
"Apa kau membenciku, Queen?" tanya Awan dengan suara bergetar. Bahkan Pria itu menggigit bibir bawahnya.
"Awan, bodoh! Kenapa kamu tidak bisa mengendalikan dirimu? Sekarang apa yang akan keluar dari mulut Queen? Dia pasti marah!" rutuk Awan dalam hati. Sementara Queen hanya menatapnya dengan nanar, membuat perasaan Awan makin kalang kabut.
"Boleh aku memelukmu?" sahut Queen yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Awan. Sontak Pria itu tersentak.
"Me-memelukku?" bingung Awan. Queen langsung mengangguk. Awan langsung berpindah dan duduk di samping Queen. Pria itu menunduk. Sementara Queen bangun dan memegang kedua pundak Awan dari belakang
"Kamu harusnya marah padaku, Queen. Aku baru aja cium kamu tanpa izin—" Mata Awan terbelalak saat ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Pria itu menoleh dan malah menemukan wajah Queen yang begitu dekat dengannya.
"Queen, Kamu—" Queen langsung membungkam mulut Awan dengan kecupan kecil di bibir Pria itu. Seketika tubuh Awan mematung.
"Aneh! Harusnya aku yang marah, malah kamu yang ketakutan," protes Queen sambil mengerucutkan bibirnya.
"Qu-queen ... Kamu barusan ..." Queen malah menyandarkan dagunya di pundak Awan.
"Kenapa? Kamu ngegemesin banget, sih!" gurau Queen sambil cekikikan sendiri.
"Uhm, ta-tapi kenapa? Cium di bibir itu ..."
Queen mengembuskan napas kasar seraya melepas pelukannya dari pinggang Awan. Ia menatap sinis ke wajah bingung Awan.
"Aku tahu, kamu ahli kalau soal ciuman. Sera juga pernah bilang kalau dia belajar dari kamu!"
Awan tertegun.
"Queen, itu akting! Itu hanya adegan yang harus dilakukan, tapi kalau yang barusan berbeda!" ucap Awan buru-buru.
Queen mengernyitkan dahi.
"Berbeda? Berbeda apanya?" cecar Queen. Awan lagi-lagi terjebak. Pria itupun melipat bibirnya.
"Uhm, itu karena ..." Awan meremas seprai kasurnya. Jika ia mengatakan isi hatinya yang telah ia simpan selama lima belas tahun, mungkin hubungannya dengan Queen akan berubah.
"Oh, iya!" seru Queen seraya melirik ke arah Awan.
"Soal pertanyaanmu tadi ... Apakah masih harus aku jawab?"
Dahi Awan mengernyit, gara-gara ciuman tadi, ia jadi lupa kalau sempat melemparkan sebuah pertanyaan pada wanita berambut keriting ini. Awan pun mengangguk sambil menunduk. Ia sendiri juga agak tidak yakin dengan apa yang akan didengarnya, tetapi ia penasaran.
__ADS_1
"Masih harus dijawab, ya? Masa kamu gak bisa nebak, sih?" gerutu Queen sambil melipat tangannya membuat mata Awan membulat. Tunggu, ada yang aneh dari Queen sejak tadi. Wanita ini seolah bermain tebak-tebakan dengannya. Namun tebak-tebakan ini seperti tebak-tebakan natural yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih!
"Queen, aku—"
"Congrats!" potong Queen yang makin membuat Awan bingung. Kenapa tiba-tiba Queen malah mengucapkan selamat untuknya?
"Congrats untuk apa Queen?" bingung Awan.
Queen malah memonyongkan bibirnya dengan wajah yang memerah.
"Kamu masa masih gak ngerti juga, sih? Jelas-jelas aku tadi gak dorong kamu pas kamu cium aku! Terus sekarang masih gak ngerti apa artinya. Aku aja ngerti maksud kamu!" omel Queen.
"Hah?" Awan makin bingung, tetapi terbesit rasa geli dalam dadanya hingga memaksa sebuah senyum kecil terbit di wajah manis Pria itu.
"Uhm, memangnya menurut kamu, kenapa aku cium kamu?" selidik Awan.
"Bukannya udah jelas karena kamu suka sama aku! Suka sebagai wanita! Lagian, mana ada sahabat ciuman di bibir!" kesal Queen yang kini memutar tubuhnya memunggungi Awan.
Seketika senyum cerah terbit di wajah Awan. Bahkan mata Pria itu berkaca-kaca.
"Yah, aku gak tahu, sih kalau ternyata aku salah paham atau mungkin kamu cuman jadikan aku 'Tempat Latihan'."
"Aku suka kamu ..." bisik Awan yang membuat getaran kecil di sekujur tubuh Queen.
