
Queen mendengarkan Ryu bercerita panjang lebar tentang kegiatannya di rumah Liza,
"ya, kami juga menonton film setelah menonton anime."
"film? genrenya?"
Ryu tersenyum,
"romance. Lagi-lagi romance. Soalnya itu genre kesukaan kami berdua, sih...," Kata Ryu yang masih tersenyum.
"genre kesukaan berdua? ugh.., kenapa terdengar Mereke habis romantis-romantisan?" batin Queen.
"tapi sebenarnya ada actionnya juga, sih." kata Ryu.
"Liza kalau nonton film action sangat bersemangat." kata Ryu lagi.
"uhm.., Ryu.., kamu begitu menyukai Liza,ya?" tanya Queen agak kecewa.
"tentu saja. Dia anak yang manis. Aku menyukainya." Jawab Ryu.
Deg !
Mendengar itu rasanya jantung Queen seperti diremas.
"beberapa bulan terakhir ini, aku juga banyak berkomunikasi dengannya. Dia orang yang sangat ceria, ngobrol sama dia malah bisa menaikkan mood-ku." kata Ryu.
Queen mulai khawatir,
"bagaimana jika Ryu nantinya menolakku dan mengatakan dia menyukai Liza? atau jika Liza yang menang, Ryu langsung menerima pernyataan cinta Liza?? Bisakah aku menerima ini??" batin Queen.
"oh,iya, setelah itu kami bikin cookies. Liza bilang ia membuatnya untukmu." kata Ryu lagi.
"cookies?"
"iya, ada juga buatanku untukmu. Kamu harus makan,ya. Kami sudah buat sepenuh hati, loh..," kata Ryu.
"se, sepenuh hati?" Langsung terlukis senyuman lebar di wajah Queen.
"iya. Kata Liza harusnya Queen juga menikmati kebersamaan tadi."
Dahi Queen langsung mengkerut,
"kebersamaan?"
"ugh.., aku kok kesel dengernya???" gerutu Queen dalam hati.
"iya, mungkin kita bisa bersenang-senang bersama lain kali..., loh Queen?"
Queen tiba-tiba berdiri,
"aku mau balik. Selamat malam. dan selamat tidur." kata Queen lalu keluar.
Ryu hanya memandang kepergian Queen heran, Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya,
__ADS_1
"Apakah aku boleh menganggap ini tanda cemburu?" gumamnya.
"pft.., dasar, Queen..," kata Ryu lalu tidur.
*
Keesokan harinya, Di rumah Keluarga Utama,
Seperti biasa, keluarga ini tidak pernah melewatkan sarapan karena itu adalah aturan Iskandar. Bahkan Ryu jadi selalu ikut sarapan karena aturan ini.
Dahi Iskandar mengkerut begitu menemukan Putrinya cemberut,
"My Queen, kenapa kamu memasang wajah masam di pagi hari yang cerah begini?" tanya Iskandar.
"hah? Wajah Masam?" tanya Queen lalu langsung memasang senyum,
"No, Pa. Queen tersenyum, kok." katanya.
Hal itu tak luput dari pandangan Ryu, Ia menghela napas.
"Kamu tahu sesuatu Ryu?" tanya Sultan yang tak pernah melepas pandangannya dari Ryu.
"Tidak tahu. Hanya Queen yang tahu." kata Ryu sambil memandang Queen. Queen langsung membuang mukanya.
"sepertinya kalian bertengkar?" tebak Rin.
"Tidak.., Ma..," Kata Queen lalu memandang Ryu sinis.
"Yah.., apapun masalah kalian, selesaikanlah. Jangan marah berlarut-larut..," kata Iskandar.
"oh, iya.., kamu mau ke pertemuan itu,ya...," kata Iskandar.
"ya, itu cuman pertemuan komunitas, sih, Pa.., Tapi Ryu belum pernah datang, jadi mumpung pertemuannya dekat sini...,"
"yah, boleh saja." kata Iskandar.
Tiba-tiba muncul sebuah ide di benak Rin,
"ehm.., uhm.., Ryu.., Acaranya sampai jam berapa?" tanya Rin.
"sampai jam dua siang, Ma..," kata Ryu.
Rin langsung tersenyum,
"Nanti sekalian jemput Queen,ya.., dia pulang jam tiga. Papanya tidak mengizinkan dia bawa mobil atau motor, jadi kasihan,kan panas-panasan dan dempet-dempetan di Kendaraan umum...," kata Rin lalu mengedipkan matanya ke arah Queen.
Iskandar langsung menatap istrinya sinis,
"tapi ingat, loh.., langsung pulang..," kata Rin buru-buru.
Ryu tersenyum,
"ya, oke. Nanti Ryu jemput Queen." kata Ryu sambil memandang Queen. Queen masih saja membuang mukanya.
__ADS_1
"ya sudah. Semoga hari kalian baik hari ini." kata Iskandar.
*
Sementara itu, di kediaman Romero,
Galang dan Gibran menikmati sarapan bersama kedua orangtuanya. Tidak seperti biasanya, Levi bisa ikut sarapan bersama mereka.
"akhirnya Papa bisa ikut sarapan...," kata Amara kesenangan sendiri.
Galang dan Gibran tersenyum menanggapi ibunya,
"Untungnya Papa agak lenggang kali ini. Jadi bisa sarapan dengan keluarga kecil Papa...," kata Levi menimpali istrinya.
"Bagus, Pa. Asal Papa tahu, sarapan itu penting loh, Pa buat konsentrasi. Jangan gara-gara sibuk, sarapan dilewatin. Papa,kan banyak yang harus diurusin, Jangan nanti konsentrasi Papa jadi buyar dan bisa ditipu-tipu...," kata Amara.
"Ya ampun, Ma.., lebay amat. Gak sampe segitunya, lah..," kata Galang.
"Enggak, Lang, Itu bisa aja terjadi. Mama hanya antisipasi. Papa juga harus dengerin Mama." kata Gibran mendukung ibunya.
"ugh.., emang anak kesayangan...," batin Amara.
"oh,iya, Papa jadi ingat, Papa Idho tadi bilang putrinya mengadakan acara kumpul-kumpul anaknya serta anak rekanan bisnisnya. Alangkah baiknya kalian juga ikut untuk mempererat hubungan...," kata Levi.
Dahi Amara langsung mengkerut,
"putrinya? Si Liza itu?" tanya Amara agak tidak nyaman.
"sudahlah, Ma...," kata Levi.
Gibran hanya garuk-garuk kepala, ia mana mau membahas tentang Liza lagi.
"Pa, anak rekanan bisnis Papa Idho itu yang waktu itu datang di acara kemarin?" tanya Galang.
"ya.., hampir semuanya." kata Levi bersemangat karena pertanyaan Galang.
"oke, Galang akan hadir." kata Galang sambil tersenyum lebar.
"hah? kamu mau hadir Galang???" tanya Gibran.
"Kamu yakin Galang? Putrinya Papa Idho itu__,"
"Ma.., sudahlah...," kata Levi.
Galang memicingkan matanya, ia merasa ada yang tidak dia ketahui.
"Gibran, kamu juga ikut,ya." Titah Levi.
"ah.., uhmm..,"
Galang yang duduk di sebelah Gibran langsung merangkulnya,
"pasti, Pa. Gibran pasti ikut." kata Galang.
__ADS_1
"aduh.., harus banget ketemu cewek galak itu lagi?" batin Gibran.
*