I Love You Queen

I Love You Queen
S2: Awan yang Manja


__ADS_3

"Uhm, Awan ... Aku panaskan dulu buburnya. Aku akan segera kembali, ya!" sahut Queen hendak berdiri, tetapi Awan langsung meraih tangan Queen seraya menatapnya lekat-lekat.


"Queen ..." lirih Awan dengan suara yang begitu mendalam dengan pupil mata yang membesar. Sontak pundak Queen naik, debaran di dadanya semakin menjadi-jadi, membuat darah di sekujur tubuhnya mendidih. Ada yang aneh dengan Awan! Terutama caranya menatap Queen. Pasti ada yang tidak beres!


"A-awan ... Kamu harus makan agar bisa minum obat—" Awan malah menggoyangkan tangan Queen pelan sambil mengerucutkan bibirnya.


"Jangan pergi. Tetap di sini," pinta Awan. Queen menelan salivanya. Kini matanya malah tertuju pada bibir merah muda Awan yang mengerucut. "Ya ampun, sejak kapan bibir Awan terlihat begitu imut! Rasanya ingin aku cium—" Mata Queen melotot saat pijiran seperti itu malah muncul dalam benaknya "Queen! Kamu sudah benar-benar gila! Jangan menodai Awan yang manis dan polos ini!" rutuk Queen pada diri sendiri. Queen langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia meletakkan mangkok bubur Awan di meja depan sofa.


"Awan, jangan begini. Bekerja samalah! Aku ingin meringankan rasa sakitmu. Jadi kamu harus makan, oke?" bujuk Queen lagi. Awan yang masih mengerucutkan bibirnya malah memalingkan pandangannya.


Queen hanya bisa menghela napas mendapati tingkah kekanak-kanakan Awan. Ini pertama kalinya Awan bertingkah seperti ini. Biasanya di situasi seperti ini, Awan akan bersikap lebih bijak dan dewasa. Ia hanya akan bertingkah kekakank-kanakan jika dibully oleh Liza dan Bianca. Atau, mungkinkah ini efek sakitnya? Queen memanfaatkan momen itu untuk melepaskan genggaman Awan dari tangannya. Awan pun menoleh.


"Awan, Aku panaskan dulu buburmu, ya. Aku akan kembali sebentar lagi," izin Queen, tetapi Awan sama sekali tidak menggubrisnya. Queen pun terpaksa meninggalkan Awan sejenak. Pria itu bersandar sambil memegangi kantong kompres di perutnya kemudian meringkuk.


"Kenapa Queen memilih meninggalkanku? Padahal makan bubur yang dingin juga tidak apa-apa," gerutunya yang masih cemberut. Toh, jika masuk perut, bubur itu juga akan jadi hangat.


"Awan ..." Queen kembali, membuat atensi Awan beralih. Ia masih mengerucutkan mulutnya seraya menoleh ke arah Queen.


Queen duduk di sampingnya sembari membawa mangkok bubur yang sudah kembali hangat.


"Maaf, ya. Sini, aku suapi kamu, ya ..." ucap Queen lembut yang mamou menciptakan lengkungan ke atas di wajah Awan. Pria berwajah manis itu langsung menegakkan tubuhnya dengab mata yang berbinar. "Benarkah?" sahutnya girang.


Queen tersenyum sambil mencubit ujung hidung Awan dengan gemas.


"Iyalah. Sini, mendekat, buburnya masih agak panas," ujar Queen dengan senyum lebarnya kemudian mulai mengambil 1 sendok bubur di mangkok. Awan pun mendekat seraya menatap Queen yang sibuk mendinginkan bubur di sendok. Diam-diam Pria itu tersenyum.


"Kamu cantik ..." ucap Awan yang langsung terhenyak. "Ya ampun, kenapa aku malah bersuara?" paniknya sembari menatap wajah Queen yang kini juga kaget. Awan tidak visa memungkiri bahwa wajah wanuta di depannya memerah.


"Uhm, bu-buka mulutmu!" titah Queen sambil memalingkan wajahnya. Awan yang jantungnya juga berdegup kencang langsung melahap bubur di sendok yang disodorkan oleh Queen. Sontak rasa panas malah membakar rongga mulut Awan.


"Pwanass!" panik Awan sambil membuja mulutnya. Queen buru-buru meletakkan mangkok bubur Awan dan mengambil air di gelas.

__ADS_1


"Ini, minum!" sodor Queen, Awan langsung menerimanya dan meminum air itu. Ia langsung menelan bubur oanas di mulutnya.


