I Love You Queen

I Love You Queen
S2 : Wajar kah Merasakan ini?


__ADS_3

Mata Bianca membulat saat Queen menyebut nama Awan. Apakah Awan yang Queen maksud adalah Awan yang baru saja keluar? Lqntas sejak kapan Queen menaruh hati pada lelaki itu? Apa karena Awan menyelamatkannya? Atau justru sebelum itu? Atau sebenarnya dari awal Queen menyukai Awan, tetapi dia salah tafsir dan malah mengejar-ngejar Ryu? Semua pertanyaan mulai memenuhi kepala Bianca. Namun wanita itu malah mematung.


Queen yang melihat reaksi Bianca pun jadi gundah.


"A-apa salah aku merasakan ini, Bi? Ke-kenapa reaksimu begitu?" tanya Queen.


Bianca mengerjapkan matanya.


"Uhm, Gue ... Gue pastiin lagi, Lu barusan bilang kalau lu suka sama Awan itu ... Louigi Awananda Lorenzo?" sahut Bianca yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Queen. Ia ingin memastikan lagi kalau dirinya tak salah dengar. Namun tak perlu waktu lama, Queen menjawabnya dengan anggukan.


Seketika tubuh Bianca terasa lemas. Kabar macam apa ini?


"Te-terus, kamu mulai sadar suka sama Awan dari kapan?" tanya Bianca lagi.


Queen bergumam, ia sendiri juga tidak begitu ingat. Mungkin kah sejak dirinya patah hati karrna pernikahan Ryu? Ia pernah bermimpi jadi istrinya Awan. Namun ia memilih untuk mengendikan bahunya.


"Aku juga gak tahu secara pasti, tetapi akhir-akhir ini aku suka salah tingkah kalau ada di dekat Awan ..." Queen memegangi dadanya.


"Seolah ada yang bergejolak di dalam sini," lanjut Queen lagi.


"Dan ... Aku ... Aku selalu ingin ada di sampingnya," ungkap Queen lagi.


Bianca hanya bisa menghela napas. Ia sungguh bingung mau berkomentar bagaimana. Sejujurnya ia senang Queen sudah bisa melupakan cintanya pada Ryuuji, tetapi kenapa harus pada Awan? Mungkin kah Awan bisa menerima perasaan Queen? Bagaimana jika Awan menolak Queen atas dasar Awan tidak pernah menganggap Queen sebagai wanita.


"Apa aku salah merasakan ini, Bi? Bagaimana menurutmu?" tanya Queen yang pertanyaannya masih belum terjawab.


"Uhm, kalau lu nanya gitu ... Gue cuman bisa kasih saran, pastikan lagi perasaan lu, Queen. Kalau sudah pasti, maka tinggal berjuang. Gue harap yang terbaik buat lu," ujar Bianca. Dia tidak mungkin mematahkan hati Queen dengan mengatakan bahwa Awan akan menolaknya karena tidak pernah dianggap sebagai wanita. Itu akan membuat Queen semakin hancur.


Untungnya Queen tersenyum. Ia mengangguk dengan cepat.

__ADS_1


"Jika aku sudah memastikannya, aku akan mengungkapkannya pada Awan!" ujar Queen bersemangat, kemudian wajah cerahnya berubah jadi pundung.


"Tapi, aku juga harus siap kalau Awan ternyata tidak pernah menganggapku sebagai wanita ..." ucapnya yang membuat Bianca tersentak. Ternyata Queen sendiri sudah sadar akan hal itu. Bianca pun menepuk pundak sahabatnya dengan lembut.


"Jika begitu, maka buat Awan tergoda dengan kecantikan Queen, dong," goda Bianca genit. Sontak wajah Queen langsung memerah.


"Ih, Bi! Apaan, sih? Pikiran kamu kotor, ya!" curiga Queen yang sebenarnya malu dengan otaknya yang mulai berfantasi.


"Siapa yang mikir kotor, lu kali ..." lempar Bianca iseng dan berhasil membuat Queen jadi salah tingkah.


