
Setelah bergadang selama 1 minggu penuh karena harus menyelesaikan laporan penelitiannya, akhirnya Gibran dapat istirahat. Pria yang baru saja selesai mandi itu pun mengambil ponsel yang terletak di nakas, siapa tahu ada pesan dari wanita spesialnya yang tak kuasa menahan rindu nan jauh di sana. Sayangnya sama sekali tidak ada pesan dari pujaan hatinya, membuat Gibran agak kecewa, tetapi ia berusaha memahami posisi sulit Liza sekarang.
"Aku benar-benar gila karena kamu, Liza ..." gumam Gibran sambil tertawa sendiri. Ia masih ingat bagaimana wajah Liza ketika bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Jika mereka sudah menikah, mungkin Gibran akan melahap wanitanya itu setiap malam.
Namun Gibran segera menjernihkan pikirannya. Ia pun kembali memandang ponselnya yang kini menunjukkan potret seorang Liza yang sedang tertidur. Sebenarnya diam-diam ia memotret wanita itu ketika tidur di kamar hotel yang tersambung dengan kamarnya.
Pria itu kemudian duduk sambil bersandae di tempat tidurnya tanpa melepas pandangan dari potret Liza. Tak lupa ia memegang teh herbal untuk membuatnya tidur dengan tenang. Namun belum sempat bibir cangkir itu sampai di mulutnya, tangannya tiba-tiba terasa kram dan cangkir berisi teh panas itu terlepas begitu saja hingga mengenai pahanya.
"Aww! Panas!" rintih Gibran. Pria itu pun melepas ponselnya dan meletakkan asal di atas temoat tidur kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan pahanya.
"Kenapa terasa panas sekali ... Bisa-bisa jado luka bakar," sesalnya yang ceroboh. Padahal ia tidak pernah se-ceroboh ini. Apakah dirinya teralu lelah karena memaksakan diri?
"Sepertinya aku harus ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan," pikir Gibran. Kemudian tak sengaja ia mendengar dering telepon dari ponselnya. Gibran pun buru-buru menyelesaikan urusannya dan perfi mengambil ponsel di tempat tidurnya.
"Siapa yang menelpon di jam dua malam begini— Mama?" Tiba-tiba Gibran merasa ada gas dalam perutnya yang membuatnya mual.
"A-ada apa ini? Kenapa aku merasa begini?" bingungnya, tetapi ia tetap mengangkat telepon dari ibunya tersebut.
Gibran:"Yes, Mam?"
Amara:"Gibran ... Gibran ..." Terdengar suara yang gementar dari seberang. Gibran sangat yakin bahwa ibunya sedang menangis. Namun kenapa?
Gibran:" Mam, tenangkan pikiran Mama dulu ..." ucap Gibran, meskipun ia juga merasa akan ada kabar buruk yang mungkin ia dengar karena mendnegar tangisan Sang Ibunda.
Amara:"Tidak ... Mama harus kasih tahu sekarang, Sayang ... Galang ..." Sang Mama tak kuasa menahan tangis. Sontak kaki Gibran terasa lemas, ia bahkan tak merasa perih akibat air panas yang mengenai pahanya, melainkan kebas hingga tubuhnya terjatuh. Jantungnya berdebar-debar begitu nama kakak kembarnya disebut.
Gibran:"Ga-galang ... Galang kenapa, Mam? Kenapa Mama menangis?" Gibran berusaha tegar meskipun matanya juga sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
Amara:"Galang kena kecelakaan maut saat mau ke Bandara untuk ke Berlin. Kini kondisinya kritis! Ka-kamu bisa ke sini, Sayang? Mama butuh kamu ...." Tangis Sang Mama pecah begitu mengungkapkannya, sementara pikiran Gibran sempat kosong. Bagaimana mungkin Sang Kakak kembar bisa menghadapi masa kritis.
Gibran:"Galang ... Kritis? Ma, Mama tau 'kan Galang sekuat apa. Dia pasti akan baik-baik saja, Ma ..." Akhirnya tangisan Gibran pecah. Sekalipun Galang selalu mengganggunya, tetapi ia tidak pernah dengar bahwa kakak kembarnya yang permha jadi berandal itu bisa menghadapi kenyataan begini.
