
Awan masih kepikiran soal ucapan Ryu semalam. Ia bahkan hanya tidur selama tiga jam karena terus memikirkan cara bagaimana agar membuat Queen menganggapnya sebagai seorang Pria. Apa tanda-tandanya jika Queen sudah memandangnya sebagai seorang Pria?
"Ini sarapanmu!" ujar Ryu yang baru saja membuat bubur tomat telur untuk Awan. Pria berwajah manis itu menatap Ryu yang begitu bersemangat sambil mengenakan celemek.
"Mau sampai kapan kamu menginap di sini?" tanya Awan. Sejujurnya ia agak risih dengan keberadaan Ryu. Selain itu, Awan juga tidak terlalu akrab dengan Ryu. Ditambah suasana hatinya semakin buruk karena memikirkan reaksi Queen jika datang ke Apartemennya dan bertemu Ryu.
Ryu malah duduk di hadapan Awan sambil bertopang dagu. "Aku di sini ... . Hem, mungkin besok aku akan kembali ke Jepang. Tergantung, aku dapat tiketnya atau tidak hari ini," ujar Ryu sambil tersenyum lebar seakan "tidak dapat tiket ke Jepang" bukanlah masalah besar baginya. Bukankah Pria Berkacamata ini punya pekerjaan di sana?
"Ya, semoga kamu dapat tiketnya," timpal Awan kemudian memandang bubur buatan Ryu. Ia melirik ke arah Ryu yang baru saja bangkit dari tempat duduknya.
"Ryu!" sahut Awan yang menghentikan langkah Ryu.
"Ya?" tanya Awan.
"Terima kasih buburnya," ujar Awan sambil menorehkan senyumnya. Ryu hanya membalasnya dengan senyuman dan pergi ke dapur.
Baru satu suap Awan menikmati bubur buatan Ryu, tiba-tiba bel Apartemennya berbunyi.
"Siapa orang yang datang se-pagi ini?" gumam Awan heran. Ia pun meletakkan sendoknya dan hendak berdiri. Namun, Ryu yang sudah melepas celemeknya malah muncul.
"Awan, kamu duduk saja, biar aku yang buka pintunya," ujar Ryu. Awan pun menurut. Ia kembali duduk, tetapi entah kenapa hatinya tidak tenang, sementara Ryu sudah berjalan menuju pintu.
Ting!
Tiba-tiba ada notifikasi masuk di ponsel Awan. Pria itupun langsung memgambil benda tipis canggihnya dan membaca notifikasi di layar. Sontak matanya membulat.
Queen : Awan, aku datang ke apartemenmu hari ini, ya. Aku mengkhawatirkanmu. Aku di depan pintumu sekarang. Jika sulit untuk membuka pintunya, boleh beritahukan password pintu Apartemenmu?
"Itu Queen!" seru Awan yang langsung berdiri. Tanpa memikirkan bekas operasinya, Awan langsung lari begitu sana menuju pintu masuk Apartemennya.
***
Queen menghela napas setelah mengirim pesan pada Awan. Tak perlu waktu yang lama, Pesan darinya langsung dibaca oleh Awan, tetapi dia tidak langsung menjawabnya.
"Duh, apa kedatanganku justru merepotkannya? Tapi aku justru gak bisa tidur karena kepikiran dia terus—" Pintu tiba-tiba terbuka, Queen langsung memasang wajah cerahnya untuk menyambut Awan, sayang, orang yang muncul dari balik pintu adalah orang lain.
"Ryu?" sahut Queen agak tercengang.
Pria berkacamata yang namanya baru saja disebut oleh Queen malah tersenyum.
"Queen? Ternyata kamu!" serunya dengan nada yang begitu gembira. Alis Queen langsung turun. Entah kenapa ia jadi merasa gusar dalam dadanya. "Kenapa Ryu ada di sini? Bukankah ia hanya mau menjenguk Awan? Duh, aku gak nyaman banget kalau sampai ada dia ..." batin Queen sambil meremas tas besar yang ia bawa.