"Su-suka?" tanya Queen yang gugup.
"Enggak, deh. Aku gak suka kamu—" Queen langsung menyingkirkan tangan Awan dari pinggangnya dan memutar tubuhnya.
"Kok malah jadi gak suka, sih? Padahal aku suka kamu! Aku itu sayang sama kamu, aku juga gak bisa tidur gara-gara mikirin kamu, aku—" Queen langsung menghentikan ucapannya gara-gara melihat senyum nakal di wajah Awan.
"Ih, kamu lagi ngerjain aku, ya?" kesal Queen langsung mengambil bantal dan memukul Awan. Awan langsung berlindung.
"Hey, enggak. Aku gak ngerjain kamu!" bela Awan sambil menghindar.
"Terus, kenapa malah senyum begitu?" selidik Queen.
Awan pun memegang pipi Queen seraya menatapnya lekat-lekat.
"Karena kukira, cintaku padamu akan bertepuk sebelah tangan ..." Sebuah bulir bening akhirnya menetes dari sudut mata Awan membuat Queen tertegun.
__ADS_1
"Aku ... Aku yang hanya berani untuk berada di sisimu dan mendukungmu tanpa mengungkapkan isi hatiku ... Aku—si Pengecut yang merasa melihat senyum di wajahmu saja sudah lebih dari cukup. Aku juga yang selalu tersakiti sendiri karena melihatmu memberikan perhatian pada Pria lain, aku—si Pengecut yang—" Queen meletalkan telunjuknya di depan bibir Awan. Mata Pria itu pun kini menatap manik mata Hazel wanita di depannya.
"Kamu bukan pengecut. Stop bilang itu!" lontar Queen.
Awan menghela napas dan menyingkirkan telunjuk Queen dari bibirnya tanpa melepas tatapanya.
"Tapi aku selama ini takut mengungkapkan perasaanku, Queen," ungkap Awan.
"Aku takut, kamu menolak perasaanku dan membenciku. Hal yang paling aku takuti adalah kamu yang canggung sehingga kita tidak bisa menjadi teman lagi ..." Awan kemudian menunduk.
"Kamu apa-apaan, sih!" Queen menarik telinga Awan hingga kepala Pria itu terangkat. Kini Queen menatap Awan dengan tatapan yang tajam.
"Kamu lihat hubunganku dengan Kak Galang! Apakah kita canggung sekarang? Aku bahkan berteman dengannya!"
"Berbeda, Queen!" serobot Awan.
"Hubunganmu sebelumnya dengan Kak Galang berbeda dengan hubungan kita ..." Awan kembali menunduk. Queen pun memegang kedua pipi Awan dan kembali mengangkat kepala Pria itu.
"Awan, lihat aku! Lihatlah aku!" titah Queen. Awan pun terpaksa menatap Queen yang kini menatapnya lurus.
"Dengar aku baik-baik. Kamu bukan pengecut sama sekali, jangan menyerang dirimu sendiri hanya karena kamu baru jujur sekarang ..." Kini Awan benar-benar mengangkat kepalanua sendiei seraya menatap Queen lekat-lekat.
"Lagipula, sampai akhirnya, aku selalu mengadu padamu. Aku selalu bersandar padamu." Queen menggigit bibir bawahnya.
"Aku yang bodoh karena menganggap semua perlakuanmu padaku adalah berdasarkan persahabatan. Aku juga yang baru sadar bahwa hatiku telah lama tertambat pada hatimu. Maaf ..." Queen menunduk. Ia bahkan tak berani lagi menatap wajah Awan. Mungkin Pria itu kini sedamg menatapnya.
"Si Pengecut dan Si Bodoh ... Pft!" Awan tiba-tiba malah tertawa, membuat Queen mengangkat kepalanya.
"Apa? Kamu bilang apa?" sewot Queen. Namun Awan buru-buru membelai rambut keriting Queen seraya menatapnya dengan lembut.
"Aku mencintaimu, Queen," ucap Awan yang membuat Queen tertegun.
"Semoga ungkapanku ini tidak terlambat," tuturnya lagi. Queen memggigit bibirnbawahnya, berusaha menahan gejolak dalam dada yang seolah berusaha membuncah hingga matanya mulai berkaca-kaca. Wanita itu langsung memeluk tubuh Awan.
"Dasar! Aku juga mencintaimu. Aku sayang padamu!" tangis Queen pecah begitu saja, sementara Awan hanya bisa membalas pelukannya seraya menitikkan air mata.
***
Kira-kira mereka jadian apa.langsung nikah, ya?
__ADS_1
Tunggu Next episodenya yaa