik wajah Liza dan mencium bibirnya. Liza salah tingkah. Ia mencengkram kedua lengan Gibran, tetapi Gibran malah mendorongnya hingga telentang di atas tempat tidurnya. Entah apa yang dipikirkan Gibran. Ia mencium kekasihnya itu secara membabi buta. Tanpa ia sadari air matanya menetes.


"Hah!" Gibran terengah-engah karena teralu bersemangat, begitu juga Liza. Namun wajah Gibran kini sudah basah dengan air mata,


"Eben, Eben kok nangis?" tanya Liza.


"Karena aku sangat tidak ingin putus darimu, tetapi aku juga tidak mau menghalangi impianmu, makanya ingatlah bahwa aku mencintaimu. Aku akan kembali di saat syarat itu sudah tidak melekat lagi padamu," ucap Gibran lagi.


"Eben, Aku juga mencintaimu!" ungkap Liza lalu memeluk kekasihnya.


*


Di sisi lain,


Setelah kejadian yang tak disangka dengan Awan, akhirnya Queen pulang ke rumahnya. Ia memandang buku jurnalnya yang berisikan segala keinginannya. Satu per satu dapat dicapainya. Dari sekian banyaknya impiannya hanya satu yang masih belum ia capai yaitu mendapatkan hati Ryuuji Rahyudi.


"Ryu sudah kembali ke Jepang. Ryu bilang, aku harus fokus pada karirku, maka dari itu aku akan melakukannya, aku akan menyatakan cintaku lagi saat itu Ryu, bersiap-siaplah," gumam Queen sambil tersenyum.


Namun matanya tiba-tiba teralihkan pada tulisannya sendiri yang berbunyi,


"Mengetahui isi hati Awan,"


Queen membaca tulisan itu dan ia teringat kejadian di rumah Awan tadi. Reaksi Awan begitu aneh.


"Aku mencintaimu!"


Tiba-tiba terngiang suara Awan waktu itu. Queen segera menggeleng-gelengkan kepalanya,


"Tidak, itu ungkapannya pada kami semua, jangan berpikir teralu jauh, Queen," sangkalnya.


"Awan mencintaiku seperti ia mencintai Sera, Liza dan Bi. Fokuslah pada Ryu, Queen, karena jika kamu fokus, maka apa yang kamu inginkan pasti akan kamu dapatkan," ucap Queen.


-The End-


Eh? Tamat? beneran tamat?


Ya iyalah, beneran.


Ceritanya udahan dulu sampai sini, ya.


Nanti akan ada season 2-nya di novel yang tidak terpisah dalam kurun waktu satu bulan ke depan. jadi masih lanjut ya.


Semoga gak kelamaan nunggunya. ehehe


Terimakasih para pembaca setia yang sudah mengikuti cerita ini dari awal.


Love you All

__ADS_1


__ADS_2