I Love You Queen

I Love You Queen
S2: Salah Ucap


__ADS_3

Galang masuk ke dalam dan mencari keberadaan Sang Kekasih. Gara-gara pertanyaan Queen, tiba-tiba ia teringat dengan Bianca dan entah kenapa rasanya ia ingin melahap kekasihnya itu.


"Gue udah gila kalau gini caranya ..." gumamnya dengan wajah yang memerah seolah ada hasrat tak tertahankan dari dalam dirinya, tetapi Galang masih berusaha mengendalikan diri dengan akal sehatnya. Ia sangat mencintai Bianca, sehingga tidak mau membuat wanita itu membencinya.


"Bianca!" panggil Galang, tetapi tidak ada yang menyahut.


Setelah beres mandi tadi, Galang memang sempat bertemu dengan Bianca yang habis belanja bahan-bahan kue. Namun, belum semoat ia bertanya apa yang akan dilakukan kekasihnya, ia keburu disuruh menemani Queen.


"Apa dia bersama Ayah?" gumam Galang yang agak kecewa, karena jika kekasihnya sedang bersama Ayah Teguh, maka ia tidak bisa melakukan apa-apa selain memuji Sang Kekasih.


"Kenapa Bi tidak meyahut? Menyebalkan—" Tiba-tiba ia mencium aroma wangi vanilla dan mentega yang dipanggang. Galang langsung bisa menebak dimana keberadaan Sang Kekasih. Ia pun mempercepat langkahnya.


Sementara di dapur, perempuan dengan rambut panjang yamg dikepang hingga mata kaki sedang menunggu kue buatannya matang sempurna. Ia tidak sabar menanti ekspresi kekasihnya yang menikmati ezatnya kue bikinannya.


"Galang pasti suka kue buatan—" Tiba-tiba pinggang ditarik oleh seseorang, hingga membuat atensinya beralih. Namun ia segera tahu siapa pelakunya.


"Galang! Lepaskan aku!" pinta Bianca lembut pada Sang Pacar, tetapi Galang sama sekali tak menurut dan malam menenggelamkan wajahnya di celuk leher Bianca. Wanita 20 tahun itu pun panik. Ia sangat berkeringat saat ini karena habis memasak.


"Galang, jangan! Aku berkeringat!" ujar Bianca, ia akan sangat malu kalau memberokan kesan burum pada kekasihnya ini.


"Tidak apa-apa. Aku suka bau tubuhmu yang asli," ujar Galang malah menyentuh leher Bianca lembut dengan bibirnya.


"Galang, please, aku ..." Bianca tak dapat memungkiri, sensasi akibat ulah Galang menimbulkan percikan-percikan aneh dalam dirinya, tetapi ia suka perasaan itu.


"Aku merindukanmu, dan aku ..." Galang menghentikan aksinya sambil menarik wajah Bianca agar menghadap wajahnya.


"I wanna eat you!" Sontak mata Bianca melotot dan tepat pada saat itu Galang melahap bibir wanitanya. Awalnya Bianca meronta karena teringat kuenya yang sedang ia panggang, tetapi Galang tak peduli dan malah memperdalam aksinya, membuat Bianca akhirnya menyerah dan menerima aksi bibir kekasihnya.


Wanita 20 tahun itu bahkan memutar tubuhnya hingga membuat Galang semakin mudah melancarkan permainan bibirnya. Galang pun mengikis jarak di antara mereka berdua dengan memeluk erat tubuh Sang Kekasih, begitu juga Bianca yang memeluk tubuh prianya. Mereka berdua kalut dan sama-sama tenggelam dalam keromantisan.


"Hm ... Bau apa ini— Oh, ya ampun!" Sayang, Queen yang juga terpancing dengan aroma kue malah pergi ke dapur dan melihat sahabatnya sedang bercumbu mesra. Sontak Galang dan Bianca menghentikan kemesraan mereka dan malah sama-sama kikuk.


"Ehm, kenapa lu datang, Queen?" protes Galang.


Sementara Queen yang menutup matanya karena malu hanya bisa mengomel.


"Ugh, menyebalkan. Aku tahu, aku akan pergi. Tapi jangan lupa, aku juga mau kuenya!" sahut Queen kesal kemudian pergi meninggalkan dapur.


Kini tinggal Galang dan Bianca berduaan saja. Galang pun menatap nakal ke arah pacarnya.


"Lanjut?" tanya Galang.


Bianca malah mencolek hidung Galang.


"Dasar!" Bianca pun malah melanjutkan kegiatannya di dapur. Galanh hanya bisa menghela napas pasrah.

__ADS_1


***


Hembusan angin malam mulai menusuk kulit Awan yang kini seeang memandang gedung-gedung tinggi dari balkon gedung ANT Entertainment. Setelah berlatih untuk music video terbaru, akhirnya ia memiliki waktu istirahat di pagi buta begini. Seharusnya ia menggunakannya untuk tidur, tetapi rasa rindunya pada Sang Pujaan Hati, malah membuatnya melamun di balkon sendirian.


Awab kembali memandang ponselnya. Di pagi buta begini, mustahil seorang Queen sudah bangun. Padahal Awan hanya ingin mendengar suara Queen. Namun kehidupannya bukan anak SMA yang bisa bermanja-manja seperti dulu. Ia harus benar-benar serius untuk meniti karirnya di dunia entertain ini.


