
Iskandar baru saja pulang dari rumah sakit hewan, tempat ia bekerja. Baru saja selesai mandi, tiba-tiba ia menemukan sebuah undangan di nakas samping tempat tidurnya. Iskandar mengambilnya lalu membaca sambil duduk di atas kasurnya.
"Undang Resepsi Pernikahan, R dan S," baca Iskandar lalu membuka lembar undangan itu. Matanya langsung melotot saat menemukan nama yang tertera di sana. Ia langsung keluar kamar mencari istrinya.
"Rin!!! Rin!!!" panggil Iskandar. Rin yang baru selesai menyiapkan makan malam langsung berlari menghampiri suaminya.
"Ada apa, Iskandar? Tiba-tiba teriak-teriak???" tanya Rin kebingungan.
Iskandar lalu menyerahkan undang tersebut ke istrinya.
"Ini apa? Ryu menikah dengan Scarlett?? Ini acara resepsinya, nikahnya kapan??? Kenapa tidak memberi tahu kita? Apa kita orang lain???" Iskandar melontarkan pertanyaan bertubi-tubi, membuat Rin bingung harus jawab yang mana duluan.
"Lalu ... Queen tahu ini?" lanjut Iskandar dengan suara lirih. Ia ingat betul putri satu-satunya itu minta izin ke Bali untuk menemui seorang Ryu. Lalu sekarang apa yang terjadi pada putrinya di sana? Bagaimana jika dia menemukan Ryu yang sedang bermesraan dengan istrinya?
"Sebentar ... ehem ... satu-satu Rin jawabnya ..." kata Rin. Ia mengambil napasnya dalam-dalam berusaha tenang. Ia sama kalang kabutnya saat mendapat undangan itu. Ia malah baru saja ngomel-ngomel sepuasnya di telepon tadi pada Yura dan Ori.
"Cepat, Rin!!!" paksa Iskandar. Jantungnya berdebar-debar, ia merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi.
"Jadi gini ..." Rin mulai penjelasannya.
*Flashback on*
Setelah mengirim hasil tulisannya, seperti biasa Rin akan mulai merapikan rumah. Ia keluar untuk mengambil beberapa surat di kotak pos.
"Ya ampun, asuransi ..." gumamnya saat mendapatkan surat cinta dari asuransi sambil memilah-milah surat lainnya.
Hingga ia sampai pada kertas tebal berwarna baby pink berbentuk persegi.
"Undangan Resepsi Pernikahan? R dan S?" gumamnya membaca tulisan di cover undang tersebut. Ia pun membuka undangan itu.
"Ryu dan Scarlett? Menikah??? Sejak kapan??? Lalu--" Queen langsung berlari masuk ke dalam rumahnya dan mencari ponselnya.
Ia langsung melempar tumpukan surat itu di atas meja tamu lalu berlari ke ruang kerjanya. Seingatnya, ia terakhir memakai ponsel di sana. Di tangannya ia masih menggenggam undang pernikahan Ryu dan Scarlett.
Rin langsung mencari kontak bernama Yura di kontak ponselnya.
"Yura! Nah!" Rin langsung menelpon sahabatnya itu.
"Halo, Rin--"
"Coba jelaskan, kenapa tiba-tiba putramu menikah??? Kenapa kamu tidak memberitahuku??? Sejak kapan mereka sudah sah jadi suami istri???" tanya Rin agak membentak. Ia hanya kecewa karena kabar ini begitu tiba-tiba baginya.
"Uhm, Rin, sabar ... Ini semua rencana Ryu, bukannya aku tidak mau memberitahumu, tetapi--"
"Tapi apa???" sergah Rin yang terlanjur sakit hati.
"Begini, Rin, tenangkan dirimu dahulu, kamu harus dengarkan ini dengan kepala dingin ..." ucap Yura disebrang sana.
"Kepala dingin? Bagaimana aku bisa menggunakan kepala dinginku? Bukankah kamu juga tahu kalau Queen sangat mencintai putramu??? Bagaimana jika ia tahu ini???" jerit Rin sudah putus asa.
"Itulah alasan Ryu ..." jawab Yura.
__ADS_1
"Alasan Ryu?"
"Ya, awalnya dia tidak mau menyakiti Queen dengan keputusannya," Yura lalu terdiam, seolah sedang berpikir.
"Rin, aku juga pernah berniat menjodohkan putraku dengan putrimu karena aku juga merasa kalau anak kita cocok, tetapi saat itu Ryu menolaknya mentah-mentah lalu tiba-tiba ia bilang, ia akan menikahi kekasihnya," ujar Yura.
"Ryu punya kekasih?" tanya Rin tak menyangka.
"Ya, ternyata Ryu sudah berpacaran dengan Scarlett selama tiga tahun waktu itu ..." lanjut Yura.
"Tiga tahun waktu itu?" Rin mengulangi kalimat Yura.
"Ya, pernikahan mereka sudah berjalan satu tahun dan baru diadakan resepsinya Minggu depan di Bali. Kini bahkan aku, Ori dan Sakura baru sampai di hotel,"
"Yura ..." lirih Rin. Hatinya begitu sakit mendapati ini.