Amara:"Kamu ke sini, ya Sayang ... Mama dan Papa butuh kamu ... Papa juga sedang di rawat karena shock mendengar kabar ini. Mama mohon ..." ucap Amara lirih.
Gibran:"Iya, Ma. Gibran akan berangkat sekarang. Mama yang tenangkan diri Mama, oke. Gibran akan segera sampai." Ia tak peduli mau berapa lama bisa sampai Indonesia, yang pasti ia harus memastikan keadaan saudara kembarnya.
Amara:"Oke, nanti mama kirim alamat rumah sakitnya ... Mama tutup dulu, ya ..."
Gibran:"Ma, terus kabari perkembangan kondisi Galang, ya," pinta Gibran.
Amara:"Pasti, Sayang ... Hati-hati di jalan, ya ..." isak Sang Mama dari seberang, tepat saat itu telepon ditutup.
Gibran menarik napas panjang untuk menenangkan pikirannya.
"Galang pasti akan mampu melewati masa kritisnya. Aku harus percaya itu!" gumam Gibram yang segera mencari timet peswata dengan keberangkaran paling cepat ke Indonesia.
***
"Mama!" seru Bianca yang langsung memeluk Amara. Dirinya juga ikut terpukul, tetapi ia berusaha tegar.
"Bianca ... Galang ..." Amara tak sanggup berkata-kata begitu teringat bagaimana kondisi putranya yang sempat ia lihat ketika mengantarnya ke ruang operasi.
"Apa Mama akan kehilangan putra Mama?" tangis Amara.
"Mama ... jangan bicara begitu ..." Akhirnya tangisan Bianca pun pecah. Padahal ia masih ingat, tengah malam tadi baru saja memeluk tubuh Sang Kekasih untuk mengucapkan salam perpisahan, tetapi kini Sang Kekasih telah terbaring kritis di ruang operasi.
__ADS_1
"Galang adalah laki-laki yang sangat kuat, Ma ... Dia akan melewati masa kritisnya," tangis Bianca yang sebenarnya juga menguatkan diri. Padahal belum lama akhirnya ia bisa menyalurkan perasaannya pada lelaki itu, tetapi kini lelaki itu ditimpa musibah yang membuatnya terancam kehilangannya.
Sementara Queen hanya bisa terdiam membeku melihat betapa pilu Amara dan Bianca yang kini berpelukan. Sejujurnya, ia juga terpukul dengan berita yang sangat tiba-tiba begini. Meksipun tidak pernah bisa membalas cinta Galang, sampai akhirnya Galang selalu bisa memberikan nasihat yang menenangkan hatinya. Ia juga tidak tega melihat keadaan Bianca.
Tak lama kemudian pintu ruang operasi terbuka dan memunculkan sosok dokter yang menangani Galang. Amara dan Bianca segera melepas pelukan mereka dan memghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana kondisi putra saya, dok?" tanya Amara.
Sang dokter pun menghela napas sembari menatap serius ke arah Amara.
Setelah tindakan sambung tulang, keadaan Galang masih harus dipantau, bisa saja Galang tidak sadarkan diri akibat cedera berat yang dialaminya. Selain itu, Ia juga mengalami gegar otak karena tubuhnya sempat terlempar dari kendaraan akibat tabrakan yang cukup hebat. Beruntungnya, tubuh pria ini cukup kuat dan segera dibawa ke rumah sakit hingga masih bisa diselamatkan.
Kini Pria itu dipantau secara intensive di ruang ICU. Amara hanya bisa duduk sambil melamun melihat keadaan terakhir putranya.
"Ma ... Galang akan baik-baik saja, Galang pasti akan segera sadar ..." ucap Bianca menghibur Amara.
"Galang ... Galang pernah menyebabkan seseorang masuk ICU ..." ucap Amara yang membuat Bianca mengernyitkan dahi.
"Apakah ... apa ini balasan akibat tindakan putraku di masa lalu?" tangis Amara yang benar-benar putus asa.
"Mama —"
"Tante Amara ... Queen bawakan teh hangat," seru Queen yang muncul sambil menyodorkan segelas teh hangat.
Amara pun mengangkat kepalanya seraya menatap sinis ke arah Queen.
"Ini ... INI SEMUA GARA-GARA KAMU!" tuding Amara yang membuat suasana ruang tunggu ICU mencekam.
__ADS_1
***
Like, Love dan komentarnya ya Guys!