
Author POV
Sera kini menghela napas. Ia terpaksa mengajak Yanuar masuk ke ruang tunggunya.
"jadi, kamu tampil setelah waktu istirahat ini?" Tanya Yanuar yang masih setia memegang Bucket bunganya.
"Ya...," Kata Sera malas.
"Uhm.., pasti kamu bingung,kan, kenapa aku ada di sini?" Yanuar berusaha membuka pembicaraan.
"Yah.., aneh. Kakakku saja tidak ada di sini. Malah orang asing sepertimu yang ada di sini...," Kata Sera jutek.
"sialnya lagi, aku harus meladenimu !" Tambah Sera.
"Ahaha.., as always.., kamu selalu sinis terhadapku." Komentar Yanuar.
"Sebenarnya aku tidak keberatan kalau kak Yanuar datang, tapi aku agak gerah melihat kak Yanuar membawa bucket bunga besar itu...," Kata Sera sambil geleng-geleng kepala.
"Bucket bunga ini? Coba tebak, untuk apa Bucket bunga ini?" Yanuar masih berusaha mencairkan suasana dengan bercanda.
Sera memutar bola matanya,
"Asalkan bukan untuk memaksaku menerima cintamu, aku tidak masalah." Jawab Sera.
"kamu benar-benar sinis padaku, my Angel...," Kata Yanuar.
Sera hanya mendengus kesal mendengar panggilannya dari Yanuar.
"Bucket bunga ini bukan untukmu...," Kata Yanuar.
Sera langsung menoleh ke arah Yanuar sambil mengernyitkan dahi,
"lalu untuk siapa???" Tanyanya.
Yanuar tersenyum,
"untuk tim dramamu. Aku ingin memberi semangat pada mereka juga. Aku yakin, kalian pasti bisa menang." Kata Yanuar sambil mengeluarkan senyum khasnya.
Sera tertegun dan memandangi Bucket bunga itu cukup lama.
"terimalah.., Hari ini aku tidak akan mengganggumu dengan pernyataan cintaku. Aku hanya ingin mendukung dan menyemangatimu...," Ungkap Yanuar.
"Baiklah !" Sera langsung merebut Bucket bunga itu dari tangan Yanuar.
"akan kusampaikan dukunganmu pada rekan-rekanku...," Kata Sera agak kecewa.
"jangan sedih,ya..., aku hanya tidak sempat membeli bunga khusus untukmu. setelah kamu selesai pentas pun, aku harus segera bersiap untuk kembali ke Berlin..," Kata Yanuar.
"Kamu bahkan tidak menginap?" Tanya Sera penuh harap.
"Ayolah, Sera.., aku sudah membolos 2 hari..., jika ayahku tau, habislah aku...," Kata Yanuar.
"baiklah kalau begitu...," Sera memeluk Bucket bunga dari Yanuar,
"sebagai gantinya, aku akan mengunjungimu di liburan semester ini di Berlin. Kak Adlan juga pasti akan ikut...," Kata Sera malu-malu.
"benarkah? Kamu memang bidadariku..., terimakasih,ya..," Kata Yanuar sambil membelai rambut Sera.
"tidak perlu berterima kasih !" Kata Sera jutek.
*
Ryu terdiam cukup lama. Scarlett dari tadi duduk di samping Ryu, menunggu seorang Ryu membuka mulutnya. Namun sebaliknya, Ryu malah menyenderkan kepalanya di bahu Scarlett.
"Ryu....,"
__ADS_1
"sebentar aja kak Kejora...," Kata Ryu menyebut nama asli Scarlett.
"Sebentar saja aku ingin bersandar di bahumu...," lirih Ryu yang kini tatapannya berubah jadi sedih. Mungkin ia merasa bersalah.
"Tidak apa-apa..., Liza pasti akan baik-baik saja nanti...," Hibur Scarlett. Diam-diam tangan Scarlett mulai menepuk-nepuk punggung Ryu pelan.
"menurut Kakak.., apakah aku jahat tadi?" Tanya Ryu yang akhirnya buka mulut.
Scarlett terdiam sejenak dan berpikir. Ia tidak mau membuat Ryu semakin sedih, tetapi ia harus jujur,
"Ya, kamu jahat. Aku aja sampai kesal !" Kata Scarlett memilih untuk jujur.
"Aku sudah menyakiti Liza dua kali.., seharusnya dia membenciku,kan?" Tanya Ryu. Scarlett malah tertegun, mungkinkah Ryu sengaja?
"entahlah...," Jawab Scarlett.
"Jika aku menyakiti kakak.., apa kakak akan membenciku?" Tanya Ryu tiba-tiba.
Scarlett lagi-lagi tertegun,
"ke,kenapa aku harus membencimu? Kamu,kan tahu, seberapa besar rasa cintaku padamu Ryu...," Kata Scarlett.
"benarkah? Kakak tidak akan membenciku?" Tanya Ryu lagi memperjelas.
"Hatiku sudah mati rasa..., Bahkan, bagiku laki-laki di dunia ini hanya kamu...," Ungkap Scarlett lagi.