"I-iya, Rin?"
"Asal kamu tahu ... Putriku juga sudah ada di Bali untuk mengejar putramu. Lalu bagaimana nasibnya jika ia tahu kenyataannya?" tangis Rin.
"A-apa?" Yura tertegun, mana pernah ia menyangka hal itu.
"Mungkin saja dia sudah tahu, lebih baik aku tutup dulu, aku harus menelponnya," kata Rin mengakhiri panggilannya.
*Flashback off*
Iskandar terduduk lemas mendengar cerita Rin.
"Sudah, tetapi tidak diangkat. Jadi aku telepon Odi, dia bilang Queen masih berusaha menenangkan diri ... hiks!" Rin malah menangis.
"Rin ... kenapa kamu menangis?" tanya Iskandar sambil menghapus bulir air mata di pipi istrinya.
"Bagaimana aku tidak menangis? Aku bisa merasakan rasa sakitnya. Dia sudah mencintai Ryu bertahun-tahun, sudah ditolak berkali-kali dan tetap mencintainya, tetapi, Ryu malah menikah dengan perempuan lain, hiks!" Isak Rin, Iskandar langsung membawa istri mungilnya itu ke dalam dekapannya.
"Itu adalah keputusannya," ujar Iskandar sambil mengusap-usap punggung istrinya.
"Maksudnya?" tanya Rin.
"Itu adalah keputusan Queen untuk mencintai Ryu, sekalipun dicampakkan, dan keputusan Ryu juga untuk memilih siapa wanita yang cocok jadi pendampinya," jawab Iskandar.
"Maksudmu, Putriku tidak cocok?" tanya Rin.
"Bukan begitu, Rin ..."
"Jadi kamu menerima pernikahan ini dimana pernikahan ini adalah sumber kesedihan putri kita??"
"Bukan--"
"Kamu benar-benar berhati dingin, Iskandar!" tuduh Rin lalu pergi ke kamarnya.
"Ah, bukan itu maksudku," kata Iskandar, tetapi sudah terlambat. Ia menghela napasnya kasar.
__ADS_1
Iskandar lalu pergi ke ruang makan, di sana sudah ada putra bungsunya, Sultan yang sedang asyik berselancar dengan gawainya.
"Papa? Mama mana?" tanya Sultan enteng.
Iskandar pergi ke kursinya lalu duduk di sana.
"Ngambek," jawab Iskandar.
Sultan tersenyum miring. Mamanya yang ngambek ke Papanya merupakan fenomena yang sudah biasa baginya.
"Kali ini apa masalahnya? Apa anak kecil masih tidak boleh tau?" sindir Sultan.
Iskandar menatap putranya yang sudah tumbuh jadi remaja itu.
"Kamu bukan anak kecil lagi, Sultan, kamu sudah mulai masuk fase antara remaja dan dewasa," jawab Iskandar sambil mengambil potongan buah melon ke atas piringnya.
"Lalu, kali ini, apa aku boleh tahu masalahnya?" tanya Sultan lagi.
Ting!
Tiba-tiba ada pesan masuk. Sultan langsung memeriksanya. Ia langsung malas begitu mengetahui nama yang tertera di notifikasi itu.
"Siapa?" tanya Iskandar yang melihat wajah kusut putranya.
"Sakura, dia bilang dia ada di Bali, Dia ingin Sultan ke sana, duuh, kenapa dia gak pernah berhenti mengganggu, sih???" keluh Sultan.
"Sakura? Anaknya Ayah Ori?" tanya Iskandar.
"Ya iyalah, siapa lagi Sakura yang berisik yang hobinya mengganggu Sultan terus, Pa?" tukas Sultan.
"Kita memang akan Ke Bali," kata Iskandar sambil memasukkan potongan buah melon ke mulutnya.
"Apa? Ke Bali? Pa, Sultan tau, Ayah Ori adalah sahabat Papa, tetapi kita harus ke Bali hanya untuk bertemu mereka?"
Iskandar menatap putra bungsunya dingin, tetapi ia berusaha untuk tidak marah.
"Ryu menikah, kita diundang, makanya kita ke sana. Lagipula kakakmu ada di sana. Dan satu lagi ..." Iskandar memutus kalimatnya.
"Ryu menikah? Lalu kak Queen?" batin Sultan.
"Tidak sepantasnya kamu bicara begitu, Ingat pesanku?" lanjut Iskandar.
Sultan langsung sadar kalau kini ia sedang dimarahi.
"Bersikaplah baik, meskipun orang lain memperlakukan kita dengan buruk," jawab Sultan sambil menunduk.
"Camkan itu," ujar Iskandar lalu mengelap mulutnya.
"Jika sudah selesai makan, tolong bereskan ini semua, Papa harus membujuk Mamamu," kata Iskandar lalu beranjak dan pergi dari ruang makan.
*
__ADS_1
Maafkan aku ya, mungkin akhir-akhir ini updatenya bakalan berantakan karena kesibukan Mamauzda, semoga ke depannya bisa konsisten di jam 10-11