***


Sementara itu, Galang dan Awan sudah duduk manis di dalam mobil. Awan beberapa kali melirik ke arah kaki Galang yang katanya dioperasi sambung tulang. Apa lelaki ini sudah bisa menyetir? Seingatnya ini belum ada 2 bulan Galang menjalani operasi sambung tulang.


"Kenapa?" tanya Galang yang dari tadi tidak merasa nyaman dilirik oleh Awan.


"Uhm, I-itu, kaki kamu baik-baik aja? Bukannya kamu habis operasi sambung tulang?" tanya Awan lagi.


"Iya, kenapa?" tanya Galang lagi.


"Kamu ... Kamu bisa nyetir?" tanya Awan lagi agak ragu. Sontak Galang tertawa.


"Ya enggak lah. Kata dokter minimal empat bulan baru bisa berkegiatan, itu juga gue harus menjalani beberapa pemeriksaan dulu," sahut Galang.


"Terus, kenapa duduk di bangku kemudi? Gak duduk di samping gue di belakang?"


Galang pun menoleh.


"Biar keren!" katanya sambil menunjukkan jempol dan tersenyum bangga. Awan hanya bisa menimpalinya dengan helaan napas. Alasan macam apa itu?

__ADS_1


Galang kembali menghadap ke depan.


"Nanti yang nyetir My Baby Bi, kok," sagut Galang lagi. Awan pun menghela napas lega. Ia kira Galang cukup nekat.


"Gue kalau nekat, diomelin sama Bi. Kuping gue panas rasanya. Untung gue sayang sama Bi," lanjut Galang lagi sambil membayangkan wajah pacarnya. Awan hanya bisa geleng-geleng kepala. Galang sekarang menunjukkan secara nyata hubungannya dengan Bianca. Namun hal itu jadi membuat Awan agak iri.


"Oh, iya, Lu udah nembak Queen, ya? Tadi kayaknya mesra banget pelukannya," sahut Galang tiba-tiba yang memecah lamunan Awan.


"Hah?" Awan malah bingung sendiri. Darimana mesranya?


Galang kembali memutar tubuhnya menghadap Awan yang duduk di belakang.


"Tadi kayaknya Queen juga nyaman gitu pelukan sama lu. Congrats, ya!" seru Galang, padahal belum mendapat klarifikasi apapun dari Awan.


"Tunggu, Galang! Aku dan Queen belum pacaran. aku bahkan belum menyatakan perasaanku," ujar Awan buru-buru meralat kesalahpahaman ini.


Dahi Galang mengernyit.


"Hah? Lu belum nembak dia? Terus tadi kok peluk-pelukan?" selidik Galang.


Awan bergumam, bagaimana menjelaskannya, ya? Hubungan Ia dan Queen memang seperti itu dari dulu. Justru berpelukan bahkan mencium pipi Queen pun tak bisa dianggap mesra karena


Queen tidak pernah menganggapnya sebagai Pria.


"Yah, itu hanya simpati Queen aja. Gak lebih," ujar Awan dengan suara yang makin mengecil. Galang pun tertegun, Ia bisa melihat kekecewaan yang terlukis di wajah Awan. Dia memang bisa dekat dengan Queen bahkan menerima pelukan wanita itu dengan mudah, tetapi seolah ada tembok yang jauh lebih besar dan kokoh agar perasaan Awan yang sebenarnya dapat tersampaikan.


"Lu harus gerak cepet, Wan!" ujar Galang.


"Lu harus menegaskan perasaan lu ke Queen ..." imbuh Galang yang tak tega melihat kekecewaan di wajah Awan yang selalu tersenyum ini.

__ADS_1


Awan malah menghela napas.


"Ya, aku tahu, tapi sebelum itu aku harus memperisapkan diri untuk menghadapi Queen yang menjauhiku jika aku ditolak," ujar Awan pesimis. Galang sendiri tidak bisa berkata apa-apa. Akhirnya suasana mobil pun berubah menjadi hening.


__ADS_2