Awan pun membuka ruang obrolannya dengan Queen dan menekan pesan audio seraya memandang kelap-kelip daeinlampu-lampu gedung.


"Queen, Awan kangen banget sama Queen ..."


"Queen gimana kabarnya?"


"Maaf, ya Queen. Di saat Queen butuh seseorang, Awan gak bisa hadir buat Queen seperti dulu. Awan gak bisa lagi jadi pelindung Queen ..."


"Queen ... Eh?" Awan baru tersadar bahwa sejak tadi ia mereka semua ucapannya dan sudah terkirim di ruang obrolan. Awan pun panik dan bingung harus melakukan apa.


"Hapus, ya hap—" Belum sempat ia menghapus pesan audionya, tiba-tiba masuk sebuah panggilam dari Queen.


"Ya ampun, Apa Queen sudah bangun?" sesalnya yang terpaksa mengangkat telepon dari sahabatnya itu.


Awan :"Halo—"


Queen :"Awan! I miss you, too, but ..."


Tiba-tiba suara Queen terdengar ragu, membuat Awan penasaran.


Queen :"Awan, kamu harus tanggung jawab!" seru Queen yang nada bicaranya jadi agak ketus.


Awan :"Ta-tanggung jawab? Buat apa?" bingung Awan. Seingatnya, dia tidak melakukan kesalahan apapun pada perempuan ini, kecuali mencuri ciumannya saat tertidur tempo hari.


Queen :"Akhir-akhir ini, aku sering memikirkanmu. Aku juga merindukanmu. Apakah kamu begitu sibuk sampai tidak bisa menghubungiku?"


"Queen memikirkanku? Maksudnya apa? Apa dia merindukanku sebagai laki-laki atau sahabat?" gumam Awan dalam hati. Mungkin kah ia mendapat lampu hijau dari seorang Queen?


Awan :" Kenapa kamu memikirkanku, Queen?"


Queen :"Salahku juga karena aku sekarang menginap di rumah Bi dan di sini juga ada Kak Galang," lapor Queen


Awan :"Lalu?"


Queen :"Mereka terus saja bermesraan dan entah kenapa aku selalu memerhoki mereka. Oh, ya ampun! Bikin aku pusing dan tidak bisa tidur!" keluh Queen.


Namun Awan malah tertawa, ternyata seorang Queen sedang iri.


Awan :"Nasib jomlo, Queen. Terima saja dan anggap tidak ada apa-apa, hahaha!"

__ADS_1


Queen :"Dasar! Kenapa kamu malah tertawa, Awan? Kamu berada di pihak mereka, ha?" kesal Queen yang sama sekali tidak mendapatkan pembelaan.


Awan:"Lalu apa maumu?" tanya Awan yang masih berusaha mengerem tawanya.


Queen di seberang sama berdehem.


Queen:"Begini, Awan ... Kamu bilang, kamu tidak bisa menjadi pelindungku lagi 'kan?"


Awan tertegun, ternyata Queen telah mendengarkan pesan audionya hingga akhir.


Awan:"Y-ya, Lalu?"


Queen :"Dan kamu sadar tidak, meskipun Dua sahabat kita—Sera dan Liza juga terikat kontrak untuk tidak menjalim hubungan spesial, tetapi mereka memiliki orang spesial. Begitu juga Bi di sini ..."


Awan :"Ya, aku sangat tahu itu, Queen. Lalu?" lanjut Awan.


Queen bergumam seolah berpikir bagaimana mengungkapkan kalimat selanjutnya.


Queen:"Yah, pada akhirnya di antara kita berlima hanya ada aku dan kamu yang masih sendirian ..."


Awan tertegun, kemana arah bicara Queen sebenarnya? Mungkin kah hal yang ingin ia dengar selama bertahun-tahun akan terwujud sekarang? Awan bahkan diam-diam mencubit punggung tangannya.


"Aaw ... Sakit! Ini berarti bukan mimpi!" ujarnya dalam hati.


Queen :"Maka seharusnya—"


Awan :"Seharusnya kita pacaran?" potong Awan yang membuat Queen terdiam.


Queen :"Awan! Bu-bukan itu!" omel Queen di aeberang sana yang sekaligus membuat Awan kecewa.


"Ah, betapa bodohnya aku langsung asal tebak!" sesalnya.


Queen :"Seharusnya kita saling menghibur! Lagian, mana mungkin kita pacaran! Kamu 'kan terikat kontrak!" cicit Queen.


Awan malah cengengesan agar perasaannya tidak teralu terpampang.


Awan:"Yah, siapapun akan berpikir begitu 'Kan. Maka dari itu, kamu tahu, kenapa malah bicara seolah menjurus ke sana?" kini Awan yang mengomel.


Queen:"Ugh, kamu ..." Queen benar-benar bingung harus menimpali apa. Sebenarnya perasaannya juga sedang kacau akibat rasa aneh yang timbul akhir-akhir ini.


Queen:"Awan, aku tutup dulu! Kapan-kapan kita bicara lagi, dah!"


Sontak Awan kaget dengan kalimat yang keluar dari mulut Queen. Jelas tadi Queen mau mengatakan sesuatu. Awan pun hanya menghela napas.


"Kayaknya Queen kacau banget. Aku akan menunggu sampai kamu bisa membenahi isi hatimu, Queen. Semoga berhasil," gumam Awan seraya menatap langit pagi buta yang berwarna abu-abu.

__ADS_1


***


Jangan lupa komen, vote dan like nya ya


__ADS_2