"jangan berlebihan..., Jika kakak patah hati, akan lebih menyakitkan...," Kata Ryu lalu mengangkat kepalanya.
"Apa kamu sudah lebih baik?" Tanya Scarlett.
Ryu menarik napas panjang lalu tersenyum pada Scarlett,
"ya.., lebih baik.., terimakasih karena memutuskan untuk berada di sisiku...," Kata Ryu.
Entah mengapa kalimat Ryu begitu menyentuh hati Scarlett,
"sial.., sepertinya aku jatuh cinta lagi padanya.., hahaha.., dasar Ryu...," Gumam Scarlett dalam hati.
"Kak.., Bertahanlah sebentar lagi...," Kata Ryu.
Scarlett mengernyitkan dahi,
"bertahan untuk apa?" Tanya Scarlett.
Ryu hanya tersenyum lalu beranjak dari bangku,
"ayo ! Aku juga sangat ingin melihat pentas drama Awan dan Sera !" Kata Ryu tidak menjawab pertanyaan Scarlett sama sekali.
"Tapi, Ryu...,"
"Ayolah..., tunggu apa lagi...," Kata Ryu mengacuhkan perkataan Scarlett dan membawanya pergi bersamanya.
*
Gibran datang ke ruang tunggunya sambil membawa sebuah kantong besar. Di sana ia menemukan Queen yang masih belajar. Gibran mendekati Queen,
"makanlah dulu..., belajar bisa dilanjutkan di hotel..., otakmu juga butuh asupan...," Kata Gibran sambil meletakkan bento dan air mineral di samping Queen.
"iya,kak.., sebentar lagi...," Kata Queen yang masih fokus pada bukunya.
Gibran menghela napas lalu ia menyeret bangku ke samping bangku Queen. Gibran duduk di sana sambil memandangi Queen yang sibuk membaca,
"Maaf,ya...," Kata Gibran yang membuat Queen berhenti dari aktivitasnya.
"Maaf untuk apa,kak?" Tanya Queen.
__ADS_1
"udah bersikap berlebihan tadi.., Aku tidak seharusnya membentakmu. Setiap orang,kan punya kemampuan yang berbeda-beda, tidak bisa disamaratakan...," Kata Gibran.
Queen malah tersenyum mendengarnya,
"aku malah bersyukur kak Gibran gak marah lagi sama aku..," Kata Queen.
"hah?"
Queen menyenderkan tubuhnya di sandaran bangkunya,
"aku khawatir tadi, kak Gibran jangan-jangan gak mau menatapku lagi.., makanya aku belajar keras, aku akan menunjukkan, besok aku gak akan ngeblank lagi. Lagian aku juga harus menang dalam lomba cerdas cermat ini..," Kata Queen.
Gibran tersenyum,
"baguslah.., kukira kamu akan membenciku..," Kata Gibran.
"uhm.., tapi apa yang memotivasimu untuk menang? Sepertinya bukan tentang mendapatkan prestasi...," Kata Gibran.
Queen tersenyum,
"aku taruhan sama Awan...," Jawab Queen.
"taruhan?"
Queen meletakkan telunjuknya di depan bibirnya,
"shuut..., jangan keras-keras...," Kata Queen.
"kalian taruhan siapa yang paling hebat di bidangnya?" Tanya Gibran.
Queen menggeleng,
"bukan.., uhm.., tapi kak Gibran jangan bilang siapa-siapa...," Kata Queen.
Gibran mengernyitkan dahi,
"ah, kalau begitu, jangan katakan..., Biar itu jadi rahasia dan penyemangatmu." Kata Gibran.
"eeh? Kak Gibran tidak penasaran?" Tanya Queen.
"entahlah.., aku tidak mau dengar. Seolah jika aku tau, aku membuat Liza semakin mudah mendapatkan Ryu.., kenapa aku bisa memikirkan itu? Kenapa dadaku terasa sesak?? Tidak.., argh.., kenapa aku bisa-bisanya menduga kalau Queen dan Awan ada hubungan spesial?? Gibran.., sebenarnya ada apa dengan dirimu??" Batin Gibran.
"tidak..., aku harap kamu besok lebih baik lagi dan capailah tujuanmu apapun itu.., Selama tujuan itu baik dan tidak merugikan orang lain." Kata Gibran.
Queen tersenyum,
"akan kuingat guru...," Kata Queen sambil tersenyum.
"dasar..," Gibran terkekeh.
"sudah, makanlah dulu. Setelah itu jam dua siang kita berkumpul di lobby, Kata Bu Beatrice kita harus segera kembali ke hotel." Gibran lalu beranjak.
"Siap kak Gibran !" Kata Queen memberi hormat.
"kalau begitu, aku pergi dulu...," Gibran lalu meninggalkan ruang itu.
"Fiuh.., untunglah kak Gibran orang yang baik...," Gumam Queen. Ia lalu memandang bento di atas mejanya,
"baiklah.., mari kita makan !!!" Kata Queen.
*
*
*
__ADS_1