"Duuh, Harusnya kamu periksa dulu, suhunya udah pas belum, jangan langsung dimakan gitu aja ... Nanti mulut kamu luka gimana?" Queen reflek menyentuh bibir bawah Awan dan memaksa membuka mulut Pria itu dengan ibu jarinya.


"Qwenh ... Kwamhu ngwaphain (Queen, kamu ngapain)?" tanya Awan.


Queen malah menajamkan penglihatannua le dalam mulut Awan.


"Diam, aku lagi periksa, apa bubur panas tadi melukai mulutmu!" serius Queen.


"Nanti kalau kamu sariawan, penderitaan kamu dobel-dobel!" omel Queen lagi. Awan diam-dian tersenyum. Wanita ini ternyata mengkhawatirkannya, tetapi itu semua tidak ada artinya bagi Awan jika Queen hanya menganggap dirinya teman atau penyelamatnya saja.


Queen pun melepas ibu jarinya dari mulut Awan.


"Mungkin efeknya belum muncul," ujar Queen lalu memicingkan matanya.


"Nanti, kalau sariawan, bilang padaku. Aku akan membelikan obat untukmu!" ujar Queen memperingatkan. Awan hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Sekarang aku akan menyuapimu. Kamu harus menghabiskan makanannmu, ya ... Baru bisa minum obat," cicit Queen. Awan hanya mengangguk saja sambil memandangi wajah cantik Queen yang mulai cerewet ini.


***


Beberapa saat kemudian, setelah minum obat, Awan malah mengantuk dan sekarang tertidur. Kini Awan tertidur di kamarnya, sementara Queen menggenggam tangan Pria itu. Tadi Awan memaksa Queen agar terus berada di sampingnya. Alhasil, kini Queen hanya sibuk memandangi wajah polos Awan yang sedang tertidur.


Queen tertegun saat matanya tak sengaja malah fokus ke bulu mata Awan yang ternyata cukup panjang dan berwarna cokelat. Jari lentik Queen iseng menyentuh bulu mata panjang nan lembut milik Pria itu.


"Ya ampun, padahal kita sudah berteman selama lima belas tahun lamanya, tetapi aku baru sadar kalau kamu setampan ini," gumam Queen, kemudian jarinya mulai menyentuh alis Awan yang hampir menyatu itu dan ternyata juga berwarna cokelat.


"Alis ini juga tebal, jadi kalau dilihat dari jauh seperti warna hitam ... Ternyata warnanya cokelat," komentar Queen kemudian kembali menatap wajah polos Awan. Kini perhatiannya malah tertuju pada mulut Awan yang setengah terbuka.


Queen menelan salivanya. Bibir merah muda Awan terlihat begitu lembab, mungkinkah Pria ini memakai lip balm? Agak tidak wajar, seseorang yang sedang sakit memiliki bibir lembab seperti itu. Tanpa sadar, ibu jari Queen malah menyentuh bibir bawah Pria yang kini sedang tertidur di depannya. Ia tersenyum.

__ADS_1


"Lembut ..." ucap Queen kemudian malah mencicipi ibu jarinya yang tadi menyentuh bibir Awan.


"Ya ampun, dia benar-benar memakai lip balm rasa strawberry!" seru Queen yang langsung terkesiap ketika mendapati mata Awan yang terbuka lebar seraya menatap lurus ke arahnya.


"A-awan ... Apa aku terlalu berisik?" panik Queen. Apakah Awan menyadari apa yang Queen lakukan dari tadi? Jika iya, maka apa yang dipikirkan Pria ini?


Awan pun langsung mendudukan tubuhnya tanpa melepas pandangannya pada wanita dihadapannya itu. Queen yang dari tadi tanganbya digenggam oleh Awan jadi ikut berdiri.


"A-awan—" Sontak Awan malah menarik tangan Queen hingga terduduk di samping Awan. Seketika jantung Queen berhenti sesaat. Ia langsung mengangkat kepalanya dan menatap wajah Awan.


"A-awan ... Ada apa?" panik Queen seraya meneteskan peluh di pelipisnya.


Awan bergeming. Tangan besarnya kemudian menyentuh pipi Queen dengan lembut seraya menatap wanita itu lamat-lamat.


"Queen, aku tidak tahan lagi," tutur Awan yang membuat kedua bola mata Queen membulat.


"Ti-tidak tahan? A-apa maksudmu, Awan?" bingung Queen.


Awan menarik napas dalam-dalam.


"Jawab aku dengan jujur," pinta Awan sama sekali tak menjawab pertanyaan Queen.


Queen pun mengangguk. Toh, tidak ada rahasia di antara mereka.


"Bagimu, Apakah aku seorang Pria?"


***


Kira-kira apakah Queen akan jawab jujur?


Tunggu next babnya yah!

__ADS_1


__ADS_2