Atensi Ryu pun beralih pada tas besar yang Queen bawa.
__ADS_1
"Apakah ini berat?" Ryu langsung merebut tas besar itu, membuat lamuna Queen pecah.
"Uhm, Ryu, itu ..."
"Ahaha, kamu mau menginap di sini juga 'kan? Aku akan bawakan tas berat ini. Awan tidak mungkin bisa membawakannya," sahut Ryu langsung berbalik, tetapi ternyata di belakangnya sudah ada Awan yang mengernyitkan dahi.
"Apa maksudnya? Dia meremehkanku di depan Queen?" geram Awan dalam hati sambil mengertakkan giginya.
Sementara kedua mata Ryu membulat mendapati Awan ada di belakangnya. "Uhm, Awan? Aku—"
Awan langsung memasang senyum lebarnya. "Terima kasih, Ryu sudah membukakan pintunya," potong Awan. Ryu sendiri hanya bisa membalas senyuman Awan. Pria berkacamata itu kemudian menunjuk tas besar yang ia bawa.
"Aku akan bawa ini ke dalam," ujarnya yang langsung dijawab dengan anggukan Awan. Ryu pun segera masuk ke dalam. Kini Queen yang masih berdiri di luar akhirnya bisa melihat sosok Awan, begitu juga sebaliknya.
Mereka berdua malah saling bertatapan seolah ada kerinduan mendalam di antara mereka. Queen mengepalkan tangannya erat, seakan menahan energi besar yang membuncah dari dalam dirinya. "Awan!" seru Queen langsung berlari menghampiri Pria di hadapannya dan memeluknya dengan erat. Sontak Awan terpaku. Mana pernah ia menyangka kalau Queen akan langsung memeluknya begini.
"Qu-queen? Argh!" tegur Awan yang kebingungan, tetapi segera tepat saat itu rasa nyeri di bekas operasinya timbul. Ia belum minum obat pagi ini. Queen pun langsung melepas pelukannya.
"Awan? Apa aku melukaimu?" panik Queen, sementara Awan yang kesakitan langsung berjongkok sambil memegangi bekas operasinya.
"Uhm, tidak. Rasa nyerinya memang masih hilang timbul ..." Awan meringis kesakitan. Ia tidak pernah merasa nyeri sehebat ini. Apa karena hari ini ia terlambat minum obat?
"A-apa yang harus aku lakukan? Kamu mau duduk di sofa? Apa itu bisa membuatmu lebih baik?" tawar Queen agak panik. Awan pun mengangguk dan membentangkan satu tangannya. Queen langsung meletakkan tangan itu di pundaknya.
Tepat saat Queen berhasil mendudukkan Awan di sofa, Ryu kembali muncul.
"Apa yang terjadi?" seru Ryu yang melihat wajah pucat Awan.
Atensi Queen langsung beralih pada Ryu.
"Awan sepertinya kesakitan. Apa yang harus kita lakukan? Aku ... Aku tidak tahan melihat Awan kesakitan," panik Queen yang menggihit bibir bawahnya seraya menoleh ke arah Awan yang matanya setengah terbuka karena menahan nyeri.
"Dia harus minum obat," ujar Ryu.
"Aku akan ambil obatnya! Obatmu dimana, Awan?" sahut Queen.
"Me-meja makan. A-ambil semuanya," jawab Awan. Queen langsung mengangguk tanda mengerti, ia pun hendak oergi ke dapur, tetapi tangannya dicegat oleh Ryu. Sontak mata Awan membulat. "Penampakan macam apa ini?" geramnya dalam hati.
"Kenapa Ryu?" tanya Queen.
"Queen, Awan harus makan dulu baru minum obat. Tolong sekalian ambil makanannya di meja makan, ya," pinta Ryu. Queen langsung mengangguk dan berlari ke dapur.
Sementara Ryu menghampirinya.
__ADS_1
"Apa mau dikompres? Aku ambilkan kain hangat, ya?" tawar Ryu. Namun Awan menggeleng.
"Tidak, aku cukup minum obat saja—Ugh!" Rasa nyeri di bekas tusukan semakin menjadi-jadi. Apakah ini karena Awan berlari tadi? Padahal dokter sudah memperingatkan untuk tidak terlalu banyak bergerak.
"Awan, untuk menunggu efek obat akan lama. Kamu akan lebih lama menderita. Aku tidak akan mendengarkanmu! Tahan sedikit, aku akan bawakan kain hangat untukmu!" kukuh Ryu yang langsung bangkit tanpa mendengarkan Awan.
"Ti-tidak ... Jangan ... Aku tidak mau kalian berduaan ..." lirih Awan sambil menahan rasa sakit. Ia hanya bia menyandaekan tubuhnya dan memejamkan mata erat-erat sembari menahan rasa nyeri yang makin parah.
Tak selang berapa lama, ia mendengar suara Queen yang memanggilnya.
"Awan ... Awan!" seru Queen. Awan pun membuka matanya. Ia tersenyum kecil saat mendapati Queen ada di sampingnya. Reflek, tangan Awan membelai rambut keritung Queen.
"Sakit, Queen ... Tolong aku ..." lirih Awan.
"Iya, kamu makan dulu, ya? Habis ini minum obat," bujuk Queen yang dijawab dengan anggukan pelan oleh Awan.
"Queen! Aku menemukan kantung kompres ini. Aku sudah isi air panas, mungkin ini akan meredakan nyerinya," ujar Ryu yang entah muncul darimana. Awan pun melirik sedikit untuk mencari keberadaan Ryu. Sayang ia tidak bisa menemukan Pria Berkacamata itu.
"Oke, berikan padaku," ujar Queen. Ryu langsung memberikan kantung kompres itu pada Queen.
"Awan ... Aku kompres ya, bekas operasimu," izin Queen dengan suara yang begitu lembut. Awan yang kini memejamkan matanya hanya mengangguk. Queen pun menempelkan kantong kompres itu di bagian bekas operasi. Kerutan di dahi Awan bertambah, seolah menggambarkan transisi dari rasa nyeri yang dahsyat ke rasa nyeri yang mulai mereda. Perlahan, kerutan di dahinya berkurang.
"Sekarang sudah lebih baik?" tanya Queen, sekali lagi Awan hanya menjawab dengan anggukan.
"Kalau begitu sekarang, makan, ya?" bujuk Queen lagi. Awan sekali lagi mengangguk seraya membuka matanya sedikit. Ia menatap Queen dengan pupil yang membesar.
"Aku mau makan kalau kamu suapin," ucapnya dengan nada manja. Sontak mata Queen membulat. Seketika jantungnya malah berdevar mendenga permintaan Awan. Sementara, Ryu yang ada di sana reflek menutup mulutnya.
"Ya ampun! Awan langsung bergerak cepat! Nice Awan!" bangga Ryu dalam hati. Ryu pun berdehem, membuat lamunan Queen buyar.
"Uhm, sepertinya aku harus ke supermarket untuk membeli perbekalan pulang. Aku pamit dulu, ya," izin Ryu.
Queen menoleh ke arah Ryu dengan mata yang melotot. Namun Ryu malah tersenyum.
"Ya, beli keperluanmu sebanyak mungkin. Jangan sampai ada yang kelupaan!" ujar Awan yang rasa nyerinya mulai mereda. Ryu langsung mengeluarkan ibu jarinya.
"Siap! Kalau begitu aku pergi dulu, ya!" Tanpa menerima sahutan, Ryu langsung pergi begitu saja meninggalkan Queen dan Awan berduaan.
Seketika suasana jadi hening. Queen pun langsung mengambil mangkok bubur yang ia bawa dari meja makan. Ia bergumam karena merasa mangkok itu tidak lagi hangat.
"Uhm, Awan ... Aku panaskan dulu buburnya. Aku akan segera kembali, ya!" sahut Queen hendak berdiri, tetapi Awan langsung meraih tangan Queen seraya menatapnya lekat-lekat.
***
__ADS_1